Asisten Special

Asisten Special
karma Rendra


__ADS_3

Flash back on


Saat Ami di rumah Luna. Ami mendengar banyak sekali kelicikan Rendra untuk Bastian. Luna menceritakan kalau ia sering mendengarkan percakapan antara Rendra dan Dina tentang bagaimana menyingkirkan Bastian dari perusahaan.


Meski Rendra sudah menikahinya secara siri, Luna merasa ia sudah berada di jalan yang salah. Ia pernah diam diam mengikuti pertemuan Rendra dengan seorang perempuan. Luna berhasil mengambil dokumentasi saat Rendra menyerahkan amplop tebal ke tangan perempuan itu.


Setelah mendengar cerita Luna, Ami menghubungi Joni, untuk mengambil rekaman CCTV di depan ruangan Rendra dan ditempat tempat yang ia curigai Adanya interaksi antara Rendra dan Lani.


Satu minggu ia dan Joni mengumpulkan bukti bukti itu, sampa ia dan Joni harus pergi ke bar yang sering di kunjungi Rendra.


Flash back off


******


" ini adalah konspirasi pak Rendra dan orang orang yang ingin menjatuhkan nama baik suami saya, saya akan perlihat bukti bukti kalau perempuan itu di bayar untuk menjebak suami saya "


Ami meminta Joni memutar rekaman CCTV dimana memperlihatkan pertemuan pertama Rendra dengan Lani di bar. kemudian berlanjut dengan beberapa kali pertemuan di depan pantry.


Dan sebagai puncaknya adalah foto foto jepretan Luna. Tidak lupa Joni mengirimkan sampel kopi yang diminum Bastian saat ditemukan tidur bersama Lani untuk di uji, ternyata kopi itu mengandung obat tidur.


Rendra ditempat duduknya mulai cemas. ia gelisah ketika melihat perubahan sikap anggota sidang. Banyak dari mereka mengangguk angguk.


" istri lo bukan orang sembarangan, turunan sherlock homes kayanya dia " bisik Bagas pada Bastian. Bastian meski lega, tapi hatinya ketar ketir juga saat menatap Ami, istrinya itu tak mau membalas tatapannya. Bastian tertunduk ketika ingat wajah Ami yang begitu pias saat dia mengusirnya.


Rendra terkejut ketika beberapa polisi masuk dan langsung menangkap kakak tiri Bastian itu.


" Kami sudah mendapat banyak laporan dari karyawan anda bahwa anda sering melecehkan mereka, silahkan jelaskan nanti di kantor polisi " ucap salah seorang polisi.


" Papi...papi tolong aku " rengek Rendra saat dirinya digiring polisi keluar ruangan.


Hendra hanya bisa tertunduk melihat salah satu putranya di bawa ke kantor polisi.


akhirnya hari itu Bastian dinyatakan tidak bersalah dan tetap menjabat sebagai direktur utama.


Ketika rapat selesai, Ami terlebih dahulu meninggalkan ruang meeting. Deni dan Bagas menyuruh Bastian mengejar Ami yang hampir masuk lift.


" Ami tunggu ! " sergah Bastian. tapi Ami tak bergeming, ia terus masuk lift. Bastian terpaksa menggunakan tangga darurat untuk mengejar Ami.


Mereka bertemu di lantai bawah. saat bertemu Ami hanya mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan Bastian dengan tatapan bersalahnya.


" Sayang, maafkan aku " ucap Bastian saat berhasil menangkap tangan Ami dan menarik tubuh mungil istrinya itu ke pelukan. tapi Ami sama sekali tak membalas pelukan Bastian. Ia Berusaha membendung air mata yang mendesak untuk keluar.


" Lepaskan aku kak, aku mau pulang " ucap Ami dengan suara parau. Ami mendorong tubuh Bastian agar mau melepaskannya.


Bastian mengecup puncak kepala Ami sebelum melepaskan pelukan, ia merasakan bahu Ami berguncang, saat terlepas Ami berlari keluar gedung dan Bastian hanya menatap Ami yang pergi bersama Jojo meninggalkan parkiran.

__ADS_1


********


Bastian hanya terpaku menatap pesan yang dikirim Jojo.


[ Mohon maaf bang, saat ini kak Ami belum mau bicara sama abang, jadi mohon pengertian abang untuk tak menemui kak Ami dulu, ini demi kebaikan anak abang juga ]


Bastian mengusap mukanya berkali kali. ia memang dinyatakan tak bersalah dalam rapat luar biasa dewan direksi. Tapi ia tak bisa mengelak dari vonis Ami. ia adalah suami yang sangat bersalah, suami yang tega mengusir istrinya disaat istrinya tengah mengandung.


" Gimana ? Ami sudah mau bicara ? " tanya Deni sambil meletakkan secangkir kopi kehadapan sahabatnya itu. Bastian menggeleng.


