Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 47 Bik Indah


__ADS_3

Keesokan harinya, ketika Cessi dan Raka saling marah-marahan. Bahkan, Raka meninggalkan Cessi. Disaat istrinya masih tertidur pulas, karena ada pekerjaan yang mendesak.


Bukan hanya Raka, ayahnya Radja pun ikut bersama dengan putranya itu. Kini hanya ada Bik Indah dan juga Cessi yang berada di rumah tersebut.


Cessi yang masih belum menyadari, jika suaminya telah tidak ada di ranjang. Meraba-raba tempat tidur di sebelah yang sudah kosong.


Tanpa membuka matanya, dia membatin, “Tua-tua, suka ngambek.”


Cesi masih urung untuk bangun, namun setelah pintu kamarnya diketuk dari luar dan tidak lama terdengar suara Bik Indah. Membuat Cesi dengan malasnya, memilih hanya berteriak saja. Memerintahkan, agar wanita itu untuk masuk.


“Masuk, Bik! Pintunya gak dikunci!”


Bik Indah yang mendengar hal tersebut, langsung mendorong pintu kamar dengan perlahan. Wanita itu membawa nampan, berisi sarapan. Untuk Cessi, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Raka kepadanya.


Dimana, Bik Indah harus menjaga Cessi. Serta tidak memberitahukan, kemana dirinya pergi. Sebab, Raka telah menyiapkan sesuatu surprise untuk istrinya tersebut.


“Non, ini Bibik bawakan sarapan,” jelasnya dan meletakan nampan di atas meja yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Iya, Bik. Biarkan saja, di sana! Nanti, aku makan. Nunggu, Abang Raka,” jawab Cessi yang masih menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


Untuk pertama kaliya, selama tinggal di rumah Raka. Cessi bisa melakukan hal apapun, tidak ada yang memarahinya. Bik Indah sangat menyayanginya dan perhatian. Membuat Cessi menjadi pemalas.


Bik Indah hanya menggelengkan kepalanya, mendengar jawaban dari Cessi.


“Den Raka dan Tuan besar telah pergi, sejak subuh tadi.”


Mata Cessi membulat sempurna, dia menyibak selimutnya. Lalu, menatap kearah Bik Indah dengan tatapan tidak percaya.


“Beneran, Bik?” tanya Cessi yang mendapatkan anggukan kepala dari wanita itu.


“Kenapa, dia gak bilang?” tambah Cessi yang tiba-tiba saja merasa kecewa. Karena, Raka yang prgi. Tanpa memberitahukannya, lalu dia bangun dari ranjang dan memilih untuk ke kamar mandi.


Bik Indah hanya menatap punggung Cessi, hingga menghilang dari balik pintu kamar mandi. Seraya membatin, "Apa kamu belum menyadarinya?"


Sedangkan Cessi yang tengah membersihkan dirinya, dengan berdiri di atas derasnya air software. Tengah berpikir keras, apa yang akan dilakukannya nanti. Jika, benar Bik Indah adalah ibu kandungnya.

__ADS_1


“Siapa ayahku? Apakah, kami bisa bertemu?” batin Cessi bertanya-tanya di dalam hati.


Setelah selesai mandi, Cessi segera keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih fres dari sebelumnya. Dia mengedarkan matanya, mencari keberada Bik Indah. Ternyata wanita itu telah tidak ada di kamarnya.


Cessi segera menuju ke kamar mandi dan mengenakan pakaian dan sarapan, di dalam kamar. Tidak ada pekerjaan lain yang dilakukan olehnya, membuat gadis itu memilih ke luar sarangnya dan mencari udara segar.


Ketika, Cessi baru saja melangkah keluar kamar. Dia melihat Bik Indah, dan bertanya kepada wanita iti. Apa yang tengah dia lakukan.


“Bibik, sedang apa?”


“Eh, Non Oliv,” kata Bik Indah dan menoleh kearah Cessi.


Cessi menghampiri Bik Indah dan duduk di samping wanita itu yang tengah membuat sesuatu, karena penasaran. Cessi kembali bertanya, “Bibik melakukan, apa?”


“Bibik hanya membuka foto lama, Non,” terang Bik Indah dan memperlihatkan beberapa lembaran foto lama kepada Cessi.


Gadis itu menjadi penasaran dan memperhatikan dengan seksama, siapa yang berada di dalam foto tersebut.


“Gak bisa kelihatan wajahnya, BIk. Ini kenapa warnanya gak ada?” keluh Cessi seraya menunjuk foto yang berada di tangan Bik Indah.


