
Tiba-tiba saja, langkah Raka terhenti. Karena, tangan Cessi yang melingkar di perutnya. Gadis itu, memeluk dirinya dari belakang.
Raka tertegun dan terdiam, apalagi suara isak essi yang membuatnya menjadi lunak. Sampai, bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah, yang dia lakukan ini salah.
“Aku, hanya ingin diajak menikah dengan cara yang baik, Bang. Bukan seperti dipaksa, seperti ini,” kata Cessi dengan suara yang bergetar.
“Baiklah, ayo nikah!”
Cessi terdiam dan melepaskan pelukannya dari Raka, padahal dia hanya bermain eting saja tadi. Berharap, bisa membuat Raka mengurungkan niatnya.
“Kenapa?” tanya Raka polos.
“Bukan seperti itu, cara melamar seorang gadis, Bang! Nanti, orang mengira yang bukan–bukan dan seolah. Aku gak ada harganya.”
Raka membuang nafas panjang dan menjelaskan, jika hidup ini sangat kerja. Tidak seperti cerita novel, ataupun drakor yang ditonton oleh kaum muda.
“Oliv, jika kamu menginginkan proses lamaran dan pernikahan yang mewah? Aku bisa memberikannya, namun … kamu mengatakan jika, masih ingin bersekolah, bukan?”
Cessi segera mengusap air matanya yang meleleh dan mengangguk cepat, ketika membahas masalah sekolah. Maka, semangat gadis itu pun akan menggebu dan kembali terisi kembali.
“Makanya, aku mengajak kamu nikah secara sembunyi. Aku hanya ingin mengikat hubungan kita, dengan sebuah pernikahan. Agar tidak terjadi zinah dan fitnah. aku tulus ingin membantu, bukan karena aku merasa kehilangan Suci. Lalu, menjadikan kamu sebagai pelarian.”
“Aku tahu, bagaimana kerasnya kamu menjalani kehidupan. Aku tidak bisa membantumu, jika kita tidak terikat. Bisa-bisa kamu kabur dengan cowok lain.”
Cessi hanya bisa tersenyum kecut, mendengar ucapan terakhir Raka. Satu poin yang Cessi tahu, bahwa Raka merupakan tipe orang yang menyimpan dendam.
Wajar, jika pemuda itu tidak bisa move on. Dari kekasihnya dan merasa sedih terus. Hal itu yang ada di dalam benak Cessi.
“Sekarang, kamu paham?” tanya Raka tiba-tiba dan membuat Cessi kelagapan. Karena, melamun.
“Hah? Iya! Aku mengerti,” jawab Cessi dengan cengengesan.
Dengan lembut Raka menarik tangan Cessi, dan mengajaknya. Kembali masuk ke dalam rumah, setelah itu. Raka mengajak, gadis tersebut memasuki ruangan yang sore tadi. Dia masuk, bersama dengan Bik Indah.
“Kenapa, kita kesini?” tanya Cessi penasaran dan melebarkan pengalihannya. Dia masih terkagum-kagum dengan ruangan tersebut, apalagi buku-buku yang berjejer rapi dan banyak.
“Mari duduk, sini,” pinta Raka. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan dari Cessi tadi.
__ADS_1
Seperti, banteng yang dicolok hidungnya. Cessi menjadi penurut dan patuh, semuanya dia lakukan demi masa depan yang lebih baik. Pikirnya.
“Tadi, apa yang Bik Indah jelaskan kepadamu? Tentang Suci?” tanya Raka dengan raut wajah serius.
Cessi menjelaskan, apa yang sama persis dengan apa yang dijelaskan oleh Bik Indah tanpa merubahnya satu pun. Bahwa, Suci adalah kekasih Raka.
“Dia kekasih, Abang dan pergi meninggalkan Abang,” jawan Cessi dengan menyuguhkan senyumnya.
“Karena, Abang jahat dan mesum,” batin Cessi.
Raka mengusap pucuk kepala Cessi, membuat rambut gadis tersebut menjadi kusut. Namun, dia tidak marah. Akan tetapi, menahan perasaan kesal saja.
“Apa yang dikatakan Bik Indah benar, tapi … dia belum menjelaskan. Kenapa, Suci pergi, bukan?” tanya Raka lagi dan mendapatkan gelengan kepala dari Cessi.
Raka pun mulai menjelaskan, bagaimana semuanya terjadi. Kenangan bersama Suci, gadis yang ditolong. Namun, mengkhianatinya.
