
Namun, Bik Indah bukanlah orang yang tidak paham. Dia semakin curiga, dengan gerak–gerik Cessi. Disatu sisi, dia merasa kasihan. Karena, Cessi masih belia.
Akan tetapi, disisi lain. Dia menyayangkan, jika apa yang ada di dalam benaknya. Memang benar adanya, tentu saja Bik Indah terasa sangat sedih.
“Oh, iya Bik. Gue mau mandi dulu, ya,” terang Cessi yang ingin lari dari tatapan penuh kecurigaan dari Bik Indah.
Cessi memilih, mencari aman. Daripada, nanti keceplosan dna menimbulkan masalah lagi, pikirkan–nya.
Setelah, Cessi berlalu dan menghilang di balik pintu. Bik Indah bergumam sendiri, “Apa mungkin, gadis itu menjadi simpanan Den Raka? Lalu, dia tengah ha—”
Bik Indah segera menepis pikiran kotornya dan memilih untuk keluar dari kamar Cessi, lalu memilih untuk menyiapkan makan siang nanti.
Dia yakin sekali, jika Raka akan kembali dan menjenguk Cessi. Membuat Bik Indah menyibukan dirinya, daripada dimarahi oleh Raka.
Sedangkan Cessi yang telah selesai dengan rutinitas mandi kilatnya, mencari keberadaan pakaiannya.
Sebelum keluar dari kamar mandi, Cessi memperhatikan keadaan kamar yang telah kosong. Barulah, gadis itu keluar.
Untung didalam kamar mandi, sudah tersedia semuanya. Dar sampo dan perlengkapan mandi lainya, di sana sudah tersedia handuk.
hal itu, membuat Cessi tidak perlu panik dan berjalan dengan pelan. Dia menuju lemari yang sebelumnya dijelaskan oleh Bik Indah dan membuka isi lemari tersebut.
Ternyata, bukan hanya ada pakaiannya di sana. Bahkan, ada beberapa pakaian yang tidak dia kenal. tetapi, masih model untuk dikenakan oleh wanita.
“Pakaian, siapa ini, ya? Tapi, cantik juga,” gumam Cessi. Seraya memperhatikan dress berwarna tosca dengan panjang selutut dan lengan pendek.
Cessi yang merasa cantik, jika menggunakan pakaian tersbeut. Tanpa berpikir panjang, langsung mengenakannya.
Entah punya siapa, Cessi seolah tidak peduli. Karena, berada di antara tumpukan pakaiannya. jaid, bukan salahnya. Kalau, mengenakan pakaian tersebut.
Setelah, berpakaian rapi. Tanpa menggunakan bedak tentunya, sebab gadis itu tidak suka dengan beda-beda tersebut.
Kini, Cesi berjalan keluar kamar. Dia ingin cari keberadaan Raka, dan ingin menanyakan dimana pemuda itu menyembunyikan ponsel miliknya.
__ADS_1
Hingga, sebuah aroma menyusup masuk ke hidung Cessi. Gadis itu pun segera mencari asal aroa tersebut dan mendapati Bik Indah yang tenha memasak.
“Bik,” panggil Cessi, seraya mendekati wanita itu. Namun, ketika Bik Indah berbalik badan dan melihat ke arah Cessi. wanita itu nampak terkecjut dan seegra mematikan kompornya.
“Non Oliv! Kenapa pakai baju itu!” pekik Bik Indah panik.
Cessi melihat kearah pakaian yang dikenakannya, tidak ada yang salah. Dengan wajah polos, Cessi bertanya, “Memangnya, kenapa, Bik?”
Bik Indah membuang nafas berat, kemudian menjelaskan. Jika, itu baju milik kekasih raka dan tidak boleh dikenakan oleh siapapun. Karena, Raka akan marah. Bahkan, Bik Indah tidak berani menyentuhnya ataupun memindahkan pakaian tersebut.
Cessi tertegun dengan pa yang baru saja disampaikan oleh Bik Indah dan segera berlari ke kamarnya. Dia melepaskan dress yang dikenakan, lalu menggantinya dengan kaos oblong miliknya dan celana pendek.
Baru saja, Cessi selesai berganti pakaian. Bik Indah masuk kedaam kamar, dan menghampirinya.
