Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 17 bertanggung jawab


__ADS_3

Saat ini, raut wajah Raka sangat tidak bersahabat. Membuat Cessi tidak berani untuk berbicara. Sampai mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, selama di dalam mobil. Cessi hanya bisa menahan perasaan gusar setengah mati.


“Cih! Kamu memang merepotkan!”


Raka yang memang pemuda yang dewasa, tidak mudah untuk ditaklukan. Dia tidak menyangka, jika Cessi yang dikiranya polos. Bisa melakukan tindakan seperti itu.


“Maaf,” kata Cessi dengan lirih. Bahkan, lehernya terasa tercekik.


“Jangan macam-macam!” bentak Raka dan membuat Cessi terdiam dengan, menggigit bibir bawahnya. Seking, merasa tegang.


Setelah pembicraan tersebut, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hingga, mobil yang dikendrai oleh Raka telah memasuki halaman sebuah gedung. dimana pemuda itu bekerja.


Sebuah perusahaan yang bergerak di biang IT (infomasi dan teknologi). Disana, bukan hanya membuat sebuah berita atau berjibaku dengan infortmasi.


Tmpat Raka bejjerja, juga bergerak pada pola aplikasi sercaara global. dimana mereka menluncurkan beberapa progarm games atau sebuah aplkasi pra–bayar.


Semua inovasi yang mereka lakukan, merupakan tuntutan dari konsumen zakan sekarang. Dimana menginginkan semua serba mudah dan berada di dalam genggaman tangan.


Diera secara digital, tidak heran. Jika, banyak sekali perusahaan yang meraih keuntungan di saat yang kaum rebahan tinggal berbaring dan memainjan hari.


“Ikut aku! Dan hanga buat masalah!” prtitah Raka. Setelah memakirkan mobilmya di area pakir.


Mau tidak mau Raka, harus membawa Cessi ke tempat dia bekerja. Sebab, akan mengawasi gadis itu.


Padahal, Raka takut. Jika, Cessi bersama dengan siswa yang dijelaskan oleh sang kepalla sekolah tadi. Tentu sjaa, Raka tidak ingin kecolomngan lagi.


“Tapi, Om!” ragu Cessi ingin mengatakan sesuatu, ditambah sorot mata Raka yang tidak bersahabat.


“Kamu, mau apa?” tanya Raka. Sekilas, dan menunggu Cessi. Dia mengurungkan niatnya yang ingin keluar dari dalam mobil.


Cessi hanya menundukan kepalanya, seraya melihat baju seragam yang dikenakan olehnya. Cessi merasa malu, dan pasti sudah bisa dipastikan. Akan menjadi pusat perhatian.


“Apa?” tanya Raka lagi. Sebab, merasa kesal dengan sikap diamnya Cessi. Sedangkan, dirinya yang harus kembali bekerja.


“Om, baju gue,” kata Cessi dengan lirih.


Raka membuang nafas panjang, dia juga tidak memikirkan sejauh itu. Tidak mungkin, dia bisa mengajak Cessi masuk dengan seragam sekolah.


Kemudian, Raka mengambil pakaian yang ada di jok belakang mobilnya dan meminta Cessi mengenakan pakaian tersebut.

__ADS_1


Sedangkan, Raka menunggu di luar mobil. Seraya mengotak-atik ponselnya. Benda pipih yang berisi banyak hal yang selalu dibawa oleh hampir setiap orang.


“Om,” panggil Cessi yang sudah selesai mengenakan pakaian yang diberikan oleh Raka.


Kini gadis itu berdiri tepat di depan Raka, membuat pemuda tersebut terpana dengan penampilan Cessi yang sangat berbeda.


Raka sampai tidak berkedip, seking tatapan yang seolah terkunci kepada penampilan Cessi saat ini. Sampai gadis itu berdehem, barulah Raka tersadar.


“Ehem, Om,” panggil Cessi yang merasa jika Raka tengah kesambet setan. Karena, hanya diam saja.


“Ah, iya! ayo masuk!”


Raka merasa malu, karena ketahuan. Tengah mengagumi Cessi, dia pun segera berjalan menuju ke gedung dengan meninggalkan Cessi yang hanya tersenyum melihat tingkahnya dan mengikuti pemuda itu.


