
Raka tertegun dengan nama panggilan, yang baru saja Bargon ucapkan. Dia menatap tajam pemuda itu, lalu mencekram erat dagu Bargon.
“Ulangi, kata-katamu tadi?” pinta Raka.
“Gue, gak akan p–pu–ull–ang!”
Bargon kesulitan, untuk berbicara. Karena, cengkraman kuat tangan Raka yang berada di rahangnya. Membuat pemuda itu, kesulitan berbicara.
“Bang! Hentikan! Kamu sudah berjanji!” teriak Cessi.
“Janji?” gumam Bargon pelan. Dengan tatapan penuh penasaran, tetapi dirinya malah sudah di tarik oleh orang-orang sebelumnya.
“Ayo, keluar!” tintah lelaki tersebut dan menarik Bargon dengan kasar.
Sedangkan Cessi yang melihat hal tersebut, hanya bisa terpaku di tempat. Karena, tidak bisa berbuat apa-apa.
Hingga, Bargon sudah menghilang di balik pintu besar. Keadaan acara yang juga sudah selesai, membuat satu per–satu anggota keluarga pamit pulang.
Begitu pun dengan kedua orang tua angkatnya Cessi, dengan raut wajah penuh topeng. Mereka mengucapkan selamat kepada Cessi dan juga Raka, atas pernikahan yang telah terjadi.
“Cess! Jangan melawan pada suamimu!” kata Pak Broto dengan raut wajah yang sumringah, sedangkan Ibu Indri hanya dia membatu disamping suaminya.
“Nak Raka, jangan segan-segan lagi sama Cessi! Pukul saja, dia! Kalau melawan,” tambah lelaki itu yang hanya mendapatkan tatapan dingin dari Raka.
Sedangkan, Bik Indah yang masih memperhatikan Pak Broto dan Ibu Indri. Tidak bisa menahan diri lagi, dan segera menghampiri kedua orang tersebut.
“Broto! Indri!” panggil Bik Indah dengan suara yang sedikit keras. Membuat, pasangan suami istri itu menatap kearahnya.
Setelah, Bik Indah berada tepat di hadapan Ibu Indri yang selalu membuang wajahnya. Di saat inilah, wanita itu. Menayakan, hal yang selama ini selalu menjadi mimpi buruk baginya.
“Kalian, yang telah menculik anakku, kan?” tuduh Bik Indah dengan menujuk wajah Pak Broto yang berada tepat dihadapanya.
“Apa yang kamu katakan? Hah!” bentak Pak Broto dengan nada marah.
Namun, hal itu membuat BIk Indah semakin yakin. JIka, lelaki yang berada dihadpanya telah menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
“Oliv! Dia putriku, bukan?”
Apa yang Bik Indah, katakan membuat beberapa orang yang berada di sana. Saling berbisik, Raka yang juga terkejut dengan apa yang dinyatakan oleh BIk Indah.
Segera, menyuruh anak buahnya mengamankan tempat tersebut. Lalu, meminta Bik Indah serta Pak Broto dan istrinya untuk masuk ke dalam. Agar, pembicaraan mereka tidak menjadi pusat perhatian.
Di sinilah, mereka. Berada di ruangan keluarga yang terpisah dari ruangan tamu, dimana acara akad sebelumnya berlangsung.
Tanpa, basa–basi. Raka langsung menanyakan, alasan Bik Indah yang merupakan asisiten rumah mereka. Sampai mengatakan hal barusan, apalagi setelah dirinya menikah dengan Cessi.
“Apa maksud, Bibik mengatakan? Jika, Oliv … adalah anak Bibik?” tanya Raka dengan sorot mata dingin.
Bik Indah pun mulai menejlaskan semuanya, dari awal dia yang hamil di luar pernikahan dan melahrikan seorang anak perempuan.
Serta, kisah Pak Broto dan Bu Indri yang menghilang. Setelah putrinya di nayatkan meninggal, namun Bik Indah tidak pernah melihat jasad putrinya.
“Bibik pernah hamil di luar nikah, Den. Lalu, melahirkan seorang anak perempuan. Tapi … mereka,” kata Bik Indah dengan menujuk wajah Pak Borto dan Ibu Indri dengan tajam.
“Mereka! Mengatakan, jika putri Bibik telah mati! Tapi … mayatnya tidak ada, Den.”
Bik Indah berbicara dengan sesigukan, dia tidak bisa menhaan perasaan sedih dan kesalnya. Akan apa yang dulu pernah pasanagn suami istri itu lakukan.
