
Keadaan hari yang sudah mulai gelap, membuat Cessi ingin segera diantar ke apartemen. Tetapi, Raka malahan pergi ke kamar mandi. Dengan alasan sudah kebelet.
“Sabar, kamu ini! Mulai sekarang, jangan panggil Om! Tapi, Abang aja. Sama, hilangkan loe gue itu! Gak etis,” pinta Raka yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Cessi.
Kemudian, mereka pun masuk kedalam mobil. Lalu, meninggalkan area parkir untuk segera pulang ke apartemen. Cessi tidak sabar lagi, ingin segera menemui seseorang yang sudah menunggunya. Sebab, Cessi telah membuat sebuah janji.
“Tunggu, gue.”
Mobil yang dikendarai oleh Raka melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang sudah gelap.
Tidak beberapa lama, mereka pun sudah memasuki basecamp apartemen. Cessi sudah semakin gusar, memikirkan cara. Bagaimana, agar tidak ketahuan oleh Raka.
“Om langsung pulang, ‘kan?” tanya Cessi. Membuat Raka melotot, tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan oleh Cessi.
“Dah aku bilang! Jangan, panggil, Om! Tapi … Abang!” bentak Raka.
Cessi hanya cengengesan, kemudian mengganti panggilan–nya terhadap Raka.
“Iya, Abang Raka. Abang langsung pulang ‘kan?” tanya Cessi dengan menampakan jejeran giginya yang putih dan tersusun rapi.
“Iya! Langsung pulang! Gak mungkin ‘kan? Kalau menginap? atau, kamu memang ingin mengusirku? Cuma dengan menanyakan hal itu?” tanya Raka dengan penuh selidik.
Setelah mobil diparkirkan dengan cantik, Raka dan Cessi pun segera keluar. Lalu, berjalan menuju lift. Cessi yang melihat, Raka malah mengikutinya masuk ke apartemen. Membuatnya merasa gusar, bagaimana. Nanti, kalau pemuda itu tidak mau pulang.
“Abang, gak jadi pulang?” tanya Cessi. Namun, kali ini dengan nada yang lembut, agar pemuda itu tidak tersinggung.
Raka hanya menatap sekilas kearah Cessi, setelah pintu kamar apartemen terbuka. Dia meminta Cessi segera masuk dan berlalu begitu saja.
Cessi bernafas lega, ternyata Raka hanya ingin memastikan. Jika, dirinya sudah berada di dalam apartemen dengan selamat.
“Hufff … gue pikir, dia akan tinggal tadi,” gumam Cessi. Kemudian mengeluarkan ponselnya, yang sedari tadi bergetar. karena, dia senyapkan.
“Hallo,” sapa Cessi. Setelah, menekan tombol hijau. Dia sudah menduga, jika Bargon terus menghubunginya.
“Loe, kemana aja, sih? Gue hubungi, dari tadi! Gak diangkat?”
__ADS_1
Cessi yang ditodong dengan beberapa pertanyaan pun, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.
“Gue masih di jalan, tadi. Sekarang, loe ada di mana?” Cessi bertanya balik kepada Borgan, lalu pemuda itu menjelaskan. Jika, dia telah berada di area parkir di apartemen yang diminta oleh Cessi sedari tadi sore.
Cesi agak terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Bargon, tetapi sayangnya mereka tidak bertemu tadi. Membuat Cessi bisa bersyukur, setidaknya Bargon tidak melihatnya yang berjalan dengan Raka. Atau, malah sebaliknya.
“Tunggu, gue sebentar! Nanti, gue hubungin lagi,” jelas Cessi dan segera mematikan sambungan ponselnya. Sebelum, mendengar jawaban dari Bargon.
Gadis itu menuju ke kamar, dia mengemas pakaiannya ke dalam tas dan segera ke kamar mandi. Untuk membersihkan tubuhnya yang sudah bau dan lengket, karena berkeringat selama seharian ini.
Setelah selesai dengan rutinitas mandi, Cessi segera meraih tasnya dan membawa ponselnya dalam genggaman. Lalu, menuju keluar.
Cessi, masuk ke dalam lift. Dia sempatkan diri, menemui petugas keamanan yang tadi pagi ditemuinya dan menyerahkan kunci apartemen Raka. Kepada lelaki itu.
