
Setelah Raka menghilang dari pandangan matanya, barulah Cessi segera bergegas. Dia ingin segera pergi ke apartemen Raka, akan tetapi langkahnya tiba-tiba saja terhenti.
Dia mengutuk kebodohannya yang melupakan hal yang pating selain kunci yaitu alamat apartemen Raka.
“Ya, ampun, Cessi! Ko, bisa lupa sih? Jadi … sia-sia, gue ada kunc ini?” gumam Cessi pelan dan memperhatikan. Benda yang terbuat dari logam tersebut, padahal apartemen merupakan tempat tinggal yang modern. Tetapi, Cessi merasa heran. Kenapa, bentuk kuncinya sama seperti rumah.
Hingga, sebuah tulisan kecil. Menarik perhatian Cessi, ia pun membaca dengan teliti. Apa yang tertulis di sana.
“Apa, ini alaamt apartemennya? Tidak, mungkin. Alamat palsu ‘kan?”
Cessi perang dengan dirinya sendiri, karena merasa harus membuktikan. Membuat gadis itu pun memutuskan, untuk pergi ke alamat tersebut.
Cessi membawa laju motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang mulai sepi. Disebabkan, hari yang semakin malam dan terasa dingin. Hingga, dari kejauhan. Cessi bisa melihat sebuah gedung yang besar, ternyata. Alamat yang tertulis di kunci tersebut. Benat, alamat apartemen.
Cessi pun segera memarkirkan motornya di area parkir yang tersedia di basecamp apartemen tersebut. Lalu, membawa langkah kakinya menuju lift.
Untuk pertama kalinya, ia merasa masuk ke tempat tersebut.Tentu saja ia merasa gugup setengah mati, ditambah dengan keadaannya yang acak-acakan. Seperti seorang gembel yang baru selesai pergi pengemis, lusuh dan dekil.
Namun, mau bagaimana lagi. Keadaannya memang seperti itu, ternyata beban hidup yang ia lalui. Sejak kecil, hingga sekarang amat berat dan mengerikan.
Tidak ada cinta yang tulus, atau kehangatan sebuah keluarga yang akan Cessi rasakan. Membuat gadis itu hanya mampu, berserah diri dan berharap. Tuhan mau berbelas kasih dengannya yang hanya seorang anak yatim piatu yang masih belum mengetahui, siapa orang tua kandungnya.
Ting
Suara pintu lift yang ditunggangi oleh Cessi berbunyi dan membuat pintunya terbuka lebar, kini gadis itu telah berada di lantai 5.
“Nomor, 15,” gumam Cessi, seraya memperhatikan nomor yang ada di atas pintu kamar. Satu–persatu, hingga ia menemukan. angka yang dicari.
Gadis itu pun, mulai memasukan kunci yang dipegangnya sedari tadi kedalam lonamh pintu tersebut dan binggo. Pintu kamar itu pun terbuka lebar, membuat senyum di bibir Cessi mengembang seperti bulan sabit.
__ADS_1
Cessi pun segera masuk dan mengunci kembali pintu apartemen yang telah resmi, dimasuki olehnya.
“Tidak buruk,” gumam Cessi dan berkeliling apartemen tersebut, dia memeriksa satu–persatu. ruangan yang ada, dan menemukan kamar tidur.
Cessi pun segera meletakan tasnya di atas ranjang, kemudian menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut. Dia perl membersihkan dirinya yang sedari tadi belum mandi.
Gadis itu merasa senang, tinggal di apartemen Raka yang menurutnya sangat nyaman. Semua kebutuhannya sudah ada disana, membuat Cessi merasa beruntung.
Setelah segar, dia pun segera menuju dapur dan melihat semua isi kulkas yang ada di sana. Senyum gadis itu seolah tidak mau luntur, dengan handuk yang masih terlilit di kepala. Cessi mulai mengambil bahan makanan yang ada di dalam kulkas dan mulai memasak.
Cessi membuat omelet, dan memasak nasi. Persediaan makanan di sana juga aman. Membuat Cessi merasa curiga dengan apa yang diucapkan oleh Raka sebelumnya. Dimana, pemuda itu mengatakan, jika tidak menempati apartemen tersebut.
“Biarlah, itu terserah dia. Jika, mau berbohong pun? Gue gak perduli.”
