Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 52 Kecurigaan


__ADS_3

Betapa terkejutnya, Bargon. Mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Amara.


“Apa yang terjadi, padamu, Mara?” batin Bargon merasa miris.


Sedangkan Sarah, segera memanggil dokter jaga. Karena, keadan Amara yang mulai tidak stabil.


“Dokter! Dokter!”


“Gon, ayo kita pergi,” ajak Sulis yang merasa tidak nyaman dengan keadaan Sarah dan Amara.


“Biarkan aku di sini!” bantah Bargon yang tidak mau pergi.


“Kamu, kenapa Gon?” tanya Sulis bingung dengan sikap putranya yang berubah tiba-tiba tersebut.


Sampai seorang dokter datang dan menyuntikan obat pemenang, membuat Amara terlelap dan tenang kembali.


Bargon yang melihat keadaan Amara yang mengiris setiap tubuhnya sampai ke uluh hati, terlebih. Bargon yang mendengar apa yang disampaikan oleh sang dokter kepada Sarah, ibunya Amara.


“Bu, totong! Patuhi aturan rumah sakit! Ini demi keadaan pasien, jika anda masih melanggar? Maka, pihak kami akan bertindak tegas!”


Sarah hanya tertunduk diam, setelah sang dokter berlalu. Wanita itu mengajak Bargon dan Sukis untuk keluar dari ruangan itu.


Sulis sangat paham, dengan apa yang tengah Sarah rasakan. Sama seperti dirinya yang melihat keadaan Bargon yang sekarang.


“Bu Sarah, yang sabar ya,” kata sulis pelan dan mengusap punggung ibunya Amara tersebut.


Terdengar isak tangis dari Sarah, menandakan. Jika, dia merasa sangat rapuh saat ini.


“Iya, Bu. Ayo kita keluar dan berbicara di tempat lain. Biar, Mara bisa beristirahat dengan baik,” ajak Sarah.


“Ayo, Gon!” perintah Sulis yang melihat putranya hanya diam di tempat saja.


Karena, tidak mendapatkan respon. Sulis menarik Bargon dengan pelan, hingga mereka berada di lorong rumah sakit dan duduk di kursi panjang yang tersedia di sana.


“Bu Sarah,” panggil Sulis bersimpati kepada ibunya Amara itu.

__ADS_1


“Ini, semua! Gara-gara Cessi! Saya tidak mengerti, Bu Sulis! Apa salah keluarga kami! Sampai, gadis itu—”


Sarah tidak bisa melanjutkan ucapannya, suaranya tercekat di leher. Dia menaruh dendam yang sangat mendalam kepada Cessi.


Apa yang dikatakan oleh Sarah, menimbulkan sebuah kecurigaan di dalam benak Bargon. Kenapa, Cessi melakukan ini semua.


Jika, Cessi menikah dengan lelaki lain. Mungkin hal itu bisa Bargon terima, namun tidak dengan sikap Cessi yang membuat Amara sampai depresi seperti sekarang.


“Apa yang Oliv lakukan? Sampai, Amara mejadi begini?” tanya Bargon dengan tatapan dingin.


Sarah hanya mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti. Siapa yang Bargon bicarakan. Sampai Sulis menjelaskan, jika Oliv yang disebut oleh Bargon adalah Cessi.


“Maksud Bargon, Cessi Bu Sarah,” terang Sulis.


Terdengar hembusan nafas berat dari Sarah, sebelum berbicara, “Saya tidak tahu apapun! Tapi, satu yang pasti! Setelah kejadian, kami melarang Mara berhubungan dengan Cessi. Saat itulah, keadaan putri kami menjadi murung dan hanya mengurung dirinya di dalam kamar.”


Dada Sarah terasa sesak, ketika menjelaskan hal tersebut. Dia merasa menyesal, karena membiarkan Amara berteman dengan Cessi. Apalagi, hubungan mereka yang telah berjalan cukup lama.


“Apa Ibu yakin? Jika, hanya gara-gara Amara tidak bisa berteman dengan Oliv? Terus, dia menjadi depresi?’ tanya Bargon lagi. Dia merasa belum puas dengan jawaban ibunya Amara itu.


Sulis yang merasa tidak nyaman, dengan pembicaraan Bargon yang seolah-olah menyudutkan ibunya amara. Karena, dia berpikir. Jika, Bargon ingin membela Cessi. Memilih pamit, dengan alasan Bargon yang sudah harus beristirahat kembali.


