Asisten Special

Asisten Special
Siapa yang harus di percaya ?


__ADS_3

Bastian menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, pembicaraannya dengan Hutomo dan foto foto Ami dan Bagas yang dikirim oleh seseorang membuat hatinya galau. Penawaran pinjaman dana dari Hutomo cukup menggiurkan. Saat ini perusahaannya butuh suntikan dana untuk mengerjakan beberapa proyek apartemen. Dia seperti harus menutup mata untuk kelakuan Rendra yang sering memanipulasi keuangan perusahaan. Ia tak ingin berurusan dengan kakak tirinya itu terlalu jauh, apalagi dengan ibu tirinya yang selalu berpura pura baik di depan semua orang.


" pak, ada keluarga bapak yang ingin bertemu " ujar Joni yang tiba tiba sudah berada di hadapan Bastian.


Belum sempat Bastian menanggapi Windi sudah menerobos masuk.


" Istrimu sudah tak bisa dibiarkan Bas, dia sudah berbuat kurang ajar terhadap keluarga kita, dia menampar Della "


Windi terlihat terengah engah.


" duduk dulu tante, tenang dulu ceritakan baik baik "


Belum sempat Windi bercerita. Joni memberitahukan kalau Rendra ingin bertemu. tentu saja Bastian harus menyuruh Windi pulang karena pertemuan dengan bawahannya lebih penting walau Bastian ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya.


" Tante.., aku akan menemui kalian di rumah " ucap Bastian sambil membukakan pintu.


Windi pergi meninggalkan kantor Bastian dengan hati kesal. ia belum sempat bercerita tentang kelakuan Ami yang mungkin bisa membuat Bastian tersulut dan mengusir wanita yang dibencinya itu.


Rendra masuk, langkahnya tenang. Bastian mempersilahkan kakak tirinya itu duduk.


" Bagaimana rasanya berada di atas angin Bas ? " tanya Rendra dengan menyilangkan kaki dan melipat tangan di dada.


" apa ada pertanyaanmu yang lebih penting dari ini ? kalau tak ada silahkan keluar, aku masih punya banyak pekerjaan " tegas Bastian, ia tahu sebenarnya Rendra hanya ingin memprovokasinya.


Rendra berdecih.


" Dasar Sombong, lihat saja sebentar lagi aku akan lihat kau jatuh terpuruk. aku ke sini hanya ingin mengingatkanmu, Jangan coba coba rayu istriku ! "


Rendra menghujam Bastian dengan tatapan tajam.


" Apa kau bosan dengan dengan istri cupumu itu hingga harus merayu istri kakakmu sendiri "


" Keluar ! " sentak Bastian, ia berusaha Menahan gemuruh di dalam dadanya. Sebagai pimpinan tertinggi tentu ia tak bisa bertindak gegabah.


" Oke..tolong kasih tau ibumu, jauhi Nindi, ia merusak pikiran istriku pada keluargaku "


Bastian tak menanggapi, ia berdiri dan mengibaskan tangannya.

__ADS_1


" Keluar dari ruanganku ! " ucap Bastian menahan geram. Rendra berdiri juga dan kembali menatap tajam adik tirinya itu.


" cih..akan ku buat kau bagai sampah " Rendra kembali berdecih saat melewati Bastian.


*******


Ami mampir ke kantor Amira karna ia diundang untuk acara pembukaan kantor biro konsultan interior Amira.


Sudah lama mereka tak bertemu, tak terasa pernikahan Amira dan Deni sudah berjalan tiga bulan.


Ami melihat perut Amira yang terlihat melendung, dulu Amira sangat ramping, berarti apa yang di sampaikan Sherly istri Bagas itu benar. Amira sedang hamil.


" Selamat ya kak " ucap Ami sambil menyerahkan buket bunga.


" makasih mi, ayo duduk dulu. aku mau nyambut Mas Deni dan teman temannya" ujar Amira sambil melihat kearah Deni yang baru datang. Ami melihat Amira terlihat bahagia memeluk suaminya.


awalnya ada perasaan tidak nyaman ketika bersama Amira karna mengingat betapa cintanya Bastian pada gadis indo itu. Ia takut suaminya masih menyimpan rasa pada mantannya itu.


" Pa kabar mi ? sudah lama juga ya kita nggak ketemu " sapa Deni sambil menyalami Ami.


" iya kak, sejak berhenti kerja aku lebih sering di rumah "


Ami menggigit bibirnya, hatinya perih mengingat perlakuan keluarga Winda yang tak menganggapnya ada. Terlebih ibu mertuanya itu tak pernah sekalipun menyuruhnya masuk dan memberikan waktu untuk berbincang.


