
Pikiran Sulis masih menerka-nerka, apa yang dilakukan oleh gadis tersebut berasama dengan seorang repoter yang sebelumnya pernah beradu setitegang dengan keluarga mereka.
“Ibu Sulis, ini semunya sudah selesai. Terus, anda bisa meneruskan proses pemasangan pen untuk Ananda Bargon.”
“Hah! Iya Sus, makasih,” jawab Sulis yang melamun, lalu meninggalkan tempat itu. Tujuannya saat ini, mencari Cessi dan Raka.
“Ke mana mereka,” batin Sulis.
Ibunya Bargon itu pun, melangkahkan kakinya. Berniat mencari keberadaan Cessi dan Raka, akan tetapi ponsel miliknya berdering.
Wanita itu pun segera meraih benda pipih itu, tertera di dalam ponsel nama sang saumi. Sulis segera mengangkat telpon tersebut.
“Halo, Pa. Ada apa?” tanya Sulis seraya berjalan. Menyelusuri lorong rumah sakit, terdengar suara erangan dari seberang sana. Menandakan, bahwa suaminya tidak menyukai pertanyaannya barusan.
“Kamu, di mana?”
Mendapatkan pertanyaan tersebut Sulis menjelaskan, jika dirinya masih berada dirumah sakit dan baru selesai megurus administrasi Bargon.
Tidak berapa lama, terdengar perintah dari lelaki yang berada di seberang sana. Menyuruhnya, untuk menemani Bargon. Putra semata wayang mereka.
“Pokoknya! Mama harus menjadi orang pertama yang Bargon lihat!”
Setiap kata yang diucapkan oleh Herman yang penuh akan penekanan. Membuat, Sulis hanya mampu membuang nafas panjang.
Bisanya mereka akan beradu debat, karena sama-sama memiliki pekerjaan. Namun, kali ini Sulis mencoba mengalah. Semuanya dia lakukan demi Bargon.
“Iya! Mama akan menunggui, Bargon!” sahut Sulis dan langsung mematikan sambungan telponya.
Wanita itu masih menggumpat kesal, kemudian mempercepat langkahnya. Menuju ke ruangan Bargon, akan tetapi tanpa di duga.
Ketika, Sulis baru saja memasuki ruangan Bargon. Dia melihat Raka dan Cessi yang sudah berada di sana, hal tersbeut sontak saja membuat Sulis melongo.
“Apa yang kalian, laukan di sini?” tanya Sulis dengan nada tidak suka. Ibunya Bargon itu, yakin sekali. Jika, Cessi menjadi penyebab kecelakaan yang dialami oleh putranya.
__ADS_1
Raka dan Cessi yang melihat kedatangan ibunya Bargon, berusaha sebisa mungkin terlihat biasa dan tenang. Mereka berbasa-basi, dengan menayakan kabar wanita itu.
“Bu Sulis, apa kabar anda?” tanya Raka dengan senyum yang dipaksakan.
Berbeda dengan Cessi yang memang sudah piawai dalam bermain peran, sehingga tidak terlalu sulit baginya. Terlihat biasa-biasa saja, seolah tanpa beban.
“Apa yang kalian lakukan, disini?” Sulis kembali mengulangi ertanyaan yang sama, seraya mendekati Cessi. Dia benar-benar membenci gadis itu.
“Kami hanya ingin menjenguk Bargon Bu—”
“Untuk apa? Hah?” bentak Sulis marah.
Sedangkan, Raka yang melihat perilaku kasar ibunya Bargon tersebut ingin segera membalas. Namun, ditahan oleh Cessi dengan cara mencekram erat tangan sauminya tersebut. Membuat raka mengurungkan niatnya.
“Apa kamu belum puas? Lihat putraku! Gara-gara, mencari kamu! Dia berada disini!”
Sulis tidak bisa menahan perasaanya lagi, tangisnya pecah seketika. Dia merasa kecewa dengan keadaan, terlebih sangat membenci Cessi.
Sejak kejadian beberapa hari lalu, disekolah dan membuat Bargon di skors. Sampai hari ini, putranya masuk ke rumah sakit.
“Keluar, kalian! Kalau tidak? Aku akan memanggil petugas keamanan!” ancam Sulis dengan menujuk pintu keluar.
Raka segera menarik pelan tangan Cessi, membawa istrinya itu meninggalkan ruangan tersebut. Seperti yang diperintahkan oleh ibunya Bargon.
