
Mobil yang Raka dan Cessi telah memasuki halaman rumah, tanpa menghiraukan sang istri. Raka turun dari mobil, setelah memarkirkan kendaraan beroda empat tersebut.
Cessi semakin geram dengan tingkah, Raka. Ingin rasanya dia memaki sang suami, tetapi dia berusaha bersabar dan menunggu saat yang tepat.
“Bik! Ikut aku!” perintah Raka yang seolah tidak boleh di bantah.
Cessi yang baru saja masuk, dibuat semakin melihat. Sikap buruk dari Raka, yang semakin hari semakin terlihat.
Benar kata orang tua dulu, ‘Jika, telah menjadi suami-istri. Maka, baru terlihat. Bagaimana, sifat dan watak seseorang.’ Sama seperti saat ini, Cessi semakin tahu. Seperti apa Raka yang sebenarnya.
Menurut kaca mata Cessi, Raka suka melakukan hal sesuka hatinya dan tidak pernah mau ada campur tangan orang lain. Terlebih, Raka yang memberi perintah dan tidak boleh di bantah. Sungguh egois, hal itu yang Cessi pikirkan.
Tidak ada hidup, tanpa adanya ujian. Begitulah hukum alam, Cessi bisa lepas dari kedua orang tua angkatnya. Lalu, menikah dengan Raka. Membuat Cessi, menerima ujian hidup yang baru dan berbeda dengan sebelumnya.
“Ikut, kemana, Den?” tanya Bik Indah dengan raut wajah bingung. Dirinya yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah. Kini, diajak pergi oleh Raka. Tanpa menjelaskan apapun.
“Kita, akan menemui Pak Burhan, Bik!” celetuk Cessi dan menarik pelan tangan wanita itu. Meninggalkan Raka yang tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang istri.
“Dia kenapa, sih?” batin Raka yang merasa tidak bersalah sama sekali dan menyusul kedua wanita itu yang ternyata telah berada di dalam mobil.
Raka pun segera mengunci pintu rumah dan berlari, ke arah mobil. Lalu, duduk dibalik kemudi. Dia membawa laju mobilnya, menuju ke apartemen.
Selama di perjalanan, Raka hanya diam. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya bisa mempertemukan Bik Indah dan Pak Burhan. Secara alami, agar tidak terkesan. Jika, sengaja melakukannya. Sampai Raka mencuri pemvbicaraan Cessi dengan Bik Indah yang duduk di jok belakang.
“Non, kita mau ke mana? Dan mau ngapain? Terus, rumah siapa yang jaga nanti?”
Pertanyaan beruntun yang keluar dari bibir Bik Indah, membuat Cessi menggenggam tangan. Wanita yang sudah diketahui, sebagai ibu kandungnya itu.
“Tadi, sudah aku bilang, Bik. Kita mau menemui, Pak Burhan,” jawab Cessi pelan. Namun, mendapatkan teguran dari Raka dengan berdehem.
“Ehem … kami ingin tinggal di apartemen dalam beberapa hari, dan meminta Bibik untuk menjaga Oliv disana. Selama, aku pergi bekerja,” celetuk Raka. Dengan adanya Bik Indah di apertemen, cepat atau lambat. Wanita itu, bisa bertemu dengan Pak Burhan. Begitu, ide yang ada di dalam otak Raka.
“Baik, Den,” jawab Bik Indah pelan.
Cessi hanya diam, dia tidak memperlihatkan respon apapun dan memilih mengikuti alur permainan Raka. Seolah, dirinya sudah mulai memahami karakteristik sang suami.
__ADS_1
Hingga, mobil yang Raka kemudikan. Kini memasuki area apartemen, pemuda itu menurunkan Cessi dan Bik Indah di depan apartemen. Sedangkan dirinya, pergi memarkirkan mobilnya di basecamp.
Cessi dan Bik Indah saling berpegangan tangan, tidak bisa Cessi pungkiri. Jika, ia merasa bahagia. hanya hal sederhana yang sedari dulu diinginkan olehnya. Kini, biasa terwujud dengan cara yang luar biasa.
“Pak Burhan,” sapa Cessi dengan sengaja dan ingin melihat reaksi dari lelaki itu.
“Eh, Non Oliv,” sapa Pak Burhan dengan raut wajah gugup. Kemudian, lelaki itu menjelaskan. Bahwa, Rumini telah keluar apartemen dan menitipkan kunci padanya.