Cessi menganggukkan-anggukan kepalanya, mencoba memahami. Keadaan di masa Bik Indah masih muda dulu, dimana teknologi tidak secanggih sekarang.


“Foto siapa saja yang Bibik, simpan?”


Pertanyaan yang Cessi layangkan, membuat senyum di wajah Bik Indah lenyap seketika. Kini, wajah wanita itu menjadi sendu, seraya mengusap wajah foto lama yang dimana banyak sekali kenangan di masa lampau.


“Ini, foto kedua orang tua Bibik,” jelas Bik Indah dengan memperlihatkan sebuah foto. Dimana ada seorang lelaki dan wanita tengah bergandengan tangan.


“Yang ini, siapa, Bik?” tanya Cessi. Seraya menyerahkan sebuah foto, sepasang lelaki dan wanita juga. Namun, agak lebih muda dari yang sebelumnya.


Tanpa Bik Indah sadari, air matanya menetes. Dia mengambil foto yang ditunjuk oleh Cessi dan mengusapnya pelan.


“Bibik, kenapa?” tanya Cessi yang merasa bingung dengan perubahan Bik Indah.


“Ini foto kekasih, Bibik. Selama ini, Bibik mencarinya dan berharap bisa bertemu lagi,” terang Bik Indah. Menjelaskan, bagaimana perjuangannya mencari kekasih yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan bersama-sama.

__ADS_1


“Siapa, namanya, Bik?” tanya Cessi penasaran.


Bik Indah menatap sekilas kearah Cessi dan menyebut nama kekasihnya dengan suara yang bergetar.


“Burhan.”


Wajah Cessi berubah, menjadi tegang. Setelah mendengar nama tersebut. Dia sangat mengenal, nama yang disebutkan oleh Bik Indah.


Namun, Cessi belum bisa memastikan. Jika, orang itu adalah orang yang sama. Karena, Cessi harus menemukan bukti lainnya. Selain, hanya nama saja.


“Kenapa, dia meninggalkan Bibik?”


Cessi pun mulai mengumpulkan informasi yang mungkin saja, nanti bisa digunakan. Sebagai petunjuk, untuk mengungkap sebuah kebenaran.


“Bibik tidak tahu, Non. Tapi … Burhan hanya mengatakan, jika dirinya harus pergi mencari uang. Demi Bibik dan calon bayi kami,” jelas Bik Indah mengingat ucapan terakhir Burhan. Sebelum meninggalkannya dan menghilang tanpa ada kabar.


Keadaan di desa dan minimnya alat komunikasi, ditambah keadaan Bik Indah yang hamil. Menjadikan, wanita itu tidak bisa kemana-mana.


Karena, ditempatnya. Seorang gadis yang hamil diluar nikah, merupakan aib masyarakat dan hal itu pula membuat kedua orang tua Bik Indah mengurungnya.


Bik Indah tidak pernah keluar rumah, selama masa kehamilan dan setelah melahirkan sekalipun. Ditambah, bayinya yang dinyatakan mati. Membuat Bik Indah waktu itu merasa sangat terbebani dengan ujian hidupnya.


“Bik, jika benar? Aku anak kandung Bik Indah? Apa yang akan Bibik lakukan, nanti?” tanya Cessi mengalihkan perhatian Bik Indah untuk menatap ke arahnya.


“Jika, Non Oliv benar anak kandung Bibik? Bibik akan menebus semua kesalaahn di masa lalu, dan berusaha sekuat tenaga. Membahagiakan, Non Oliv,” jawab Bik Indah dengan bersungguh-sungguh.


Namun, bukan jawaban itu yang diinginkan oleh Cessi. Dia teringat akan perkataan ayahnya Raka semalam. Jika, pernikahan mereka belum sah secara agama. Karena, Cessi harus memiliki wali nikah yang sah.


Sedangkan Pak Broto, hanya ayah angkat Cessi yang tidak memiliki hubungan darah. Dimana secara hukum, tidak bisa dikategorikan sebagai wali nikah.


“Non Oliv, kenapa?” tanya Bik Indah membuyarkan lamunan Cessi.


“Aku hanya ingin bertemu dengan ayah kandungku, Bik. Agar, dia bisa menikahkanku dengan Abang Raka secara sah,” jawab Cessi dengan mata yang penuh akan harapan.


Bik Indah tertegun dengan apa yang disampaikan oleh Cessi dan membatin, “Dimana dirimu sekarang, Mas Burhan? Putri kita ingin bertemu.”

__ADS_1


__ADS_2