Ibu Indri yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. Sedangkan Cessi yang memang berada di sana, tertegun seketika.
Cessi tidak menyangka, jika apa yang kemarin baru Bik Indah sampaikan kepadanya. Semuanya benar, bahwa Ibu Indah memiliki hubungan saudara dengan wanita itu.
“Aku hilaf, Dri! Aku hanya menginginkan putriku kembali! Tapi … kalian membawanya pergi!” teriak Bik Indah yang meluapkan perasaannya yang selama ini terpendam.
Sudah lama sekali, Bik Indah mencari keberadaan Pak Broto dan Ibu Indah. Namun, masih belum menemukan titik terang. Hingga, Raka membawa Cessi yang mana. Diyakini oleh Bik Indah adalah putrinya, yang dulu dilahirkan.
“Hilaf? Coba, waktu itu kamu membawa kekasihmu dan segera menikah! Supaya, orang tua kita tidak menanggung malu! Tapi … apa yang kamu lakukan, hah!” balas Ibu Indri dengan nada yang tinggi. Hal tersebut, membuat suaminya Pak Broto menenangkan sang istri, takut penyakit darah tingginya kembali kambuh.
“Sudah, Bu. Ingat kesehatanmu,” pinta Pak Broto.
Namun, seolah telah terlanjur panas. Bu Indah tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh suamnya tersebut.
__ADS_1
“Ibu gak bisa, Pak! Indah terlalu kelewatan! Dia menuduh kita, tanpa alasan!” balas Indri.
“Tanpa alsan, katamu? Aku yakin sekali, jika Oliv itu putriku yang kalian bawa lari!” ucap Indah dengan sorot mata tajam.
Sedangkan, Pak Broto yang tidak terima. Lalu, menghardik Bik Indah, “Kenapa, kamu bilang seperti itu, Dah? Cessi itu, putri kami!”
Seperti, sedang berebut hak asuh Cessi. Mereka mengklaim, jika Cessi adalah putri mereka. Raka yang sedari memperhatikan perdebatan mereka, mengambil kesimpulan.
Bahwa, semua ini terjadi. Karena, dia menikah dengan Cessi. Membuat, istrinya mulai diakui keebradaannya. Berbeda dnegan sebelumnya, hingga Raka mengambil sebuah keputusan.
“Bik Indah! Beri, aku satu bukti. Dari semua penejlasan, Bibik tadi! Karena, Oliv … ” kata Raka, seraya menggenggam tangan istrinya.
“Memang, anak angkat Pak Broto dan Bu Indah.”
Pak Broto dan Bu Indah tersneyum puas, karena merasa jika Raka berpihak kepada mereka. Dengan senyum mengejek, Pak Broto menyudutkan Bik Indah.
“Ayo! Berikan apa yang Nak Raka mau!”
Sedangkan, Bik Indah yang diperlakukan seperti itu. Tersenyum getir, mungkin saat ini. Merupakan, cara dirinya mengungkap takdir yang tersemunyi.
Walaupun, hatinya sangat meyakini. Jika, Cesi merupakan putrinya yang hilang. Namun, semunya masih harus dibuktikan dengan nyata.
“Kenapa, hanya diam?” tanya Bu Indah. Seolah telah berada diatas awan, melihat bungkamnya wanita tersebut.
“Kalian ingin bukti?” tanya Bik Indah, seraay bangun dari posisi duduknya dan menatap semua orang yang berada di ruangan tersebut satu per–satu.
“Iya! Buktikan!” balas Pak Broto seperti percikan api.
Bik Indah berjalan mendekati, Cessi dan meminta gadis itu membuka sedikit bajunya. Apa yang dipinta oleh Bik Indah, membuat Cessi menjadi bingung.
“Non Oliv, bisa buka sebentar bajunya?”
“Apa maksud, Bibik?” tanya Cessi bingung. apalagi, dirinya yang mengenakan pakaian pengantin. Disuruh membuka baju, hal itu membuat Cessi merasa malu.
“Ibu hanya ingin melihat tanda lahir, yang berada di pinggangmu. Jika, kamu memang. Putri Ibu yang selaam ini, dinyatakan meninggal oleh mereka,” jelas Bik Indah, seraya menatap tajam kearah Pak Broto dan Bu Indri.
__ADS_1
Sedangkan pasangan suami istri itu menjadi pias seketika.
“Apakah, benar?”