Tatapan Cessi masih tertuju kepada Bargon yang masih belum sadarkan diri, niatnya mereka ingin tes DNA di rumah sakit tersebut.
Akan tetapi, Raka yang baru saja menerima informasi sebuah kecelakaan. Dimana Bargon menjadi salah satu korban, membuat Cessi memohon ingin bertemu tamannya tersebut.
Usia belia sering disebut dengan masa di mana pencarian jati diri, bahkan perasaan suka dengan lawan jenis. Bisa menimbulkan sebuah konsekuensi yang berat.
Jika, tidak bisa mengendalikan diri. Maka, banyak yang terjebak pada pergaulan bebas dan berakhir pada kasus hamil duluan.
Tidak jarang, berujung pada kasus yang lebih mengerikan lagi. Untung Cessi segera menikah, walaupun dengan cara yang tidak biasa.
__ADS_1
“Bang, bagaimana dengan keadaan Bargon?” tanya Cessi setelah keluar dari ruangan Bargon. Karena, di usir oleh Sulis.
“Dia akan baik-baik saja,” jelas Raka. Mereka pun kembali menuju ke laboratorium, dimana Cessi akan mengambil sempel darah dan akan dicocokkan dengan Bik Indah.
Biar semunya menjadi jelas, serta Cessi yang akan mendapatkan status baru. Karena, Raka telah berjanji. Jika, Bik Indah benar ibu kandung Cessi. Maka, dia akan mengangkat derajat wanita itu.
Cessi masih belum merasa puas dengan apa yang disampaikan oleh sauminya, dia kembali merengek. Untuk diizinkan bertemu dengan Bargon, setidaknya. Cessi bisa melihat Bargon terbangun, hal itu sudah membuatnya nanti merasa lega.
Namun, berbeda dengan Raka yang memang berniat ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Bukannya, mengujungi revalnya yang bisa saja merebut Cessi darinya.
“Oliv! Kamu tidak dengar, apa yang ibunya Bargon kata kan tadi?” tanya Raka seraya menghentikan langkahnya. Dia menatap nanar kearah sang istri, menunjukan ketidak sukaannya. Akan permintaan sang istri.
“Tapi … aku masih belum tenang, Bang!” balas Cessi dengan menghentakkan kainya.
Raka hanya mampumembuang nafasnya panjang, dia sudah harus menerima sifat kekanakan Cessi. Karena, gadsi itu masih muda.
“Nanti, kita akan menjenguk Bargon lagi. Kita urus tes DNA ini, biar cepat selesai. Nanti, tinggal tunggu hasilnya,” jelas Raka. Agar Cessi berhenti mengatkan hal yang sama berulang-ulang kali.
“Janji?” kata Cessi dengan senyum yang sumbringah. Dengan perasaan senang, Cessi menggenggam tangan Raka.
Mereka lebih terlihat seperti kakak–adik dibandingkan pasangan suami-isteri, apalagi usia keduanya yang terpaut hanya 5 tahun saja.
Kini mereka telah sampai di sebuah ruangan khusus, Raka menemani Cessi hingga masuk ke dalam. Dimana sudah ada Bik Indah yang menunggu kedatangan mereka sedari tadi.
“Bang, aku takut,” kata Cessi dengan pelan. Ketika di suruh masuk ke ruangan yang berbeda, oleh sang dokter.
“Ada Bik Indah, Oliv,” balas Raka. Seraya mendrong pelan tubuh istrinya. Agar seegra menyusul Bik Indah dan sang dokter yang telah belalu lebih dulu.
Ketika, Cessi telah menghilang dibalik pintu. Raka mengeluarkan ponselnya, dia tidak bisa menerima keadaan seperti ini terus–menerus. Dimana istrinya hanya akan menanyakan hal tersebut.
Raka pun segera mengirim pesan, kepada orang suruhannya. Untuk memberikan segala informasi terkini tentang Bargon, senyum menawan tercetak dengan jelas di wajah taman Raka.
Pemuda itu, seolah tengah mendapatkan jackpot besar. Tentu saja dia merasa sanagt bahagia, karena apa yang di cemaskan. Kini tidak perlu dipikirkan lagi.
__ADS_1
“Aku ingin lihat, seberapa tahan dirinya,” gumam Raka.