
Sang kepala sekolah pun menjelaskan, apa yang terjadi. Terlihat ibunya Bargon mengeritkan dahnya dan melihat ke arah Cessi. Memperhatikan gadis itu dari atas hingga kebawah.
“Jadi, apa yang akan anda lakukan?” tanya ibu Bargon kepada sang kepala sekolah. Tanpa, mengalihkan perhatiannya dari Cessi.
“Saya akan memberikan tindakan tegas, tentang apa yang telah mereka berdua lakukan,” jelas kepala sekolah dengan nada serius.
“Baiklah! lakukan!”
“Ibu!”
Bargon sangat terkejut dengan apa yang baru saja ibunya sampaikan, dia ingin sekali membela Cessi. Namun, sorot mata dari sang ibu yang melotot ke arahnya. Membuat nyali Bargon menciut seketika.
“Baiklah, Bu. Kami akan meng–skor Bargon selama seminggu, jadi … dia tidak boleh bersekolah dan mengikuti pelajaran semalam masa hukuman tersebut.”
Ibunya Bargon pun menyetujui apa yang diminta oleh sang kepala sekolah, lalu menarik tubuh putranya agar keluar dari ruangan itu.
Sebab, dia merasa malu akan sikap nakal yang telah Bargon lakukan. Sebelum keluar, Bargon masih menatap iba kearah Cessi. Pemuda itu yakin, jika gadis yang disukainya itu tangah tertekan dengan keadaan yang sedang terjadi.
“Cessi! Kenapa orang tuamu tidak bisa dihubungi?” tanya Pak Martin. Selaku wali kelas Cessi, lelaki itu telah berkali-kali menghubungi kedua orang tua angkat Cessi. Namun, tidak tersambung.
“Saya tidak tahu, Pak!” kata Cessi yang memang tidak mengetahui apapun. Setelah kejadian semalam, ingatanya pun kembali kepada keadaan sang ibu yang pingsan di dalam kamar mandi.
“Kenapa bisa begitu? Lalu, siapa yang bisa kami hubungi, untuk menandatangani surat skor–mu, ini?” tanya kepala sekolah. Seraya menampakan kertas yang ada di tangannya.
Cessi berpikir keras, siapa yang bisa dihubungi olehnya dan bisa membantu. Hingga, dia teringat akan satu nama.
“Om, ganjen,” batin Cessi. Kemudian mengeluarkan ponselnya dari saam tas.
“Apa yang kamu lakukan, Cessi?” tanya kepala sekolah yang melihat Cessi mengeluarkan ponselnya.
“Saya ingin menghubungi, om saya, Pak. Bisakah, dia menjadi wali untuk saya? Menggantikan orang tua angkat saya yang masih belum bisa Bapak, hubungi?” tanya Cessi dengan sorot mata berbinar.
Sang kepala sekolah pun mengangguk kecil. tanda memberikan izin. Sebab, mereka tahu, jika Cessi hanya tinggal dengan kedua orang tua angkat dan tidak ada kejelasan. Siapa orang tua kadnungnya, karena suatu alasan yang tidak dijelaskan oleh keluarga Cessi.
Cukup lama Cessi menunggu, sambungan teleponnya tersambung. Dengan perasaan harap-harap cemas, sampai terdengar suara sapaan Raka. Bagaikan angin penyejuk hati.
__ADS_1
Namun, senyum Cessi sirna seketika. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Patah sudah harapan Cessi.
“Apa, Oliv! Jangan bilang kamu kangen sama aku? Sekarang, aku lagi sibuk!” jelas Raka di seberang sana. Lelaki itu tengah berada di balik monitor, huna mengetik sebuah berita yang menjadi trending topik hari ini.
“Maaf, Om. Tapi … aku lagi dipanggil kepalal sekolah. Bapak dan Ibu tidak bisa dihubungi, apa Om bisa—”
Belum selesai Cessi menjelaskan masalah yang tengah dihadapi olehnya, panggilan telepon di putuskan dengan secara sepihak.
Cessi hanya bisa menelan perasaan kecewa, dia menatap kedua orang lelaki yang sudah siap . Dengan raut wajah sendu.
“Mohon maaf, Pak. Om saya—”
“Tunggu, dulu!” Pak Martin menghentikan ucapan Cessi, sebab telepon milik lelaki itu berdering. Tanda ada panggilan masuk, kemudian dia berbicara dengan sang penelpon.