Kerasnya kehidupan, terkadang membuat orang melakukan berbagai macam cara. Demi mencapai suatu tujuan yang diinginkan, begitu juga dengan Suci.
Di Usia belia, gadis itu sudah pandai merayu dan menjadi suger beby. Semua dilakukan, demi yang disebut dengan tuntutan hidup.
“What? Abang serius? Sugar beby? Gila, tu orang!” umpat Cessi kesal. Membuat Raka tersenyum dan kembali meneruskan ceritanya.
Sore itu, sama seperti kemarin. Raka baru selesai pulang kerja dan ingin pulang, akan tetapi. Ditengah perjalanan, dia melihat seorang gadis yang berdiri di tepi jalan raya dengan menenteng sebuah kantong kresek yang berisi tisu.
Ketika, mobil yang dikendarai oleh Raka berhenti dilampu merah. Saat itulah, gadis berkulit sawo mata dengan lesung di pipi. Mendekat dan menjajakan tisu yang dibawanya.
“Tissuenya, Pak, Bu, Kak, Mbak,” kata gadis tersebut yang bernama Suci.
Raka yang merasa kasihan, menurunkan kaca mobilnya dan memberikan uang dengan cuma-cuma kepada gadis tersebut.
“Pak, uangnya terjatuh!” teriak Suci. Namun, tidak dihiraukan oleh Raka. Pemuda itu terus melajukan mobilnya, walaupun sudut matanya masih melihat Suci dari kaca spion.
Hal itu dilakukan Raka setiap sorenya, hingga Raka memberanikan diri. Mengajak gadis penjual tisu, untuk naik ke dalam mobilnya.
“Hey! Anak kecil! Mari kesini!” teriak Raka seraya melambaikan tangannya kepada gadis yang tengah menjual tisu.
“Ada apa, Om?” tanya gadis itu dengan sopan.
__ADS_1
“Masuk!” perintah Raka dengan dingin.
Terlihat keraguan, di sorot mata dan wajah gadis itu. Hal tersebut, membuat Raka menjelaskan. Jika, dia bukan orang jahat.
“Aku gak akan menculikmu! Aku hanya ingin mengajakmu, ke rumahku,” jelas Raka dan membuat Suci masuk ke dalam mobilnya duduk di jok belakang.
“Oh, iya. Siapa nama kamu?” tanya Raka seraya mencuri pandangan dengan gadis yang berada di belakangnya itu.
“Suci, Om,” jawabnya dengan pelan.
“Jangan, panggil aku Om! Aku gak suka!” bentak Raka dan melajukan kendaraannya. Meninggalkan, perempatan jalan. Dimana dia bertemu dengan seorang gadis yang kini berada di dalam mobilnya.
Sejak, saat itulah. Raka sering menjemput Suci dan bertanya banyak hal tentang kehidupan gadis tersebut. Sebuah perjalanan dan perjuangan hidup yang sangat berat.
Raka suka membelikan Suci pakaian, serta uang. Bahkan, Raka mengajak gadis itu tinggal di rumahnya. Dimana yang di urus oleh Bik Indah.
Membuat Suci merasa nyaman berada di sana, dan membuat Bik Indah juga dekat dengan gadis itu.
Raka sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh Suci, dimana gadis itu. Mengatakan jika tidak memiliki keluarga maupun orang tua lagi.
Hal tersebut, membuat Raka menaruh empati. Namun, ketika Raka sedang bekerja. Dia tidak sengaja, melihat gadis yang selama ini telah dipelihara dengan baik.
Sedang berjalan dengan bosnya, tentu saja. Hal itu membuat Raka garam dan menghampiri Suci. Lebih tepatnya, Raka merasa telah dikhianati.
“Suci!” terak Raka dan membuat gadis itu berbalik badan
Sungguh, pemandangan yang menghunus antung Raka. Ketika, melihat Suci bergayut manja di lengan lelaki tua yang merupakan bosnya.
“Abang Raka!” pekik Suci panik.
“Penghianat!” ucap Raka dengan geram.
“Siapa yang penghianat, Bang?” tanya Cessi dengan raut wajah bingung dan penasaran. Karena, sedari tadi pemuda yang ada di hadapannya hanya diam saja.
“Hah? apa tadi?” tanya Raka seperti orang linglung.
“Siapa yang penghianat?” Cessi mengulangi ucapannya.
__ADS_1
“Itu—”