
Raka mendengar, apa yang dikatakan oleh Cessi hanya mempu menggeram kesal. Dia mencengkram dengan kuat stan mobil yang tengah dipegang. Tidak bisa Raka pungkiri, jika dia merasa cemburu dengan Amara.
Dimana, gadis itu mampu mengalihkan perhatian istrinya. Bahkan, berani mengancamnya. Apa yang membuat Cessi sangat menyayangi Amara, sampai berani melakukan hal itu yang mengusik pikirannya.
“Hanya, Amara ‘kan?” tanya Raka ingin memastikan dan menarik perhatian Cessi dan membuat istrinya itu menganggukan kepalanya cepat.
“Iya, hanya Amara,” balas Cessi.
“Tidak dengan Bargon?”
“Itu—”
“Apa?” balas Raka dengan cepat.
Cessi menjadi bingung, mau menjawab pertanyaan dari suaminya. Jika, dia juga mengatakan ingin bertemu dengan Bargon. Maka, akan membuat Raka marah. Hal itu, membuat Cessi menjadi ragu.
“Ayo, jawab!” desak Raka tidak sabaran. Apalagi, melihat Cessi hanya diam. Tentu saja pikirannya sudah kemana-mana.
“Hanya, Amara, Abangku sayang,” kata Cessi dengan menekankan kata sayang.
Namun, tidak bereaksi apapun bagi Raka. Malahan wajah suaminya semakin dingin dan membeku. Membuat Cessi salah tingkah, hingga mobil yang mereka tumpangi berada di pembatas rel kereta api.
Cessi teringat akan jalan tersebut, dimana mereka berkejar-kejaran dengan, mobil Bargon. Ini merupakan kesempatan emas untuk Cessi, jika ada kesempatan untuk kabur kembali.
Maka, dia bisa menandai rel kereta api. Sebagai tanda, jika dirinya tersesat nanti.
“Jangan, memikirkan hal yang aneh-aneh.”
Raka yang berkata tiba-tiba, seolah mengetahui apa isi di dalam pikirkan Cessi membuat gadis itu tersenyum kecut.
“Abang kenapa, sih? Kayak lagi PMS?” ejek Cessi. Namun, tidak ditanggapi oleh Raka yang hanya fokus kepada kemudi–nya.
Hingga, mobil yang dikendarai oleh Raka mulai memasuki jalan raya besar. Cessi seperti orang yang baru menapakkan kakinya ke kota, menatap kagum dan tersenyum sendiri.
Raka yang melihat hal itu, walaupun hanya sekilas. Ikut tersenyum, melihat kelakuan istrinya yang lain dari yang lain.
Tidak memerlukan waktu lama, mobil mereka memasuki halaman rumah yang sangat mewah. Lebih, mewah dari rumah yang Cessi tempati sebelumnya.
Membuat gadis itu, berdecak kagum. Serta seolah tidak percaya, bisa masuk kedalam rumah besar itu.
“Ini, rumahnya?” tanya Cessi ingin memastikan.
__ADS_1
“Iya, emangnya kenapa?” tanya Raka pelan, seraya melepaskan set bat dan setelah mematikan mesin mobil.
Cessi tidak menjawab, pertanyaan itu dan segera memilih keluar mobil. Dia ingin memastikan sendiri, jika itu benar-benar rumah kedua orang tua Raka.
Hingga, terlihat seorang wanita yang masih terlihat muda dan cantik memanggil Raka.
“Raka! Ayo ke sini!”
Cessi menjadi kikuk sendiri, melihat gaya wanita itu. Jika, benar dia adalah ibunya Raka yang berarti ibu mertuanya.
“Bu, jangan galak-galak,” pinta Raka dan meraih tangan istrinya yang hanya diam membatu.
Cessi agak tersentak, akan perlakukan manis yang suaminya lakukan. Namun, dia berusaha menahan gejolak yang ada di dalam dadanya sendiri.
Raka menuntun, Cessi hingga mereka masuk kedalam rumah besar tersebut. Kemudian, Ibu Rusmini meminta mereka untuk duduk di sofa.
Cessi menggenggam erat tangan suaminya, seolah takut kehilangan pemuda itu. Sampai suara Rusmini kembali terdengar.
“Apa dia calon istrimu?” tanya Rumini dan memperhatikan penampilan Cessi dari atas hingga kebawah.
“Bu! bukan calon istri! Tapi … Oliv ini sudah menjadi istriku!” balas Raka meralat ucapan ibunya yang dirasa kurang tepat.
Rumini berdecak kesal, lalu bertanya kepada Cessi.
