
Selama ini, Bik Indah selalu merasa kesepian. Rumah yang dia jaga dan rawat. Merupakan rumah lama, warisan dari mendiang oma dan opanya Raka.
Dimana, keluarga Raka hanya sesekali datang dan menginap. Disebabkan banyak sekali kenangan di rumah tersebut. Membuat mereka tidak akan pernah menjual rumah itu.
“Ya Tuhan, kasihan sekali gadis ini,” batin Bik Indah yang tidak kuasa menahan perasaan sedihnya. Seolah ada kontak batin dengan Cessi.
“Ibu, Ibu, Maafkan Cessi!”
Bik Indah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Cessi, gadis itu menggigau dengan memanggil ibunya.
“Ibu ada di sini, Oliv.”
Bik Indah merasa kasihan melihat Cessi, kemudian menenangkan gadis itu dengan mengusap pucuk kepala–nya.
Dengan penuh kasih sayang, dia menjaga Cessi. Hingga, matahari terbit. Wanita itu tidak beranjak sama sekali dari samping Cessi, bahkan matanya yang memerah. Karena, menahan kantuk.
“Ugh … ibu, ibu dimana?” panggil Cessi.
“Ibu di sini, Nak,” jawab Bik Indah yang merasakan, seolah panggilan itu ditujukan kepadanya.
Cessi mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Dia menatap Bik Indah, ingatanya pun kembali pada saat dirinya yang tengah tertidur di dalam mobil Raka.
“Gue dimana?” tanya Cesi yang mulai tersadar. Bahkan, kejadian malam tadi. Membuat Cessi menatap heran wanita yang ada disampingnya yang tengah tersenyum ramah.
“Ibu siapa?” tanya Cessi pelan. dia berpikir, jika malam tadi hanyalah mimpi. Setelah dia terbagun dan melihat Bik Indah. Cessi pun baru menyadari, jika kejadian malam tadi ternyata nyata.
“Bibik, asisten rumah tangga di sini, Non. Semalam, Den Raka membawa Non Oliv ke sini. Jadi, Bibi disuruh untuk jagain, Non,” terang Bik Indah apa adanya.
Cessi mengusap kepalanya yang terasa berdenyut, perasaan mual masih dirasakan. Hingga, tiba-tiba gadis itu berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel.
Bik Indah yang melihat Cessi yang berlari ke kamar mandi pun, segera menyusul gafis itu. Kemudian, menguap tenguk Cessi pelan.
__ADS_1
“Uag, ueg, perutku terada di obok-obok,” jelas Cessi yang merasakan tidak nyaman di bagian perutnya.
Bik Indah tertegun sesat, lalu meminta Cessi untuk menunggu sebentar. Sebab, dia akan membuatkan minuman yang sama seperti semalam yang telah dia berikan kepada Cessi.
“Tunggu Bibik ya, Non. Nanti, Bibik kembali lagi.” Setelah mengatakan hal tersebut, Bik Indah pun berlari ke dapur. Sedangkan Cessi dengan tubuh yang lemas, karena habis muntah. Berjalan dengan gontai menuju ke ranjang.
Gadis itu menjatuhkan bobot tubuhnya dan mencari posisi yang ternyamaan mungkin. Baru kali ini, dia merasakan nikmatnya masuk angin. Semua gara-gara Raka yang mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan.
“Dasar! Om mesum!” umpat Cessi kesal. Dalam keadaan yang menderita sekalipun, dia masih bisa untuk mengumpat Raka.
Hingga, pintu kamarnya terbuka dan menampakan Bik Indah yang datang dengan membawa nampan. Wanita itu segra menghampiri Cessi dan meminta Cessi untuk meminum wedang jahe buatan dan memakan bubur yang baru saja dia buat.
“Maaf, ya Non. Buburnya putih saja, tanpa ada lauk,” jelas Bik Indah merasa tidak nyaman. Karena, dia ingin cepat membuat bubur. Sampai tidak memasukan apapun ke dalam bubur buatannya, kecuali garam secukupnya.
“Gak pa-pa, Bik. Gue senang, ‘ko. makasih, ya,” jelas Cessi tulus. Kemudian, meminum pelan wedang jahe buatan wanita itu dengan pelan. Bahkan, Cessi sangat menikmati setiap seruputan dan sensasi hangat yang menyeruak.
