Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 58 Pertemuan Cinta Lama


__ADS_3

Bargon tidak benar-benar pergi, setelah di usir oleh Pak Burhan. Dia menunggu di area pakir dengan di temani oleh seorang supir, karena sang ibu yang akan marah. Jika, dia pergi sendirian. Apalagi, sampai mengendari kendaran dengan keadaan yang demikian.


“Den, berapa lama kita akan menunggu?”


“Sutt … diamlah, Pak!” desis Bargon, memperingatkan sang supir.


Cukup lama mereka berada di dalam mobil, hingga Bargon melihat mobil Raka yang keluar dari area pakiran apertemen. Senyum mengembang di wajah Bargon, dia tidak akan menyerah. Sampai, Cessi mau membantunya menyembuhkan Amara.


Mau bagaimanapun, Cessi ikut andil dalam keadaan Amara saat ini. Setelah mendengar penejlatsan dari dokter, jika Amara harus menerima syok terapi dari orang yang paling dibenci.


Bargon yang menerima informasi tersebut, tentu saja sudah tahu. Siapa orang yang saat ini dibenci oleh Amara. Jika, bukan Cessi sahabat baik mereka.


“Pak! Ikuti, monil itu!” tintah Bargon dan langsung dilaksakan oleh supir dengan patuh.


Mereka membututi mobil Raka, hingga mobil itu berheti disebuah restoran. Bargon hanya memerintahkan sang supir untuk merekam, apa saja yang mereka lakukan didalam.


Sedangkan dirinya, memilih untuk menunggu didalam mobil. Karena, keadaannya yang seperti ini. Membuat ruang gerak Bargon terbatas, dia juga tidak mau smapai ketahuan oleh Raka.


Cukup lama Bargon menunggu, sampai supirnya kembali masuk kedalam mobil. Dia juga melihat rombongan Raka yang juga kembali masuk kedalam mobil mereka.


“Bagaimana, Pak?” tanya Bargon penasaran.


“Ini, Den. Mereka hanya makan siang di dalam,” jelas sang supir.


“Ikuti, mereka!” tintah Bargon yang melihat mobil Raka mulai bergerak.


“Tapi, Den. Untuk apa kita mengikuti mereka?”


Pertanyaan dari sang supir, membuat Bargon menghardik lelaki itu, “Diamlah! jangan banyak tanya! lakukan sesuai perintahku!”


Sang supir yang mendengar hal itu, kembali diam dan mengikuti perintah dari Bargon. Hingga, mereka memasuki tempat perbelanjaan. Namun, kali ini. Bargon sendiri yang akan turun, karena dia merasa kesal dengan supirnya yang banyak tanya.


“Den Bargon, mau kemana?”


“Dima!” bentak Bargon kesal dan meninggalkan mobil dengan menyeret kakinya.


Bargon benar-benar kesal dengan supirnya itu, jika bukan karena perintah sang ibu. Dia tidak akan membawa lelaki itu dalam misi rahasianya.


“Dasar! Mood gue makin hancur,” gumam Bargon dan melihat Raka yang masuk kedalam sebuah tempat yang menjual pakaian wanita dan diikuti oleh Cessi serta wanita yang pernah Bargon temui sebelumnya.


Cukup lama, Bargon memperhatikan mereka dari balik dinding kaca. Sampai, rombongan itu keluar. Bargon agak kesulitan berjalan, tetapi masih dipaksakan olehnya. Hingga, hentakan tongkat yang menyentuh mamer terdengar agak nyaring.


Dengan susah–payah, Bargon mengikuti mereka dan akhirnya sampai ke area parkiran. Ketika, dia melihat Raka yang meninggalkan Cessi. Hal itu, merupakan kesempatan emas baginya.

__ADS_1


Dia mempercepat langkahnya dan menghampiri mobil tersebut, lalu mengetuk kaca mobil dengan pelan


Tok


Tok


"Cessi!" panggil Bargon dan tidak berapa lama. Gadis itu keluar dengan mata yang berkaca-kaca, seolah ada luka yang tersembunyi.


"Nak! Kenapa kamu keluar?" pekik Bik Indah dengan nada tinggi, terlebih dia melihat ada Bargon yang sebelumnya membuat masalah di apartemen.


"Maafkan aku, Gon. Tapi, pliss … lupakan gue," kata Cessi dengan suara yang bergetar.


Bargon menggelengkan kepalanya pelan, lalu menjelaskan. Jika, Cessi harus membantunya menyembuhkan Amara.


"Gue dah bilang! Kalau gue gak perduli lagi dengan hubungan, loe dengan Om-Om itu! Gue cuma ingin, elo banyu gue. Buat sembuhkan Amara!"


Setiap kata yang dikeluarkan oleh bibir Barton, dipenuhi oleh penekanan. Dia hanya ingin Cessi mengerti sedikit dengan keadaan sahabat mereka. Setidaknya, Bargon ingin agar gadis yang ada dihadapannya ini. Bisa mengenang, sedikit saja kebaikan yang telah Amara berikan.


"Aku gak bisa memutuskannya, Gon! Kamu harus tahu! Kalau, aku sudah menjadi istri orang! Dan aku … harus meminta izin terlebih dahulu, kepada suamiku," terang Cessi yang tidak berdaya.


"Aku mengizinkan–nya, jika … hanya untuk membantu Amara."


Semua mata tertuju kepada Raka yang datang tiba-tiba, suaminya Cessi itu sudah mendengar semua yang dikatakan oleh Bargon barusan.


