
Raka tersentak dengan apa yang dikatakan oleh Bargon, kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari Cessi. Kemudian, menghampiri Bargon dan mencengkram. Kuat, kerah baju yang dikenakan oleh pemuda itu.
Tanpa merasa takut sama sekali, Bargon melotot ke arah Raka. Seolah, menantang.
“Om, mau apa?”
“Aku gak punya masalah dengan kamu! Jadi, jangan nyolot!” bentak Raka. Dia telah terlanjur, marah. Namun, dicoba untuk tidak sampai kebablasan.
“Masalah Om, apa? Biarkan, aku pergi dengan Bargon!” teriak Cessi yang sedari tadi diam.
Kali ini, Raka benar-benar tidak bisa mengampuni Cessi. Dia menarik tangan gadis itu dan menyeretnya, tentu saja Bargo yang ada di sana. Tidak membiarkan, Raka berlaku semena-mena.
Terjadi lah aksi, tarik–menarik. Dimana Cessi yang menjadi, bahan untuk mereka perebutkan. Hal ini, membuat Cessi merasa sakit di bagian pergelangan tangan–nya.
“Hentikan!” teriak Cessi.
Sontak saja, Bargon melepaskan tangan Cessi. Namun, itu merupakan kesempatan untuk raka. Dia langsung menarik Cessi untuk masuk kedalam mobilnya.
“Om!” teriak Bargon yang melihat apa yang dilakukan oleh Raka dan segera masuk kedalam mobilnya. Untuk mengejar mobil yang di kemudikan oleh Raka, sebelum menjauh.
“Om dah gila!” teriak Cessi. Tepat di telinga Raka.
“Iya! Aku dah gila! Lebih tepatnya, tergila-gila denganmu!” balas Raka. Pemuda itu mengemudi dengan kecepatan tinggi, sesekali dia melihat ke arah kaca spion.
“Cih! Anak kecambah!” pekik Raka kesal. Ketika, melihat mobil Bargon yang berada di belakangnya.
“Om!”
“Diam!” bentak Raka dengan wajah yang memerah. Membuat Cessi terdiam seketika dan berkomat-kamit, menggerutu pemuda yang ada disampingnya.
Raka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin membawa Cessi ketempat yang aman. Namun, dia harus melepaskan diri terlebih dahulu. Dari Bargon yang terus mengikuti mobilnya.
“Awas, Om!” teriak Cessi. Ketika, Raka menyalip mobil truk yang ada di hadapan mereka. Namun, seolah sudah berpengalaman. Raka dengan santai, terus melajukan mobilnya dan menyalip beberapa mobil lain. Dengan kecepatan tinggi, tentunya.
Jantung, Cessi bergemuruh. Seakan, ingin loncat keluar dari tempatnya. Ingin sekali, dia marah pada Raka. Akan tetapi, perasaan takutnya. Mengalahkan, perasaan kesal yang ada di dalam dirinya.
__ADS_1
Bahkan, Cessi memilih memejamkan matanya dan berharap. Ini semua cepat berlalu, hingga Raka mulai mengurangi kecepatan mobilnya.
“Apa gue masih hidup?” gumam Cessi.
“Masih, untuk beberapa waktu,” jawab Raka. Kemudian, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi lagi. Karena, melihat mobil yang dikendarai oleh Bargon masih bisa mengejarnya.
“Cih! Anak kecambah itu, masih bisa mengikutiku? Seharusnya, jangankan untuk mengemudikan mobil. Memiliki SIM saja dia belum boleh,” gerutu Raka kesal. Apalagi, dia teringat. Jika, Bargon masih di bawah umur.
Raka pun semakin memacu kendaraannya, hembusan angin malam yang dingin. Ditambah, jalan raya yang mulai merenggang. Karena, keadaan semakin malam. Membuat Raka, semakin mempercepat laju kendaraanya.
Ketika, dia melihat sebuah perempatan kereta api yang membunyikan alarm. hal itu, membuatnya tersenyum penuh arti dan semakin mempercepat laju kendaraannya.
“Om! Gue belum mau mati!” teriak Cessi nyaring. Walaupun, dia menutup kedua matanya. Tetapi, tidak dengan pendengarannya. Suara alarm kereta api yang terdengar sangat nyaring. Membuat darah Cessi berdesir, bahkan dia mengumpat kesal. Kepada Raka, jika sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi, nanti.
Klittt
Suara palang pintu kereta api mau tertutup, seakan sedang kerasukan setan. Raka bisa melesat dengan cepat dan menghindari palang pintu dan sampai di seberang sana.
