Asisten Special

Asisten Special
Tertangkap basah


__ADS_3

" Mau tambah sausnya ? " tanya Bastian pada wanita yang sedang mengaduk aduk mie goreng instantnya dengan malas. Ia masih dalam mode kesal.


" Atau ditaburi bawang goreng, telurnya di ganti atau itu aja ? " Ami tak menanggapi, ia berusaha menyembunyikan senyum melihat mie goreng dadakan buatan sang suami. eleh..katanya mau bikin yang enak enak. ujug ujungnya jatuh ke mie instan juga.


Ia berlahan memasukkan mie ke mulut, pura pura tidak melihat Bastian yang sedang mengiris mentimun.


" Timun katanya bagus untuk menurunkan tensi " ucap Bastian sambil meletakkan timun ke piring Ami. Sindiran yang tepat sasaran, Ami ingin mengungkai senyum tapi masih gengsi.


" Mau di bikin teh teman ngobrol ? " tawar Bastian lagi, usaha pantang menyerah biar tidur ga dipunggungi lagi.


" Sayang gulanya abis "


" Masa. cepet kali abis, perasaan kita beli stok banyak " Ami tiba tiba bicara. Ia melangkah ke dapur. Jiwa mak mak berontak jika bahan pokok habis tanpa tau siapa yang habiskan.


" Ini masih ada " ujarnya sambil menunjukan kotak gula pada Bastian yang berjalan ke arah dapur.


" tadi itu rasanya pahit. ga ada manis manisnya " sanggah Bastian dengan wajah ditekuk.


Ami mengambil sendok dan mencicipi gula, jetlag membuat otaknya mendadak oon. Ia mengambil sesendok.


" ah..masih manis kok, sejak kapan gula rasanya pahit " protes Ami. Bastian sudah ada didepannya, tak begitu berjarak.


" gula jadi pahit kalau kamu ga senyum.." ujar Bastian sambil kedua tangan menangkup pipi Ami. tatapannya mengunci fokus kedua manik mata istrinya. Ami mulai terbawa suasana. Ia mulai tersenyum.


' Ah..kakak memang jago soal rayu merayu "


Ami terkesiap ketika Bastian menurunkan wajah. mempertemukan bibir mereka lagi tapi bunyi bel menghentikan aksi Bastian.


Entah apa yang membuat suasana menjadi mencekam bagi Ami jika bel sudah berbunyi, ia selalu takut jika tiba tiba ibu Bastian yang muncul. Suasana pasti tegang jika Winda mendapati mereka berduaan di apartemen.


" Mami...sendirian ? kenapa ga ngajak tante Windi " ujar Bastian setelah membuka pintu. Ia tidak melihat aksi luar biasa paniknya Ami. mulai dari sembunyi di balik lemari, masuk lemari. Di kulkas, nggak mungkin bisa mati beku nanti, pikir Ami.


Di kamar mandi. gimana kalau Winda ingin ke kamar mandi. Ami mulai bingung mencari tempat bersembunyi.


" Dek..., tolong buatkan minum buat mami " teriak Bastian dari ruang tamu.


Ya ampun, Ami menepuk jidatnya. kenapa diperjelas sih keberadaannya di apartemen Bastian. Nyonya Hendra itu menyangka yang tidak tidak tentangnya.


" Kok pucat sih, jangan kuatir mami sudah tahu kalau kita sudah nikah " ucap Bastian sambil memeluk Ami dari belakang.

__ADS_1


Ia mengerti ketakutan Ami. Pasti istrinya menyangka, ibunya masih belum tahu soal pernikahan mereka, padahal mereka bertiga sudah membahas masalah resepsi pernikahan. Nyonya Winda akhirnya harus mengaku kalah dari argumen dua laki laki yang dicintainya.


pelan pelan Ami mendengar langkah kaki seseorang menuju dapur. bunyi langkah itu memacu ritme jantungnya.


