Asisten Special

Asisten Special
Dia yang tak mau mendengar


__ADS_3

Bastian menghempaskan tubuhnya di sofa. Mencoba mengatur nafas yang memburu sebagai reaksi dari apa yang ia lihat tadi di rumahnys, ia memilih pulang ke apartemen dan melepaskan segala kekesalannya di sana. Bastian melempar semua barang yang ia temui di meja kerjanya ke sembarang arah.


" Dasar sial ! " umpatnya.


Biasanya ketika ia dalam kondisi kacau. ada Ami yang bisa membuat suasana hatinya tenang.


" pak, yang penting bapak tenang dulu. dalam kondisi kalut, semuanya terasa buntu. coba bapak duduk dan minum ini air ajaib " biasanya Ami akan mengatakan itu sambil menyodorkan segelas air putih.


Tapi justru, wanita yang memberikan ketenangan itu membuatnya gelisah. ia tak bisa menahan rasa cemburu yang begitu kuat ketika Ami memeluk Bagas dengan erat.


Bastian meraih botol mineral dalam kulkas dan meminumnya asal. ketika ingat saat Ami memeluk Bagas, ia melempar botol itu ke sembarang arah sambil mengumpat.


" brengsek ! dasar manusia penipu ! "


Bastian mengangkat telpon yang sejak tadi berdering.


" Bisa kamu ke kantor saya Bas ? " ujar suara yang menelpon Bastian.


" Saya tahu kamu dalam masalah besar sekarang, saya akan membantu kamu untuk keluar dari masalah itu " lanjut suara itu lagi.


" Baik, saya akan kesana " jawab Bastian kemudian mematikan hp.


Bastian membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Setelah mematut diri di cermin, ia meninggalkan apartemen menuju tempat yang dimaksud orang yang menelponnya. Joni sudah menyampaikan pesan papi padanya kalau ia belum boleh ke kantor sebelum semua kegaduhan atas pengakuan Lani di media sosial itu reda.


Bastian melajukan mobil menuju Brightness grup. Perusahaan milik ayah Nindi. Hutomolah yang terus meghubunginya tadi. Perusahaan investasi yang cukup terkenal.


apa yang terjadi pada Bastian mungkin sudah di sampaikan oleh Nindi pada ayahnya. sebenarnya Bastian tidak ingin berurusan dengan Nindi maupun ayahnya, ia tahu tujuan mereka adalah dirinya menjadi pasangan Nindi menggantikan Rendra. Meski ia dan Ami bermasalah, ia tak sembarang mengambil keputusan.


Bastian tidak ingin menjadi pembuat masalah antara Rendra dan istrinya itu tapi untuk saat ini ia sedang butuh seseorang yang bisa menyelamatkannya dari tepi jurang kehacuran karirnya. apa lagi setelah orang yang ia cintai berkhianat.


" silahkan duduk mas " ucap Nindi mempersilahkan Bastian duduk di depan ayahnya. ia kemudian duduk di samping ayahnya dengan bergelayut manja. Pagi itu Nindi terlihat sangat cantik.


" Bagaimana Bas, seandainya mereka mendepakmu dari perusahaan ayahmu. kamu boleh menggantikan posisi saya asal kau menikah dengan Nindi " ujar Hutomo penuh penekanan terutama pada bagian menikah dengan Nindi. Bastian tak menjawab, ia hanya bergumam sambil memendarkan pandangan ke sekeliling ruangan pimpinan tertinggi di Brigtness grup itu.


" Mas...aku yakin aku bisa jadi istri yang baik untukmu " Nindi mencoba meraih tangan Bastian, Bastian pura pura mengambil sesuatu dalam jasnya hingga tangannya teralihkan dari tangan Nindi.


" Saya akan hadapi masalah saya dan saya tahu apa yang akan saya perbuat " Bastian berdiri dan mengangguk hormat pada Hutomo.


" Permisi " ucap Bastian kemudian meninggalkan Hutomo dan anak perempuannya yang tengah menahan kesal.


" Dad..bagaimana ini ? dia sepertinya tidak goyah " rengek Nindi. ia berdiri resah memandang ke arah Bastian keluar.


Hutomo memandang lurus ke pintu. rupanya Bastian sangat berbeda dengan Rendra kakaknya. Kalau Rendra adalah laki laki yang haus akan kekuasaan dan harta, beda sekali dengan Bastian yang lebih meletakkan jabatan sebagai tangguh jawab besar. Tidak hanya memikirkan keuntungan semata. ia bertindak begitu penuh perhitungan.

__ADS_1


" Bersabarlah, kita tunggu Hendra mendepaknya dari HWD grup " ujar Hutomo tenang, berbeda sekali dengan Nindi. ia begitu gelisah.


" Kalau Dady tak mau bertindak biar aku saja yang berbuat, Bastian harus bertekuk lutut padaku " ujar Nindi sambil meraih tasnya.


*******


Ami menatap nanar berita yang sedang ia tonton. ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, seorang perempuan muda yang bekerja sebagai Office girl mengaku telah dilecehkan oleh Bastian. Ia menunjukkan bukti bukti yang mendukung ceritanya.


Selama kejadian itu yang diceritakan OG itu, Bastian selalu bersikap manis padanya. Tapi ia begitu kenal Bastian luar dalam. Tak mungkin suaminya berbuat sebejat itu.


" Ami...ini fitnah, Kamu tau kan Bastian tidak seperti itu. Aku harap kamu tidak terpengaruh mi..kamu satu satunya kekuatan Bastian saat ini " ujar Deni dengan wajah harap harap cemas.


