
“Cessi!”
Bahkan teriakan sang bapak tidak menghentikan langkah Cessi, ia pun segera menghidupkan mesin motornya dan melaju kencang. Membawa tangisnya yang semakin deras, lelehan cairan bening tersebut. Sebagai petanda, hati yang amat hancur.
Cessi tidak pernah minta dilahirkan di dunia ini dan hidup dengan kedua orang tua angkatnya, tetapi inilah kehidupan dunia. Sebagai seorang makhluk yang hanya bisa menjalani apa yang telah dituliskan oleh sang takdir.
“Kemana, aku harus pergi?” batin Cessi yang bingun. Membawa laju mobilnya, karena tidak ada tempat untuknya untuk berteduh.
“Apa sudah saatnya, untukku kembali, ya Tuhan?”
Cessi, telah merasa putus ada dengan keadaan yang terjadi. Hingga, muncul di dalam benaknya. Disaat, merasa terpuruk seperti sekarang. Manusia, memang. Akan mudah untuk di goda oleh setan, lalu menjerumuskan pada kesesatan yang nyata.
Cessi segera menyadari hal itu, jika Tuhan tidak sayang padanya. Maka, sudah sedari lama. Cessi sudah kembali ke alam lain.
Karena merasa lelah, Cessi pun menepikan motornya di taman. Tempat di mana, dirinya sering bersama dengan Amara. Teringat akan sahabatnya itu, membuat air mata Cessi menetes dengan sendirinya.
“Kenapa, harus seperti ini? Padahal, gue sudah berusaha menjadi anak yang baik,” gumam Cessi.
Dia menatap langit malam yang dipenuhi akan bintang yang berkelap–kelip. Ramainya orang yang berlalu–lalang, tidak membuat Cessi merasa lebih baik. Dia bahkan, merasa sendiri.
Kemudian, Cessi menuju sebuah bangku taman dan merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi meringkuk. Dinginya malam, membuat tubuh gadis itu menggigil.
Tidak ada yang namanya kehangatan keluarga, ataupun pelukan dari mereka. Membuat Cessi, harus merasakan dinginnya kesepian.
Apakah salah, jika Cessi menginginkan sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Dia juga sering merasa iri, dengan teman-temanya yang memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Sedangkan dirinya, tidak.
“Malangnya, nasib gue,’ gumam Cessi pelan.
“Memangnya, kenapa dengan nasibmu?”
Cessi mendengar sebuah suara yang amat ia kenal, kemudian bangun dari posisi yang menyedihkan dan menatap pemuda yang kini juga membalas tatapannya.
“Om, mesum!” peki Cessi yang tidak menjawab pertanyaan Raka.
Sorot mata tidak bersahabat, menandakan. Sebuah peperangan, tentu saja hal ini membuat Raka berdecak sinis.
__ADS_1
“Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui! Pertama, aku bukan Om-Om! Kedua! Aku bukannya mesum!”
Raka amat merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Cessi, bagaimana mungkin. Dirinya yang masih muda dan tampan nan–rupawan. Dikatai, om-om. Mesum pula.
Raka yang merasa tertekan dengan desakan kedua orang tuanya yang memaksa, Raka untuk segera menikah. padahal, dirinya masih belum menemukan calon istri yang sesuai.
Bukan berarti, dirinya tidak laku. Hanya saja, menginginkan calon istri yang akan bisa menemaninya di saat susah dan senang. Sebab, kebanyakan wanita hanya mau disaat senang saja dan akan meninggalkan pasangannya di saat susah. Tentu saja, Raka tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Emang gue peduli!” bentak Cessi dan bangun dari kursi yang tadi didudukinya. Namun, ketika Cessi baru saja berdiri. Raka telah menekan tubuh Cessi dan membuat gadis itu kembali terduduk dengan posisi Raka di hadapannya.
“Mau apa, Om?” tanay Cessi dalam mode waspada. atau, lebih tepatnya. Dia merasa takut, walaupun terlihat berani. Tetapi, Cessi. Tetaplah, seorang anak remaja yang masih polos dan belum tersentuh.
Raka menatap dalam, entah mengapa. Pemuda itu merasa sangat ingin dekat dengan Cessi, tetapi ia sadar. Jika, gadis yang ada di hadapannya masih belia dan tidak mungkin akan bisa dijadikan sandera.