" Iya kak "


Ami mencoba menghubungi Bastian, alangkah terkejutnya Ami karena yang mengangkatnya adalah Nindi.


" Menantu macam apa kamu mi ?!! mertuamu sedang sakit kamu malah senang senang berpesta. atau kamu memang ingin mertuamu celaka, agar kau bisa menguasai harta Bastian "


Ami tertegun dengan kata kata pedas Nindi, dari awal ia melihat istri Rendra itu, ia sudah menaruh curiga kalau wanita itu menyukai suaminya. Sifat Bastian memang jauh berbeda dengan Rendra meski keduanya sama sama tampan. Bastian memiliki karakter lebih tenang dan selalu menghindari aktifitas negatif seperti pergi ke klub atau pesta hura hura para eksekutif muda.


" Aku ingin bicara dengan suamiku, rupanya orang kaya sepertimu tidak diajarkan sopan santun, apa pantas mengangkat panggilan yang jelas bukan milikmu nyonya ! " balas Ami tak kalah sarkas. ia sudah muak dengan orang orang yang menindasnya. Nindi menutup telpon ketika Bastian masuk lagi ke kamar Winda. tadi ia membantu Winda untuk beristirahat di kamar.


Buru buru ia meletakkan hp Bastian ke atas nakas.


" Kamu boleh pergi " ucap Bastian. Nindi keluar dengan perasaan was was, apakah rivalnya itu mau mengadu pada Bastian perihal perhatiannya tadi.

__ADS_1


Ia lihat Bastian membuat panggilan untuk istrinya dengan sapaan yang sangat ia benci.


" Haloo sayang. lagi di mana ? "


" aku masih di kantor Amira, kamu ada di rumah mami ? bagaimana keadaan mami, apa dia baik baik saja " berondong Ami karna begitu ingin tahu keadaan ibu mertuanya, meski ia tak dianggap sekalipun.


" Ya..aku sama mami, dia sedang istirahat " Bastian seperti mendengar suara Bagas dan ibunya di samping Ami.


" Aku sudah mau pulang, aku tadi ke tempat mami tapi sepertinya mami belum bisa menerimaku kak " ucap Ami sendu. Bagas tertegun, ia mendengar dua cerita yang berbeda tentang perihal kedatangan istrinya ke rumah ibunya.


Tantenya bercerita kalau Ami datang sambil marah marah pada tante dan anak anaknya sampai menampar Della.


tapi Dwi mengatakan hal yang berbeda, kejadiannya tidak seperti yang diceritakan Windi dan anak anaknya. istrinya itu meradang karna dirinya di hina, ia tahu betul sifat Ami yang tak akan tinggal diam ketika harga dirinya di injak injak, Ami pasti akan melawan. Ami bukan wanita lemah dan tidak hanya itu, ia juga bisa menguatkan orang orang di sekitarnya.


Bastian menghela nafas dan menggusap wajahnya, ia melihat ke arah ibunya yang sedang tertidur.


" Bas.." panggil Winda lemah. ia terbangun dan mencoba untuk duduk.


" Mami istirahat saja dulu " ucap Bastian sambil membantu ibunya duduk. Winda terdiam sejenak. menatap anaknya begitu dalam.


" Bagaimana permintaan mami nak, tinggalkan saja istrimu dan menikahlah dengan Nindi.."


Bastian merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tak menjawab tapi segera beranjak dari tempat tidur. ia ingin marah pada wanita yang sudah melahirkannya itu, yang selalu memaksakan kehendak. Untuk kesekian kalinya, ia akan menahan amarah itu, nasihat pengasuh yang menyayangiya dengan tulus itu kembali terngiang di telinganya.


" Jangan berkata kasar sama mami ya "


Bastian keluar kamar dan terkejut di ruang tamu ia bertemu Bagas serta tante Rahmi di ruang tamu dan juga Ami, istrinya.


" apa kabar Bas ? " sapa Bagas sambil mengulurkan tangan.


" baik " Bastian menyambut tangan Bagas sambil memperhatikan tangan Ami yang meggenggam tangan tante Rahmi.


" Boleh kami menjenguk tante Winda Bas ? " tanya Bagas, Ami tertunduk ketika Bastian menatapnya tak senang.


" o..ya silahkan.." jawab Bastian sambil mengajak tamunya ke kamar Winda.


" Ayo mi.." Rahmi merangkul bahu Ami.

__ADS_1


saat ketika tamu itu masuk ke kamar ibunya, Bastian pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wahahnya, rasa cemburu itu makin menggebu di hatinya. apakah Ami akan berpaling darinya karna merasa lebih diterima dalam keluarga Bagas ?


__ADS_2