
Bastian mendapatkan notifikasi dari papinya untuk segera kembali ke kantor. Dia memberi tahu Ami untuk segera siap siap.
Rumah Ami sekarang ditempati oleh adik ibu Ami, seorang perempuan yang terlahir bisu. Wanita itu yang telah menggantikan posisi ibu Ami setelah ibu Ami meninggal. ia yang mengasuh Ami dan Jojo.p
Ayahnya turun ranjang dengan menikahi adik ibu Ami. Sejak kecil Ami terbiasa memanggilnya mak.
" Ami pamit ya mak." ujar Ami setelah meletakkan barang bawaannya ke atas mobil. ia menyalami perempuan bisu itu. Perempuan itu menolak, Ami keheranan. tidak biasanya ia bersikap seperti itu.
Sementara di kantor Hendra, Rendra sibuk membahas ketidak profesionalan Bastian. ia menjelek jelekkan adik tirinya itu di hadapan Hendra. Padahal, Deni selalu memberikan laporan perencanaan proyek mereka tepat waktu.
Beruntung pasangan pengantin baru itu harus lembur sampai pagi untuk mengerjakan semua berkas yang diminta Hendra.
Dua hari lagi mereka akan mengadakan pertemuan dengan investor.
Ami meminta Jojo bicara dengan Mak karna Jojo yang lebih paham bahasa ibu sambungnya itu.
Jojo mengajak pengantin baru itu bicara di kebun belakang rumah. di depan pondok kecil tempat beristirahat di kebun
" Kakak belum bisa pergi " ucap Jojo serius, Ami tercengang karena mereka sudah di desak untuk kembali ke kantor.
" kenapa Jo ?, kakak harus pergi, tugas kantor menunggu "
Jo terlihat ragu untuk bicara, ia memandang pasangan pengantin baru yang berdiri berjauhan itu. Bastian sibuk membalas pesan Deni tapi ia bisa mendengar percakapan Ami dan adiknya.
" Kakak pernah dengar istilah indigo, sepertinyamak anak indigo. dia tahu kalau kakak masih perawan "
Ami terperangah, sementara Bastian berhenti mengetik dan melihat kearah Jojo yang juga melihat kearahnya.
" Kata mak kalian belum malam pertama, jadi kalian belum boleh pergi " ucap Jo sambil tersenyum ke arah Bastian.
" Kamu ngaco Jo, kamu tau kan kalau pernikahan ini bukan pernikahan sungguhan "
" Siapa bilang, kalian sudah sah sebagai suami istri secara agama. bang Bastian ngucapin ijab kabul di depan saksi. secara negara nunggu prosesnya aja " bantah Jo.
Bastian mendekati Jojo, ia memandangi Ami yang terlihat panik. Dua laki laki itu saling lempar senyum. senyum itu tertangkap Ami.
" Jangan jangan kalian sekongkol untuk hal ini " tuduh Ami, ia duduk sambil memegang kepala.
" Jangan asal nuduh, biawhr kakak bisa balik kerja, Q S saja "
Jo menarik turunkan alisnya kearah Bastian.
" apa itu Q S ? " sambar Ami, Bastian terkekeh.
" Quick...."
__ADS_1
" stop jangan teruskan, kakak ngerti. Sudah sana kamu pergi, kakak mau bicara sama pak Bastian dulu " Ami mendorong tubuh adiknya.
" buruan, saya juga mau nebeng " ucap Jo sambil melangkah pergi.
Ami menarik nafas, sangat dalam. Berdiri duduk, berdiri duduk, duduk berdiri.
" rileks mi, kita harus melakukannya dengan rileks " Ami mendongak, otak mode onnya sedang aktif.
" maksud bapak ? "
" maksud saya, untuk keluar dari masalah kita harus tenang, bukankah kamu yang selalu bilang begitu "
Bastian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan asisten yang sudah jadi istrinya itu.
" Den, kita baru balik besok, nanti malam saya sama Ami akan lembur. lu rapikan saja semua berkas yang sudah gue kirim " ujar Bastian menjawab telpon Deni.
" oke, tapi kalian jangan lembur yang lain " goda Deni yang disambut tawa Bastian.
" Bagaimana kamu ajak saya jalan jalan keliling desa ini Mi " pinta Bastian sambil duluan jalan.
Ami membawa Bastian menikmati pemandangan desanya dari atas bukit, sejenak ia lupakan saja malam pertama yang meresahkan hatinya. beberapa warga yang berpas pasan menyapa mereka.
" Wah pengantin baru lagi jalan jalan ya "
Ami terkejut saat Bastian mengapit pinggangnya.
" Jangan panggil saya pak disini Mi, panggil mas " bisik Bastian dengan menyenyumi ibu ibu yang baru pulang dari sawah.
