Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 43 Percaya


__ADS_3

Sudah beberapa hari, setelah kejadian tempo hari. Raka tidak menampakan batang hidungnya. Sedangkan, Cessi merasa sangat tertekan.


Ada rencana di benak gadis itu untuk kabur dari rumah tersebut, akan tetapi dia tidak memiliki uang sepersen pun. Bisa mati kelaparan dia, apalagi tidak mengetahui tentang daerah tersebut.


Kini, Cessi hanya duduk di ayunan yang berbentuk kursi dengan tatapan kosong. Dia tidak menyangka dengan keadaan yang tengah dihadapinya, walapun Bik Indah selalu berusaha menghiburnya.


Namun, hati dan pikiran Cessi telah menjadi buntuh. Bahkan, gadis itu sudah beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya dan selalu di gagalkan oleh Bik Indah yang terus mendampinginya.


Sama seperti sekarang, wanita itu menghampiri Cessi yang tengah duduk di ayunan yang berada di halaman belakang rumah.


“Non, Bibik bawakan jus dan beberapa buah segar,” jelas Bik Indah dengan nampan yang ada di tangannya.


Bukan hanya murung, akan tetapi Cessi juga mogok makan. Membuat wajah gadis itu terlihat lesu dan pucat, karena menahan rasa lapar.


“Aku hanya mau keluar dan meenmui Amara, Bik. Kapan Abang Raka datang?” tanya Cessi dengan nada pelan dan amsih menatap lurus ke depan.


Bik Indah meletakan nampan yang dia bawa di atas meja kecil yanga da di sana, kemudian menghampiri Cessi dan duduk di samping gadis tersebut


“Kenapa, Non Oliv sangat memikirkan orang lain? Sampai keadaan Non sendiri seperti ini?’ tanya Bik Indah yang merasa heran.


Cessi hanya menatap sekilas kearah Bik Indah, kemudian pansanganya kembali lurus kedepan. lalu, dia menjelaskan. Betapa Amara berarti dalam hidupnya.


Sahabat yang selalu menemaninya dalam ekadaan susah, sampai Cessi bisa bengkit secara perlahan.


“Aku hanya anak angkat, Bik. Bapak dan ibu, tidak pernah memberiku uang jajan. Sampai aku mengenal Amara? Dia menagajak aku jadi artis yotuber, di sana aku mendaptkan uang.”


Cesi menyeda ucapnnya dan berbalik menatap Bik Indah, seolah ingin mengatakan. Jika, hidupnya sangat menderita selama ini.


“Andai, orang tua kandungku tahu? Apa mungkin, mereka masih punya hati? Karena, telah menelantarkan anak kandung mereka sendiri dan … harus melewati kehidupan yang berat ini.”


Bik Indah yang mendengar curhatan Cessi, merasa sesak di dadanya. Dia seolah disindir oleh gadis yang duduk di sampingnya tersebut.


Sebisa mungkin Bik Indah mengatur pernafasannya, karena pasokan oksigen yang terasa menipsi. Akibat perkataan Cessi.

__ADS_1


“Tentu saja, mereka merasa sakit, Non. Apalagi, jika … Bibik benar- benar ibu kandung Non Oliv. Jelas, Bibik akan menghukum diri ini! Karena, telah mengelantarkan anaknya sendiri,” jawab Bik Indah dengan senyum yang dipaksakan.


Cessi hanya menatap dingin kearah Bik Indah, kemudian bangun dari ayuan yang didudukinya. Meninggalkan Bik Indah, seorang diri dengan perasaan yang sulit diartikan.


“Maafkan Ibu, Nak,” batin Bik Indah seraya menatap punggung Cessi yang telah menajuh.


Hanya satu hal yang Bik Indah percaya, jika semua ini akan berlalu. Ada masa derita datang, namun nanti bahagia juga bisa datang. Karena, semuanya harus selih–berganti.


Sama seperti roda yang berputar, begitu pula dengan kehidupan. Ada masanya di atas dan ada masanya di bawah.


Semuanya ada di suratan takdir Tuhan, Manusia hanya bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin. Walau terkadang perasaan yang kurang sabar. Membuat kebanyakan orang banyak mengeluarkan.


Cessi yang telah berada di dalam rumah, memilih untuk kembali kedalam kamarnya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang.


