Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 41 Rindu


__ADS_3

Cessi paham akan arah pembicaraan yang dimulai oleh Bik Indah, seolah sedang mengumpulkan informasi. Akan tetapi, gadis itu malah melesetkan pembicaraan mereka. Tentang malam pertama.


"Bik, aku ko deg-degan. Malam ini 'kan malam pertama, aku jadi istri Abang Raka," jelas Cessi dengan raut wajah serius.


Sedangkan Bik Indah yang mendapat pertanyaan tersebut, bingung mau menjawab apa. Wanita itu hanya bisa tersenyum kecut.


"Bibik gak tau, Non," jawabnya jujur.


Kali ini, Cessi yang ingin mencari informasi dari Bik Indah.


"Loh, 'ko bisa? Gi mana caranya, Bibik bisa hamil? Kalau … tidak melakukan malam pertama," tanya Cessi dengan polosnya.


Wajah Bik Indah menjadi pias seketika, dia semakin terpojokkan. Dengan apa yang baru Cessi katakan.


"Itu—"


Bik Indah kehabisan kata-kata, hingga memilih untuk menghindari dengan alasan mau menyiapkan makan malam.


"Oh iya, Non. Bibik harus memasak, Non Oliv mau membantu?" tawar Bik Indah.


Cessi yang sebenarnya sangat suka memasak, hanya saja suka di larang-larang oleh Ibu Indri. Mendengar tawar Bik Indah, tentu saja menjadi bersemangat dan melupakan pertanyaan sebelumnya.


"Apa boleh, Bik?" tanya Cessi dengan mata yang berbinar. Seolah, tengah mendapatkan harta karun.


"Tentu saja, boleh Non," jawab Bik Indah dengan tersenyum.


Akhirnya, mereka berdua pergi ke dapur dan mulai memasak. Tidak pernah Cessi bayangkan, jika dia bisa melakukan hal itu bersama Bik Indah.


Andaikan saja, Bik Indah benar-benar. Ibu kandungnya, maka Cessi akan merasa sangat bahagia. Namun, dia juga harus menerima konsekuensi lainnya.


"Non Oliv pandai memasak ya?" tanya Bik Indah. Seraya meletakan hidangan yang diatas meja makan.


Cessi yang dipuji seperti itu menjadi malu, wajahnya memerah seperti tomat.


"Bibik, bisa saja," balas Cessi malu-malu.


Karena, keadaan yang semakin sore. Bik Indah menyuruh Cessi untuk segera mandi, sebab nanti gadis itu akan menyambut kepulangan Raka.


Cessi yang di ingatan hal tersebut merasa malu dan segera mengambil langkah seribu, meningkatkan Bik Indah yang masih membersihkan dapur.

__ADS_1


Bik Indah hanya tersenyum dan menggeleng kepalanya, melihat tingkah Cessi. Mengingatkan dirinya, tentang masa kelam lalu.


"Astaga! Apa yang aku pikirkan!" pekik Bik Indah dan segera menepis pikirannya yang mengingatkan masalah lalu. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri, jika tidak akan pernah lagi berharap atau bertemu dengan sang mantan kekasih.


Walaupun ada perasaan rindu yang tiba-tiba saja datang, akan tetapi selalu dia tepis. Sebab, perasaan rindunya tidak sekuat perasaan benci. Terlebih Bik Indah yang ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih disaat tengah mengandung buah cinta mereka.


Kata khilaf sering orang sematkan, jika melakukan kesalahan. Namun, khilaf yang sebenarnya adalah, ketika melakukan kesalahan yang tidak di sengaja dan dilakukan hanya sekali.


Berbeda hal nya dengan salah yang terus di ulang dan membuahkan perkara lain, ini tidak termasuk dalam konteks khilaf itu sendiri.


Apalagi, seperti Bik Indah yang sampai hamil. Maka, hal itu merupakan kesalahan yang fatal. Bukannya khilaf lagi.


Ketika Bik Indah tengah perang dengan pikirannya sendiri, maka Cessi sudah selesai mandi dan mngenakan pakaian.


“Apa aku harus terlihat menarik?” gumam Cessi. Seraya memilih beberapa pakaian.


Karena, Cessi merupakan gadis tomboi. Membuatnya hanya memiliki baju kaus oblong saja, terlebih Cessi yang tidak membawa banyak paiakn dan hanya mengenakan yang itu–itu saja.