“maaf, Bik. Gue gak tau,” jelas Cessi dengan raut wajah menyesal.
Namun, apa yang Cessi katakan tidak digubris sama sekali oleh Bik Indah. Wanita itu malah mengambil kembali dress yang Cessi letakan di atas ranjang dan pergi berlalu begitu saja.
Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Bik Indah membuat Cessi semakin merasa bersalah. karena, telah lancang. mengambil yang bukan miliknya, dengan langkah gontai. Cessi mencari keberadan Bik Indah untuk meminta maaf kembali.
Cessi yang tengah asyik memasak, sampai tidak menyadari kedatangan seseorang. Hingga, sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
sontak saja, Cessi terkejut dan membalikan badanya. Melihat, siapa pelakunya.
“Om mesum!” teriak Cessi nyaring dan membuat Raka harus membekap mulut gadis itu.
“Jangan teriak! Aku gak budek!” balas Raka kesal. Sebenarnya, Raka ingin pergi bekerja dan menyelesaikan kasus yang tersandung dengan ayahnya Broto.
Namun, Raka yang ingin mengecek keadaan Cessi lewat monitor CCTV. Betapa terkejutnya, Raka yang melihat keadaan Cessi yang tengah terbaring lemah. Setelah makan dan minuman yang dibawakan oleh Bik Indah.
Hal itu, membuat Raka membatalkan niatnya dan berubah agenda. Dia segera masuk kedalam mobilnya dan menuju ke rumah yang ada keberadaan Cessi tentunya.
Namun, ketika Raka baru sampai. Dia mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera, lalu mencari asal aroma tersebut dan melihat Cessi yang berpakaian seksi.
__ADS_1
Raka merupakan pemuda normal, melihat pakaian minim yang dikenakan oleh Cessi. Membuat Raka tergoda dan tanpa disadari, memeluk gadis itu dari belakang.
Namun, teriakan Cessi. Membuat Raka segera tersadar dan membekap mulut gadis itu.
"Aku gak suka kamu panggilan Om! Sudah berapa kali, aku bilang, hah? Lalu, kenapa kamu yang memasak? Di mana Bik Indah?" terang Raka yang menutupi perasaan gugupnya.
Cessi amat kesal dengan kelakuan Raka, bagaimana caranya dia bisa berbicara. Jika, mulutnya saja di bekap oleh pemuda itu.
"Oliv!" teriak Raka nyaring. Gadis itu menggigit tangan dan hal tersebut sangat sakit bagi Raka.
"Dasar, drakula!" bentak Raka.
Hal tersebut, semakin menambah kekesalan Cessi kepadanya. Gadis itu pun menginjak kaki Raka dan membuat pemuda tersebut berteriak kesakitan.
"Aw! Kamu mau aku hukum?" pekik Raka dan menyeret Cessi. Dia amat kesal dengan tingkah gadis itu, walaupun Cessi sudah berkali-kali melawan.
Namun, tenaga yang dimiliki oleh Raka jauh lebih besar darinya. Bukan berarti, Cessi menyerah. Dia terus berteriak dan Bik Indah yang haru saja selesai mencuci melihat tingkah mereka berdua dengan heran.
"Den, Non, kalian kenapa?" tanya Bik Indah pelan.
Cessi yang melihat kedatangan Bik Indah segera melepaskan dirinya dari Raka dan berlari, mendekati wanita itu.
"Bik! Om itu jahat! Dia mau melakukan hal tidak baik!" adu Cessi dengan berpura-pura menangis.
Sedangkan, Bik Indah menjadi bingung. Sebab, dia ingin membela Cessi yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Namun, Bik Indah tidak mungkin melawan Raka yang merupakan majikannya. Disaat Bik Indah tengah dilema, Raka mendekati Cessi dan menarik tangan gadis itu dengan kasar.
Entah mengapa, Bik Indah seolah tidak terima akan apa yang dilakukan oleh Raka kepada Cessi.
"Den! Jangan seperti itu! Kasihan, Non Oliv!" bentak Bik Indah tanpa sadar telah membentak Raka.
Raka mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Bik Indah dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Ini, bukan urusan Bibik!"
"Tapi, Den—"