Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 26 kenangan


__ADS_3

Raka merupakan pemuda normal, melihat pakaian minim yang dikenakan oleh Cessi. Membuat Raka tergoda dan tanpa disadari, memeluk gadis itu dari belakang.


Namun, teriakan Cessi. Membuat Raka segera tersadar dan membekap mulut gadis itu.


"Aku gak suka kamu panggilan Om! Sudah berapa kali, aku bilang, hah? Lalu, kenapa kamu yang memasak? Di mana Bik Indah?" terang Raka yang menutupi perasaan gugupnya.


Cessi amat kesal dengan kelakuan Raka, bagaimana caranya dia bisa berbicara. Jika, mulutnya saja di bekap oleh pemuda itu.


"Oliv!" teriak Raka nyaring. Gadis itu menggigit tangan dan hal tersebut sangat sakit bagi Raka.


"Dasar, drakula!" bentak Raka.


Hal tersebut, semakin menambah kekesalan Cessi kepadanya. Gadis itu pun menginjak kaki Raka dan membuat pemuda tersebut berteriak kesakitan.


"Aw! Kamu mau aku hukum?" pekik Raka dan menyeret Cessi. Dia amat kesal dengan tingkah gadis itu, walaupun Cessi sudah berkali-kali melawan.


Namun, tenaga yang dimiliki oleh Raka jauh lebih besar darinya. Bukan berarti, Cessi menyerah. Dia terus berteriak dan Bik Indah yang haru saja selesai mencuci melihat tingkah mereka berdua dengan heran.


"Den, Non, kalian kenapa?" tanya Bik Indah pelan.


Cessi yang melihat kedatangan Bik Indah segera melepaskan dirinya dari Raka dan berlari, mendekati wanita itu.


"Bik! Om itu jahat! Dia mau melakukan hal tidak baik!" adu Cessi dengan berpura-pura menangis.


Sedangkan, Bik Indah menjadi bingung. Sebab, dia ingin membela Cessi yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


Namun, Bik Indah tidak mungkin melawan Raka yang merupakan majikannya. Disaat Bik Indah tengah dilema, Raka mendekati Cessi dan menarik tangan gadis itu dengan kasar.


Entah mengapa, Bik Indah seolah tidak terima akan apa yang dilakukan oleh Raka kepada Cessi.


"Den! Jangan seperti itu! Kasihan, Non Oliv!" bentak Bik Indah tanpa sadar telah membentak Raka.


Raka mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Bik Indah dengan sorot mata tajam.


"Ini, bukan urusan Bibik!"


"Tapi, Den—"


Raka tidak memberikan Bik Indah untuk melanjutkan ucapannya, pemuda itu sudah melotot dengan bola mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya.

__ADS_1


Bik Indah hanya mampu terdiam, setelah itu Raka menarik Cessi dan membawa gadis itu menuju ke kamarnya.


Sedangkan Bik Indah hanya bisa melihat punggung, Raka dan Cessi yang telah menjauh.


“Semoga, tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” batin Bik Indah berharap.


Di dalam kamar, Raka dengan kasarnya melemparkan tubuh Cessi di atas ranjang. Tentu saja gadis itu mau protes, tetapi diurungkan. Setelah melihat raut wajah yang tidak bersahabat dari Raka.


“Kamu sudah nakal, ya sekarang?” tanya Raka, seraya mendekati Cessi yang berbaring terlentang dan seolah sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Cessi pun menutup matanya, dia hanya diam. Bahkan, untuk bernafas pun terasa sulit. sampai, Cessi merasakan dahiya yang terasa panas.


“Aw!” pekik Cessi dan membuka kedua matanya, lalu mengusap dahinya yang ternyata dijitak oleh Raka.


“Apa?’ tanya Raka dengan perasaan yang tidak merasa bersalah sama sekali.


Ingin sekali, Cessi membalas. Apa yang Raka lakukan padanya, tetapi diurungkan. Sebab, Cessi tidak ingin bertengkar dengan pemuda itu.


Seraya bagun dari posisi berbaring, Cesi duduk dan bersandar di tepi ranjang. Gadis itu, bahkan tidak ingin melihat ke wajah Raka.


“Malam ini, kita kan menikah!”


“Om, jangan gila, napa?” pekik Cessi marah.


