
Di saat Raka dan Cessi tengah mencaritahu tentang Pak Burhan, keadaan Bargon saat ini tengah dirundung perasaan sedih.
Pemuda itu memang bisa selamat dari kecelakan yang terjadi, namun tidak menjamin hidupnya bisa kembali normal seperti sebelumnya.
Kecelakaan waktu itu, membuat Bargon berjalan dengan keadaan yang tidak biasa. Kaki Bargon mengalami kecacatan, dimana dia berjalan seperti pincang.
Bahkan, Bargon tidak ingin meneruskan pendidikannya. Karena, merasa berbeda dengan yang lainnya.
hal itu, membuat kedua orang tua Bargon menjadi bingung. Karena, mengkhawatirkan masa depan putra mereka yang tidak mau bersekolah lagi.
Hari-hari yang dilalui oleh Bargon hanya berdiam diri di kamar, tanpa mau berbicara dengan siapapun.
Sama seperti saat ini, ketika Sulis kembali mengetuk pintu kamar putranya itu. Seraya membawa nampan berisi makanan.
“Gon! Buka pintunya! Ibu bawa makanan–mu, dan obat!” teriak Sulis. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Membuat wanita itu membuka pintu Bargon yang memang tidak terkunci, dia bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Bagaimana keadaan putranya yang sangat terpuruk.
“Gon, kamu harus makan dan minum obat. Biar cepat sembuh,” kata Sulis menasehati Bargon dan meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas, lalu duduk ditepi ranjang.
“Untuk apa, aku sembuh, Bu? Hatiku sudah hancur,” balas Bargon dengan nada pelan.
Bukan, perkara cacat yang dia alami untuk seumur hidup. Melainkan, kehilangan gadis yang dia sukai dan tidak bisa digapai lagi.
Semua terjadi, karena dia yang tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya dan memendam rasa itu. Hingga, Cessi menikah dengan orang lain.
Putus cinta amatlah sulit, untuk usia semua Bargon. Bahkan, banyak yang ingin mengakhiri hidup mereka. Hanya disebabkan, cinta yang tidak kesampaian.
Peran orang tua sangat penting, dalam mendampingi masa tersulit anak-anak mereka. Seperti yang dialami oleh Bargon, sekarang.
“Gon! Kamu masih mendingan! Bisa berjalan dan hidup dengan normal! Coba kamu menjadi Amara! Ibu tidak tega melihat keadaannya saat ini!” terang Sulis yang merasa kesal dengan Bargon yang tidak memiliki semangat untuk hidup.
Bargon yang mendengar nama Amara, langsung menatap ibunya yang masih saja ngomel-ngomel tidak jelas.
“Mara kenapa, Bu?” tanya Bargon penasaran. Karena, dia tidak mengetahui keadaan Amara hingga saat ini.
Terdengar tarikan nafas dari Sulis, dengan pelan. Wanita itu menjelaskan, jika Amara mengalami depresi dan kini tinggal di rumah sakit jiwa.
“Tidak mungkin!” pekik Bargon yang menolak apa yang dijelaskan oleh ibunya.
Dia sangat mengenal Amara, sama halnya dengan Cessi. Bargon yakin, jika ibunya hanya pembual saja.
__ADS_1
Sulis menjadi geram sendiri, mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.
“Terserah kamu! Mau percaya atau tidak? Ibu tidak peduli! Karena, percuma. Jika, kamu belum melihatnya sendiri.”
Setelah mengatakan hal itu, Sulis meninggalkan Bargon sendiri. Dia membiarkan perasaan penasaran menghantui putranya. Agar bisa melihat kesulitan orang lain, dimana lebih menderita daripadanya.
Terkadang, seseorang harus melihat dengan mata sendiri. Supaya otak mereka bekerja dan bisa membandingkan hal baik dan buruk yang terjadi di kehidupan.
Karena, guru yang paling berharga adalah pengalaman. Tidak ada yang bisa mengajari seseorang, lebih baik dari pada sebuah pengalaman yang pernah terjadi di kehidupan.
Disaat, Sulis tengah duduk di ruangan tamu dan memainkan ponselnya. Sebab, tidak boleh pergi bekerja oleh sang suami dan harus menjaga Bargon di rumah.
Wanita itu, mengunakan gawainya untuk memonitoring keadaan butik yang telah dia serahkan kepada asisten kepercayaan–nya.
