
Bagaikan anak panah yang terhunus ke jantung, rasanya sangat sakit. Namun, Cessi tidak bisa menghindari fakta tersebut. Jika, keadaan Amara yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. amatlah menyedihkan, tangis gadis itu semkain deras.
“Aku salah apa, Gon? Kenapa aku!” pekik Cessi dengan keras. Hingga, penglihatannya memudar dan semuanya tampak gelap.
“Oliv!” pekik Raka yang panik, karena tubuh istrinya yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
“Kenapa, aku?” gumam Cessi, sebelum pingsan.
Raka benar-benar murka kali ini, dia meminta Bik Indah untuk mengikutinya. Sedangkan, raka menggendong tubuh Cessi yang telah tidak berdaya.
Sebelum Raka berlalu, pemuda itu masih bisa melayangkan sebuah ancaman yang mematikan untuk Bargon.
“Kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal!”
Sedangkan, Pak Burhan yang masih berada di sana. Mengamankan, keadaan agar kembali kondusif dan mengusir Bargon. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Ayo pergi dari sini, Nak! Sebelum kamu terkena masalah!” perintah Pak Burhan.
Disaat Pak Burhan mengusir Bargon, Raka tengah menahan amarahnya. Dia meletakan Cessi di atas ranjang dan meminta Bik Indah yang baru masuk ke dalam kamar, untuk menjaga istrinya.
“Bik! Jaga, Oliv!” perintah Raka dan berlalu keluar.
Raka mengeluarkan ponsel yang berada di dalam saku celananya dan menelpon seseorang, kali ini dia tidak akan memberi ampun kepada Bargon lagi.
Kesabarannya, benar-benar telah habis. Dibabat, oleh kemarahan yang kini menguasai tubuhnya dan tidak bisa dipadamkan.
“Hallo,” sapa Raka, ketika sambungan teleponnya telah diangkat dan terdengar sapaan balik dari seberang sana.
“Aku ingin, kamu membuat sebuah berita dengan menyebar luaskan. Tentang keluarga Herman!” perintah Raka kepada sekretarisnya, Siska.
“Tapi, Pak. Itu bisa membuat reputasi anda hancur!” balas Siska dari seberang sana. Wanita seksi itu, tidak ingin Raka bunuh diri dan akan berimbas pada dirinya yang merupakan tangan kanan bosnya itu.
“Aku tidak perduli!” bentak Raka dan mematikan sambungan teleponnya.
Kemarahan Raka semakin menjadi-jadi, dia tidak bisa mengandalkan Siska dan memilih melakukannya sendiri.
Raka tidak pernah menarik ucapannya, karena hal itu pantang dilakukan oleh seorang lelaki sejati. Ketika dia telah mengucapkan, jika keluarga Bargon hancur. Maka, hal itu harus terjadi. Bagaimanapun caranya.
Dengan meremas ponsel yang ada di tangannya, Raka masuk kedalam ruangan kerjanya dan membuka laptop yang sering digunakan olehnya untuk bekerja.
“Aku akan membongkar, semuanya!” geram Raka tidak tertahankan.
Dia mengotak-atik, laptop miliknya dan menjual sebuah file berharga miliaran juta. Kepada saingan berat, perusahan ayahnya Bargon. Kali ini, Raka tidak main-main.
__ADS_1
“Aku memandangmu! Hanya, karena Herman. Tapi, kali ini! Ayahmu, juga akan menerima akibatnya! Jangan pernah salahkan, aku!”
Raka tersenyum aneh, setelah mengatakan hal itu. Hingga, dia tidak menyadari. Jika ada Cessi di sana dan segera memeluknya yang tengah duduk dibalik meja kerjanya.
“Abang!” teriak Cessi.
Gadis itu baru tersadar, dari pingsannya dan segera mencari keberadaan Raka. Dia sangat takut, jika suaminya melakukan hal-hal diluar nalar. Karena, Cessi tahu. Kalau, sang suami sangat nekad orangnya.
Namun, Cessi telah terlambat. Raka telah melakukan sebuah perbuatan, dimana hal itu akan membuat keluarga Bargon bangkrut seketika.
“Apa?” tanya Raka dengan raut wajah yang dingin. Hingga, istrinya datang memeluk tubuhnya. Raka melepaskannya dengan kasar.
“Abang, marah?” tanya Cessi polos, atas sikap penolakan Raka.
Akan tetapi, suaminya tidak menggubris ucapannya dan hanya fokus kepada layar laptop yang masih menyalah di hadapannya.
Cessi belum menyerah, dia ingin Raka tahu. Jika, dirinya dan Bargon tidak memiliki hubungan lebih. Selain pertemanan, yang ada ada didalam benak Cessi. Raka marah, karena merasa cemburu. Walaupun, hal itu ada. Tetapi, tidak banyak.
“Bang, aku dan Bargon—”
“Jangan sebut nama itu!” ujar Raka dengan suara yang penuh penekanan. Dia merasa jijik, ketika Cessi menyebut nama Bargon. Bahkan, ketika dia melihat sang istri berpelukan dengan pemuda itu. Raka, merasa jika miliknya telah terkontaminasi oleh bakteri.