Sampai Cessi tertarik, ingin mengambil pakaian yang memang sudah ada di dalam lemari. Menurutnya tidak masalah lagi untuk sekarang, karena dirinya telah menjadi istri Raka.


Namun, betapa terkejutnya Cessi. Ketika membuka lemari sebelah pakaiannya di mana waktu itu, dia mengambil sebuah dress.


Siapa lagi pelakuknya, kalau bukan Raka. Ketika, pemuda itu kembali ke rumah itu. Membawakan Cessi beberapa baju baru, karena Raka yang masih memeprhatikan apa yang Cessi lakukan.


Melihat, gadis itu mengenakan pakian Suci. Membuat Raka merasa pirhatin dan berinisiatif, untuk membelikan gadsi itu beberapa potong pakaian baru.


“Wah … cantik sekali!” pekik Cessi dengan memutar badannya di cermin. Gadsi itu mengenakan mini dress berwaran merah menyala, terlebih pakaian tersebut sangat pas di badannya.


“Cih! Tapi … ko seperti wanita malam!”


Cessi menilai dirinya sendiri dan memilih melepaskan pakaiakn tersebut dan mengambil baju tidur berlengan pendek.


Menurutnya, tidak pantas terlihat seksi. Lebih baik unruk terlihat senderhana dan apa adanya, karena perut yang sudah keroncongan.


Membuat Cessi seegra melangkah ke luar kamar, dia langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yanga ada di dekat meja makan.


“Ko sepi?” gumam Cessi.


“Non,” panggil Bik Indah seraya mendekati Cessi yang tengah mengok kesana–kemari.

__ADS_1


“Bik, kemana Abang Raka?” tanya Cessi penasaran, entah mengapa dia merasa rindu kepada suaminya itu.


Apalagi, kini Cessi yang tengah mengenakan pakaian pemberian sang suami dan berharap. Raka melihatnya, hal itu yang ada dibenak Cessi.


“Den Raka pulang ke rumah Tuan Besar, katanya … dia tidak akan ke sini,” jelas Bik Indah yang baru saja menerima telepon dari Raka sebelumnya.


Terlihat sekali gurat kesedihan di wajah Cessi, dia merasa tidak berselera untuk makan.


“Non,” panggil Bik Indah yang melihat perubahan Cessi yang dratis.


“Bik, apa aku merasa kehilangan. Kalau … Abang Raka gak ada di sini?” tanya Cessi dengan nada lemah.


Bik Indah pun tersenyum dan segera duduk di smaping gadis itu dan menjelaskan. JIka, Cessi tengah merasakan perasaan rindu.


“Ko, bisa gitu sih, Bik?” balas Cessi yang tidak sependapat dengan Bik Indah.


Dengan penuh kesabaran, Bik Indah menjelaskan. Bahwa, perasaan rindu datang, ketika diri kita mengharapkan kehadiran seseorang.


“Jadi … .”


“Non Oliv tengah rindu, sama Dan Raka. Karena, Non Oliv ingin, Den Raka ada di sini,” terang Bik Indah.


Cessi hanya menunduk, dia merasa malu. Dengan apa yang disampikan oleh Bik Indah, kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengajak wanita itu untuk makan mala bersama.


Di sela-sela mengunyah, Cessi menanyakan ponsel miliknya. Dia berharap, jika BIk Indah mengetahui benda tersebut.


“Bik, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Cessi memulai aksinya.


“Apa itu, Non?” balas Bik Indah dengan raut wajah penasaran.


“Bibik, tau enggak? Dimana ponselku?” tanya Cessi dengan mata yang berbinar.


Namun, Bik Indah hanya menggelengkan kepalanya. Menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Cessi.


“Bibik, gak tau Non. Karena, Bibik hanya di suuh mengemas pakian Non Oliv saja. Itupun, tidak menemukan ponsel Non,” jelas Bik Indah apa adanya.


Cessi membuang nafas panjang, jika sebelumnya dia merasa ingin Raka berada di dekatnya. Sekarang pun sama, malahan Cessi ingin menghajar suaminya itu. Karena, telah menyemunyikan benda paling berharga miliknya.


Sampai Cessi baru menyadari satu hal dan bertanya kembali kepada Bik Indah.

__ADS_1


“Lalu, bagaimana. Abang Raka menghubungi, Bik Indah?”


__ADS_2