
Pertanyaan beruntun, seperti kereta api. Membuat Raka mengecup sekilas bibir sang istri, seking gemasnya.
“Kamu menanyakan orang lain? Disaat, suamimu ada di sini? Emang, seberapa pentingnya Amara buat kamu?” tanya Raka seolah-olah merajuk.
“Dia sangat penting, Bang! Aku bahkan pernah hampir mati kelaparan, kalau … Amara tidak menolongku,” jelas Cessi dengan raut wajah sendu, ketika mengingat pengorbanan Amara untuknya waktu itu.
“Amara masuk rumah sakit jiwa, dia mengalami depresi. Percayalah, kalau … dia tidak ingin menemuimu lagi,” jelas Raka dengan tatapan dingin.
“Gak mungkin! Abang bohong! Aku gak percaya! Dia sahabatku! Aku sangat mengenalnya,” balas Cessi dengan memukul dada bidang Raka.
“Kamu penyebabnya!”
Cessi menghentikan tangannya yang memukuli dada Raka, dia menatap heran kepada sang suami yang mengatakan. Jika, dia adalah penyebabnya.
“Maksudnya?” tanya Cessi dengan mata yang berkaca-kaca.
Raka hanya bisa membuang nafas panjang, kemudian menjelaskan keadaan Amara. Dimana gadis itu, mengalami depresi. Setelah mengetahui keadaan Bargon yang terkena kecelakaan.
Cessi yang mendengar hal itu, tentu saja tidak percaya begitu saja. Dia meminta bukti dari Raka.
“Abang, jangan bohong! Mana buktinya?” pinta Cessi.
Raka memutar bola matanya malas, tetapi kemudian dia berpikir. Jika, ini merupakan kesempatan emas baginya untuk mengajak Cessi makan.
Apalagi, keadaan hari yang sudah semakin siang. Tentu saja, Cessi akan merasa kelaparan. Terlebih gadis itu yang memang sedang mogok makan.
“Boleh! Abang akan kasih buktinya sama, kamu. Tapi … dengan satu syarat,” kata Raka.
“Apa?” tanya Cessi penasaran.
“Kamu, harus makan siang bersamaku,” balas Raka dengan cepat.
Cesi hanya menganggukkan kepalanya kecil, tanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh Raka.
Dengan penuh kasih–sayang, Raka menuntun Cessi menuju ke dapur dan menarikkan kursi untuk istrinya duduk.
Cessi merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Raka padanya, sebab Cessi belum pernah mendapatkan perlakuan manis selama ini.
“Kamu, harus makan yang banyak. Nanti, aku menjadi suami yang zolim! karena, membiarkan istrinya kelaparan,” kata Raka seraya tangannya mengambilkan lauk–pauk untuk Cessi.
Bik Indah yang melihat dan mendengar semua perkataan Raka, sampai meneteskan air mata. Wanita itu merasa bahagia, karena Raka sangat tulus mencintai Cessi.
__ADS_1
Bik Indah pun memilih meninggalkan pasangan suami istri tersebut dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
“Jangan menangis, nanti asin makannya,” ejek Raka dan menghapus jejak air mata di wajah sang istri. Kemudian, tangannya dengan cekatan, memasukan suap demi–suap makanan ke mulut Cessi
“Makasih, Bang,” kata Cessi terharu.
“Hey! Ayolah. Aku suamimu, Oliv! Jangan anggap aku, seperti orang asing,” kata Raka dengan matanya yang berkedip, menggoda Cessi dan membuat gadis itu tersipu malu.
Setelah makan siang bersama, Raka mengajak Cessi kembali lagi ke dalam kamar dan meminta istrinya untuk beristirahat terlebih dahulu.
Seperti itulah cara Raka, membuat Cessi sejenak melupakan masalah yang ada. Bahkan, Raka menonaktifkan ponselnya. Agar bisa fokus kepada Cessi.
Hingga, sore harinya. Raka mengajak Cessi untuk berenang di kolam renang yang ada di belakang rumah mewah tersebut.
Pasangan suami–istri itu bermain air, hingga hari semakin sore dan Bik Indah menegur pasangan tersebut. Barulah mereka berhenti main air,
“Tadi, kamu kenapa gak berenang?” tanya Raka yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Pemuda itu baru selesai mandi dan belum mengenakan pakaian sama sekali, hanya handuk yang melilit di pinggangnya.