" eh..mas Bastian mau lihat sawah sawah dulu permisi pak bu " ujar Ami pamit.
Ada yang aneh terasa dilidahnya ketika memanggil Bastian mas.
Menjelang sore mereka kembali kerumah. Setelah makan malam, Ami membantu Bastian mengerjakan file yang belum selesai. Dulu ada meja menjadi pembatas komunikasi mereka saat bekerja. Malam ini tak ada batas sama sekali.
Bahu mereka saling beradu. Beberapa kali terjadi saling tatap, entah mengambil benda jatuh atau ketika Bastian minta koreksi atas data yang diketik Ami.
Di luar terdengar deru hujan dan suara petir. tiba tiba semua jadi gelap, Ami terpekik dan reflek memegang tangan suaminya.
" lampunya mati pak " ujar Ami sembari mendekatkan tubuhnya pada Bastian.
Bastian menghidupkan senter hp, hingga tercipta cahaya remang. Amipun melakukan hal yang sama.
" kita lanjut pak ? " tanya Ami sambil menjauhkan tubuhnya dari Bastian tapi Bastian menahan tangannya.
" sudah kita lanjutkan besok saja " ucap Bastian sambil mematikan laptop.
__ADS_1
" besok saya akan bujuk mak biar kita bisa balik pak " ujar Ami sambil merapikan kertas kertas berserakan di meja. Bastian menggeleng.
" Nggak usah, kita akan melakukannya mi " ujar Bastian sambil mengajak Ami berdiri.
" Pak...saya.." Ami merasa hatinya memaksa tubuhnya mengikuti kemauan Bastian. tak ada penolakan sama sekali ketika Bastian membaringkannya di ranjang.
Ia seakan terhipnotis ketika Bastian membelai pinggir rambutnya sambil tersenyum, Ami terhanyut. Ia tak bisa pungkiri selama bekerja ia sering terpesona dengan wajah atasannya itu. Tapi ia sadar diri, tak ada yang istimewa dalam dirinya yang membuat Bastian jatuh cinta.
Ketika ia ingin bicara, bibirnya sudah dibungkam Bastian dengan kecupan lembut. semakin lama semakin membuai Ami.
Ami hanya menggigit bibirnya ketika merasakan ada yang terkoyak dalam tubuhnya. sesuatu yang sangat ia jaga selama ini.
" Pak.." panggil Ami lirih, Bastian mendekatkan bibirnya ketelinga Ami.
" Panggil mas sayaang " bisik Bastian. Ami menutup matanya, gelenyar itu semakin membuncah di hatinya.
" Terima kasih sudah membuat saya menjadi wanita paling bahagia malam ini mas " ujar Ami disela nafasnya yang terengah engah.
Bastian hanya tersenyum sambil membelai lembut pipi Ami.
" kamu special Ami " balas Bastian sambil mengecup kening Ami.
Mereka tertidur setelah beberapa kali mengulangi hasrat pengantin baru. karena kelelahan setelah lembur semalaman, lembur dalam versi lain seperti yang disampaikan Deni.
ketukan pintu dari luar membangun mereka, Ami terkesiap, ia buru buru merapikan diri.
" kak, aku duluan. ada teman yang juga mau ke kota " ucap Jojo setelah Ami menyembulkan kepala ke pintu.
" Ya hati hati " tanggap Ami. ia kembali menutup pintu dan melihat Bastian mengenakan baju. Ami memalingkan pandangan.
":semalam bukannya kamu sudah lihat semuanya, kita sudah suami istri Mi, kamu boleh melihat tubuh saya "
Ami tercenung, hatinya terus bertanya apakah Bastian memang menginginkan pernikahan ini ? lalu bagaimana dengan pertunangan yang tinggal beberapa hari lagi itu.
Dalam perjalanan kembali ke kota. Ami lebih banyak diam. Banyak hal yang membuatnya cemas ketika kembali rnenjalankan aktifitas di kantor. Bastian bukan sekedar atasannya lagi, tapi laki laki itu sudah menjadi suaminya.
Bagaimana ia harus menghadapi bu Winda, wanita itu pasti sangat kecewa padanya karna ia begitu menginginkan Nana jadi menantunya, lalu Amira akan menagih janjinya untuk menanyakan apakah Bastian masih menyimpan cinta untuk gadis cantik itu
Ami terkejut saat tangan Bastian menyentuh keningnya.
" masih sakit mi ? " tanya Bastian sambil melemparkan senyum.
" Nggak pak, o..ya pak untuk sementara kita bersikap seperti biasa. Jangan sampai bu Winda tahu bapak menikahi saya "
"
__ADS_1