Hal yang paling membuat Raka marah adalah, disaat seseorang menyentuh barang miliknya dan itu akan membuat Raka menjadi gelap mata. Lalu, membuat orang tersebut harus menanggung kemarahan darinya.
Terkadang, Raka tidak sudi lagi untuk memiliki barang tersebut dan memberikannya begitu saja. Serta, tidak akan pernah mendekati orang itu lagi.
Namun, beda kasusnya dengan sekarang. Dimana, Raka mencintai Cessi dan tidak ingin membiarkan istrinya pergi. Tetapi, tubuh Cessi telah disentuh oleh lelaki lain.
"Bang!" panggil Cewek dengan suara yang bergetar dan sujud di kaki Raka. Dia menjadikan lututnya sebagai penyangga tubuh mungilnya.
Raka membuang muka, melihat hal itu. Dia tidak sanggup, menatap sang istri yang memohon padanya. Apalagi, setelah kejadian tadi.
"Aku tidak marah padamu! Jadi … jangan seperti ini!" pinta Raka dengan menekan setiap kata yang diucapkan.
Kini Cessi bangun, setelah mendengar ucapan suaminya dan matanya menatap layar laptop Raka yang masih menyala.
Tertera kata 'Loading' yang terus berputar-putar, membuat Cessi bertanya, "Apa yang sedang, Abang lakukan?"
Raka tersadar, setelah mendengar penuturan Cessi dan menarik laptop. Lalu, memerintahkan sang istri untuk keluar.
"Keluar, dulu! Aku masih ada pekerjaan," terang Raka.
Cessi melihat kepanikan di wajah sang suami, menjadi curiga. Dia masih berdiri di tempatnya, tanpa berniat pergi dari sana.
__ADS_1
"Keluar!" tintah Raka lagi.
"Abang jawab dulu! Apa yang tengah, Abang lakukan!" balas Cessi yang kekeh dengan pendiriannya.
Raka meraup wajahnya dengan kasar, dia paling tidak suka dibantah. Hingga, dia berteriak memanggil Bik Indah.
"Bik Indah! Kesini!"
Tidak lama kemudian, wanita itu datang dan mendekati Raka. Lalu, bertanya, "Ada apa, Den?"
"Bawa Oliv keluar! Suruh, dia untuk istirahat! Aku tengah bekerja!" perintah Raka. Tanpa menatap kearah wanita tersebut, ketika berbicara. Fokusnya hanya kepada laptopnya, karena tidak ingin Cessi mendesak terus.
"Ayo, Non," ajak Bik Indah pelan. Mencoba membujuk, agar gadis itu. Tidak menambah kemarahan dari Raka.
"Tapi, Bik—"
Wajah memelas Cessi, membuat Bik Indah tidak kuasa dan menatap ke arah Raka kembali. Setelah, menimbang-nimbang. Wanita itu memilih, menarik Cessi keluar. Daripada, menerima amukan Raka.
"Bik! Lepaskan!" bentak Cessi meronta. Namun, tidak di gubris oleh Bik Indah sama sekali. Hingga, mereka berdua berada di luar. Wanita itu segera menutup kembali pintu ruangan kerja Raka dan membiarkan pemuda itu bekerja, seperti permintaan sebelumnya.
"Bibik, kenapa?" tanya Cessi jengah akan sikap ibu kandungnya itu.
"Non, jangan buat Den Raka tambah marah. Bibik, gak yakin … jika Non Oliv sanggup menerimanya," terang Bik Indah terus–terang.
Cessi mengendus kasar dan menjelaskan, beberapa poin yang harus Bik Indah ketahui.
"Maaf, Bu. Aku panggil Ibu, karena Bik Indah memang Ibu kandungku! Terus … jangan panggil aku dengan sebutan Non! Karena, aku merasa tidak nyaman"
Cessi menyeda ucapannya, kemudian. Menjelaskan kembali, jika dia hanya ingin membujuk Raka. Karena, merasa takut. Jika, suaminya akan melakukan hal-hal yang diluar nalar.
Namun, Bik Indah tertegun dan malahan memeluk Cessi. Seraya menangis dengan sesegukan,setelah mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh Cessi.
"Jadi, benar? Kamu adalah putriku yang hilang?" kata Bik Indah dengan suara yang bergetar. Dia tidak percaya, jika doanya menjadi kenyataan. Ditambah, Bik Indah telah berjanji kepada dirinya sendiri. Akan menjaga Cessi dan menebus semua kesalahannya dimasa lalu.
"Iya, Bu! Tapi … bisakah, nanti kita merayakannya? Soalnya, aku takut. Kalau, Abang Raka akan melakukan hal buruk!" terang Cessi yang masih memikirkan, hal apa yang akan suaminya lakukan. Seraya mengurai pelukan mereka.
Bik Indah menatap bingung kearah Cessi dan bertanya, "Den Raka, tidak akan mengamuk ko. Selama, ada kamu, Nak."
"Bukan itu, masalahnya!" pekik Cessi merasa kesal.
"Lalu, apa?" tanya Bik Indah polos.
"Apa yang, kalian bicarakan?"
__ADS_1
Deg