
Kemudian, wanita itu menjelaskan. Jika, bisa menerima Cessi dengan baik. Apalagi, dia juga sangat tertarik dengan gadis itu. Sejak pertemuan pertama mereka.
Sedangkan, ayahnya Bargon hanya mengikuti. Apa saja yang akan mereka inginkan. Sebab, lelaki itu hanya ingin melakukan yang terbaik demi keluarganya.
“Baiklah, Bargon akan mengajak Cessi menikah,” jelas bargon dengan semangat empat lima. Membara seperti gunung Bromo.
“Lalu, dimana Cessi sekarang?”
Deg
Bargon melupakan hal itu.
“Gon,” panggil sang ibu yang membuat Bargon tersentak. Karena, terkejut.
“Nanti, Bargon hubungi Cessi, Bu,” jelas Bargon kemudian dan meminta izin. Untuk kembali ke kamarnya. Guna menghubungi Cesi.
Kedua orang tuanya pun mengangguk. Membiarkan putra mereka berusaha menghubungi Cessi. Sedangkan mereka kembali kepada pekerjaan yang telah ditinggalkan sebelumnya.
Ketika, sudah berada di dalam kamar. Bargon pun segera mengambil ponselnya dan mencari nomor Cessi.
Cukup lama, Bargon menunggu. Akhirnya panggilan–nya pun diangkat oleh gadis itu.
“Hallo,” sapa bargon. Ketika panggilan–nya telah terhubung.
“Hallo, ada apa, Gon?” sapa Cessi dari seberang sana.
Entah mengapa, perasaan Bargon berbunga-bunga. Tidak seperti biasanya, ketika dia mendengar suara Cessi. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan dengan nalar.
“Gon! Loe masih di situ, kan?”
“Hah! Gue masih hidup!” jawab Bargon dengan cepat. Lalu, menanyakan keberadaan Cessi saat ini. Cukup lama gais itu berbelit, membuat Bargon curiga.
“Kamu di mana?” tanya Bargon.
“Gue, bukan urusan loe! Kenapa tanya-tanya? kayak gak ada kerjaan lain!” balas Cessi yang tidak bisa menjelaskan apapun kepada Bargon.
“Jawab aja, Oliv! Soalnya, gue mau menemui, loe! Kalau bisa malam ini!” jelas Bargon.
__ADS_1
“Hah! Kenapa loe mau menemui gue malam ini pula?” tanya Cesi yang merasa ajakan Bargon terkesan dadakan dan pemaksaan tentunya.
“Alah! Loe jangan kayak kura! Pura-pura dalam perahu! Gue ingin ngajak loe nikah!” teriak Bargon nyaring. Dengan dadanya bergemuruh, ketika mengatakan hal itu.
“What? Loe ngajak gue nikah?” tanya Cessi tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya.
“Iya! Gue ngajak loe nikah! Ayo nikah!” balas Bargon dengan cepat.
Sebisa mungkin, Bargon menyembunyikan nafasnya yang memburu. Dengan dada yang naik–turun seperti pelana kuda.
Dia merasakan sensasi aneh yang menyeruak begitu saja di dalam dirinya tanpa bisa dia kendalikan dengan baik.
“Loe gila!”
Cessi pun segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Bargon, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya diatas sofa dan menatap langit-langit ruangan Raka.
Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, semuanya nampak seperti fatamorgana. Ingin sekali Cessi bisa memiliki ilmu menghilangkan diri dan bersembunyi di tempat dimana tidak ada yang bisa menemukannya.
“Kamu kenapa, Oliv?” tanya Raka yang baru saja datang. Setelah pergi mengambil minuman dan beberapa cemilan untuk dirinya dengan Cessi. Guna mengganjal perut. Sebelum makan siang.
“Gak pa–pa, Om,” jawab Cessi dusta dan mengambil cemilan yang dibawa oleh Raka. Tidak mungkin dia mengatakan jika Bargon baru saja menelponnya dan mengajak untuk menikah.
Dia seolah tengah diteror oleh Bargon, banyak sekali chet yang dikirimkan oleh pemuda itu kepadanya.
Membuat Cessi, harus menonaktifkan ponselnya. Kemudian, Cessi menghampiri Raka yang tengah sibuk dengan layar laptopnya.
“Om! Kalau, Gue nikah dengan orang lain? Apa Om akan—”
“Marah!” jawab Raka dengan cepat, memotong ucapan Cessi. Kemudian menatap gadis itu dengan sorot mata yang tajam.
Cessi pun menjadi salah tingkah dan mengalihkan pembicaraan, dia menanyakan sesuatu kepada Raka kembali.
