Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 50 Masa SMA


__ADS_3

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang tengah mencari jati diri, dengan alasan itulah terkadang kaum muda terjerumus dalam hal-hal yang salah.


Banyak yang mengatakan, jika masa SMA merupakan masa dimana tidak akan pernah terulang kembali.


Namun, jika kita berfikir secara logika. Semua masa tidak akan pernah bisa diulang, karena waktu terus berjalan maju. Tidak akan pernah bisa berjalan mundur, apalagi kembali kemasa yang telah berlalu.


Semuanya tergantung pada diri masing-masing, bagaimana cara menyikapi hidup ini. Ayo nikah merupakan sebuah ajakan, dimana menolak untuk berpacaran dan menuju ke fase serius.


Tidak semua anak muda bisa menerima tantangan ini, dengan alasan masih ingin menikmati masa muda dan bersenang-senang.


Terkadang membuat sebuah penyesalan, sama seperti yang dilakukan oleh Bik Indah. Dimana masa mudanya, dia hamil diluar nikah dengan sang kekasih.


Siapa yang menanggung rasa sakit, jika bukan kaum wanita. Padahal, wanita merupakan tempat pertama di mana cikal–bakal Manusia baru.


Hal itu tidak bisa dipungkiri, akan tetapi yang terjadi ditengah masyarakat. Wanita dijadikan makhluk yang paling lemah dan tidak berdaya.


Sering menerima kekerasan, baik secara mental maupun fisik. Membuat seorang wanita bisa dengan teganya, melakukan hal yang keji.


Peran orang tua dan keluarga, sanagt epnting dalam menemanimasa remaja ini. Masa yang sering disebut, masa putih–abu–abu.


Sama seperti Cessioliv, setelah menemui ibu mertuanya. Gadis itu merasakan, masa remajanya dirampas oleh Raka.


Dia tidak bisa kemana-mana, hanya boleh di rumah. Bahkan, untuk menemui sahabatnya sekalipun. Cessi dikawal dengan ketat oleh suaminya, serta harus melakukan penyamaran. Agar tidak ada yang bisa mengenali dirinya.


“Bang, apa perlu sampai seperti ini?” tanya Cessi yang merasa gerah dengan pakaian yang dikenakannya. Rumini berikan sweater tebal dan celana kulot, serta masker. Untuk menutupi wajah Cessi.


“Harus! Apalagi, kita akan menyelidiki. Pak Burhan, seperti yang kamu jelaskan tadi,” terang Raka dengan menggandeng tangan istrinya.


Rencana awal, mereka pergi menemui Amara. Kemudian, pergi ke apartemen. Untuk mengintai, Pak Burhan yang bekerja sebagai petugas keamanan disana.


Kini pasangan suami–istri itu telah, berada di rumah sakit jiwa. Dimana, Amara dirawat. Cessi benar-benar tidak menyangka sama sekali, jika sahabatnya mengalami musibah seperti ini.


Masa SMA yang mereka berlalu bersama, membuat hati Cessi merasa teriris. Disaat mendengar berita tentang Amara yang mengalami depresi, padahal mereka sangat dekat. Seperti saudara sendiri, hanya beberapa waktu ini. Keduanya terpisah dan tidak saling berhubungan.


“Ayo, kesini,” ajak Raka menarik pelan istrinya. Kini mereka berada disebuah lorong panjang, Raka memperhatikan setiap nama yang tertera di atas pintu yang mereka lewati.


“Abang cari apa?” tanya Cessi merasa bingung dengan tingkah suaminya.


“Mencari kamar Amara ‘lah! Kamu pikir apa?” balas Raka kesal. hingga, kakinya berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan nama bunga melati.


“Ayo, masuk,” ajak Raka dan membuka kanopi pintu tersebut.

__ADS_1


Hati Cessi berdebar-debar, sama seperti halnya ketika mereka masuk kedalam ruangan Bargon kemarin dan dipergoki oleh ibu Sulis.


Cessi khawatir, hal serupa terjadi lagi. Terlebih, Sarah. Ibunya Amara memang tidak mengizinkannya berteman atau bertemu lagi dengan anaknya.


Wajah kekhawatiran–nya kini berubah menjadi sendu, ketika melihat Amara yang tengah terbaring diatas bangkar rumah sakit dengan keadaan yang diikat.


Mata gadis itu terus saja berputar tidak menentu, seolah melihat sesuatu. Namun, dalam keadaan diam.


“Kamu jangan berbicara! Cukup lihat Amara dari sini, karena … dia bisa mengamuk!”


Mata Cessi terbelalak, mendengar apa yang disampaikan oleh suaminya. Karena, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Cessi memilih mengajak sang suami untuk pergi menemui Pak Burhan dan meninggalkan Amara.