Bastian menghela nafas berat dan berlahan menghembuskannya. tapi rongga dadanya masih terasa terhimpit.


" Tanpa kopi pun gue nggak bakalan bisa tidur sampai Ami mau memaafkan gue " ucap Bastian frustasi. Deni menepuk bahu Bastian.


" Sori, gue nggak bisa nemenin. Amira suka minta macam macam kalau malam, gue pamit " ujar Deni sambil meraih jaketnya. sepulang dari kantor ia menemani Bastian di rumahnya.


Ketika Deni sudah pergi, Bastian baru merasakan rumahnya begitu sepi, terutama hatinya, rindu itu mulai berhembus di hatinya, teringat kembali wajah Ami yang selalu tersenyum saat menyambutnya pulang.


Ia semakin di dera rasa bersalah ketika memasuki kamar. bayangan saat Ami kecewa melihat hasil test pack dan ia menghiburnya.


" kamu yang sabar ya, siapa tahu lama kita nunggu langsung di kasih 4 atau lima " candanya waktu itu. Ami akan mencubit pinggangnya dan ia akan berlari ketika Ami mengejarnya setelah itu ia akan menangkap tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang.


Bastian meniupkan udara dari bibirnya, setelah berganti baju ia merebahkan diri di kasur.


Tersambung


" Haloo bos "


" Dimana Jon ? bisa datang ke rumahku ?"


" Lagi di mall, kerumah bos ? kayanya nggak bisa bos aku lagi kencan " jawab Joni malu malu.


" kamu punya pacar tak ? "


" ya..iyalah bos, masa nggak. kesepian sekarang ya bos ?. Sori bos..sengaja ngejek "


Bastian mendengus, ia menjentik hpnya sendiri.


" Besok Jangan sampai telat ke kantor, awas kalau telat, gajimu yang aku botakin "


" Sip bos..he..he.he, Selamat meluk guling bos "


Bastian melempar hp keatas kasur, ia masih menahan diri untuk tak Menghubungi Ami seperti permintaan JoJo.


Keesokannya, Bastian terlambat bangun. ia memanggil istrinya karena jika bangun terlambat ini ia akan minta Ami memikirkan kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


" Dek....dek tolong pijit kepala kakak "


Hening. Tak ada jawaban, Bastian tercenung. ia baru ingat kalau Ami tidak ada di rumah.


Dengan langkah berat, ia melangkah ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian kantornya.


" Pagi pak, sudah mau berangkat. apa bapak tidak sarapan dulu ? " tegur seorang Art ketika Bastian melangkah keluar rumah.


" Pagi..saya sarapan di kantor saja "


Sopir yang biasa mengantar Ami baru saja datang dan menghampirinya.


" Bapak mau saya antar ke kantor ? " tanya Deden, sopir yang memang bertugas mengantarkan Ami dalam beraktifitas.


" Boleh " ujar Bastian sambil memberikan kunci.


Ketika mobil sudah berjalan, Bastian memeriksa hpnya, ia tertegun pada pesan pesan yang dikirimkan Ami.


[ tolong dengarkan aku kak, tadi aku sangat ketakutan. aku kira kamu yang datang. aku kira Bagas itu kamu. maafkan aku ]


[ Kasih kesempatan aku untuk bicara kak ]


dan sederet pesan memohon lagi.


Bastian menghela nafas, ia menyadari beberapa waktu lalu ia sangat arogan pada Ami bahkan tega mengusir wanita yang meski telah dizolimi masih berusaha mencari bukti bukti kalau ia tak bersalah.


" Kapan ibu pulang pak ? " tanya Deden membuat helaan nafasnya semakin berat.


" entahlah Den, menurutmu apa saya bisa di maafkan ?"


Deden tak menjawab, ia melihat wajah bosnya yang terlihat frustasi. Ia melihat bagaimana istri bosnya itu menangis diatas mobil setelah Bastian mengusirnya dari rumah ibunya.


" Sepertinya sulit pak " jawab Deden akhirnya.


" Kamu Den, mematahkan semangat hidup saya saja. kamu sama Joni sama saja, seneng liat saya ancur "


" Maaf pak, bapak nggak boleh patah semangat kalau bapak ancur karir saya juga ancur pak..semangat pak, saya dukung bapak untuk minta maaf sama ibu Ami " ucap Deden optimis.


" gitu dong, buat bos semangat. nanti gaji kamu saya naikin " ucap Bastian sambil menepuk bahu Deden. sopir itu tersenyum


" lima ribu " Deden menarik senyumnya lagi.


" Oke...dua kali lipat, kalau kamu bisa buat ibu pulang " lanjut Bastian sambil menunjukkan sejumlah angka di hpnya.


" Berat pak..." Deden menggeleng. Bastian menyandarkan kepala ke kursi dengan perasaan kecewa. anak buahnya sendiri tahu bagaimana sikap ibu bosnya sudah kecewa, no excuse.

__ADS_1


__ADS_2