“Oh, iya Pak. Keponakan, anda melakukan kesalahan besar. Kami harap anda bersedia datang kesini dan menanda–tandatangani. Surat hukuman dari kepala sekolah.”
Cessi memperhatikan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Pak Martin, Cessi bisa mengira. Jika, lelaki itu. Tengah berbicara dengan Raka, dari apa yang diucapkan oleh Pak Martin.
Cssi sangat penasaran, bagaimana Raka bisa mengetahui nomor ponsel wali kelasnya itu. Apalagi, Cessi baru saja berkenalan dengan Raka. Membuatnya masih belum mengenal, siapa Raka dengan lebih detail.
Cukup lama Cessi menuggu di ruang tersebut, bersama sang kepala sekolah yang tengah sibuk mengotak-atik laptopnya.
Hingga, suara ketukan pintu terdengar. Membuat sang kepala sekolah yang berkepala botak itu, berteriak. Memberi perintah, untuk seseorang diluar sana untuk masuk.
“Masuk!”
Pintu terbuka dengan perlahan, sampai menampakan wajah tampan Raka. Cessi tersenyum bahagia, melihat pemuda itu. Akhirnya datang juga, Cessi mengelus dadanya merasa lega.
“Maaf, Pak. Saat Omnya Cessi, saya agak datang terlambat, tadi ada beberapa urusan yang harus selesaikan,” jelas Raka. Kepada sang kepala sekolah.
Bahkan, Raka tidak melirik sama sekali kearah Cessi. Pemuda itu hanya fokus, pada niat awalnya datang kesana.
“Jadi, Bapak. Ini, Omnya Cessi?” tanya kepala sekolah. Seolah ragu dengan pengakuan Raka.
“Iya, Pak. Ada masalah apa, ya? Keponakan saya memang nakal! Tapi, masalah apa yang telah dia lakukan?” tanya Raka serius,
__ADS_1
Cessi hanya bisa melongo, mendengar apa yang dikatakan oleh Raka. Pemuda itu sangat apik dalam memainkan perannya.
“Begini, Pak. Cessi melakukan tindakan yang tidak pantas. Bersama teman siswa lainnya, jadi … kami ingin meng–skor. Cessi selama seminggu,” jelas sang kepala sekolah,
Raka hanya mengerutkan dahinya dan mengangguk, tanda menyetujui. Hukuman yang harus dijalani oleh Cessi, kemudian menandatangani. Surat pernyataan, serta tanggung jawab. Salaam Cessi menjalani hukuman.
Setelah semuanya selesai, Raka pun berjabatatangan dengan kepala sekolah. Lalu, berpamitan serta meminta maaf. Atas kesalahan yang telah Cesi lakukan. Serta akan bertanggung jawab penuh, kepada Cessi selama tidak bersekolah.
“Kalau, begitu. Saya pamit undur diri, sekali lagi mohon maaf, ya Pak.”
Sang kepala sekolah ahanya mengagagukkecil, Cessi pun mengikuti langkah Raka. Ketika, pemuda itu menuju ke pintu keluar.
Dengan kepala menunduk, karena merasa malu. Cessi segera mengejar langkah Raka yang telah pergi menjauh, sampai di area pakiran.
Pemuda itu menatap tajam ke arah Cessi, dengan melipat tangannya di dada. Seolah, siap untuk memarahi gadis itu,
“Om,” panggil Cessi dengan lirih.
“Masuk!” perintah Raka.
Cessi merasa amat takut, segera masuk kedalam mobil raka. Tanpa berniat sama seki untuk membantah apa yang diperintahkan oleh pemuda itu.
Brak
Suara pintu mobil dibanting, membuat jantung Cessi berdetak kencang. Karena, merasa terkejut.
Saat ini, raut wajah Raka sangat tidak bersahabat. Membuat Cessi tidak berani untuk berbicara. Sampai mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, selama di dalam mobil. Cessi hanya bisa menahan perasaan gusar setengah mati.
“Cih! Kamu memang merepotkan!”
Raka yang memang pemuda yang dewasa, tidak mudah untuk ditaklukan. Dia tidak menyangka, jika Cessi yang dikiranya polos. Bisa melakukan tindakan seperti itu.
“Maaf,” kata Cessi dengan lirih. Bahkan, lehernya terasa tercekik.
“Jangan macam-macam!”
__ADS_1