Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 27 Kehilangan


__ADS_3

Kenangan yang sangat mengerikan itu, berputar. Seperti, film di bioskop. Membuat nafas Raka tiba-tiba saja, terasa sesak.


Bik Indah segera memegang tubuh Raka, takut akan hal yang buruk terjadi. Dengan perasaan cemas, wanita itu. Meminta, Raka untuk menahan diri.


“Tahan, Den. Jangan marah, sabar,” kata Bik Indah pelan.


“Sabar? Cih! Aku sudah terlalu lama bersabar, Bik! Dan, apa yang aku dapatkan? Hanya sebuah rasa sakit yang tidak pernah habis!”


Raka meluapkan emosinya, dan hal itu. Menambah, dirinya yang semakin kesulitan untuk bernafas


Cessi yang tidak mengetahui, apapun tentang masa lalu. Bahkan, kenangan buruk yang pernah Raka lalu. Dengan gampangnya, dia berbicara.


“Itu semua, karena karma Abang. Sendiri! Jadi, orang yang tidak pernah baik!” teriak Cessi Yang ikut meluapkan perasaan dan argumennya.


“Hentikan, Non Oliv! kamu tidak tahu apapun!” teriak Bil Indah.


“Aku—”


Bibir Cessi seolah terkunci, dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Tiba-tiba saja, Raka jatuh dan tidak sadarkan diri. Membuat Bik Indah panik seketika dan berteriak.


"Den Raka!"


Tubuh Raka tumbang seketika, Cessi yang melihat hal tersebut. Langsung membantu Bik Indah mengangkat tubuh Raka, lalu meletakkannya di atas ranjang.


“Jaga Den Raka dulu, Bibik mau ambilkan minyak kayu putih!” perintah Bik Indah dan berlalu.


Cessi sangat menyesal, dia tidak menyangka jika Raka sampai seperti ini. Bahkan, Cessi menduga-duga. Jika, Raka sangat mencintai wanita yang bernama Suci tersebut.


Hingga, keadaannya sampai seperti ini. Tidak berapa lama, Bik Indah pun kembali datang. Wanita itu mengarahkan minyak kayu putih ke arah hidung Raka dan mengusapkan dibagian kepala.


“Ugh,” gumam Raka. Kepalanya terasa sangat pusing, tetapi matanya sangat sulit untuk terbuka.


“Den, Den Raka,” panggil Bik Indah dengan perasaan yang sangat cemas.


Sedangkan Cessi hanya diam, memperhatikan. Sampai, Raka menyebut nama sang kekasih dan menggenggam tangan Cessi yang berada didekatnya.


“Ci, jangan tinggalkan aku,” gumam Raka dengan suara yang pelan.


Sontak saja Cessi menarik tangan–nya, hal itu. Membuat Raka kembali bergumam dengan sedih.


“kamu kenapa, Ci? aku rindu padamu?”


Kesadaran Raka masih belum, kembali. Dia mengira Cessi adalah Suci sang kekasih yang telah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Hingga, Bik Indah menyadarkan Raka. Bahwa, yang ada didekatnya itu adalah Cessi. Bukan Suci.


“Den, in i Non Oliv! bukan Non Suci.”


“Hah?”


Raka pun membuka matanya, agar bisa melihat dengan gadis yang duduk di dekatnya itu. Tatapan sendu Raka, membuat hati Cessi bergetar.


“Oliv?” kata Raka dengan nada pelan.


Cessi yang merasa kasihan dengan keadaan Raka, kemudian meraih tangan pemuda itu dan menggenggamnya erat.


“Bang,” panggil Cessi.


Namun, Raka menepis tangan Cessi dengan kasar. Lalu, meminta gadis itu untuk meninggalkannya sendirian.


“Pergi!” perintah Raka.


Dia membalikan tubuhnya, seolah tidak mau melihat kearah Cessi. Raka menyembunyikan perasaan kehilangan yang amat dalam, hingga air matanya menetes tanpa henti.


“Ayo, Non,” ajak Bik Indah. Seraya menarik tangan Cessi pelan.


Mereka berdua meninggalkan Raka seorang diri, sampai diluar. Cessi bertanya kepada Bik Indah tentang, siapa Suci.


“Bik, siapa Suci sebenarnya?” tanya Cessi penasaran.


Hingga, mereka memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi olrh banyak sekali buku. Bik Indah mengambil sebuah album foto yang berukuran besar.


Cessi yang baru saja pertama kalinya memasuki ruangan tersebut, dibuat takjub dengan dekor dalam ruang itu.


