
Pak Burhan mengerutkan dahinya, kemudian kembali bertanya, “ Bukankah, itu kamar Nak Raka?”
Wajah Cessi berubah pias, mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Mulutnya tiba-tiba saja menjadi kelu. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan ini semua.
“itu—”
“Oliv!”
Cessi mendengar, namanya dipanggil pun segera mencari asal suara tersebut dan melihat sosok pemuda yang bisa membantunya.
Senyum merekah, seperti bulan purnama. Membuat Cessi tampak cantik dan membuat Raka terpanah. Sebab, baru kali pertamanya. Raka melihat senyum tulus itu, selama ini. Raka hanya melihat tingkah yang luar biasa dari Cessi.
“Nak Raka! Bapak kira, kalian—”
Pak Burhan tidak melanjutkan ucapannya, setelah melihat Raka yang baru saja datang. Sebenarnya, tadi dia telah memikirkan hal; yang tidak-tidak. Karena, mendengar pengakuan gadis dihadapannya yang mengatakan tinggal di apartemen Raka.
Pak burhan merasa malu dengan dirinya sendiri, yang sudah berprasangka buruk. Kemudian dengan perasaan yang bersalah, Dia meminta maaf kepada Cessi.
“Maaf ya, Non. Bapak pikir tadi—”
Pak Burhan, kembali menggantung ucapannya. Dia bingung mau mengatakannya seperti apa. Sebab, merasa tidak enak hati.
Raka yang paham, akan maksud yang ingin disampaikan oleh Pak Burhan pun segera meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
“Saya minta maaf ya, Pak. Tidak melapor, jika adik sepupu saya tinggal di semalam. Dikarenakan, saya harus menjaga ibu di rumah,” jelas raka dengan raut wajah menyesal.
Pak Burhan hanya mengangguk kecil, Raka yang merasa tidak enak hati. Karena, mengakui. Jika, Cessi sebagai adik sepupunya pun segera pamit kepada Pak Burhan. dengan alasan, ingin mengantar Cessi ke sekolah.
Cessi yang sedari tadi diam, hanya mengendus kesal dengan Raka yang telah berbohong. Kemudian mengikuti langkah pemuda itu menuju mobil.
“Om, kenapa berbohong? Ngaku, gue adik sepupu lagi! Coba bilang, kalau keponakan gitu,” gerutu Cessi. Setelah berada di dalam mobil, tetapi tidak digubris oleh raka yang hanya fokus mengemudi.
Hal itu, membuat Cessi menjadi semakin merasa kesal, dan meneriaki Raka dengan keras.
“Om! Gue lagi ngomong!”
“Emang, yang bilang kamu lagi ngompol, siapa?” jawab Raka dengan enteng. Menambah tingkat kekesalan Cessi, gadis itu pun membalas kata-kata Raka.
__ADS_1
Cessi ingin menjerat Raka, agar bisa berada di bawah kendalinya. Namun, masih bingung. Bagaimana, menjerat buaya buntung seperti Raka.
“Om memang, tidak memiliki etika!”
“Aku memang tidak memiliki etika! Cuma punya sianida!”
Raka tertawa lepas, setelah mengatakan hal ityu. Apalagi, melihat raut wajah kesal Cessi yang menurutnya sangat lucu.
“Iya! Yang waras, memang harus mengalah!” pekik Cessi dengan perasaan yang dongkol. Gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap keluar. Pikirannya melayang entah kemana, dia masih bingung dengan langkah apa yang akan diambil. Demi keberlangsungan hidupnya.
“Yang gila, mau ngaku?” ejek Raka dengan gelak tawanya, entah mengapa. Bisa menjahili Cessi baginya hiburan tersendiri.
“Oliv,” panggil Raka. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan raya yang dilewati, disebabkan Cessi yang hanya diam.
“Why? Kamu gak memiliki uang jajan?” tebak Raka yang mengira, diamnya gadis itu hanya memikirkan uang jajan saja.
“Gue gak pernah, minta uang jajan, Om! Bisa makan saja, sudah bersyukur,” kata Cessi dengan lirih. Tidak ada yang diinginkan olehnya, bisa menyuap nasi saja. Sudah cukup.
Namun, sekarang. Jangankan untuk makan, tempat tinggal pun. Cessi ragu untuk menjelaskannya.
Raka yang mendengar, apa yang dikatakan oleh Cessi menepikan mobilnya di sebuah minimarket. Dia menatap gadis yang beberapa hari ini telah merubah hidupnya.
