
" Diarynya hilang, cuman pas puisi bagian ini saya catat ulang pak, waktu kita cuman lima menit lagi jadi jangan introgasi saya sekarang "
Sebenarnya Bastian ingin bertanya lagi tentang diary yang pernah ditemukan Ami. Tapi satu tahun terakhir, dia bukannya memikirkan diarynya yang hilang tapi lebih memikirkan orang yang menemukannya.
gadis yang tengah berbincang dengan operator IT, tampak ia tengah memberikan sebuah flash disk. Bastian melangkah ke tengah panggung.
Tentu dengan tampangnya yang paripurna membuat kaum ibu ibu tertegun. Seperti para CEO sebelumnya, mereka akan memberikan presentasi singkat bersama slide slide yang menunjukan produk mereka.
Berbeda dengan CEO sebelumnya, seperti ide Ami. Ia diminta bernyanyi, entah sejak kapan gadis itu tahu ia pandai bernyanyi.
Bastian menyanyikan lagu Rumah Kita
Permulaan Bastian membuat suasana menjadi riuh, tepuk tangan menggema apalagi para gadis pemuja pria tampan.
Ami masuk saat Bastian memainkan nada Akustiknya.
" Pulang..., kata itu yang selalu ku nanti darimu.
ku tanam bunga dahlia kesukaanmu
ku bingkai pagar perdu pelipur rindu
halaman yang tak besar, tapi cukup luas untukku mengembangkan tangan menyambutmu pulang
kau yang jadi matahari di ufuk timur
__ADS_1
ku singkap tirai..ingin ku lihat kau melambai
Pulanglah sayang
Pulanglah ke rumah kecil kita.
Bastian terpana dengan kemampuan Ami berpuisi..slide slide yang ia buat berpadu bait pusi memukau mata para penonton. riuh tepuk tangan menggema seketika saat Ami menyudahi bait puisinya.
Seseorang menyerahkan setangkai bunga ke tangan Bastian dan reflek Bastian memberikannya pada Ami. semua orang menyangka mereka adalah sepasang kekasih, entah siapa yang mendadani Ami hingga ia mirip seorang peri.
Bastian harus mengakui kalau asistennya itu cantik.
kecantikan yang sering tertutup oleh kesederhanaan penampilannya.
" Oke...bagi pasangan yang baru menikah, silahkan membeli unit rumah di perumahan Dahlia atau bapak.ibuk yang ingin berinvestasi " Deni menambahkan kalimat puisinya.
" Inspirasinya dari kakak " ujar Ami sambil menghapus bibirnya yang merah dengan tisu basah serta eye shadow yang membuat matanya risih.
" kenapa dihapus, aku belum puas lihat kamu cantik " ujar seseorang di belakang Amira.
" Bapak katarak kata semua karyawan kalau bilang saya cantik " Ami melepet bibir.
" Bener kok mi, kamu cantik " puji Amira, sebenarnya hatinya tergores mengatakan itu, tapi ia harus akui apa yang dilihatnya.
" tapi masih kalah cantik sama kakak, waktu saya ketemu kakak pertama kali, saya baru ngerti betapa rindunya penulis puisi dalam sebuah diary pada kakak "
__ADS_1
Bastian menarik tangan Ami menjauhi Amira.
" Please, jangan bahas masalah diary lagi di depan Amira "
" Bapak malu ya, isi hatinya ketauan, mumpung Amiranya ada di sini. mending bapak ungkapkan saja, waktu bapak cuma satu bulan lagi lo nunjukin sama bu Winda calon istri pak Bastian "
" Ami, saya belum ingin menikah " tekan Bastian. Ami tertawa.
" bapak jangan nambah nambahin jumlah jomblo di dunia "
" bukannya kamu yang bilang lupakan saja diary itu, saya sudah melupakannya mi "
Ami terdiam saat Bastian menutup bibirnya yang ingin bicara dengan jari telunjuk.
" sudah Mi, saya sudah move on "
Ami tak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana pujangga di depannya bisa melupakan sesuatu yang dua tahun lalu ia bilang sangat berharga.
Amira pulang diantar Bastian, sementara Ami di antar Deni.
" cerita dong mi, gimana awalnya kamu ketemu Bastian. trus jadi suami istri boongan itu bagaimana bisa terjadi " tanya Deni penasaran. ia hanya dapat penggalan kecil percakapan Ami dan Bastian tentang kejadian dua tahun lalu.
Ia jadi saksi betapa Bas sumringah melihat CV dibentangkan didepannya.
" Mungkin Siska bagus untuk jadi asisten bapak "
__ADS_1
" Saya pilih Amina, pastikan dia datang besok ke kantor " ucap Bas tanpa melihat CV Amina.