Ami berusaha mengurai pelukan Bastian saat tatapannya bersirobok dengan tatapan Winda. Ia mencoba mengangkat senyum tapi terasa berat karena nyonya Hendra itu melempar pandangan datar. ragu ragu Ami mendekati ibu mertuanya itu untuk menyalami dan mencium punggung tangan Winda. Dengan kaku, ia melakukan semua itu.


" Bas, waktu mami hanya sebentar. mami kesini untuk memastikan kapan kalian bisa fitting baju ? " ucap Winda sambil memindai tubuh Ami dari atas hingga bawah.


" Minggu ini Bas usahakan bawa Ami ke butik " jawab Bastian. Ami mengambil cangkir tapi tak jadi karena Winda melarangnya membuatkan minum.


" ga usah buat minum, mami mau pergi " ujar Winda datar. Ami mengigit bibirnya, ada gurat kecewa singgah di hatinya, hatinya yang selalu merindukan kehangatan seorang ibu.


Ami mengusap wajahnya. mencoba menetralkan suasana hatinya yang keruh. meski Bastian mengatakan maminya telah menerima pernikahan putra semata wayangya dengan perempuan kampung tapi tatapan matanya mengatakan ia belum ikhlas.


" Mami ga makan malam di sini, Ami bakal buat tumis kangkung kesukaan mami " tawar Bastian saat membuka pintu.


" Lain kali saja " tanggap Winda, entah kenapa Ami menangkap kalimat itu sebagai ungkapan kekecewaan. Tapi ia tak ingin menunjukan kesedihannya pada Bastian, saat suaminya kembali Ami lah lebih dulu memulai apa yang tertunda tadi.


Dua hati yang saling melepas rindu.


Ami membiarkan raganya menikmati setiap sentuhan Bastian, tapi ia tak bisa memungkiri ada yang mengganjal di hatinya ketika laki laki itu maratukan dirinya dalam penyatuan mereka. Ia belum sepenuhnya diterima oleh sang bunda.


" Jangan sedih, mami orangnya sepeti itu. terkesan dingin dan angkuh. sebenarnya ia baik dan penyayang. hidup berbagi suami bukan hal yang mudah untuk dilalui mami. Kakak harap kamu ga terlalu mengambil hati setiap sikap dingin mami " Ami terkejut saat Bastian menebak galau hatinya padahal ia tak bicara apa apa. dari tadi ia hanya membenamkan kepalanya di dada kekar Bastian. Ami hanya menanggapi dengan senyum walau hatinya getir.


Sebenarnya dari tadi Rendra mengajaknya untuk bertemu untuk membahas soal penarikan saham Hutomo dalam perusahaan mereka.


Kata kata makian Rendra pada Ami yang dikirimkan lewat pesan hijau membuatnya naik darah. Ingin rasanya ia langsung berhadapan dengan saudara satu ayahnya itu dan meninju mulut kotornya yang mengatakan Ami perempuan murahan. sampai ia tak sadar telah membentak wanita yang telah dibelanya. parahnya istrinya itu mengira ia marah karena berita rencana pernikahan Amira dan Deni.


Ada baiknya ia tak menemui Rendra. Saat emosinya memuncak hanya akan terjadi baku hantam. itu pasti membuat papi kecewa.


Bastian membaca notifikasi dari hpnya. tangannya mengepal ketika membaca pesan dari Rendra.


[ Dasar pengecut, kau tak berani datang untuk menpertanggung jawabkan perbuatanmu, kau pasti sedang bercinta dengan wanita pembawa sial itu ]


Bastian bergegas membersihkan diri. setelah membuat pesan di kulkas. ia keluar apartemen menuju kantor tempat ia sepakat bertemu dengan Rendra.


Ketika ia memarkirkan mobil, Ia melihat Luna sekretaris Rendra baru keluar dari gedung berlantai 20 lebih itu.