" bisa kalian tinggalkan saya sendiri " ucap Ami dengan suara bergetar, ia mendengar pengakuan Lani terlihat tak dibuat buat. membawa opini yang mendengar kalau Bastian memang pimpinan cabul.


" Mi...kamu jangan rapuh " kata Amira sambil memeluk Ami yang sudah menangis.


" Bastian tidak seperti itu, dia sangat mencintaimu Mi..."


Ami melepaskan pelukan Amira dan berlari ke kamarnya. Sudah beberapa hari ini ia ingin mengabarkan pada suaminya kalau bayi yang telah lama mereka nantikan telah tumbuh dalam rahimnya.


Sekarang, laki laki itu tak mau mendengar penjelasannya tentang pelukannya pada Bagas. Sepenuhnya tadi ia memikirkan Bastian.


Sebelum pergi meninggalkan rumah Bastian, Deni menghubungi perusahaan security untuk menambah penjagaan di rumah Ami. sebentar lagi ada banyak wartawan yang ingin menemui Ami.


Bastian mematikan panggilan Deni, jika ada menyebut Ami atau istrinya hatinya terasa sakit.


" gimana ? " tanya Bagas, mereka sudah berada di kantor Amira. Deni mengangkat bahu, wajahnya pias.


" Bagaimana kita mau menyelamatkan nama baik dia, sementara dia saja tak mau mendengarkan kita " ujar Bagas frustasi.


" Kita tunggu Ami tenang, disaat genting, ia selalu punya ide untuk menyelamatkan Bastian " jawab Deni sambil menghela nafas.


*******


Ami mengangkat panggilan Dwi, Art dirumah Winda yang telah menjadi orang kepercayaannya.


" Nyonya...bisa nyonya kesini secepatnya " suara Dwi terdengar cemas.


" kenapa Wi.. mami kenapa ? " tanya Ami tak kalah cemas, ia terbayang sesuatu yang buruk terjadi pada ibu mertuanya.


" Saya kuatir pada nyonya Winda...dia seperti mau dianiaya adik dan keponakannya. saya dengar mereka mengancam nyonya " adu Dwi sambil menangis.


" Sebentar lagi saya akan kesana Wi, kalau ada apa apa kamu hubungi security "

__ADS_1


Ami bergegas kerumah Winda. ia meminta sopir melajukan mobil dengan cepat agar ia cepat sampai dirumah ibu mertuanya.


Ami turun di jalan seperti permintaan Dwi, karna kalau orang orang yang menyekap Winda tahu kehadiran Ami, mereka akan berpura pura tidak terjadi apa apa.


Dengan mengendap endap Ami masuk kedalam rumah melalui pintu belakang. Dwi mengajak Ami naik kelantai atas. mereka membawa Winda ke balkon.


Ami juga mendengar suara Nindi.


" Aku sudah muak wanita tua, kau harus segera membujuk anakmu agar mau menikah denganku dan meninggalkan wanita miskin itu "


" Ya kak, anakmu sekarang akan dibuang dari perusahaan ayahnya, apa kau ingin kita hidup miskin. Nindi akan memberikan jabatan ayahnya jika Bastian mau menikah dengannya " tambah Windi.


Ami mengendap endap mendekati balkon. ia lihat wajah Winda begitu pucat. Ia hanya menunduk sambil menahan tangis, kebaikan Nindi yang selama ini ia rasakan hanyalah keputusan puraan saja.


" Kenapa tak dengar nenek tua ? apa kau tuli ha..? " ujar Nindi sarkas. Ami menahan tangan Nindi yang hendak menoyor kepala Winda.


" Hentikan ! " Ami menatap tajam Nindi.


" Kenapa kalian mengancam orang yang sedang sakit. Kalian sama sekali tidak punya hati ! " hentak Ami.


Winda tergugu menatap menantu yang selama ini tak dianggapnya justru kini menjadi penyelamat.


" Jika kau memang punya hati, ni kejar dia " Nindi mendorong kursi roda Amira. hingga kursi roda yang diduduki Winda meluncur tak terkendali. Reflek Ami mengejar ibu mertuanya yang hampir mendekati tangga.


" Mami ! " jerit Ami. untung ia masih bisa meraih sandaran kursi, namun roda kursi sudah berada di tangga kedua. Tangan Ami satu lagi ditarik Windi.


" lepaskan ! kalian benar benar jahat " ucap Ami.


" Sebaiknya kau ikut jatuh bersama mertuamu mi, aku tahu kau sedang mengandung anak Bastian dan itu sama sekali tidak aku inginkan. Kemarin aku lihat kau dari klinik kandungan " balas Nindi sambil memegang bahu Ami.


Nindi berusaha mendorong tubuh Ami agar kakinya berada di anak tangga hingga ia dan Winda sama sama terseret ke bawah.Winda yang mendengar itu menoleh, tangga itu cukup berbahaya jika mereka berdua terjatuh dan berguling.


Hati nurani Winda tersentuh ketika mendengar Ami sedang mengandung cucunya. Tangan Ami yang menahan sandaran kursi semakin lemah. Nindi berusaha melepaskan cengkraman tangan Ami pada sandaran kursi.


" Mamiiiiiii ! " teriak Ami ketika Winda berguling ke bawah. tubuhnya terhuyung kebelakang karna sebuah dorongan tangan seseorang hingga sandaran kursi itu terlepas dari tangannya. Ami shock ternyata ibu mertuanya sendirilah yang mendorongnya agar melepaskan pegangan.


" Mami ! mami ! " semua orang mendengar suara Bastian menjerit memanggil ibunya di bawah.


Nindi tergesa turun dan menemu Bastian yang menggendong ibunya yang berdarah darah.


" Ami..Ami..mendorong mami " ujar Nindi terengah engah.


"

__ADS_1


__ADS_2