
Amara yang terus saja berteriak-teriak, memaki dan menyebut-nyebut nama Cessi. Membuat sang ibu yang tidak sengaja melewati kamar putrinya tersebut, segera menghampiri Amara.
"Mara! Mara! Kamu kenapa, Sayang?" panggil sang ibu. Namun, tidak digubris sama sekali oleh Amara. Membuat wanita itu, segera masuk kedalam kamar sang anak dan melihat keadaan Amara yang tidak biasa.
"Amara! Kamu kenapa?" tanya ibunya Amara dengan perasaan penuh tanda tanya. Melihat putrinya yang seperti mengalami tekanan, wanita itu segera mendekati Amara.
Namun, diluar dugaan. Gadis yang biasanya pendiam dan penurut, jika berada di rumah. Kini menjadi meronta-ronta tidak jelas.
"Pergi, Bu! Pergi! Tinggalkan Amara!" teriak Amara, seraya meraung-raung. Membuat sang ibu tambah bingung, serta menerka-nerka. Apa yang terjadi kepada anak semata wayangnya.
"Kamu kenapa, Mara?"
"Cessi!"
Setelah menyebutkan nama sahabatnya itu, tiba-tiba saja. Amara kehilangan kesadarannya, membuat sang ibu menjadi panik dan segera berteriak meminta tolong.
“Mara! Siapapun! Tolong!”
Untung ada asisten rumah tangga yang datang, mereka berdua pun mengangkat tubuh Amara. Untuk masuk ke dalam mobil, ibunya Amara duduk di balik kemudi dengan perasaan yang sangat panik.
Bahkan, wanita itu lupa untuk menghubungi suaminya. Seking merasa khawatir dengan keadaan Amara, ditemani oleh asisten rumah tangganya. Wanita itu segera menuju ke rumah sakit, dan di arahkan ke ruangan darurat.
“Amara!” panggil sang ibu. Ketika melihat purtinya telah dibawa dengan bangkar, masuk ke dalam ruangan darurat.
Sang asisten rumah tangga yang masih menemani, mencoba menenangkan majikannya dengan mencoba menghubungi ayahnya Amara.
“Nyonya, yang sabar. Coba Nyonya hubungi tuan besar.”
Ibunya Amara yang bernama Sarah itupun, tersadar. Jika, melupakan sang suami. Dengan keadaan yang masih panik, membuat wanita itu melupakan hal yang paling penting.
Seking terburu-buru, Sarah lupa membawa ponselnya. Wanita itu hanya bisa terduduk lemas seketika, hingga sebuah suara yang dikenalnya terdengar.
“Ibu Amara?”
Sarah menonggak, agar bisa melihat orang yang berbicara kepadanya itu. Seorang wanita cantik dan modis, kini tengah berdiri dihadapannya.
“Sulis?” katanya dengan raut wajah tidak percaya dengan wanita yang dia ketahui adalah ibunya Bargo tersebut.
__ADS_1
“Iya, Ibu sedang apa di sini?” tanya Sulis penasaran. Seberanya wanita itu, ingin menuju ke administrasi. Untuk melakukan pendaftaran Bargon, wanita itu sampai beberapa kali pingsan. Setelah menerima berita kecelakaan putranya tersebut, dan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Sarah yang mendapatkan pertanyaan tersebut, hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya dan menangis seketika.
Sulis yang melihat keadaan ibunya Amara yang seperti itu pun, segera memeluk wanita itu dan mengusap punggung Sarah.
“Ada apa Bu?” tanya Sulis, seraya mengurai pelukan mereka. Setelah Sarah sudah mulai tenang.
“Mara! Dia masuk rumah sakit,” jelas Sarah dengan suara yang bergetar. Seolah, dunia ingin kiamat.
Sulis yang mendengar hal itu menaruh empati, dia juga terkena musibah. Sekarang, melihat Sarah yang juga tertimpa musibah.
Pertemuan tidak sengaha itu, merupakan permainan Tuhan. Sulis pun menayangkan, keadaan Amara kepada Sarah.
“Amara, kenapa Bu?”
Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena dia juga tidak mengetahui dengan pasti. Apa yang terjadi kepada putrinya, sampai seorang dokter keluar dari ruangan darurat.
“Keluarga pasien?”
Sarah segera menghampiri dokter tersebut dan mengaku sebagai ibu dari Amara.
Kini wajah wanita itu, semakin pias. Sang dokter pun menjelaskan, keadan Amara yang menggalami depresi. Sarah hanya bisa terduduk lemas, setelah mendengar hal tersebut.