“Ternyata ada manisnya, juga,” gumam Cessi dan segera menyusul Raka yang telah menghilang di balik pintu yang besar.


Ketika, cessi telah berada di dalam gedung tersebut. Dia tidak berhenti, berdecak kagum. Dengan apa yang ada di dalam gedung tersebut, semuanya tampak sangat menakjubkan.


Cessi pun teringat, akan tugas yang pernah ingin diberikan oleh Pak Martin sebelumnya. Dimana lelaki itu, meminta Cessi untuk melakukan tur ke sebuah perusahan IT.


Namun, sayang. Hari yang dinanti oleh Cessi harus terbang bebas, karena kesalahpahaman yang berujung pada hukuman yang berat.


Cessi merasa sangat beruntung, bisa mesuk dengan leluasa dalam perusahaan yang sebesar itu. Dia sampai mengira-gira, apa derajat Raka di dalam perusahaan tersebut.


Hingga, mereka masuk ke dalam lift. Cessi yang sudah dikuasai oleh roh kepo tingkat dewa.


akhirnya mulai mengintrogasi Raka.


“Om, beneran kerja disini?” tanya Cessi dengan nada yang meragukan.


Raka hanya menatap sekilas kearah Cessi, dia tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Sampai pintu lift terbuka.


Raka pun segera melangkahkan kakinya, menuju ruangnya tempat dia bekerja. Sedangkan Cessi terus mengikuti Raka dari belakang,


“Selamat pagi, Pak Raksa,” sapa seorang wanita cantik dan seksi.


Cessi bergidik ngeri dengan pakaian yang dikenakan oleh wanita itu, seperti wanita yang suka jualan ketika malam tiba.


Raka tidak menggubris, apa yang dikatakan oleh sang sekertaris dan fokus menuju ke ruangan.

__ADS_1


“Hey! anak kecil!”


Raka yang mendengar sang sekertaris tengah menghardik ekornya, lalu mengembalikan badan dan menatap wanita itu dengan tajam.


“Biarkan dia, Sis! Aku tidak suka dengan cara bicaramu!”


Wanita itu pun terdiam, lalu mengangguk pelan. Tanda paham dengan apa yang disampaikan oleh Raka dan memberikan Cessi berlalu begitu saja.


Padahal, didalam hatinya sangat kesal. Melihat Cessi yang bisa dekat dengan sang atasannya.


“Om, kenapa memelihara wanita di sini?” tanya Cessi. Ketika sudah berada didalam rumah Raka.


Raka masih fokus pada sesuatu dan mengabaikan apa yang diucapkan oleh Cessi. Pemuda itu lamsgung mengambil laptopnya dan mengotak–atik benda tersebut.


Cessi yang merasa diabaikan, berwajah masam dan dengan beraninya. Cessi duduk diatas pangkuan Raka, membuat pemuda itu membelalakkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang lakukan oleh Cessi.


“Kamu mau apa?” pekik Raka kesal. Akan tingkah Cessi telah menghambat pekerjaan yang harus segera dia selesaikan..


“Gue mau, Om tanggung jawab!” balas Cessi dengan nada serius


Raka hanya mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Cessi.


“Oliv! Aku mau bekerja, jadi ... bisakah? Kamu berkelakuan baik?” tanya Raka dengan nada membujuk Cessi. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan gadis itu.


Cessi menggelengkan kepalanya, menolak apa yang diminta oleh Raka dan membuat pemuda itu melakukan hal yang membuat Cesi segera bangun.


“Om, nakal!” pekik Cesi dengan kesal.


Namun, Raka malahan tersenyum seringai. Seolah memiliki ide gila kepada Cessi. Dia segera menghampiri gadis itu dan memojokan Cessie Hingga ke tepi dinding.


“Apa yang kamu katakan, tadi?” tanya Raka dengan semakin merapatkan tubuhnya kepada Cessi, tentu saja membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan menahan tubuh kekar Raka dengan tangannya.


“Om, mau apa?” tanya Cessi dengan waspada. Sebab, dia tahu akan tingkat kemesuman Raka yang sangat luar binasa.


“Mau bertanggung jawab, padamu?” jawab Raka dengan santai.


Deg


Jantung Cessi serasa mau terlepas dari tempatnya.

__ADS_1


“Bertanggung jawab seperti apa?” tanya Cessi pelan.


__ADS_2