“Hey! Sudah berapa kali, aku katakan? Hah? Jangan panggil, Om!” bentak Raka murka.


Cessi semakin kesal dengan berangai, pemuda yang kini tengah berkacak pinggang di hadapannya.


“Iya, Bangku sayang! Puas?” teriak Cessi nyaring.


Namun, apa yang baru saja. Cessi katakan, membuat Raka teringat akan mantan kekasihnya, lalu membuat pemuda itu. Mendekarti Cessi dan mengusap pipi Cessi dengan raut wajah sendu.


Cessi yang diperlakukan seperti itu, menjadi membeku. Akan tetapi, dia tidak berani untuk protes.


Perubahan, Raka yang signifikan. Membuat Cessi merasa aneh dan menduga-duga, jika Raka sudah tidak waras.


“Aku akan bertanggung jawab, padamu … dan anak yang ada dalam kandunganmu, nanti,” ucap Raka tanpa sadar.


Sedangkan Cessi hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia tidak bisa membayangkan. Bagaimana nanti hidupnya, setelah melihat keadaan Raka yang memang sudah tidak waras.

__ADS_1


“Den,” panggilan BIk Indah. Menyadarkan Raka, dia langsung menjauh dari Cessi dan menatap ke arah asisten rumah tangganya itu.


“Ada apa, Bik?” tanya Raka dengan nada dingin.


Bik Indah pun segera masuk dan mendekati Raka, pintu kamar yang memang terbuka. Sebab, Raka yang lupa menutupnya. Membuat Bik Indah bisa masuk dengan mudah.


“Non Oliv, bukan Non Suci,” kata Bik Indah dengan suara yang bergetar.


Sedangkan, Cessi yang melihat dan mendengar. Apa yang baru saja diucapkan oleh wanita itu 0un. Menjadi penasaran dengan sosok, Suci yang disebut.


“Apakah, Bibik tidak punya pekerjaan, lain? Sampai, selalu ikut campur masalahku?”


Raka menunjukan, sisi buruk dari dalam dirinya. Bik Indah yang sangat hafal betul dengan perangai pemuda itu pun. Segera menggelengkan kepalanya, seolah tidak mau pergi.


Dia tahu, jika Raka sangat merindukan sosok gadis manis yang dulu pernah dibawa ke rumah itu. Bahkan, raka masih menyimpan semua kenangan. Tentang kekasihnya dengan baik, dan tidak membiarkan hilang begitu saja.


“Kalau, Bibik. Tidak memiliki pekerjaan? silahkan, tinggalkan rumah ini!” bentak Raka.


Cessi yang mendengar hal itu, tentu saja tidak terima dan membalas. Membentak Raka, dia tidak peduli lagi. Tentang, apa yang akan dilakukan pemuda itu nanti.


“Abang dah gila? Kenapa dengan Bik Indah? Dia hanya ingin membantu Abang! Tapi … kenapa, Abang bilang begitu!”


“Kamu tidak tahu, apa-apa. Oliv!” balas Raka dengan diikuti suara yang bergetar.


Kenangan yang sangat mengerikan itu, berputar. Seperti, film di bioskop. Membuat nafas Raka tiba-tiba saja, terasa sesak.


Bik Indah segera memegang tubuh Raka, takut akan hal yang buruk terjadi. Dengan perasaan cemas, wanita itu. Meminta, Raka untuk menahan diri.


“Tahan, Den. Jangan marah, sabar,” kata Bik Indah pelan.


“Sabar? Cih! Aku sudah terlalu lama bersabar, Bik! Dan, apa yang aku dapatkan? Hanya sebuah rasa sakit yang tidak pernah habis!”


Raka meluapkan emosinya, dan hal itu. Menambah, dirinya yang semakin kesulitan untuk bernafas


Cessi yang tidak mengetahui, apapun tentang masa lalu. Bahkan, kenangan buruk yang pernah Raka lalu. Dengan gampangnya, dia berbicara.


“Itu semua, karena karma Abang. Sendiri! Jadi, orang yang tidak pernah baik!” teriak Cessi Yang ikut meluapkan perasaan dan argumennya.


“Hentikan, Non Oliv! kamu tidak tahu apapun!” teriak Bil Indah.

__ADS_1


“Aku—”


__ADS_2