
Apa yang disampaikan oleh Cessi, semakin menaruh perasaan curiga dibenak Bik Indah. Dia merasa, jika ada sesuatu yang telah Cessi lakukan. Hingga, membuat gadis itu mengalami keadaan yang sulit seperti sekarang.
“Kamu tidak sedang, hamil diluar nikah ‘kan?’ tanya Bik Indah dengan hati-hati.
Cessi yang mendengar hal tersebut, hanya bisa melongo dengan mulut yang terbuka lebar dan mata yang membuat.
Dia syok dengan apa, yang baru saja diucapkan oleh Bik Indah dan tidak bisa mempercayainya.
“Aku tidak mungkin melakukan itu, Bik!” pekik Cessi nyaring.
“Melakukan, apa?”
Mereka terkejut, akan suara nyaring dari Raka yang bertanya tiba-tiba. Kini, pemuda itu mendekat.
“Bukan apa–apa, Den,” jawab Bik Indah dengan perasaan yang gusar.
Namun, Raka tidak percaya dengan begitu saja. Dia menatap ke arah Cessi dan kembali menatap ke arah Bik Indah. Hingga, matanya melihat album foto yang sangat dikenal.
“Kenapa, Bibik mengeluarkan album foto ini?’ bentak Raka dengan marah.
Bik Indah tidak bisa menjawab, pertanyaan tersebut. Dia hanya bisa tertunduk, sedangkan Cessi yang merasa kasihan kepada Bik Indah. Menyayangkan sikap Raka, yang menurutnya keterlaluan.
“Abang, kenapa sih? Itu hanya album foto! Atau, karena ada foto Suci disana? Sampai, Abang—”
“Diam! Kamu gak ngerti apapun!” hardik Raka.
kemudian, pemuda itu berlalu begitu saja. Meninggalkan Bik Indah dan juga Cessi. apa yang dilakukan oleh Raka, benar-benar membuat Cessi merasa kesal.
Dia pun memilih mengejar pemuda itu, untuk membuat perhitungan. Cessi tidak suka dengan cara Raka dalam membentak Bik Indah. walaupun, wanita itu memang bersalah sekalipun.
“Bang! Kenapa, sih? Harus segitunya? Kan, bisa berbicara baik-baik,” kata Cessi dan membuat Raka mengembalikan badannya.
Raka menatap tajam, kearah Cessi. Seolah-olah, ingin menguliti gadis itu. Hidup-hidup, dia pun mendekat dan mencengkram erat kerah baju yang dikenakan oleh gadis itu.
“Kamu, hanya anak kecil!” katanya tepat di wajah Cessi.
“Jangan sangka! Anak kecil, ini tidak bisa berbuat sesuatu!?” balas Cessi tak mau kalah.
__ADS_1
Cessi menginjak kaki Raka dan membuat pemuda itu, melepaskan cengkraman–nya. Kemudian, Cessi memukul pundak Raka dengan keras.
“Aw!” pekik Raka merasa kesaitan, padahal dia baru saja terbagun dari pingsan. Hingga, masih merasa sedikit pusing.
Namun, karena memikirkan perkataannya yang terkesan berlebihan kepada Cessi. Raka memutuskan ingin meminta maaf, akan tetapi dia mendapati. Rahasianya yang telah dibongkar oleh Bik Indah.
Hal tersebut, malahan membuat Raka semakin menjadi kesal dan memilih untuk menjauh. Sebelum, dia kembali teringat akan kekasihnya dulu.
“Den!” pekik Bik Indah dan menghampiri Raka. Lalu, memapah tubuh pemuda itu untuk kembali berdiri tegak.
“Den Raka, gak pa–pa?” taya Bik Indah dengan cemas.
“Kenapa, Bik? Kenapa, Bibik masih baik sama Bang Raka? Padahal, dia telah beberapa kali membentak Bibik?” tanya Cessi yang tidak mengerti dengan jalan pikiran dan apa yang terjadi kepada Bik Indah
“Bibik, hanya bisa berusaha, Non. Keluarga, Den Raka sudah banyak membantu Bibik,” jawab Bik Indah pelan dan membatu Raka berjalan menuju ke kamarnya.
Cessi hanya bisa tertegun, setelah mendengar apa yang baru saja wanita itu katakan. Hutang budi memang sesuatu yang amat berat untuk bisa dibayar.
bahkan, kata pepatah lama. ‘Hutang emas boleh dibayar, utang budi dibawa mati.’
“Gue harus bagaimana?” batin Cessi gusar.