Tidak bisa gadis itu pungkiri, jika keadaan Amara sekarang. Bisa saja, membuatnya kehilangan kendali dan menghampiri sahabatnya itu.


“Kita keluar, yuk Bang. aku gak sanggup melihat Mara seperti ini,” terang Cessi.


Raka hanya mengangguk kecil dan menarik pelan tangan istrinya, mereka keluar dari kamar Amara dan menuju ke luar rumah sakit.


Ketika, berada di dalam mobil. Cessi hanya diam, pandangannya lurus ke arah luar jendela mobil. Raka sangat paham dengan keadaan istrinya saat ini, usia belia memang tidak mudah untuk ditaklukan.


Selama di perjalanan, mereka hanya larut dengan pemikiran masing-masing. Sampai mobil yang mereka tumpangi, telah memasuki area apartemen.


“Oliv! Kamu yakin, jika Pak Burhan yang dimaksud oleh Bik Indah dia?” tanya Raka seraya menunjuk seorang lelaki yang mengenakan pakaian security.


Ada keraguan memang di dalam hati mereka, tetapi yang namanya ikatan batin. Tidak bisa dibohongi.


Raka segera memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri Pak Burhan bersama Cessi. Mereka berdua menyapa lelaki itu seperti biasanya. Seolah, tidak terjadi apapun.


“Siang, Pak,” sapa Raka dan membuat lelaki itu terkejut melihat kedatangannya.


“Siang Nak Raka, eh … keponakannya juga ikut?” balas lelaki itu dan menatap ke arah Cessi.


“Gak, sekolah, Non?” tambahnya lagi.


Apa yang ditanyakan oleh lelaki itu membuat Cessi merasa tidak nyaman, dia mencekam erat tangan suaminya.


“Oliv sudah tidak bersekolah lagi, Pak,” jawab Raka dengan dingin. Dia tidak suka, dengan lelaki yang ada di hadapannya ini. Karena, telah menyinggung perasaan istrinya.


Sedangkan Pak Burhan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu mengalihkan pembicaraan.


“Nak Raka ada keperluan sama Bapak?” tanyanya.

__ADS_1


Raka hanya menganggukkan kepalanya pelan dan meminta lelaki itu mengikutinya, menuju ke dalam apartemen miliknya.


Pak Burhan hanya mengikuti, apa yang diperintahkan oleh Raka, tanpa bertanya apapun. Hingga, mereka bertiga telah berada di dalam apartemen.


Raka meminta Pak Burhan untuk duduk dan meminta sang istri membuatkan minuman untuk mereka.


“Silahkan duduk, Pak. Oh iya, Oliv. Bisa buatkan kami minuman?”


Cessi menganggukan kepalanya pelan dan berlalu, sedangkan Pak Burhan merasa tidak nyaman.


“Jadi, merepotkan, Nak.”


“Gak ‘ko, Pak. Tamu ‘kan adalah raja,” balas Raka.


“Saya takjub dengan Nak Raka, usia muda. Tapi, pikirannya telah dewasa,” puji Pak Burhan. Namun, tidak berkesan apapun kepada Raka.


Raka yang melihat keadaan yang sudah dirasa aman, mulai mengintrogasi lelaki yang duduk di hadapannya tersebut.


“Kabar Bapak baik?” tanya Raka sekedar basa-basi.


“Alhamdulillah, baik, Nak,” balas Pak Burhan dengan raut wajah gusar.


“Bapak lulusan apa?”


Pertanyaan dari Raka itu, membuatnya semakin merasa tidak tenang.


“SMA saja, Nak,” jawab Pak Burhan pelan.


“Sudah lama bekerja disini?” tambah Raka lagi.


“Baru beberapa tahun, Nak. Maaf … ini ada apa ya?” tanya Burhan yang merasa ada kejanggalan.


“Tidak apa-apa! Saya hanya ingin bertanya-tanya tentang pekerjaan Bapak, untuk berita,” jelas raka dengan masuk akal. Karena, Pak Burhan mengetahui. Jika, Raka seorang reporter.


“Oh, coba bilang dari tadi!” balas Burhan bernafas lega. Hingga, Cessi datang dengan nampan berisi air minum.


Pak Burhan memperhatikan Cessi tanpa berkedip sama sekali, sampai Raka berdehem.


“Ehem … ada apa, Pak?” tanya Raka yang mulai melihat gelagat tidak biasa dari lelaki itu.


“Ah … bukan apa-apa, Nak. Cuma keponakannya mirip dengan seseorang yang Bapak kenal. Waktu masih SMA dulu,” jawabnya jujur.

__ADS_1


“Apa namanya, Indah?” tanya Raka langsung pada inti pembicaraan mereka.


__ADS_2