Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 35 Kebenaran


__ADS_3

Bik Indah berjalan mendekati, Cessi dan meminta gadis itu membuka sedikit bajunya. Apa yang dipinta oleh Bik Indah, membuat Cessi menjadi bingung.


“Non Oliv, bisa buka sebentar bajunya?”


“Apa maksud, Bibik?” tanya Cessi bingung. apalagi, dirinya yang mengenakan pakaian pengantin. Disuruh membuka baju, hal itu membuat Cessi merasa malu.


“Ibu hanya ingin melihat tanda lahir, yang berada di pinggangmu. Jika, kamu memang. Putri Ibu yang selaam ini, dinyatakan meninggal oleh mereka,” jelas Bik Indah, seraya menatap tajam kearah Pak Broto dan Bu Indri.


Sedangkan pasangan suami istri itu menjadi pias seketika.


“Apakah, benar?” batin mereka bertanya-tanya.


Sedangkan Cessi berbisik di samping suaminya, mnjelaksan. Jika, dia merasa malu. Disuruh membuka baju.


“Bang, aku malu. Masa, membuka baju di sini?”


Raka yang mendengar, apa yang disampikan oleh istrinya. Merasa geli, dan juga kasihan. Karena, pakaian pemngantin yang dikenakan oleh Cessi yang membuat ruang gerak gadis itu terbatas. Tidak seperti biasanya.


Hingga, dia menemukan sebuah solusi yang luar biasa. Dimana Raka menanyakan, bagaimana bentuk tanda lahir yang dimaksud oleh Bik Indah.


“Bik, bagaimana. Bentuk tanda lahir yang Bibik maksud?”


Bik Indah pun menjelaksan, jika tanda lahir putrinya yang berada dipinggang berbentuk bulat dan berwarna hitam pekat.


Cessi yang mendnegar hal tersebut, hanya bisa menagagga dengan mulut yang terbuka. Serta mata yang melotot, seolah ingin keluar dari tempatnya.


Sedangkan Pak Broto dan Bu Indah, kini menjadi gusar. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bik Indah.


“Apa Bibik, yakin?” tanya Raka ingin memastikan.


“Bibik yakin, Den. Bibik masih mengingat, semunya. Tanda lahir itu, ibu lihat. Terakhir, kalinya. Sebelum, Bibik kehilanagn kesadaran,” jelas Bik Indah. Kemudian, menjelaskan kronologi kejadian waktu itu.


Di mana Bik Indah yang tengah hamil tua, merasakan perutnya yang terasa sangat sakit sekali. Lalu, membeitahukan kepada kedua orang tuanya. Serta di temani oleh Indri, sang kakak.


“Mbak, kenapa perutku semakin sakit ya?” tanya Indah yang merasakan sakit yang sangat luar biasa. Seolah, perutnya ingin meledak. Dia pun menggenggam erat tangan Indri yang berada didekatnya.


“Mbak gak tau,” balas Indri dusta. Dia sudah di beri amanat, oleh kedua orang tuanya yang telah dihasut oleh snag suami.

__ADS_1


Jika, bayi yang dikandung oleh sang adik lahir. Maka, mereka akan membawanya pergi. Serta, tidak akan pernah kembali lagi.


Disaat menunggu sang bapak yang pergi menjempu seorang bidan kampung, sedangkan sang ibu yang berada di dapur. Sedang, merebus air. Karena, mereka tahu. Jika, Indah akan melahirkan. Hanya saja, tidak memberitahunya. Kepada Indah.


"Mbak! Sakit!" rintih Indah yang merasakan rasa sakit di perutnya yang semakin menguat.


Indri yang tidak tahu harus berbuat apa-apa, hanya meminta Indah untuk bertahan. Menunggu sang bapak atau ibu masuk ke dalam kamar.


Namun, rasa sakit yang semakin menguat. Membuat Indah merasakan dorongan yang kuat, tanpa di sadari gadis belia itu mengejan.


"Eeehhh … Mbak!" pekiknya.


Indri yang melihat, apa yang terjadi kepada Indah. Dimana, sang adik yang terus menguat. Disertai suara erangan, belum lagi butiran keringat yang membasahi dahi gadis itu. Membuat Indri, segera berteriak. Seking, paniknya.


"Bu! Pak! Mas! Siapa saja! Tolong Indah!"