Dia menatap langit-langit kamar, dengan perasaan yang menerawang di masa depan. Cesi bisa meraakan, jika Bik Indah memang ibu kandungnya.


Karena, darah lebih kental daripada air. Bahkan, Cessi tidak pernah tega dengan Ibu Indri. Walaupun, sang ibu angkat yang sangat menyebalkan.


Namun, ikatan darah diantara mereka. Membuat Cessi merasa tenang, kalau Ibu Indri berada di dekatnya. hal itu juga di rasakan oleh Cessi kepada Bik Indah.


“Aku percaya dengan adanya Tuhan, biarkan aku pergi! Jika, hanya ingin menyiksa diriku ini. Karena, aku tidak pernah … meminta dilahirkan ke duania ini.”


Cessi berkata demikian, semuanya tanpa sebab. Gadis itu telah merasa lelah, dan dia hanya ingin melepaskan semua beban yanga ada.


Supaya, hati dan pikirannya bisa menjadi lega. Tidak ada yang mengganjal lagi. Karena, keadaan Cessi yang merasa sangat lelah. Gadis itu pun sampai tertidur.


“Aku percaya dengan Tuhan,” batin Cessi.


***


Ada hawa yang terasa hangat, menerpa kulit wajah Cessi dan membuat gadsi itu mengerjapkan matanya. Kelopak mata yang masih terasa berat, membat Cessi urung untuk bangun.


Namun, terpaan angin hangat itu semakin kuat. Serta tidak lama di susul oleh suara yang sanagt dia kenali.

__ADS_1


“Apa kamu akan tidur terus?”


Cessi memaksakan dirinya, dia membuka matanya lebar-lebar dan melihat sang suami yang tengah tersenyum padanya.


Entah mengapa, Cessi langsung memeluk Raka. Hanya beberapa hari mereka tidak bertemu, Cessi membuat hidupnya seperti telah berakhir.


Raka yang memang memantau semua yang dialkukan oleh Cessi, dari CCTV. Selalu menghubungi Bik Indah, agar menggagalkan kegilaan istrinya itu.


Raka yang menyelesaikan semua urusannya dan membuat rencana baru, kini bisa menemui sang istri.


Dia melihat Cessi yang tertidur di kamar, membuat dirinya tidak bisa untuk menjahili sang istri. Raka meniup-niup wajah Cessi dan membuat gadsi itu terbangun.


“Abang jahat! Abang jahat!”


Hanya kata-kata itu yang Cessi lontarkan, seking kesalnya dengan Raka. Karena, tidak menemuinya dan menjelaskan apapun.


“Maafkan aku,” pinta Raka, seraya membalas pelukan Cessi. Dia sadar, jika membuat istrinya merasa tertekan. Sampai ingin mengakhiri hidupnya, akan tetapi Raka percaya. Jika, Cessi tidak akan mati konyol dengan begitu saja.


Setelah merasa agak tenang, Raka mengurai pelukan mereka. Kemudian, menakupkan kedua telapak tanganya yang besar di wajah Cessi yang pucat.


“Aku, suami yang buruk, ya? Istrinya sampai pucet dan kurus sperti ini?” ejek Raka.


Namun, tidak di gubris oleh Cessi. Dia masih memikirkan sahabatnya, lalu menanyakan hal itu kepada Raka.


“Bang, aku mau melihat keadaan Amara? Bagaimana, keadaanya sekarang? Lalu, apa alasan dia masuk ke rumah sakit?”


Pertanyaan beruntun, seperti kereta api. Membuat Raka mengecup sekilas bibir sang istri, seking gemasnya.


“Kamu menanyakan orang lain? Disaat, suamimu ada di sini? Emang, seberapa pentingnya Amara buat kamu?” tanya Raka seolah-olah merajuk.


“Dia sangat penting, Bang! Aku bahkan pernah hampi mati kelaparan, kalau … Amara tidak menolongku,” jelas Cessi dengan raut wajah sendu, ketika mengingat pengorbanan Amara untuknya waktu itu.


“Amara masuk rumah sakit jiwa, dia mengalami depresi. Percayalah, kalau … dia tidak imngin menemuimu lagi,” jelas Raka dengan tatapan dingin.

__ADS_1


“Gak mungkin! Abang bohong! Aku gak percaya! Dia sahabatku! Aku sangat mengenalnya,” balas Cessi dengan memukul dada bidang Raka.


“Kamu penyebabnya!”


__ADS_2