“Siapa namamu?”
Cessi yang merasa sangat gugup, tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Membuat Raka, yang menjawab, “Namanya Cessioliv, Bu. Aku memanggilnya Oliv.”
“Diam!” hardik Rusmini dengan kasar. Membuat Cessi yang tersentak kaget, akan suara wanita itu dan tanpa sadar menatap Rumini dengan nanar.
“Apa?” hardik Rumini lagi.
“Kenapa, anda berbicara dengan nada tinggi? Memangnya, urat nadi anda tidak akan putus?” tanya Cessi.
Walaupun ini merupakan pertemuan pertama mereka, tetapi Cessi merasa kesal dengan ibunya Raka. Dimana, wanita itu mengeluarkan nada tinggi. Sama seperti ibu angkatnya, dan hal itu membuat tekanan di dalam diri Cessi ingin melawan.
Cessi memiliki traumatik yang tanpa dia sadari sendiri, gadis itu tidak bisa menerima suara keras. Dimana, hanya akan membuatnya mengeluarkan kata-kata menohok nantinya.
Bahkan, Bargon yang pernah berteriak di hadapannya. Telah menerima salam lima jari dari gadis itu, untuk pertama kalinya.
Raka tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi, ibunya tidak bisa memerankan ibu mertua yang kejam. Hal itu berhasil mengocok perutnya.
__ADS_1
“Hahaha … sudahlah, Bu. Jangan mengada-adakan sesuatu yang tidak ada,” ejeknya dengan menahan perutnya yang terasa sakit.
Sedangkan Rumini berdecak kesal dengan tingkah konyol putranya sendiri, dan mengalihkan perhatiannya kembali kepada Cessi.
“Urat nadi Bu telah banyak yang putus! Karena, melahirkan anak gembeng. Seperti dia!” jelas Rumini dengan menunjuk wajah Raka.
Raka hanya mampu memajukan bibirnya, mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya itu dan melepaskan tautan tangannya dengan Cessi. Demi bisa menghampiri Rumini. Seraya memeluk wanita yang telah melahirkan ke dunia ini.
“Jangan, ngambek, Bu. Nanti, gak sempat punya cucu,” kata Raka yang sengaja menyindir ibunya yang suka sekali meminta cucu kepadanya. Tanpa mau mendengar derita hatinya, yang sedang mencari calon istri yang terbaik.
“Jangan seperti anak kecil! Ayahmu sudah mengatakan semuanya! Ibu sangat kecewa sama kamu!” balas Rumini dengan nada marah.
Namun, semarah-marahnya seorang ibu. Dia akan tetap menyayangi anaknya, karena darah daging–nya ‘lah seorang ibu rela bertaruh nyawa.
“Maafkan, aku Bu. Kali ini, aku berjani. Tidak akan melakukan hal yang ceroboh lagi,” jelas Raka bersungguh-sungguh.
Rumini membuang nafasnya panjang, dan menjelaskan. Jika, Raka harus menikahi Cessi dengan wali nikah yang sah. Karena, jika tidak. Maka, sama saja mereka membiarkan Raka berzinah dengan Cessi.
“Iya, Bu. Aku sedang mengumpulkan bukti-bukti dan mencari keberadaan ayah kandung Oliv. Tapi, selama proses itu berjalan? Oliv tetap tinggal di rumah lama bersama dengan
Bik Indah,” terang Raka.
“Maksud, Abang apa?” celetuk Cessi yang sedari tadi diam dan tertarik dengan penjelasan Raka barusan.
Raka meringis, karena lupa memberitahukan kepada istrinya. Jika, tes DNA yang mereka lakukan kemarin. Hasilnya telah keluar.
“Jadi? Bik Indah benar, ibuku?” tanya Cessi dengan memastikan.
Raka mengangguk kecil, menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Sedangkan, Rumini menjadi bingung dengan pembicaraan mereka.
“Maksudnya apa? Bik Indah pembantu kita? Ibunya Oliv?” tanya Rumini.
“Iya, Bu. Di dalam hasil tes menjelaskan, mereka memiliki 90% kecocokan. Jadi … Oliv anak kandung Bik Indah. Sekarang, aku tinggal mencari. Siapa ayah kandungnya, barulah kami akan menikah kembali,” jelas Raka panjang lebar.
“Ayahmu tidak menjelaskan tentang hal itu,” kata Rumini dengan raut wajah kecewa.
Sedangkan raka hanya tersenyum kecut, mendengarnya. Hingga, Cessi menyeletuk kembali.
“Aku tahu, siapa ayah kandungku!”
“Siapa?”
__ADS_1