“Oh, iya, Bu Sarah. Kami pamit dulu ya, nanti. Kami akan, datang berkunjung kembali. Soalnya, Bagron belum pulih benar dan harus banyak beristirahat.”


Sarah hanya menganggukkan kepalanya kecil dan mengantar Bargon dan Sulis, sampai ke halaman rumah sakit.


“Hati-hati dijalan, Bu Sulis dan jaga Bargon dari gadsi pembawa sial itu,” pesan Sarah setelah mengurai pelukannya dengan ibunya Bargon itu.


Sulis hanya tersenyum, lalu segera masuk kedalam mobil. Meninggalkan area rumah sakit, menuju ke rumah.


Sedari tadi, Bargon hanya diam. sampai mereka sampai di rumah pun, pemuda itu masih mengunci bibirnya.


Sulis menjadi khawatir dengan keadaan putranya, dia hanya berniat.Jika, bertemunya Bargon dan Amara bisa menumbuhkan semangat untuk putranya kembali menjalani hidup ini.


“Gon, kamu kenapa?” tanya Sulis. Ketika mereka masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Namun, ucapannya tidak di gubris sama sekali oleh Bargon yang kini duduk di sofa.


“Gon,” panggilnya lagi.


“Bu! Aku tahu, jika Amara dan Oliv berteman dengan baik. Aku juga benci dengan sikap Oliv saat ini! Tapi, aku curiga. Ada sesuatu yang tidak aku ketahui,” terang bargon tiba-tiba dan membuat Sulis menatap kearah putranya dengan tatapan sendu.


“Apa, kamu masih berharap? Bisa menikah dengan gadis itu?”


Pertenayaan itu lolos seketika dari bibir Sulis, hal yang paling ditakuti adalah Bargon yang masih menginginkan. Menikah dengan Cessi, setelah apa yang gadis itu lakukan.


Terkadang, Manusia hanya bisa menyalahkan orang lain. Atas apa yang terjadi di dalam kehidupan mereka, tanpa mau berfikir. Jika, apa yang terjadi merupakan takdir dari Tuhan.


Karena, Manusia selalu menumpahkan kesalahan orang lain dan menganggap diri mereka benar. Semua terjadi, sebab perasaan egois yang ada di diri Manusia itu sendiri.


“Bu, jika sekalipun aku mengatakan akan menunggu jandanya Oliv? apa hal itu akan merubah keadaanku dan Amara?” tanya Bargon dengan tatapan dingin.


Sulis dengan cepat menggelengkan kepalanya, mana mau dia melihat putra semata wayangnya menjadi perjaka tua. Hanya untuk menunggu Cessi menjanda, masih banyak gadis yang bisa dinikahkan dengan Bargon.


“Aku hanya ingin mencari tahu, kenapa Oliv melakukan semua ini dan membantu Amara untuk sembuh. Aku tahu, Bu. Jika, Amara menyukaiku sejak lama, tapi … aku tidak membalasnya. Sekarang, aku sudah merasakan karma. Atas perasaan Amara kepadaku. Setelah, semuanya terjadi.”


Bargon menundukan kepalanya, dia sangat menyesal. Karena, telah terlambat dalam mengambil sebuah keputusan.


Selama ini, Bargon bukanya tidak paham dengan sinya-sinyal cinta yang Amara sering tampakan. Setiap mereka bertemu dan berbicara, tetapi perasaan Bargon yang lebih besar kepada Cessi. Membuatnya, mengabaikan Amara.


Sulis memeluk Bargon dengan erat, dia merasa bangga sebagai seorang ibu. Melihat putranya bisa berbesar hati dan mampu menyadari kesalahannya sendiri.


“Ibu hanya ingin, yang terbaik buat kamu. Begitu juga dengan ayah, apapun yang menurutmu baik? Kami akan mendukungnya,” jelas Sulis.


Kemudian mengurai pelukan mereka, dia menatap putranya dalam. Tidak bisa Sulis pungkiri, jika masa ini akan terjadi. Dimana dia akan melepaskan Bargon bersama dengan gadis pilihannya dan melihat mereka berada di pelaminan nanti.


“Aku akan kembali bersekolah dan membantu ayah di kantor, setelah masalah dengan Oliv selesai. aku juga akan menemani amara, sampai dia sembuh,” jelas bargon dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Maksudnya? kamu belum mau menikah?” tanya Sulis dengan dahi yang mengkerut.


“Memangnya, siapa yang bilang aku mau menikah?” tanya Bargon dengan polos.

__ADS_1


__ADS_2