Hal tersebut membuat Raka memundurkan tubuhnya dan memilih duduk disamping Cessi dengan santai dan bersandar di kursi taman tersebut.
“Kenapa, kamu gak pulang? Ii sudah malam,” kata raka tanpa menatap kearah Cessi. Pandangannya lurus ke depan, seolah tengah melihat masa yang akan datang.
Cessi hanya diam, saat ini jantungnya tengah berdetak kencang. Seperti pelana kuda yang tengah lari maraton.
Cessi perang batin dengan dirinya sendiri, ia tidak pernah merasakan hal seperti saat ini. Ketika berdekatan dengan seorang pemuda. Tentu saja, ada getaran yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya.
“Kenapa, hanya diam?” tanya Raka yang sudah cukup lama menunggu jawaban dari Cessi. Kemudian, ia menatap gadis di samping–nya yang terlihat gugup setengah mati.
Ingin sekali raka mengejek Cessi, tetapi ia coba tahan.Sebab, tidak ingin membuat gadis tersebut semakin merasa tidak nyaman dengan keberadaannya.
“Kamu ternyata cantik, ya<” ouju Raka tanpa sadar dan membuat wajah Cessi memerah karena menahan malu. Kemudian, membuang wajahnya ke sembarang arah.
“Jangan mengejek!” kata Cessi. Menutupi perasaanya yang berbunga-bunga akan apaa yang dikatakan oleh Raka, Seperti musim, bunga di eropa. Hati Cessi bermekaran dan mengeluarkan bau harum yang semerbak.
“Aku tidak mengejek! aku serius, Oliv,” kaat Raka yang semakin membuat Cessi salah tumngkah. Namun, Cessi menyadari panggilan ayng disematkan oleh raka padanya dan membuat Cessi menatap pemuda yang kini tengah menatapnya juga.
Mata mereka saling bertemu dan mengunci satu–sama lainnya. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Hingga, suara raka yang berdehem. Membuat Cessi tersadar, karena tengah mengagumi ciptaan Tuhan yang sempurna.
“Ehem.”
__ADS_1
Cukup lama, mereka salim diam. Sampai Raka melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat Cessi melongo dengan mulut yang terbuka lebar.
“Oliv, apa kamu mau menjadi istriku?”
Otak Cessi tidak bisa menerima dengan mudah apa yang baru saja dikatakan oleh Raka dan gadis itu memerlukan beberapa waktu untuk mencerna apa yang disampaikan oleh Raka tadi dan mengambil kesimpulan.
“Om nembak gue?” tanya Cessi dengan sorot mata tidak percaya dan ingin memastikan. apa yang baru saja Raka katakan.
“Hahahaha … kamu lucu, ya?”
Raka tergelak, mendengar apa yang dikatakan oleh Cessi. Menurutnya gadis itu sangat lucu dan polos. Hal tersebut, semakin membuat Raka ingin mengenal lebih dekat. Siapa Cessi.
“Lucunya di mana? Tadi, Om nembak gue! Lalu—”
“Lalu, dor! Kamu mati, dong dan kisah ini akan berakhir?”
Raka pun menggelengkan kepalanya, dirinya merasa sangat terhibur saat bersama Cessi. Menurut Raka, gadis itu ajaib. Siang lain dan malam lain, seperti bunglon. sikapnya berubah-ubah dan sulit untuk ditebak.
Cessi yang kesal pun, memilih ingin pergi. Namun, tanganya di cekal oleh Raka.
“Mau, apalagi?” tanya Cessi dengan kesal.
“Aku mau, kamu menjadi istriku,” jawab Raka dengan sorot mata serius
Raka menyatakan perasaannya kepada Cessi. Entah benar atau tidak, hanya Raka dan Tuhan yang tahu.
“Berhenti main-main, Om!’
Cessi hanya menganggap apa yang dikatakan oleh Raka hanyalah candaan saja.
“Aku serius, apa kamu mau? Akan aku penuhi kebutuhanmu dan berjanji. Tidak akan menyentuhmu, kecuali … atas izin dari kamu sendiri.”
Cessi yang mendengar, apa yang dikatakan oleh raka menjadi meninbang. Akan tetapi pemuda itu, apalagi ia tidak memiliki tempat untuk berteduh saat ini.
“Mau, atau tidak?” tanay Raka menuntut.
__ADS_1
“Gue—-”