Hingga, tanpa sadar. Bargon ada di hadapannya dan bertanya, “Bu, aku ingin—”
“Makan?” balas Sulis dengan cepat dan meletakan ponselnya di atas meja, lalu menatap putranya yang mengenakan tongkat.
Bargon menggelengkan kepalanya, lalu menjelaskan. Jika, ingin bertemu dengan Amara. Dia masih belum percaya dengan apa yang disampaikan oleh ibunya sebelum melihat secara langsung.
“Apa kamu yakin, ingin bertemu dengan Amara?” tanya Sulis.
“Iya, iya, ayo. Ibu antar,” jawab Sulis dengan senyum manis yang menghias wajah cantiknya.
Dia sangat yakin, setelah melihat keadaan Amara. Bargon memiliki semangat untuk hidup kembali. Karena, wanita bukan hanya Cessi saja di dunia ini.
Bahkan, pepatah lama mengatakan ‘Mati satu, tumbuh seribu.’ Hilang satu, maka cari yang baru.
Sulis menuntun Bargon menuju ke mobil, mereka meninggalkan rumah dan menuju ke rumah sakit jiwa. Dimana Amara di rawat, selama di perjalanan. Bargon hanya diam, pikirkannya masih melayang entah ke mana.
“Gon, kamu yakin … tidak ingin bersekolah lagi?” tanya Sulis ragu-ragu. Jika, apa yang dia tanyakan kembali menyinggung perasaan putranya yang masih belum stabil.
Namun, tidak ada tanggapan dari Bargon. Membuat Sulis, kembali diam dan fokus kepada kemudi yang berada di tangannya.
Hingga, mobil yang mereka tumpangi telah memasuki area rumah sakit. Sulis memarkirkan mobilnya dan kembali menuntun Bargon.
Mereka menyusuri lorong, sampai di depan ruangan Amara. Ada keraguan di dalam hati Bargon, jika Amara benar-benar ada di dalam.
“Kenapa?” tanya Sulis yang bingung. Karena, putranya yang berhenti.
__ADS_1
Bargon tidak menjawab pertanyaan dari ibunya, sampai pintu yang tadinya tertutup. Kini terbuka dengan perlahan dan menampakan wajah ibunya Amara.
“Bu Sulis! Bargon!” ucapnya agak terkejut dengan kedatangan kedua orang tersebut.
“Bu Sarah, maaf … kami hanya ingin mengunjungi Amara,” jelas Sulis.
Bargon tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dengan langkah yang tertatih. Pemuda itu menuju ke ranjang, dimana ada seorang gadis yang sangat dikenal tengah terbaring dengan tubuh yang terikat.
“Mara,” panggil Bargon pelan. Namun, tidak mendapat tanggapan dari Amara. Walaupun mata gadis itu terbuka dengan lebar.
“Nak, ada Bargon. Dia mengunjungimu,” kata Sarah pelan. Sebagai seorang ibu, hatinya sangat hancur. Melihat keadaan Amara yang seperti sekarang.
Diluar dugaan, Amara merespon. Apa yang dikatakan oleh Sarah barusan.
“Bargon? Bargon? Hahaha … Bargon.”
Bargon menangis dalam diam, melihat Amara yang memanggil-manggil namanya dan tertawa. Apa yang dikatakan oleh ibunya benar, jika gadis itu mengalami depresi.
Tanpa ada keraguan, Bargon meraih tangan Amara yang berada di samping ranjang. Karena hanya tubuhnya yang terikat.
Dia menggenggam tangan gadis itu dengan erat, seolah tidak ingin kehilangan. Kembali, Bargon memanggil nama Amara.
“Amara, ini aku … Bargon,” jelasnnya. Akan tetapi, tidak berapa lama. Amara berteriak-teriak dan mulai tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
“Aaaa … aku benci kamu! Aku benci Cessi! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Betapa terkejutnya, Bargon. Mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Amara.
“Apa yang terjadi, padamu, Mara?” batin Bargon merasa miris.
Sedangkan Sarah, segera memanggil dokter jaga. Karena, keadan Amara yang mulai tidak stabil.
“Dokter! Dokter!”
“Gon, ayo kita pergi,” ajak Sulis yang merasa tidak nyaman dengan keadaan Sarah dan Amara.
“Biarkan aku di sini!” bantah Bargon yang tidak mau pergi.
“Kamu, kenapa Gon?”
__ADS_1
Keadaan Amara yang memburuk, berbanding terbalik dengan Bargon yang sudah keluar dari rumah sakit. Walaupun tidak bisa bersekolah seperti biasanya.