“Om, gue lagi boring. Apa ada pekerjaan yang bisa gue lakuin?” tanya Cessi dengan mata yang berbinar.
Raka membuang nafas panjang, dia amat terpancing dengan pertanyaan Cessi sebelumnya. Lalu, menyuruh gadis itu untuk mengedit sebuah video. Agar tidak mengganggu pekerjaannya lagi yang sudah beberapa kali tertunda.
Hingga, akhirnya mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sampai jam makan siang, Raka pun mengajak Cessi untuk pergi makan siang bersama.
__ADS_1
“Oliv! Kita makan siang dulu! Aku sudah sangat lapar,” terang Raka seraya mengambil dompet, serta ponselnya.
Cessi hanya mengangguk kecil, kemudian dia teringat akan ponselnya.
“Om, apa punya charger yang sama. kayak ponsel gue?’ tanya Cessi seraya memperlihatkan ponselnya.
Raka menatap sekilas, lalu bertanya, ”Emang, kenapa dengan chargernya?”
Cessi berdecak kesal dengan pertanyaan Raka tersebut, “Baterainya dah mau lobet! Masa itu saja gak paham!” balas Cessi.
Raka segera menyerahkan charger miliknya, kemudian segera berlalu. Dia tidak bisa lebih lama lagi, menunda makan siang. Sebab, memiliki riwayat penyakit akun yang menahun.
Cessi segera mempercepat gerak tangan–nya dan pergi menyusul Raka yang telah menjauh. Ketika, Cessi melewati Siska. Wanita itu, kembali menghardik Cessi.
“Masih, ABG dah jadi simana suami orang!” sindri Siska dengan raut wajah sinis.
Cessi tertegun dengan apa yang diuapkan oleh wanita itu, dia terfokus pada kata ‘suami orang’. Tentu saja dia berpikir, jika Raka sudah menikah.
“Hey anak kecil!” Siska lagi. Namun, wanita itu segera pergi, ketika melihat Raka yang kembali.
“Oliv! Apa kamu hanya mau diam saja di situ?” pekik Raka dan segera menarik tangan Cessi. Bisa mati kelaparan dia, melihat tingkah lemot gadis itu.
Cessi hanya diam sedari tadi, dia tidak berbicara sepatah kata pun. Hingga, sampai di kantin kantor. Seperti orang yang tidak memiliki semangat, Cessi hanya mengaduk-aduk makan yang telah dipesan oleh Raka. Membuat pemuda itu menegur Cessi dengan pelan.
“Kamu kenapa sih, Oliv? Asal kamu tau? Makanan yang ada di depanmu itu, sangat berharga. Dengan susah payah, dan melewati proses yang panjang. Baru bisa terhidang dengan nikmat, di depanmu,” terang Raka. Dia sangat menghargai, apa yang menjadi sumber kehidupannya itu. Tanpa makananan, dia bisa mati dan kelaparan.
Cessi pun dengan gaya gemoi, mulai menyuap makanan yang sudah terhidang itu. Bagaikan memakan butiran jarum, setiap yang masukn kedalam mulutnya. terasa menusuk-nusuk di leher. Dengan susah–payah, Cessi menelanya dan hingga selesai.
Setelah selesai makan, Raka kembali mengajak Cessi menuju ruangannya dan meminta gadis itu. Untuk menemaninya hingga malam nanti, tetapi Cessi menolaknya dengan lembut.
Dia beralasan, ingin kembali ke apartemen. Sebab, merasa lelah dan capek. Raka pun memberi izin kepada Cessi, dengan syarat. Raka sendiri yang akan mengantarnya pulang ke apartemen.
“Om, masih lama kah?” tanya Cessi yang sedari tadi gusar. Seraya melihat sesekali ke arah ponselnya, untuk melihat jam.
Keadaan hari yang sudah mulai gelap, membuat Cessi ingin segera diantar ke apartemen. Tetapi, Raka malahan pergi ke kamar mandi. Dengan alasan sudah kebelet.
“Sabar, kamu ini! Mulai sekarang, jangan panggil Om! Tapi, Abang aja. Sama, hilangkan loe gue itu! Gak etis,” pinta Raka yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Cessi.
__ADS_1
Kemudian, mereka pun masuk kedalam mobil. Lalu, meninggalkan area parkir untuk segera pulang ke apartemen. Cessi tidak sabar lagi, ingin segera menemui seseorang yang sudah menunggunya. Sebab, Cessi telah membuat sebuah janji.
“Tunggu, gue.”