Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 13 Bertemu Tanpa Sengaja


__ADS_3

Ketika Cessi yang telah pergi ke alam mimpi, ada seseorang yang merasa hampa. Seraya menatap layar monitor yang membuat matanya tidak bisa berkedip-kedip.


Pemuda itu adalah Raka, setelah Cessi memutuskan panggilan teleponnya. Hal itu membuat Raka merasa hampa, ternyata berinteraksi dengan gadis itu. Membuat Raja merasakan gairah hidup, tetapi merasa sakit. Jika, diabaikan oleh Cessi.


"Apa aku tidak memasang CCTV di kamar mandi, ya? Aku takut dia kenapa-kenapa di dalam sana, nanti."


Raka menepuk dahinya, dia tidak memasang CCTV di dalam kamar mandi apartemennya. Karena, menuet Raka tidak etis. Namun, setelah Cessi menempati apartemennya itu. Membuat Raka ingin sekali melihat aktivitas gadis tersebut di dalam sana, dengan dalih. Takut, Cessi kenapa-kenapa.


Wajar saja, jika Cessi menyematkan kata mesum untuk Raka. Ternyata pemuda itu memang memiliki pikiran yang tidak bersih, tetapi ditutupi dengan apik dengan peran yang sangat bagus.


Saking asiknya, Raka memandangi Cessi yang tengah tidur dengan nyaman. Suara ketukan pintu kamarnya, membuat Raka membuang nafas panjang. Kemudian, disusul oleh panggilan sang ibu.


“Raka!” teriak Ibu Rumini dan beberapa ketukan yang berubah menjadi degoran yang nyaring.


Dengan langkah gontai, raka menutup layar monitornya dan menuju ke pintu. Lalu, membuka pintu kamarnya dengan malas. Hingga, wajah garang sang ibu yang telah melahirkannya di dunia. Menyambut Raka dengan tidak bersahabat, walaupun Raka tahu. Apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.


“Raka! Kamu gak lupa ‘kan? Apa yang Ibu pinta?” tanya Ibu Rumini dengan berkacak pinggang. Di depan sang putra semata wayangnya itu.


Sudah kesekian kalinya, Rumini mendesak Raka untuk segera menikah. Karena, merasa malu dengan teman-temannya yang lain. Dimana mereka telah memiliki menantu dan cucu.


Sedangkan, Rumini tidak. Padahal, dia memiliki putra yang mapan dan tampan. Banyak gadis dan teman Rusmini yang ingin menjodohkan putri mereka dengan Raka.


Namun, putranya itu menolak dan sering melakukan hal yang tidak bisa diterima olehnya. Mulai dari mangkir, ketika Rusmini membuat janji pertemuan. Atau melakukan hal konyol yang membuatnya merasa malu. Serta banyak lagi lainnya, menambah kesan yang tidak baik.


“Bu, Raka bukan anak kecil lagi. Pliss … jangan seperti ini,” pinta Raka memohon. Untung sang ayah pergi keluar kota, karena ada urusan pekerjaan. Tidak bisa Raka bayangkan. Jika, lelaki paruh baya itu ikut mencerca pertanyaan yang sama kepadanya.


Hal ini yang membuat Raka memilih untuk tinggal terpisah dari ketika orang tuanya, walaupun ia adalah anak tunggal.


“Kamu, memang. Bukan anak kecil! Tapi … bisa membuat anak kecil!”

__ADS_1


Sungguh sedap mulut sang Ibu, membuat Raka merasa jengah. Andaikan saja, sang ibu tahu. Jika, dirinya tengah menyembunyikan seorang gadis apartemennya. Maka, sudah dipastikan. Dia akan dinikahkan oleh wanita itu, ibunya Raka memang sangat posesif.


Kadang, Raka merasa jika bukan anak kandung wanita itu. Sebab, selalu dituntut dengan banyak hal.


“Raka!” teriak Rusmini yang melihat putranya hanya diam saja sedari tadi.


“Bu, Raka belum menikah, karena mencari calon istri yang baik. Ibu juga mau menantu yang menurut pada Ibu, bukan?” tanya Raka pelan. Membuat sang ibu, seolah memikirkan apa yang dikatakan olehnya.


Raka tersenyum penuh arti, dia sudah membayangkan. Jika, bisa menikahi Cessi dan membuat gadis itu menjadi menantu ibunya. Pasti setiap hati, ibunya akan tekanan dan kena serangan jantung.