Namun, tidak dengan mobil yang dikendarai oleh Bargon. Dimana, mobil tersebut. Harus tertahan, membuat Raka tersenyum mengejek.
“Om! Kembalikan calon istriku!” teriak Bargon. Namun tidak bisa didengar oleh Cessi ataupun Raka. Karena, mereka telah pergi menjauh.
“Diam!” hardik bargon, kepada supir pribadinya.
Sedangkan, Raka mulai menurunkan kecepatan mobilnya. Dia menyusuri jalan sepi, membuat Cessi yang sudah merasa agak tenang pun mulai membuka suara.
“Om, kita mau kemana?”
Raka tidak menjawab, apa yang ditanyakan oleh Cessi. Dia hanya hanya fokus pada jalanan yang dilewati.
“Om,” panggil Cesi dengan lirih.
“Om! Om! Sudah aku peringatkan! Jangan panggil, aku Om! Tapi—”
“Abang!” jawab Cessi dengan cepat. Sebelum, Raka menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
“Sudah, tau! Nanya, lagi!” balas Raka kesal.
Cessi membuang wajahnya, keluar jendela. Dia tidak menyangka, jika Raka dengan mudah bisa mengetahui keinginannya yang ingin kabur.
Jika, disuruh untuk memilih. Maka, Cessi lebih memilih untuk menikah dengan Bargon. Daripada dengan Raka, yang sudah tua darinya. Sedangkan Bargon, seusia dengannya.
Namun, Cessi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang, dia hanya bisa mengikuti. Kemauan Raka, bahkan keinginan untuk sekolah pun sirna seketika.
“Oliv! Kenapa, kamu mau pergi dariku? Padahal, kita sudah berjanji?” tanya Raka pelan. Dia masih penasaran, hal apa yang bisa membuat gadis di sampingnya berubah pikiran.
“Karena, Om udah punya istri! Aku, gak mau jadi perusak rumah tangga, Om,” balas Cessi, tanpa melihat ke arah Raka.
Gadis itu, menyembunyikan air mata yang jatuh. Bagikan, air hujan yang sangat deras. Cessi teringang dengan apa yang diucapkan oleh Siska tadi.
‘Masih ABG, sudah menjadi pelakor!’
Kurang lebih, seperti itu yang Cessi ingat. Pada intinya, dia mengambil suami orang. Apalagi, usianya masih muda.
Raka mengerem mendadak, dia menarik tubuh Cessi. Agar bisa menghadap ke arahnya, walaupun gadis itu melakukan perlawanan.
“Oliv! Lihat aku!” bentak Raka dan membuat gadis itu dengan wajah sembamnya. Menatap kearah raka, mata mereka saling bertemu. Ada perasaan yang sulit diartikan, yang tengah Raka rasakan.
“Aku belum pernah menikah, Oliv! Kamu, bukan pelakor! Kamu adalah bintang di hatiku,” kata Raka dengan raut wajah serius.
“Bintang hati?” gumam Cessi.
“Iya, kamu adalah bintang hatiku. Dimana akan aku jaga dengan baik, didalam hati ini. Jangan pernah, dengarkan kata orang lain! Sebab, mereka hanya merasa iri padamu. Mereka tidak bisa memiliki, apa yang ada padamu,” terang Raka.
Cessi merasakan kehangatan, dari apa yang disampaikan oleh Raka. Tanpa dia sadari, malah memeluk Raka dengan erat. Seolah, merasa. Bahwa, Raka telah memberikan cahaya untuknya.
“Maafkan, aku, Bang. Aku hanya takut, jika menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain. Cukup dengan hubungan rumah tangga kedua orang tua angkatku,” terang Cessi. Dia merasa trauma yang mendalam, niat di hati mau menolong. Malah, menimbulkan masalah lain. Hal itu, membuat Cesi merasa sedih.
“Makanya, lain kali! Coba cari dulu kebenarannya, jangan asal kabur! Itu, tidak baik. coba kayak gini, kamu tanya dan pasti akan aku jawab. Bukannya, diam dan bertindak yang bukan-bukan,” jelas raka menasehati Cessi. Lalu, mengurai pelukan mereka. Dia menangkup wajah sembab gadis itu dengan kedua tangannya yang kekar.
Cessi mengangguk kecil, tanda mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Raka. walaupun, dia tidak bisa percaya seratus persen dengan apa yang disampaikan oleh Raka. Hingga, pemuda itu memberikan sebuah peringatan kepadanya dengan keras.
__ADS_1
“Kamu harus dihukum!”
“Apa? Dihukum?”