Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 54 Informasi


__ADS_3

Cukup lama Cessi menutup matanya dan terdiam, hingga dia memberanikan diri. Untuk membuka perlahan kelopak matanya dan menatap Raka yang juga membalas tatapannya.


Mata mereka saling mengunci, satu sama lain. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, terdengar kecapan aneh yang mengisi seluruh ruangan tersebut.


“Hey! apa yang kalian lakukan!”


Deg


Jantung Raka dan Cessi seakan ingin loncat keluar dari tempatnya dan melihat, ke arah asal suara tersebut. Wajah pasangan suami-istri itu menjadi pias seketika.


"Kami—"


“Apa?”


Raka dan Cessi yang dibentak oleh Rumini hanya bisa menelan silvernya kasar. Hingga wanita itu berada di depan mereka dan berkacak pinggang.


“Kalian memang nakal, ya?” tanyanya.


“Ayolah, Bu. Kami suami–istri yang sah,” terang Raka.


Rumini hanya memutar bola matanya malas, dia yang ingin memastikan informasi yang diterima benar dan menyampaikannya kepada Raka. Malah, mendapati adegan yang membuatnya meringis.


Walaupun, Raka dan Cessi adalah pasangan suami-istri yang sah. Namun, mengingat ada hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu.


Membuatnya, merasa syok dan ingin marah. Tetapi, mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi, kini dia menatap tajam kearah Raka.


“Awas kamu! Kalau, Oliv hamil? Maka, kamu harus bertanggung jawab!” kecamnya dan berbalik badan, menuju ke ruangan tamu. Disusul oleh Raka, sedangkan Cessi masih mematung di tempatnya.


“Emangnya, Abang Raka akan meninggalkanku? Kalau, hamil,” batin Cessi bertanya-tanya di dalam hati.


Sedangkan, Rumini tengah duduk dengan santai. Sambil menyilangkan kakinya, dia melihat Raka yang membuntutinya.


“Raka! Kamu bukan lagi, anak kecil? Tolong, dewasakan dirimu,” katanya dengan sorot mata yang seolah bisa menguliti Raka hidup-hidup.


Raka memilih duduk disamping wanita itu, terkadang dia jengah sendiri dengan sikap posesifnya sang ibu.

__ADS_1


“Iya, Ibu. Aku paham,” jawab Raka pelan. Kemudian menanyakan, penyebab sang ibu yang menemuinya sampai ke apartemen.


Rumini merasa tersinggung dengan apa yang ditanyakan oleh Raka, “Jadi, Ibu gak boleh menemuimu di sini? Atau … kamu memang sudah berniat akan melakukan hal itu. Hanya saja, ada Ibu?”


Raka menggelengkan kepalanya cepat, dirinya menjadi serba–salah. Jika, sang ibu telah merajuk. Seolah, apapun yang akan dia katakan. Tidak akan pernah dibenarkan oleh wanita itu.


Hingga, Cessi datang dengan membawa nampan berisi minuman dan menghidangkannya kepada Rumini.


“Minum dulu, Bu,” cicit Cessi yang merasa takut dengan tatapan Rumini yang sangat mengerikan menurutnya.


Wanita itu pun menghisap, teh buatan Cessi dan menampakan wajah yang sangat serius. Dia menatap Raka dan Cessi bergantian, lalu membuang nafas panjang.


“Ibu gak yakin, jika ini hal yang bagus buat kalian! Tapi … Ibu mendapatkan informasi dari sumber terpercaya, jika—”


Rumini menyeda ucapannya, dia merasa agak sesak di dada. Seolah, pasokan oksigen di dalam paru-parunya. Terasa mau habis, membuatnya mengatur pernafasannya dengan pelan. Lalu, melanjutkan ucapannya yang belum selesai.


Sedangkan, Cessi dan Raka menunggu dengan perasaan gusar. Hingga, keringat membasahi dahi keduannya.


“Jika, Bik Indah memang pernah melahirkan seorang putri. Informasi ini, Ibu dapat dari agen penyalur tenaga kerja. Dimana, Kakek dan nenekmu. Mengambil Bik Indah.”


Bik Indah memang bekerja sangat lama dengan keluarga mereka, sejak kakek dan nenek Raka masih hidup dulu.


“Aku sudah tahu, Bu. Bahkan, hasil tes DNA juga telah memperkuat semuanya,” jelas Raa yang seolah tidak terkejut dengan apa yang disampaikan oleh sang ibu.


Namun, ada senyum aneh yang tergambar di wajah Rumini. Dia kembali berkata, “Bukan hanya itu saja, Ibu sudah tahu. Siapa, Pak Burhan.”