“Permisi, Pak. Boleh ‘kah, saya meminta tolong?” tanya Cessi dengan sopan.
Lelaki yang bernama Pak Burhan itu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Boleh, Non. Jika, ada yang bisa saya bantu? Maka, akan saya bantu,” terangnya.
Cessi pun segera menyerahkan kunci apartemen Raka kepada lelaki itu, dan berpesan. Jika, Raka mencarinya, maka katakan. Kalau, dirinya telah kembali ke rumah orang tuanya.
Cessi pun berusaha mencari alasan kembali, jika dia telah mengirim pesan pada Raka. Namun, belum juga dibalas. jadi, Cessi meminta bantuan Pak Burhan.
“Oh, kalau begitu? Baik lah,” jawab Pak Burhan.
Setelah itu, Cessi pamit untuk pergi. Dia juga berkali-kali mengucapkan kata maaf dan terimakasih. Karena, merasa bersalah. Telah membohongi lelaki itu.
Namun, Cessi tidak memiliki pilihan lain. Dengan langkah yang tergesa-gesa. Cessi segera meninggalkan Pak Broto.
“Em, sebaiknya. Aku menghubungi, Nak Raka aja. Takut, nanti tidak amanah,” gumam Pak Burhan.
Dia telah diberi amanah, oleh Raka. Untuk menjaga Cessi selama di area apartemen dan memantau, pergerakan gadis itu.
Apalagi, Raka baru saja menemuinya dan mengatakan hal yang sama. Serta, meninggalkan nomor ponselnya. jika, Pak Burhan ingin melaporkan sesuatu kepadanya.
__ADS_1
Pak Burhan pun segera menelpon nomor yang diberikan oleh Raka, tadi. Cukup lama dia menunggu, hingga terdengar suara pemuda itu.
“Hallo, Nak Raka. Ini, Bapak Burhan,” jelasnya.
Sedangkan Raka yang baru saja menepikan mobilnya, karena ponsel yang berdering. Hanya mengerutkan dahinya, bingung. Sebab, baru saja dia berbicara dengan lelaki itu dan memintanya menjaga Cessi. Sekarang, sudah di telpon.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanya Raka.
“Saya mau tanya, apa keponakannya. Sudah izin, sama Nak Raka. Kalau mau pulang ke rumahnya?”
Air muka Raka pun berubah seketika, setelah mendegar apa yang disampikan oleh pak Burhan. Lalu, meminta lelaki itu untuk mencari keberadaan Cessi dan menahannya. Sampai, dia kembali.
“Cari dia, Pak! Saya akan segera kembali!” perintah Raka.
Dengan cepat, Raka kembali menghidupkan mesin mobilnya dan memutar arah. Dia amat marah, akan sikap Cessi. Raka yakin, ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu.
Tanpa menunggu lama, mobil Raka pun telah kembali memasuki halaman apartemen. Bakan, tanpa sengaja. Dia melihat Cessi yang tengah berjalan, menuju sebuah mobil.
Raka pun segera membunyikan klakson–nya dan keluar dari dalam mobil. Untuk berlari mengejar Cessi, lalu mencekal tangan gadis itu dengan kuat.
“Mau kemana, kamu?” tanya Raka dengan menekankan setiap kata-kata yang diucapkan–nya.
Dengan raut wajah memerah , serta rahang yang mengeras. Menampakan sekali, jika pemuda itu sedang marah besar.
“Ketahuan, deh,” batin Cessi dengan wajah pias. Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan Raka lakukan kepada-nya nanti.
“Lepaskan, Oliv!” teriak Bargon nyaring dan mendekati Cessi, serta Raka.
“Jangan, ikut campur!” bentak Raka yang telah dikuasai oleh emosi. Dia yakin sekali, jika Bargon ingin membawa lari Cessi.
Bargon tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Raka, lalu membalas dengan ucapannya yang lebih kasar.
“Oliv itu, adalah calon istriku! jadi, Om jangan macam-macam!”
Raka tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Bargon, kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari Cessi. Kemudian, menghampiri Bargon dan mencengkram. Kuat, kerah baju yang dikenakan oleh pemuda itu.
__ADS_1
Tanpa merasa takut sama sekali, Bargon melotot ke arah Raka. Seolah, menantang.
“Om, mau apa?”