“Ayo, duduk sini, Non,” pinta Bik Indah seraya menepuk kursi yang berada di sampingnya.


Cessi pun segera duduk dan menatap wanita itu dengan perasaan yang sangat penasaran.


“Non, inilah Non Suci. Dia adaalh kekasih Den Raka,” jelas Bik Indah. Seraya menunjuk sebuah foto seorang gadis yang berkulit sawo matang dengan lesung di pipinya.


“Cantik,” gumam Cesi pelan dan masih bisa didengar oleh Bik Indah.


“Tapi, tidak dengan hatinya,” terang Bik Indah.


Cessi langsung menatap wanita itu, dia menjadi penasaran dengan kata yang baru saja Bik Indah katakan barusan.


“Kenapa, Bik?” tanya Cessi penasaran.

__ADS_1


Kemudian, Bik Indah dan menjelaskan tentang Suci. Kekasih Raka yang dulu sering sekali datang ke rumah itu, namun tanpa ada kejelasan.


Suci pergi begitu saja, seperti ditelan bumi. Gadis itu, menghilang. Bahkan, Raka sudah mencarinya kemana-mana.


Namun, tidak bisa menemukan keberadaan Suci, hingga hari ini. Hal tersebut membuat Raka menjadi berubah, kehilangan Suci. Sang kekasih.


Cessi yang mendengarkan apa yang disampaikan oleh BIk Indah menjadi geram, jika dia bisa bertemu dengan gadis yang bernama Suci itu. Maka, dia kan membuat perhitungan dan akan membuat gadis itu menyesal.


“Bibik, merasa senang. Kamu ada disini, setidaknya. Bibik bisa melihat Den Raka tersenyum,” terang Bik Indah kemudian.


“Maksudnya, Bik?” tanya Cessi yang belum mengerti dengan apa yang disampaikan oleh wanita itu.


“Kamu, memang bukan Non Suci. Bahkan, sanggat berbeda. Namun, kamu bisa membuat Den Raka tersenyum,” jelas Bik Indah dan mengusap pucuk kepala Cessi dengan penuh kasih–sayang.


BIk Indah, seolah sangat dekat dengan Cessi. Entah mengapa, dia merasakan sebuah perasaan yang aneh menyeruak begitu saja.


Seperti, Cessi adalah anaknya sendiri. Namun segera dia tepis perasaannya itu, karena putrinya telah tiada dan Bik Indah tidak ingin mengingat kejadian dimasa lalu.


Kenangan yang sangat buruk dan membuatnya, bersembunyi hingga saat ini dari dunia luar. Serta mengabdikan diri kepada keluarga Raka yang telah banyak memvbantunya selaam ini.


“Bik, kenapa Abang Raka sangat arah, tyadi?’ tanya Cessi dengan raut wajah polos. Dia masih tidak menegrti, mengapa Raka berubah dengan dratis.


“Itu—”


Bik Indah ragu untuk meneruskan ucapnya, dia teringat akan penyakit paru-paru yang selama ini Raka derita.


Pemuda itu, akan kesulitan untuk bernafas. Jika, berada dalam keadaan yang tertekan. Hal itu sudah terjadi beberapa tahun, ketika Bik Indah datang dalam keluarga tersebut.


Bik Indah juga tidak mengetahui, apa penyebabnya. Namun, dia selalu berusaha, berada di samping Raka. Ketika, pemuda itu memerlukan bantuannya.


“Bik,” panggil Cessi pelan. Sebab, sadari tadi wanita itu hanya diam saja. Tanpa menjawab pertanyaan darinya.


“Eh, Non. Bibik melamun, tadi,” kata Bik Indah.


Kemudian mengalihkan pembicaraan, dengan bertanya tentang keadaan keluarga Cessi,


“Oh, iya Non. Emangnya, orang tuanya tidak mencari-cari keberadaan, Non?” tanya Bik Indah.


Cessi menggigit bibir bawahnya, dia bingung akan hal itu. Gadis itu, juga menanyakan hal yang sama dalam benaknya.


Kenapa, kedua orang tuanya tidak mencarinya. Hingga, hari ini. Bahkan, sudah hari ketiga. Dari kepergiannya.


Didalam, hati kecil Cessi dia sangat merasa sedih. Karena, seolah dirinya sudah, tidak peduli lagi oleh kedua orangtuanya sendiri.

__ADS_1


“Non,” panggil Bik Indah pelan. Namun, gadis itu malah menangis.


“Aku gak punya orang tua, Bik!”


__ADS_2