Cessi yang merasa malu, akan keadaan Raka. hanya memilih diam dan menutup kedua matanya dengan tangan.
“Hey, kamu kenapa?” tanya Raka seraya menarik pelan tangan sang istri. Agar, dia bisa melihat wajah cantik gadis itu.
Raka tergelak dengan apa yang dikatakan oleh Cessi, dia semakin semangat menggoda istrinya itu.
“Hahaha … aku suamimu, Oliv. Tadi, aku bilang apa? Hemmm … .”
Raka mendekati tubuh Cessi yang berada di atas ranjang, gadis itu masih memejamkan matanya. Dia benar-benar malu, melihat keadan Raka yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk saja.
Cup
Raka mengecup bibir Cessi sekilas dan mengendurkan tubuhnya, membuat istrinya itu memekik kesal.
“Abang!”
“Apa, sayang?” tanya Raka dengan santai.
Cessi segera membuang wajahnya ke sembarang arah, hal itu dilihat oleh Raka dan membuat pemuda itu tersenyum bahagia.
Dia sudah bertekad, untuk membuat Cessi menyadari perasaanya. Jika, sudah jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Kembali, Raka menggoda Cessi. Dengan mendekati sang istri dan mengulurkan tangannya, membuat Cessi mengerutkan dahinya dan bertanya, “Mau, apa?”
“Aku mau kamu,” jawab Raka dengan senyum yang menggoda.
Wajah Cessi memerah, seperti kepiting rebus. Setelah mendengar gombalan garing dari sang suami. Namun, anehnya dia suka.
Hingga, Raka mengulangi pertanyaan sebelumnya. Belum mendapatkan jawaban dari sang istri.
“Oliv, kenapa tadi kamu gak berenang?”
“Aku gak bisa berenang, Bang,” jawab Cessi jujur.
Raka hanya mengangguk kecil, lalu mengajak istrinya untuk ke dapur. Mereka ingin makan malam bersama, di tengah perbincangan ada mengunyah makanan.
Terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman rumah, tidak berapa lama. Terdengar suara klakson yang berbunyi, menandakan si empunya ingin segera dibukakan pintu.
Wajah Raka pias seketika, dia sudah tahu. Siapa yang datang, kemudian memerintahkan Bik Indah untuk segera membuka pintu utama.
Raka juga memerintahkan Cessi untuk segera bersembunyi, istrinya yang tidak paham dengan apa yang tengah terjadi pun akhirnya bertanya, “Ada apa, Bang?’
“Apa, Abang ingin mempertemukan aku dengan Amara? Lalu, yang datang itu benar-benar Amara?” tambah Cessi menembak.
“Bukan! Sudah sana! Bersembunyi!” desak Raka seraya mendorong tubuh sang istri pelan.
“Tapi … aku belum selesai makan,” kata Cesi dengan matanya yang menatap piring makamnya.
“Nanti dilanjutkan lagi, sekarang keadaan darurat!” jelas Raka dengan panik.
Cessi merasa kesal dengan suaminya, tadi Raka sudah berjanji. Jika, akan memberitahukan keadaan amnara. Nyatanya, sampai malam harinya. Raka masih belum memberikan informasi yang Cessi minta, malahan dirinya disuruh bersembunyi oleh pemuda itu.
“Aku gak mau! Abang suka tipu!” bentak Cessi.
Raka yang sudah semakin terdesak, terlebih mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Tidak memiliki pilihan lain, dia menggendong Cessi dan memasukannya kedalam kamar.
Cessi meronta-ronta, namun tidak dipedulikan oleh Raka. Setelah di dalam kamar, dia meminta agar Cessi diam.
“Diam disini! Jangan keluar!” perintahnya dan mengunci pintu kamar tersebut. Membuat Cessi yang merasa kesal dan curiga, akan sikap suaminya yang seperti itu.
“Dia kenapa sih?” batin Cesi bertanya-tanya di dalam hati.
Sedangkan, Raka yang baru saja selesai mengunci pintu kamar. Berbalik badan, betapa terkejutnya dia melihat sosok yang sangat dikenal tengah berkacak pinggang dan menatap ke arahnya dengan tajam.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan, Raksa?”
“Mati aku,” batin Raka.