“Terimakasih, Pak,” kata Cessi ramah dan mengambil kunci yang disodorkan oleh lelaki itu.
Namun, langkahnya tiba-tiba saja berhenti.Cessi pun menatap kearah Bik Indah yang terpaku di tempat dan menatap nanar Psak Burhan.
Cessi tersenyum cerah, dari tatapan kedua orang tersebut. Sudah menjelaskan, jika mereka saling mengenal. Namun, masih memendam suatu rasa yang sulit untuk dijelaskan.
Momen langka itu, hanya berlangsung beberapa waktu. Semuanya menjadi berubah menegangkan, ketika Bargon uang datang entah dari mana. Berteriak, memanggil nama Cessi.
“Oliv!”
Bargon berjalan dengan menggunakan tongkat, dengan susah payah. Pemuda itu, akhirnya bisa menghampiri Cessi.
Namun, tatapan gadis itu berubah seketika. Bahkan, tanpa disadari oleh Bargon. Cessi telah memeluk tubuhnya dan menangis tersedu-sedu.
“Gue—”
Baru saja, Bargon ingin berbicara. Suara bariton yang keras, bagaikan sambaran petir. Menggelegar, memanggil namanya.
“Bargon!”
Ternyata Raka,yang berteriak barusan. Dengan langkah kakinya yang tegap, kini pemuda itu telah berada di hadapan Bargon dan Cessi.
Raka menarik dengan kasar, Cessi yang berada di dalam pelukan Bargon dan membuat pemuda itu terjatuh.
“Abang!” pekik Cessi kesal dan ingin membantu Bargon, tetapi dihalangi oleh sang suami.
Pak Burhan yang merupakan security di sana, dengan sigap membantu Bargon kembali berdiri dan meminta pemuda itu untuk segera pergi. Karena, hanya akan menimbulkan keributan.
__ADS_1
“Mohon maaf, Nak. Silahkan, pergi dan jangan buat keributan di area ini!” pinta Pak Burhan dengan tegas.
Kini mereka, menjadi perhatian penghuni apartemen yang lainnya dan ada beberapa yang berbisik-bisik.
Hal itu, membuat Raka merasa tidak nyaman dan menarik istrinya. Agar menjauh dari sana, tetapi diluar dugaan Raka. Cessi menolak dengan keras.
“Lepaskan! Abang gak berhak begini!” pekik Cessi dengan lelehan air mata.
Gadis tomboy yang selalu terlihat kuat, tetapi kini tengah menangis dan terlihat amat tertekan.
“Abang?” gumam pak Burhan pelan. Ada sebuah fakta yang belum diketahui, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.
“Kamu kenapa, Oliv?” tanya Raka dengan tatapan yang sedingin es.
Namun, hal itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap Cessi. Dia menatap ke arah Bargon, keadaan pemuda itu telah mampu mengiris hatinya yang lembut.
“Gon,” panggilnya dengan suara yang pelan dan hampir tidak terdengar.
“Oliv!” bentak Raka kesal. Karena, sang istri yang tidak mau mendengarkan apa yang baru saja diucapkan.
“Om! Izinkan gue mengatakan sesuatu, kepada Cessi,” pinta Bargon.
Cessi menatap tidak percaya dengan fakta baru yang Bargon ungkapkan, panggilan pemuda itu kepadanya telah berubah seketika.
“Lima menit!” balas Raka cepat. Dia yakin, jika Bargon tidak akan pergi. Sebelum dipenuhi, apa yang diinginkannya. Karena, Raka juga seperti itu.
Bargon yang mendapatkan kesempatan tersebut, tidak membuang waktu lagi dan menyampaikan semua yang ada di dalam benaknya.
“Cessi! Gue sudah menerima kehidupan baru loe, bersama dia!” kata Bargon dengan menunjuk wajah Raka. Membuat Raka mengendus kesal.
“Tapi … gue gak bisa menerima, kalau elo! Telah menjadi penyebab Amara yang depresi!”
Bagaikan anak panah yang terhunus ke jantung, rasanya sangat sakit. Namun, Cessi tidak bisa menghindari fakta tersebut. Jika, keadaan Amara yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. amatlah menyedihkan, tangis gadis itu semakin deras.
“Aku salah apa, Gon? Kenapa aku!” pekik Cessi dengan keras. Hingga, penglihatannya memudar dan semuanya tampak gelap.
__ADS_1
“Oliv!”
“Kenapa, aku?”