Sedangkan, Sulis yang masih berada di sana. Masih belum mengerti dengan apa yang tengah terjadi, kemudian menayakan hal tersebut kepada Sarah.
“Bu Sarah, sebenarnya. Apa yang terjadi?”
Namun, keadaan wanita itu yang sudah tidak memungkinkan. Setelah mendengar apa yang disampikan oleh sang dokter, malahan pingsan seketika.
Membuat pihak rumah sakit, merujuk ibunya Amara kesebuah ruangan. Ditemani oleh Sulis, berserta asisten rumah tangga keluarga Amara.
“Maaf, Bik. Bukan saya ingin ikut campur.” Sulis menyeda ucapannya dan menatap wanita paruh baya yang masih menunggu ucapannya.
“Sebenarnya, apa yang terjadi?”
“Saya tidak tahu, Nyah. Tiba-tiba saja, Non Amara jatuh pingsan. Lalu, Nyonya sarah meminta saya membantunya. Hingga, sampai disini,” jelas asisten rumah tangga tersebut.
__ADS_1
Sulis yang masih belum mendapatkan, jawaban yang memusakan. Kemudian, kembali bertanya, “Apakah, Pak Yadi telah mengetahui hal ini?”
Asisten rumah tangga itu hanya menggelengkan kepalanya dan menjelaksan, bahwa mereka belum menghubungi ayahnya Amara tersebut.
Sulis mengambil inisiatif, dengan menghubungi Suryadi. Ayahnya Amara, dengan pelantara suaminya yang merupakan patner bisnis Suryadi, atau biasa dipanggil Yadi.
“Hallo, Pa. Papa bisa bantu, Mama?” tanya Sulis lewat sambungan telepon.
Terengar hembusan nafas panjang dari seberang sana, “Ada, apa Ma? Apa suah menyelesaikan proses administrasi Bargon?”
Wajah Sulis menjadi tegang, karena melupakan hal yang paling penting. Namun, dia tidak bisa diam saja. Melihat Sarah yang masih belum sadarkan diri, serta Amara yang berada dalam ruangan ICU.
“Mama hanya minta tolong! Sampaikan, kepada Pak Yadi! Kalau, anak dan istrinya kini tengah berada di rumah sakit yang sama dengan Bargon!” jelas Sulis. Menjelaskan, maksudnya menelpon sang suami yang dia tahu tengah berada meeting saat ini.
Namun, mau bagaiaman lagi. Pertemuan tidak snegajanya dengan Sarah dan juga Amara yang alam posisi sekarang, membuatnya harus memebritahukan hal tersebut.
“Nanti, Papa sampikan.”
Sulis pun bernafas lega, setelah mendengar jawaban dari suaminya dan dia pun berpesan kepada asisten rumah tangga Amara. Untuk menjaga Sarah, karena dirinya memiliki keperluan lain.
“Bik, saya sudah menghubungi suami saya. Beliau mengatakan, akan segera memberi tahukan hal ini kepada Pak Yadi,” terang Sulis seraya pamit.
“Terimakasih, Nyah. atas bantuannya,” jawab sang asisten rumah tangga tersebut.
Sulis pun mempercepat langkahnya, untung setelah kecelakaan Bargon. Putranya segera mendapatkan pertolongan, sebelum dirinya sampai di rumah sakit.
Kalau tidak, dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun, ketika Sulis sedang mengurus administrasi Bargon. Dia tidak sengaja bertemu dengan Raka dan Cessi.
Sulis yang pernah bertemu dengan Cessi, tentu saja dia mssih ingat dengan wajah gadis itu. Karena, terpaku dengan siapa Cessi berjalan. Membuat Sulis menaruh curiga.
“Ibu Sulistari.”
“Sial!” umpat wanita itu. Ketika ingin mengikuti Cessi dan Raka, namanya telah dipanggil. Mmebuat Sulis mengurungkan niatnya dan segera menuju meja administrasi.
Pikiran Sulis masih menerka-nerka, apa yang dilakukan oleh gadis tersebut berasama dengan seorang repoter yang sebelumnya pernah beradu setitegang dengan keluarga mereka.
“Ibu Sulis, ini semunya sudah selesai. Terus, anda bisa meneruskan proses pemasangan pen untuk Ananda Bargon.”
__ADS_1
“Hah! Iya Sus, makasih,” jawab Sulis yang melamun, lalu meninggalkan tempat itu. Tujuannya saat ini, mencari Cessi dan Raka.
“Ke mana mereka,” batin Sulis.