Kali ini, Raka baru tertarik dengan apa yang ingin disampaikan oleh ibunya. Karena, Raka tidak perlu capek-capek lagi.


“Siapa, Bu?” cicit Cessi yang penasaran, tetapi merasa segan dengan ibu mertuanya tersebut.


“Dia sekuriti di sini, sama yang dikatakan olehmu sebelumnya. Ibu sudah mendapatkan informasi yang akurat tentang riwayat hidup Pak Burhan,” terang Rumini dengan senyuman penuh kemenangan.


Jaringan dan Chanel, seorang the power of emak-emak. Memang tidak bisa diragukan lagi, hanya dalam sekejap. Rumini bisa mendapatkan semua informasi dengan cepat dan akurat.


“Apa, Ibu yakin?” tanya Raka sedikit ragu. Karena, dia hanya tahu. Jika, ibunya hanya tukang gosip dan suka main arisan bersama dengan ibu-ibu komplek saja.

__ADS_1


Rumini mencibir putranya dengan sinis, lalu mengeluarkan sebuah map berwarna coklat. Dimana informasi yang telah dikumpulkan, berada di dalam–nya.


“Ambil, nih!” tintah Rumini.


Raka mengambil map tersebut dan membaca, dokumen yang ada di sana. Senyum merkah, seperti cerahnya matahari. Nampak di wajah tampan Raka, dia memasukan lagi dokumen tersebut.


Kini tinggal, memikirkan cara. Bagaimana, Pak Burhan mau mengakui semua kejadian di masa lalu. Hal itu, yang membuat Raka membuang nafas berat.


“Ada apa, lagi?” tanya Rumini yang melihat beban di wajah putranya.


Raka menjelaskan, jika tidak akan mudah. Membuat Pak Burhan mengakui semua yang pernah terjadi masa lalu, apalagi Raka tadi sudah mencoba memancing lelaki itu. Namun, terlihat dengan jelas. Kalau, Pak Burhan menghindari pembicaraannya tentang Bik Indah.


“Kenapa, kita tidak meminta bantuan Bik Indah, saja?” celetus Cessi memberikan masukan.


“Kenapa, aku tidak memikirkan hal itu!” pekik Raka dengan menjentikan jarinya. Tentu saja, Pak Burhan akan mau mengakui semuanya. Jika, Bik Indah yang meminta. Kalau, masih ada rasa diantara mereka.


“Terus, kamu harus menjemput Bik Indah dan membawanya kesini?” tanya Rumini yang ingin tahu. Rencana Raka selanjutnya.


Raka hanya tersenyum, tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan dari ibunya itu dan berpamitan. Dengan alasan, jika ada pekerjaan yang harus dilakukan.


Tentu saja, Rumini tidak membiarkan Raka pergi dengan semudah itu. Karena, dia tahu. Jika, putranya selalu suka melakukan hal yang diluar nalar Manusia.


“Katakan! Apa yang mau, kamu lakukan, Raka!” pekik Rumini dengan wajah yang tidak bersahabat.


“Ayolah, Bu. Aku hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi,” terang Raka dengan mata jengah.


“Ajak, Oliv!” tintah Rumini.


Raka semakin jengah, mana bisa dia mengajak Cessi. Sedangkan, dia ingin meninggal istrinya. Karena, Raka yang suka melakukan apapun sendirian.


Namun, kali ini berbeda. Sebab, Raka telah memiliki seorang istri. Terlebih, Rumini ingin putranya bisa bertanggung jawab penuh kepada Cessi. Bukan hanya dari segi memberi nafkah, tetap dalam mendidik dan menjadikan istrinya. Sebagai partner hidup dengan sebaik mungkin.


“Kamu akan memerlukan bantuannya, nanti,” tambah Rumini yang melihat dengan jelas penolakan Raka.


Dengan raut wajah malas, dia menganggukan kepalanya pelan dan berpamitan dengan Rumini. Meninggalkan wanita itu sendirian di apartemennya, karena mereka pergi tidak akan lama.

__ADS_1


Selama di perjalanan, Cessi yang sedari tadi diam. akhirnya tidak bisa menahan diri lagi dan bertanya, “Bang, kita akan menjemput Bik Indah, kan?”


“Sudah tau, malah nanya!” balas Raka dengan acuh tak acuh. Tanpa, dia sadari. Jika, apa yang dikatakannya. Membuat sang istri tersinggung, dengan tangan yang mengempal kuat. Cessi membatin, “Aku tidak akan pernah tinggal diam lagi, nanti. Tunggu, tanggal mainnya.”


__ADS_2