Cessi tidak mau ambil pusing, baginya. Tinggal di apartemen Raka. Merupakan anugerah terindah untuknya, daripada harus tinggal di pinggir jalan.
Setelah selesai memasak dan makan malam yang sudah terlewat, Cessi pun mulai merasa mengantuk dna memilih untuk segera tidur. Sebelum dia memejamkan matanya, gadis itu mengecek sebentar ponsel miliknya. Berharap, jika kedua orang tua angkatnya ada menghubungi.
Ketika, Cessi ingin mengembalikan ponselnya di atas nakas. tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Tanda ada panggilan masuk, membuat Cessi menatap layar pipih itu dengan sorot mata yang serius.
“Siapa ya?” gumam Cessi yang melihat sebuah nomor tidak dikenal. Awalnya Cessi ragu untuk mengangkatnya dan membiarkan panggilan tersebut mati. Hingga, sebuah pesan masuk dan membuat Cessi membulatkan matanya.
“Apa?” pekik Cessi tidak percaya dan langsung menghubungi nomor tersebut, tidak berapa lama. Panggilan–nya pun terhubung.
“Halo,” sapa seorang pemuda dari seberang sana dengan nada yang mengejek. Membuat Cessi merasa amat kesal, tetapi a tahan dan mulai memainkan perannya.
“Om mesum, punya mata-mata disini?’ tanya Cessi dengan perasaan yang dongkol. Dia penaatan, bagaimana Raka mengetahui. Apa yang baru saja ia lakukan, dan bisa menghubungi nomor ponselnya.
“Hahaha … kamu lucu, apa kamu suka tinggal di sana?”
__ADS_1
Cessi merasa malu dengan pertanyaan itu, jika oa menjawab dengan jujur. Banti hanya akan membuat pemuda itu menjadi besar kepala dan semakin menindasnya, tetapi harus Cessi akui. jika, ia merasa senang berada di apartemen tersebut.
“Om! Gue mau tidur! Besok, harus sekolah.”
Cessi berusaha menghindari percakapan yang rawan dan memilih berbelit, karena Cessi belum mengenal Raka dengan deat. Serta tidak mengetahui maksud serta tujuan pemuda itu mau membantunya.
Cerssi, bukannya menjadi Manusia yang suak berprasangka buruk. Tetapi, berjaga-jaga itu harus, pikirnya.
“Baiklah, aku gak akan ganggu kamu. Hati-hati disana, aku juga mau istirahat. Soalnya, besok harus pergi bekerja.”
Cessi hanya melongo, mendengar apa yang disampaikan oleh Raka. Seperti seorang suami yang memberikan pesan sebelum tidur kepada istrinya. Apa yang dikatakan oleh pemuda itu membuat Cessi tidak habis pikir.
“Oliv.”
Suara panggilan Raka membuat Cessi terkejut dan kelagapan, dan merasa malu sendiri. Karena, membayangkan hal yang aneh-aneh.
"Ah … iya Om?"
Wajah Cessi memerah, kemudian dia menjelaskan. Jika, sudah mengantuk dan ingin tidur. Tanpa mendengar, jawaban dari Raka. Cessi langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Hufff … kenapa sih, dengan jantungku? Ko dag–dig–dug?"
Cessi bergumam sendiri, seraya menyentuh dadanya yang terasa sedang tidak baik-baik saja. Hal itu membuat Cessi memilih untuk segera merebahkan tubuhnya dan memilih untuk tidur. Sebab, besok. Dirinya harus sekolah dan menjalankan tugas tambahan dari Pak Martin.
Setidaknya, Cessi memiliki cadangan pekerjaan. Minimal, bisa menyumpal perutnya. Agar tidak berteriak-teriak minta di isi.
Ketika Cessi yang telah pergi ke alam mimpi, ada seseorang yang merasa hampa. Seraya menatap layar monitor yang membuat matanya tidak bisa berkedip-kedip.
Pemuda itu adalah Raka, setelah Cessi memutuskan panggilan teleponnya. Hal itu membuat Raka merasa hampa, ternyata berinteraksi dengan gadis itu. Membuat Raja merasakan gairah hidup, tetapi merasa sakit. Jika, diabaikan oleh Cessi.
__ADS_1
"Apa aku tidak memasang CCTV di kamar mandi, ya? Aku takut dia kenapa-kenapa di dalam sana, nanti."