**********************************************************
Malam harinya, setelah makan malam bersama. Cessi mengajak Raka untuk berada di taman belakang. Dia berusaha untuk membujuk pemuda itu, atau mencari cara. Agar, bisa lepas dari jerat Raka.
“Bang, aku boleh berbicara sesuatu? Tapi, tidak disini?’ tanya Cessi pelan.
“Lalu, dimana?” tanya Raka dengan nada dingin. Sebab, menjaga imagenya dari Cessi.
“Di taman belakang,” jelas Cessi. Raka hanya mengerutkan dahinya dan kemudian menganggukan kepala pelan. Tanda menyetujui ajakan gadis itu.
Mereka berjalan beriringan, dengan Cessi yang berada di depan. Sedangkan Raka yang mengekor dari belakang, pakaian yang dikenakan oleh Cessi. Membuat Raka merasakan panas–dingin.
Kaos oblong tipis, membuat Raka bisa melihat isi yang ada dibalik kain tersebut. Walaupun, keadaan malam yang temaram. Namun, tidak dengan indra penglihatan–nya yang sangat tajam.
“Oliv! Ayo, cepat! Kamu mau ngomong apa?” tanya Raka dengan nada kesal. lebih tepatnya menahan sesautu yang tidak boleh ketahuan oleh Cessi.
__ADS_1
“Duduk disini dulu, Bang,” pinta Cessi, seraya menepuk bangku yang ada di taman rumah Raka tersebut.
Hembusan angin malam, serta dinginya suasana. Menambah kesan yang berbeda, baru pertama kalinya Raka berduaan dengan seorang gadis dalam keadaan seperti ini.
Selama, dia menjalani hubungan dengan kekasihnya. raka selalu membawa Suci, ke tempat yang elit. Bukan hanya duduk di taman, apalagi yang ada di halaman belakang rumah.
bagi seorang Raka, wanita itu. Adalah makhluk yang sangat dia puja dan akan diperlakukan dengan sebaik mungkin.
“Bang, bolehkah? Kalau, aku membatalkan perjanjian pernikahan ki—”
“Tidak boleh!”
belum juga, Cessi menyelesaikan ucapannya. Raka sudah memotongnya dengan cepat, membuat gadis itu membuang nafas panjang. Dia bingung, bagaimana caranya. Bisa lepas dari Raka.
“Besok pagi? Aku akan mengurus surat pernikahan kita! Kamu akan menikah dengan aku! Hal itu wajib! Aku juga akan meminta bapak angkatmu? Menjadi walinya!” jelas Raka yang seolah tidak boleh dibantah.
Cesi yang mendengar hal tersebut, tentu saja tidak terima. Dia bangun dari posisi duduknya dan berdiri tepat di hadapan Raka. Lalu, memaki pemuda itu.
“Apa hak, Abang? Hah! Ini hidupku! Adakah, seorang lelaki? Mengajak, seorang wanita menikah dengan cara seperti ini?”
Raka tersenyum sinis, melihat kemarahan Cessi. namun, sayang. Semuanya sudah diatur, sebab takut kehilangan. Maka, Raka berusaha dengan keras. Menyusun sebuah rencana pernikahanya dengan Cessi, dibantu oleh seseorang. Raka ingin menjebak Cessi, untuk bisa terus bersama dengannya.
“Ada! Yaitu, aku,” jawab Raka dengan santai, seraya bersandar di bangku.
Cessi yang mendengar hal itu, semakin tersulut emosi dan tanpa sadar. Membandingkan, Raka dengan Bargon dan hal itu. Membuat Raka menjadi marah.
“Aku lebih baik menikah dengan Bargon! Sebab, dia baik dan lemah–lembut. Tidak seperti Aabang yang memaksaku! Apalagi—”
“Cukup! Cukup Cessi! Aku Rakayaksa! Bukan Bargon!” bantak Raka dan bangun dari posisi duduknya. lalu, memilih berlalu meninggalkan Cessi yang menangis tersedu.
Tiba-tiba saja, langkah Raka terhenti. Karena, tangan Cessi yang melingkar di perutnya. Gadis itu, memeluk dirinya dari belakang.
Raka tertegun dan terdiam, apalagi suara isak essi yang membuatnya menjadi lunak. Sampai, bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah, yang dia lakukan ini salah.
“Aku, hanya ingin diajak menikah dengan cara yang baik, Bang. Bukan seperti dipaksa, seperti ini,” kata Cessi dengan suara yang bergetar.
“Baiklah, ayo nikah!”
__ADS_1