“Surrr … ah … nikmat,” kata Cessi dengan ekspresi lucu. Membuat Bik Indah tersenyum, setelah menyeruput wedang jahe. Cessi mulai menyuap bubur buatan Bik Inda dengan perlahan.
Cessi makan dengan lahap dan pelan, hingga mangkuk yang tadinya berisi penuh dengan bubur. Kini, tandas tidak tersisa. Sekarang perasaan gadis itu, mulai membaik.
“Makasih, Bik. Gue serasa hidup kembali,” terang Cessi dengan mengangkat kedua tanganya. Seolah, menunjukan. Jika, dia merasa kuat.
Bik Indah hanya menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan tingkah Cessi, sampai dia menjadi penasaran dan ingin menanyakan sesuatu.
Namun, merasa segan. Takut, Cessi tersinggung. Lagian, dia hanya diberi perintah oleh Raka. Untuk menjaga Cessi, tidak lebih.
Cessi yang melihat, perubahan ekspresi dari bik Indah pun. Akhirnya bertanya, ”Bibik, kenapa?”
Bik Indah yang mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari Cessi menjadi kelagapan, dengan nada yang guguk dia menjawab, “Gak, ada apa-apa ‘ko, Non.”
Cessi tidak percaya dengan begitu saja, apa yang diucapkan oleh Bik Inda dna mendesak wanita itu. Agar mau berbicara dan menjelaskannya.
__ADS_1
“Bibik jangan berbohong! Coba bilang sama gue, jangan bikin penasaran,” desak Cessi dengan mata yang melotot.
Bik Indah malahan, tersenyum geli. Dengan ekspresi wajah Cessi yang menurutnya sangat lucu, wanita itu pun. Tanpa sadar, menyentuh pipih Cessi dan berkata.
“Bibik, gak pa-pa, Non. Bibik, hanya khawatir dengan keadaan Non Oliv,” jawab Bik Indah, mengalihkan perhatian Cessi.
Cessi mengangguk-anggukan kepalanya, seolah mengerti dengan apa yang dikhawatirkan oleh Bik Indah dan menjelaskan. Jika, dia baik-baik saja.
Sampai Cessi teringat akan ponsel miliknya dna menanyakan barang pribadinya tersebut, kepada Bik Indah.
“Bik, apa melihat. Ponsel gue?’ tanya Cessi, seraya mengedarkan penglihatan–nya.
BIk Indah menjelaskan, jika dia tidak mengetahui dimana ponsel Cessi. Hanya saja, dia merapikan pakaian yang dibawa oleh Raka semalam. Kedalam lemari dan tidak menemukan, benda lainnya.
Cessi yang mendengar penjelasan dari Bik Indah menaruh curiga, jika ponselnya telah disita oleh Raka. Sebagai, bentuk hukuman dari pemuda itu.
“Cih! Pasti Om mesum,” kata Cessi dengan geram. Tanpa Cessi sadari, jika Bik Indah yang masih berada di dekatnya. Mendengar hal yang dilakukan oleh gadis itu.
“Siapa, Om Mesum, Non?” tanya Bik Indah penasarn.
“Ah, itu—”
Cessi menjadi salah tingkah sendiri, seraya mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu hanya bisa cengengesan dan menggelengkan kepala, tidak mungkin dia bisa menjelaskan. Jika, Raka adalah om mesum yang dia maksud.
Namun, Bik Indah bukanlah orang yang tidak paham. Dia semakin curiga, dengan gerak–gerik Cessi. Disatu sisi, dia merasa kasihan. Karena, Cessi masih belia.
Akan tetapi, disisi lain. Dia menyayangkan, jika apa yang ada di dalam bedaknya. Memang benar adanya, tentu saja Bik Indah terasa sangat sedih.
“Oh, iya Bik. Gue mau mandi dulu, ya,” terang Cessi yang ingin lari dari tatapan penuh kecurigaan dari Bik Indah.
Cessi memilih, mencari aman. Daripada, nanti keceplosan dna menimbulkan masalah lagi, pikirkan–nya.
__ADS_1
Setelah, Cessi berlalu dan menghilang di balik pintu. Bik Indah bergumam sendiri, “Apa mungkin, gadis itu menjadi simpanan Den Raka? Lalu, dia tengah ha—”