Sebab, Cessi bukan gadis sembarangan yang bisa ditaklukan dengan mudah, Raka tahu akan itu.


“Terserah, kamu! Tapi ingat? Ibu mau kamu cepat menemukan menantu untuk Ibu!”


Rusmini menekankan setiap kata yang diucapkannya dan kemudian memilih berlalu meninggalkan putranya yang masih berdiri dimbang pintu kamarnya.


Rusmini hanya menginginkan seorang menantu dan melihat putranya ada yang mengurusi. Setidaknya, Raka tidak seperti sekarang, Tidak terurus dan merasa kesepian.


Pemuda itu menuju ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman. Dia kembali membayangkan Cessi, pertemuan yang tidak disengaja. Padahal dia, memang mencari gadis itu dan mengikutinya.


Membuat Raka sulit untuk memejamkan matanya, tanpa Raka sadari. Jika, dirinya telah jatuh cinta kepada Cessi. Namun, masih pemuda itu pungkiri, Sebab, raka hanya merasa tertarik dengan Cessi yang membuat hidupnya penuh akaan warna.


“Aku harus bekerja, besok! Ayo, Raka! Tidur!”


Raka menghardik dirinya sendiri, dan memejamkan matanya. Karena, esok. Dirinya harus kembali kepada pekerjaan yang memerlukan tenaga dan pikiran yang ekstra. Terlebih,m Raka harus membersihkan video yang telah terlanjur tersebut. Karena, ulah Amara dan Cessi.


“Banyak yang harus aku selesaikan besok,” batin Raka. Seraya memejamkan matanya, menuju ke alam mimpi.


**********************************************************

__ADS_1


Matahari mulai menampakkan cahayanya, menerpa bumi yang indah. Senyum terus mengembang di wajah gadis yang kini tengah mengenakan baju putih–abu–abunya.


Memutar tubuhnya, yang ramping dan bersiap untuk ke sekolah. Gadis itu adalah Cessioliv, dengan semangat yang membara dan niat di dalam hati. Jika, ia harus berjuang dan menyelesaikan pendidikannya. Demi menggapai cita-cita yang setinggi langit.


Dengan langkah pasti, Cessi keluar dari apartemen Raka dan menuju basecamp. Dimana, dia memarkirkan motor kesayangannya.


Namun, baru saja Cessi keluar dari lift. Dia tidak sengaja, bertemu dengan petugas keamanan. Membuat perasaan Cessi merasa getir, karena dia belum melapor dari semalam dan langsung masuk ke apartemen.


Cessi pun, pura-pura tidak ,elihat petugas keamanan yang bertubuh gempal dan berjalan dengan santai. Seolah tidak terjadi apapun, namun sayang. Lelaki itu, menghentikan langkah Cessi.


“Hey, Non! Kamu, warga baru, ya?”


Cessi masih ragu untuk memutar tubuhnya, sampai lelaki itu. Benar-benar, menghampirinya. Pertemuan yang tidak disengaja ini, membuat Cesi hanya cengengesan.


“Saya berbicara dengan kamu, Non!” terang lelaki itu.


“Maaf, Pak. Saya takut terlambat ke sekolah,” jelas Cessi yang ingin kabur. Namun, tangannya telah dicekal oleh lelaki itu.


“Tunggu, dulu,” kata Pak Burhan. Seorang sekuriti yang menjaga apartemen disana, dia yang melihat Cessi untuk pertama kalinya. Membuat perasaan lelaki itu menjadi aneh dan ingin mengetahui, siapa gadis itu.


“Kamu warga baru?” tanya Pak Burhan lagi. Sebab, melihat gadis di depannya hanya diam saja.


“Iya, Pak. Saya penghuni, kamar 15. Lantai 5,” jelas Cessi jujur. Memberikan alamat apartemen yang ditempatinya, Cessi merasakan hal aneh. Ketika, berhadapan dengan lelaki yang kini menatapnya dengan nanar itu.


Seolah, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Menyeruak begitu saja, tetapi Cesssi tidak mengetahui apa itu.


Pak Burhan mengerutkan dahinya, kemudian kembali bertanya, “ Bukankah, itu kamar Nak Raka?”


Wajah Cessi berubah pias, mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Mulutnya tiba-tiba saja menjadi kelu. Entah bagaimana dia bisa menjelaskan ini semua.

__ADS_1


“itu—”


“Oliv!---”


__ADS_2