Namun, apa yang diucapkan oleh Raka membuat Cessi tersenyum pahit.
“Gue bukan anak kecil, Om! Gak suka jajan,” terang Cessi dusta.
Padahal, Cessi suka sekali jajan. Karena, dia sama seperti remaja pada umumnya. Terlebih, Cessi yang tinggal dengan orang tua angkat yang tidak pernah membelikan cemilan untuknya.
Tanpa berbicara lagi, Raka segera keluar dari dalam mobil dan menuju minimarket. Cessi yang melihat apa yang dilakukan oleh pemuda itu hnay tersenyum kecil, dia seolah berhasil menjebak buaya buntung itu dengan drama yang dilakukannya.
Walaupun, sebagian besar yang diucapkan oleh Cessi adalah kebenaran. Namun, diselimuti oleh niat yang tersembunyi dan hanya Cessi dan Tuhan yang tahu.
Tidak berapa lama, Raka keluar dari minimarket dengan membawa dua kantong kresek besar dan segera masuk kedalam mobil.
“Ayo, kita berangkat ke sekolah,” terangnya dan mulai menghidupkan mesin. Sesekali, pemuda itu melihat ke arah jam yang melingkar di tangan kirinya dan berdecak kesal.
Cessi hanya diam, tidak berani berkomentar apapun. Sebab, ia paham. Jika, Raka berpacu dengan waktu.
__ADS_1
Hingga, mereka pun sampai di depan gerbang sekolah Cessi. Sebelum gadis itu keluar, Raka menyerahkan sejumlah uang. Tentu saja, Cessi menolak dengan keras dengan dalih. tidak mau merepotkan Raka.
“Ambil, ini!” perintah Raka, seraya menyerahkan sejumlah uang.
“Maaf, Om! Gue bukan, seorang peminta-minta!” balas Cessi dengan tegas dan menolak uang yang ingin Raka berikan. Padahal, didalam hatinya girng tidak kepayang. Karena, bisa membuat Raka perhatian padanya.
“Ambil! Kalau kamu, gak mau ambil? Aku usir dari apartemenku!” ancaman Raka dan membuat Cessi menampakan wajah ketakutan. Kemudian menuruti apa yang diminta oleh pemuda itu.
Raka juga menyodorkan satu kantong kresek yang berisi cemilan kepada Cessi dan menyuruh gadis itu membawanya sebelum Raka kembali melajukan mobilnya. Sebab, takut terlambat pergi bekerja.
“Bawa ini! Jangan, bagikan sama temanmu!” perintah Raka dan mendapatkan anggukan kepala dari Cessi.
Hingga, mobil yang Raka kendarai melaju. Meninggalkan Cessi yang berada di depan gerbang pintu sekolah dengan senyum yang merekah.
“Biar om-om! Kalau, bisa dimanfaatkan. Kenapa ditolak,” gumam Cessi.
Tanpa gadis itu sadari, jika sedari tadi tengah diperhatikan oleh Bargon. Pemuda itu pun menegur Cessi, membuat gadis itu terkejut.
“Oliv! Apa yang kamu lakukan?”
“Hah! Bargon! Loe bikin, gue kaget aja! Huff—”
Cessi mengusap dadanya yang terasa berdenyut, saking terkejutnya dengan kedatangan Bargon yang tiba-tiba.
Namun, Bargon yang melihat Cessi keluar dari mobil Raka pun mulai mencerna gadis itu dengan beberapa pertanyaan.
"Loe jalan, sama om-om kemarin? Katanya, loe kesel sama dia? Terus, kenapa loe naik mobilnya? Loe kenapa sih?"
Cessi merasa kesal dengan apa yang ditanyakan oleh Barton, sebab pemuda itu. Tidak mengetahui, masalah apa yang tengah dirinya hadapi. Cessi pun memilih berlalu dan meninggalkan Barton, karena malas meladeni pemuda itu.
Namun, baru saja kaki Cessi melangkah. Tanganya di cekal oleh Bargon dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Loe mau apa, sih, Gon?" pekik Cessi kesal.
Bargon yang dibentak oleh Cessi pun terbakar api cemburu, karena merasa. Jika, Cessi berubah. Disebabkan dekat dengan Raka.
"Gue mau loe! Gue hanya mau loe!" teriak Bargon nyaring dan menarik perhatian siswa dan siswi lainnya. Mereka pun sama-sama berteriak.
__ADS_1
"Terima! Terima! Terima!"
"What?"