Raka mendekati Cessi dan mengelus lembut puncak kepala sang istri, dan berkata, “Aku mengizinkanmu, untuk membantu Amara sembuh. Dia sahabatmu, bukan? Bagaimanapun, Amara telah banyak membantu.”


Bagikan cinta lama bersemi kembali, Cessi memeluk Raka dengan erat. Mengalirkan kasih sayang yang sebelumnya sempat tertahan, tetapi sekarang dia lepaskan dengan begitu saja.


Dewasa merupakan sebuah pilihan, dia tidak bisa diukur dari usia ataupun pendidikan seseorang. Melainkan, dari bagaimana orang tersebut menyelesaikan suatu masalah dan menemukan solusi terbaik.


Satu demi satu, masalah yang dihadapi oleh Cessi mulai terurai. Dia merasa sangat bahagia, karena Raka telah memberikan–nya izin untuk bisa berinteraksi lagi dengan Amara.


Kini, Cessi hanya perlu melunakan hati kedua orang tuanya Amara dan mendapatkan dukungan dari mereka. Tentu saja dengan dukungan Bargon.


“Den Bargon!”


Teriakan seseorang, membuat perhatian mereka teralihkan. Ternyata seorang lelaki yang setengah berlari dan menghampiri Bargon.


“Ada apa, PaK?” tanya Bargon kepada lelaki itu yang merupakan supir pribadinya.


“Nyonya besar! Beliau, meminta Den Bargon untuk pulang,” jelas lelaki itu dengan suara yang terengah-engah.


Bargon mencibir, dia paham sekali akan kekhawatiran sang ibu yang terkadang berlebihan. Sebelum berlalu, Bargon menatap kearah Cessi dan Raka.

__ADS_1


“Om, makasih. Telah memberikan izin kepada Cessi,” kata Bargon dengan tulus. Namun, disalah artikan oleh Raka.


“Aku melakukanya, untuk Amara! Bukan, kamu!” cibir Raka.


Bargon hanya bisa tersenyum kecut dan akhirnya berpamitan, karena tidak ingin membuat ibunya semangkin memikirkan diirnya yang tidak kunjung pulang.


Raka juga mengajak Cessi dan Bik Indah untuk segera pulang, karena masih ada satu masalah yang harus segera diselesaikan. Mereka berpisah dari Bargon dengan tujuan yang berbeda pula, Raka sempatkan diri untuk mampir ke supermarket. Guna membeli kebutuhan pokok lainnya dibantu oleh Bik Indah. Sedangkan Cessi hanya sibuk mengambil cemilan.


Menjadi istrinya Raka, membuat Cessi tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Untuk membeli apapun yang sedari dulu dia inginkan, tetapi belum bisa dibeli. Sebab, tidak memiliki uang yang banyak.


“Semuanya sudah selesai?” tanya Raka yang kini berada di depan mesin kasir. Dia ingin membayar belanjaan mereka.


“Sudah, Bang,” jawab Cessi dengan semangat yang membara.


Setelah membayar, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang. Lagi dan lagi, ketika melewati pos jaga. Dimana ada Pak Burhan, Bik Indah akan terpaku di tempat. Memperhatikan lelaki itu, sampai membuat Raka memiliki ide cemerlang. Dia menyapa Pak Burhan dengan ramah, sekalian meminta maaf. Sebab, sebelumnya telah membuat keributan.


“Pak Burhan,” panggil Raka dan membuat lelaki itu menatap ke arahnya. Hingga, berakhir kepada Bik Indah.


Bagikan, bunga yang pernah lalu dan kini kembali segar. Seperti itulah perasaan yang kini tengah Pak Burhan rasakan, pertemuan cinta lama yang indah dan pernah berbuah.


“Pak, saya minta maaf. Atas keributan tadi, jika … Bapak tidak keberatan? Saya ingin mengundang Bapak ke apartemen saya. Untuk makan malam, kebetulan Bibik saya. Ibunya Oliv datang untuk berkunjung,” jelas Raka panjang lebar.


“Apa boleh?” tanya lelaki itu dengan sedikit keraguan.


“Tentu saja, apalagi. Masakan, Bibik saya enak,” balas Raka seraya mengedipkan matanya ke arah Bik Indah dan di balas dengan anggukan kepala.


Setelah mengucapkan hal itu, Raka pun memilih untuk pamit. Dia yakin, bisa membuat Pak Burhan kembali mengingat kenangan masa lalunya dengan Bik Indah.


“Abang punya siasat, apa sih?” tanya Cessi penasar. Ketika mereka telah berada di dalam apartemen.


Namun, pertanyaan tersebut tidak digubris sama sekali oleh Raka. Dia malahan berpesan kepada Bik Indah. Untuk memasakkan sesuatu yang spesial.


“Bu, jangan lupa. Masakan sesuatu yang spesial! Dimana, tamu kita juga seseorang yang spesial.”


Setelah mengatakan hal itu, Raka berlalu. Cessi yang masih penasaran menyusul sang suami, sampai masuk ke dalam kamar dan mengulangi pertanyaan yang sama.


“Bang! Siasat apa yang, Abang lakukan sih?”


Raka hanya menatap sekilas kearah istrinya dan mulai melepaskan pakaiannya, dia merasa gerah dan ingin mandi.


“Abang!” pekik Cessi yang melihat kelakuan nyeleneh sang suami.


“Apa?” tanya Raka dengan raut wajah polos.

__ADS_1


“Dasar mesum!”


__ADS_2