Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 53 Mencari Kebenaran


__ADS_3

Disaat Sulis yang kecewa dengan ekspedisinya yang terlalu tinggi dan dihempaskan, dan jatuh dengan berkeping-keping.


Cessi dan Raka sedang melakukan interogasi dengan pak Burhan, untuk mengorek informasi yang mereka inginkan.


“Kabar Bapak baik?” tanya Raka sekedar basa-basi.


“Alhamdulillah, baik, Nak,” balas Pak Burhan dengan raut wajah gusar.


“Bapak lulusan apa?” Pertanyaan dari Raka itu, membuatnya semakin merasa tidak tenang.


“SMA saja, Nak,” jawab Pak Burhan pelan.


“Sudah lama bekerja disini?” tambah Raka lagi.


“Baru beberapa tahun, Nak. Maaf … ini ada apa ya?” tanya Burhan yang merasa ada kejanggalan.


“Tidak apa-apa! Saya hanya ingin bertanya-tanya tentang pekerjaan Bapak, untuk berita,” jelas Raka dengan masuk akal. Karena, Pak Burhan mengetahui. Jika, Raka seorang reporter.


“Oh, coba bilang dari tadi!” balas Burhan bernafas lega. Hingga, Cessi datang dengan nampan berisi air minum.


Pak Burhan memperhatikan Cessi tanpa berkedip sama sekali, sampai Raka berdehem.


“Ehem … ada apa, Pak?” tanya Raka yang mulai melihat gelagat tidak biasa dari lelaki itu.


“Ah … bukan apa-apa, Nak. Cuma keponakannya mirip dengan seseorang yang Bapak kenal. Waktu masih SMA dulu,” jawabnya jujur.


“Apa namanya, Indah?” tanya Raka langsung pada inti pembicaraan mereka.


Wajah Pak Burhan menjadi pias seketika, setelah nama itu di sebut tepat di hadapannya. Dengan tubuh yang bergetar hebat, dia terpaku di tempat.


Cukup lama mereka semua ditemani oleh sunyi, hingga Cessi menyeletukan kata-kata menohok.


“Ibu Indah, wanita yang baik dan sekarang dia—”


Cessi sengaja menggantung ucapannya dan melihat reaksi dari pak Burhan dan binggo. Lelaki itu tertarik dengan apa yang baru saja diucapkan.


“Indah?” ujar Pak Burhan dengan sorot mata yang kosong, seolah kata itu menghipnotis dirinya.

__ADS_1


Raka mulai menarik perhatian Pak Burhan lagi, agar menyakinkan. Jika, dia Burhan yang dimaksud oleh Bik Indah.


“Iya, namanya Indah. Usianya sekitar tiga puluhan lebih, mungkin. Dia bahkan, pernah melahirkan seorang putri cantik di usia 18 tahun.”


“Melahirkan?” tanya Burhan dengan sorot mata tidak percaya.


Raka dan Cessi saling menatap satu sama lain, ketika melihat ekspresi yang jelas tergambar dari wajah lelaki itu.


Ternyata, mencari petunjuk tidak terlalu sulit. Tinggal membuktikan kebenarannya, dengan sebuah tes DNA lagi.


“Apa Bapak mengenal, Bik Indah?” tanya Cessi dengan perasaan yang sangat penasaran.


Jika, Pak Burhan benar ayah kandungnya. Maka, dia ingin menanyakan banyak hal kepada lelaki itu. Tentang kejadian di masa lalu, hingga Cessi ditinggalkan begitu saja oleh Pak Burhan.


Namun, tergambar dengan jelas. Sebuah keraguan di raut wajah Pak Burhan, lelaki itu mengelak dari fakta yang sudah ada di depan mata.


“Saya tidak mengenal nama itu, Non. Karena, banyak orang yang bernama sama,” jawabnya.


Bukan tanpa sebab, Pak Burhan tidak mau mengakui. Jika, dia memiliki sebuah kenangan dengan wanita yang bernama Indah. Namun, dia tidak ingin merasa kecewa. Jika, nanti tidak sesuai dengan ekspedisinya.


“Apa benar?’ tanya Cessi. akan tetapi, tangannya digenggam erat oleh Raka. Seolah, suaminya memberi kode. agar dia diam sejenak.


Pak Burhan hanya tersenyum pahit dan menyeruput kopi buatan Cessi, namun tiba-tiba saja. Air matanya menetes tanpa permisi.