Seksama Bastian memperhatikan gerak gerik Luna ketika masuk mobil. wanita seksi itu menutupi lehernya dengan syal. Bastian tahu hubungan gelap Rendra dengan Luna yang ditutupi dari Dina.

__ADS_1


Madu ibunya itu jelas tak menyukai Luna yang berasal dari keluarga biasa, sementara ia memproklamirkan pada dunia bahwa anaknya itu harus menikah dengan keluarga kaya.


Nindi artis baru naik daun itu begitu tergila gila pada Rendra dan tentu saja Dina merestui secara ayah Nindi adalah investor ternama. Bastian mendengar sendiri kesepakatan kekasih gelap itu saat ia ada perlu ke kantor malam hari. Entah kenapa, ia merekam percakapan itu.


" Aku bagaimana mas, kalau kamu menikah dengan Nindi. kita sudah melangkah terlalu jauh, sekarang aku sedang mengandung anakmu. untung saja orang tahu aku perempuan bersuami padahal aku sudah cerai "


" Tenang sayang, ini hanya untuk sementara. Bukankah kita butuh uang yang banyak untuk membesarkan anak kita. Nindi hanya ku jadikan alat untuk menguras harta mereka "


Begitulah bunyi percakapan mereka dan itu cukup jadi kartu truf yang dipegang Bastian untuk menghancurkan Rendra. Mungkin inilah saatnya ia memakainya untuk membungkam mulut Rendra.


Bastian menyenyumi Luna yang mengangguk hormat padanya, seketika perempuan itu terpana saat ia mengenakan kaca mata hitamnya.


" malam Pak Bastian " sapa Luna yang di balas anggukan Bastian.


Bastian mengerti kenapa gosip tentang Ami sebagai wanita simpanannya begitu kencang berhembus. hal ini adalah imbas dari kelakuan Rendra dan Luna yang sudah jadi rahasia umum karyawan HWD grup.


" Akhirnya kau datang juga, berapa ronde wanita cupu itu melayanimu ? " sapa Rendra saat Bastian memasuki ruangan Rendra. Bastian melangkah pelan menuju meja kakak satu ayahnya itu. Ia berusaha tak terpancing.


" Kurang lebih sama dengan kau bermain dengan Luna, sekretaris mu " jawab Bastian santai.


" Bedanya, aku menikahinya dan kau pengecut ! hanya berani bermain di belakang papi dengan permainan harammu itu "


Rendra terperangah dengan ucapan Bastian. apa lagi saat Bastian memutar rekaman percakapannya dengan Luna.


" Jadi, apa kau berani menantangku lagi ?!!! "


Rendra terdiam. Fakta ini cukup membuat nyalinya ciut jika sampai rekaman itu sampai ketelinga papinya.


" Baik, sesuai arahan papi. kita akan meningkatkan pinjaman bank dan dalam waktu dekat papi akan mencari investor baru " jelas Bastian sebelum meninggalkan kantor Rendra.


Rendra, laki laki yang tak kalah gagah dari Bastian hanya bisa memaki dinding saat Bastian pergi.


" Sialan semuanya ! " Rendra melempar benda benda yang ada di mejanya.


Bastian kembali ke apartemen setelah sebelumnya ia menemui Deni yang sedang galau menanti hari pernikahannya dengan Amira. Ia mendukung rencana kedua sahabatnya itu meski awalnya ia meragukan niat Amira.


Bastian mendapati Ami sudah tidur. pelan pelan ia tarik selimut agar Ami tak terbangun. dalam lelapnya, istrinya itu seperti mencari sesuatu disampingnya. ketika Ami merasakan apa yang dicarinya ada, ia kembali tenang.


Bastian merapatkan kepala Ami ke dadanya dan ketika ingin menutup mata, ia mendengar igauan Ami.

__ADS_1


" Mami ..mami belum menerima ku kak " suara itu terdengar pilu. Bastian mengghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan


Ini tak akan mudah.


__ADS_2