Tidak berapa lama, datang sang ibu yang menenangkan. Kemudian, disusul oleh sang bapak yang sudah membawa bidan.


Indah melahirkan penuh dengan drama, dimana usia yang masih belia. Dirinya harus, merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa.


Dibantu oleh sang bidan yang terus mengarahkan, Indah untuk terus mengejan. Karena, kepala sang bayi yang sudah mulai nampak.


Dengan sekuat tenaga, Indah mengerahkan tenaganya. Mengejan, sampai dia mulai merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa dan berteriak.


"Aaaa … sakit!"


Teriakan Indah terdengar sangat nyaring, tidak berapa lama. Sang bidan memberikan instruksi lagi, untuk Indah mengejan lagi.


"Bu! Sakit! Aku gak kuat!" ucap Indah dengan sisa tenaganya. Dia merasa sangat lemah dan tidak berdaya, sampai suara tangis bayi terdengar.


"Uek … uek."


"Anakku," gumam Indah dengan suara yang lemah.


Penglihatannya mulai kabur, seolah kelopak matanya terasa sangat berat. Sampai, Indah menutup matanya dan merasakan. Perasaan yang sulit untuk dijelaskan.


Diantara sisa kesadarannya, Indah mendengar. Apa yang bidan katanya, membuatnya tersenyum dalam hati.

__ADS_1


"Selamat, kalian memiliki cucu perempuan. Ada tanda bulat berwarna hitam, di pinggang bayi ini."


"Putriku," batin Indah. Hingga, benar-benar kehilangan kesadarannya.


****


"Aku mendengar semua itu! Apa yang bidan katakan! Tapi … kalian hanya bilang, kalau putriku telah mati!" bentak Indah kepada Pak Broto dan Indri. Pasangan suami istri itu bungkam seketika.


Cessi yang masih tidak bisa mempercayai, apa yang baru saja dia dengar dari Bik Indah. Tanpa sadar, mencekam lengan Raka. Membuat pemuda itu, menatap ke arahnya heran.


"Kenapa?" tanya Raka pelan.


Namun, bukannya menjawab apa yang Raka tanyakan. Cessi segera bangun dari posisi duduknya dan memeluk tubuh Bik Indah yang tengah berdiri.


"Ibu!" panggil Cessi dengan suara yang bergetar. Dia tidak menyangka, jika dia hanya seorang anak zinah yang terlahir dengan banyak sekali lika–liku kehidupan yang sulit.


Bik Indah membalas pelukan Cessi, dia yakin sekali. Jika, gadis yang tengah sesegukan di dalam pelukannya. Merupakan putrinya yang disembunyikan, oleh sang kakak.


Ikatan batin, di antara ibu dan anak. Menyatukan mereka, walaupun dalam pertemuan yang seperti ini. Akan tetapi, takdir Tuhan. Tidak ada seorangpun yang tahu.


"Kamu benar, putriku 'kan?" tanya Bik Indah. Seraya mengurai pelukan mereka, dia menangkupkan tangannya di wajah Cessi.


"Benarkan, Nak?" tanya Bik Indah lagi dan kali ini mendapat anggukan kepala dari gadis itu.


Sedangkan, Pak Broto dan Bu Indri. Segera membantah hal tersebut, Pak Broto tidak terima dengan kisah yang diceritakan oleh Bik Indah.


"Bohong! Dia penipu!" sakras Pak Broto. Dengan mata yang nyalang, dia menuduh Bik Indah.


"Kamu hanya mau uang dan harta, Nak Raka 'kan? Makanya, kamu membuat cerita bohong seperti itu?"


Seperti maling yang teriak maling, Pak Broto menuduhkan apa yang sebenarnya. Dia telah lakukan, akan tetapi Raka yang masih berada di sana. Tidak tinggal diam saja, walaupun apa yang disampaikan oleh Bik Indah yang terkesan dadakan. Karena, tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya.


"Kita akan membuktikan, semuanya! Aku tidak mudah untuk percaya dengan sebuah cerita, sebelum … adanya bukti yang memperkuat hal tersebut," terang Raka dengan nada serius.


"Demi apapun, Den. Bibik berkata kebenaran," jawab Bik Indah dengan nada yang tak kalah serius.


Raka tersenyum penuh arti dan berkata, "Kita akan melakukan tes DNA."

__ADS_1


"Apa!"


__ADS_2