Cairan bening itu, seolah memberikan sebuah tanda. Jika, hatinya tidak bisa berbohong. Bahwa, ada sesuatu yang mengusik pikirkannya saat ini.


Raka yang melihat hal itu, sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan dan mulai mengalihkan pembicaraan mereka.


“Oh iya, Pak. Mungkin, apartemen ini akan kosong. Karena saya sibuk bekerja, bisakah Bapak mengamankan apartemen ini,” terang Raka dan mendapatkan anggukan kepala pelan dari Pak Burhan.


Ragu-ragu, Burhan pun bertanya, “Lalu, Non Oliv?”


Raka tersenyum penuh arti dan menatap sekilas kearah istrinya dan menjelaskan. Jika, Cessi tinggal dengan ibu kandungnya yang bernama Indah.


“Oliv, akan tinggal dengan Ibu Indah.”


Terlihat dengan jelas, perubahan Pak Burhan setelah Raka mengatakan hal itu. Dia menatap lekat Cessi yang tertunduk. Ada perasaan aneh yang menyeruak seketika, ingin sekali Burhan bertanya kembali. Namun, dia merasa terlalu lancang dan memilih pamit undur diri. Dengan alasan ada pekerjaan yang harus dikerjakan.

__ADS_1


“Oh iya, Nak Raka. Jika, tidak ada hal lainnya? Bapak mau kembali ke pos jaga, ada pekerjaan yang tertinggal tadi.”


“Baik, Pak. Makasih atas waktunya,” balas Raka dan mengantarkan lelaki itu hingga ke pintu depan.


Raka menatap punggung Pak Burhan yang telah berjalan menjauh dan menghilang di balik belokan. Raka pun berbaik masuk dan mencari keberadaan Cessi.


Ternyata, istrinya berada di dapur tangah mencuci di wastafel. Entah setan apa yang tengah merasukinya, Raka menghampiri Cessi dan memeluk sang istri dari belakang.


Tangan Raka yang kekar, melingkar di tubuh Cessi yang ramping. sontak saja, gadis itu terkejut dan melepaskan tangan Raka dan menatap tajam suaminya sendiri.


“Apa yang Abang, lakukan?” bentak Cessi yang tidak suka dengan apa yang baru saja Raka lakukan.


Namun, dengan santainya Raka berkata, ”Aku hanya ingin memelukmu, apa itu salah? Kita kan, sudah menjadi suami–istri. Bahkan, aku boleh melakukan yang lebih dari hanya sekedar memelukmu.”


Cessi merasa sangat geram dan mengingatkan Raka, akan pesan ayah dan ibu mertua.


“Abang! Aku aduin sama ayah dan ibu! Kalau, Abang. Macam-macam!” ancam Cessi dan mengambil jarak aman dari suaminya sendiri.


Raka semakin bersemangat untuk menjahili Cessi, apalagi. Melihat wajah ketakutan yang tergambar jelas di wajah sang istri.


“Aduin, aja. Mereka juga gak ada disini,” balas Raka dengan enteng dan semakin mendekati Cessi.


Tubuh Cessi yang sudah terpojokkan di dinding, tidak bisa mundur lagi. Ditambah tangan Raka yang sudah mengunci tumbuhnya, membuat Cessi semakin tidak bisa berkutik.


Biasanya adengan tersebut, dia buat menjadi video dan di upload ke Chanel youtubenya dan akan banjir komen, serta subscribe.


Namun, tidak untuk kali ini. Keberanian Cessi, hilang seketika di hadapan Raka. Bahkan, dia sudah pasrah. Dengan menutup matanya, hembusan nafas hangat sang suami menerpa kulit wajahnya.


Cukup lama Cessi menutup matanya dan terdiam, hingga dia memberanikan diri. Untuk membuka perlahan kelopak matanya dan menatap Raka yang juga membalas tatapannya.


Mata mereka saling mengunci, satu sama lain. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, terdengar kecapan aneh yang mengisi seluruh ruangan tersebut.


“Hey! apa yang kalian lakukan!”


Deg


Jantung Raka dan Cessi seakan ingin loncat keluar dari tempatnya dan melihat, ke arah asal suara tersebut. Wajah pasangan suami-isteri itu menjadi pias seketika.

__ADS_1


"Kami—"


.


__ADS_2