
Di sebuah mobil mewah, terlihat seorang pemuda yang tengah mondar–mandir tidak karuan. Seperti setrika yang menggosok baju.
Perasaan kehilangan, membuat pemuda itu menjadi tidak bisa tenang. Makan, tidak kenyang. Tidur tidak nyenyak, semua gara-gara sang pujaan hati yang menghilang beberapa hari lalu.
“Gon! Sampai kapan kamu mau mengurung diri seperti ini?” teriakan sang ibu membuat pemuda itu mengendus nafas kasar.
“Sampai, ayah menemukan Oliv!” balas Bargon. Tanpa niat sama sekali membukakan pintu.
Pemuda itu benar-benar merasa kehilangan, dia sudah berusaha mencari Cessi. Bahkan, menemui kedua orang tua angkat gadis itu.
Namun, usahanya sia-sia. Bargon juga mencari keberadaan Raka, akan tetapi dia juga tidak menemukan pemuda tersebut.
Bargon hanya bertemu dengan ibunya Raka, wanita itu menjelaskan. Jika, Raka sangat sibuk bekerja dan belum pulang.
Hal tersebut membuat Bargon semakin curiga, jika keluarga Raka telah menyembunyikan Cessi. Bargon pun meminta kepada orang-orang kepercayaan ayahnya untuk mencari keberadaan Cessi.
“Gon! Coba kamu hubungi, teman dekat gadis itu!” teriak ibunya Bargon yang masih berada di balik pintu.
Bargon yang mendengar hal itu pun, memikirkan satu nama. Seolah menemukan air di tengah padang pasir.
Pemuda itu mengambil jaket dan juga kunci motornya, kemudian membuka pintu kamarnya dan menampakan wajah sang ibu yang menatapnya dengan raut wajah sendu.
“Kamu, mau kemana?” tanya wanita itu yang tahu. Jika, putra semata wayangnya akan pergi.
“Aku mau menemui, Mara Bu. aku akan meminta bantuannya, untuk menemukan Oliv,” jelas Bargon, seraya pamit kepada wanita yang telah melahirkannya kedua itu.
Bargon menuju pintu keluar, dia mengambil motor miliknya yang selama ini hanya di simpan di bagasi. Karena, Bargon suka nebeng Cessi.
Pemuda itu pun segera menyalakan mesin motornya, akan tetapi dia telah mengirim pesan kepada Amara.
Keadaan yang mulai gelap, tidak mengurungkan niat Bargon untuk mencari keberadaan Cessi dengan bantuan Amara.
Dia yakin sekali, jika gadis itu. Bisa membantunya, apalagi amara yang sangat pandai dalam teknologi.
Bargon mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya yang mulai sepi. Di dalam pikiran pemuda itu, hanya satu. Yaitu menemukan Cessi.
Tidak memerlukan waktu lama, motor yang dikendarai oleh Bargon. Telah memasuki halaman rumah Amara, ada keraguan di dalam hatinya. Namun, segera ditepis. Dia harus meminta bantuan, dari sahabatnya Cessi itu.
Dengan meneguhkan hatinya, Bargon pun mengetuk pintu rumah Amara dan tidak berapa lama. Pintu terbuka dan menampakan wajah ibunya Amara yang menatap heran kearahnya.
“Malam, Tan,” sapa Bargon dengan sopan.
“Malam, ada apa Gon?” tanya ibunya Amara yang membuat Bargon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ada Amara, Tan?” tanya Bargon dan mendapatkan anggukan kepala dari wanita itu. Lalu, Bargon dipersilahkan untuk masuk.
Amara, mungkin dilarang berdekatan dengan Cessi. Namun, tidak dengan Bargon. Apalagi, kedua orang tua Amara yang sangat mengenal keluarganya Bargo yang memang terpandang.
“Tunggu di sini. Tante panggil, Mara dulu,” jelas ibunya Amara, seraya meninggalkan Bargon di ruangan tamu.
Wanita itu menuju ke kamar putrinya dan mengetuk pintu, seraya berteriak.
“Amara! Ada Bargon, mau ketemu sama kamu!”
Sedangkan Amara yang tengah fokus pada layar laptopnya. Dibuat terkaget, amara segera mengelus dadanya yang berdebar dengan cepat.
“Untung gak copot,” gumam Amara mengatur nafasnya dan berjalan menuju pintu kamar.
Gadis itu membuka pintu, akan tetapi hanya mengeluarkan bagian kepalanya saja dan menatap sang ibu heran.
“Ada, apa Bu?” tanya Amara.
“Ada Bargon! Dia mencarimu! Apa kamu gak bosen? Mengurung diri dikamar saja?” Pertanyaan verintun dari sang ibu, membuat Amara berlasaan untuk pergi menemui Bargon.
Padahal, gadis itu. Hanya ingin menghindari, omelan dari sang ibu. Dengan langkah kaki yang pelan, Amara bergumam sendiri.
“Kenapa, Bargon. Cari gue, ya? apa, ini tentang kasus itu?”
Karena, penasaran. Amara pun mempercepat langkah kakinya dan menuju ke ruangan tamu. dia melihat Bargon yang tengah duduk di sofa dengan memainkan ponselnya.
“Gon! Loe cari gue?”
Pertanyaan tiba-tiba yang Amara layangkan, membuat pemuda itu terkejut dan menghardik amara dengan kasar.
“Loe kayak hantu! Bisa gak, ucapin salam kek! Sapa gue, kek! atau, apa kek!”
“Gak ada, waktu!” balas Amara dengan judes.
__ADS_1
Hingga, sang ibu datang. Membuat Amara dia seketika, lalu menundukan kepalanya. Amara masih dalam masa hukuman, setelah kejadian kemarin. Dimana Raka datang ke rumah dan meminta video yang mereka buat.
“Mara! Berteman baik dengan, Nak Bargon. Dia orang yang terpandang,” jelas ibunya Amara. Membuat gadis itu, mengaggukan keplanya pelan.
Setelah meletakan minuman dan beebrapa cemilan, wanita itu pun berlalu. Meninggalkan Amara dan Bargon.
“Huff … sesak nafas gue,” kara Amara, seraya bersandari ditepi sofa.
Sedangkan Bargon yang melihat tingkah, Amara hanya menggelngakn kepalanya. Dia merasa jengah dengan gadis itu.
“Ra, gue mau minta bantuan loe!” terang Bargon tiba-tiba. Membuat gadis itu menonggak, menatap Bargon. Seolah, mintak kejelasan.
“Apa? Kalau, masalah loe yang viral? Gue no komen!” balas Amara dengan mengakat tanganya dan membuat bentuk X.
“Cih! Loe memnag begitu, orangnya! Kalau teman susah, loe cuekin! Tapi, kalau lagi banyak duit? Loe pepet terus!”
Bargon berkata dengan raut wajah yang dibuat seolah-oleh, sedang marah. Namun, seperti itulah mereka. Cara bercanda yang lain dari yang lain.
“Jangan macam-macam! Gue tahu, kalau loe kena skor dan parahnya? Loe bawa-bawa Cessi, apa loe gak kasihan dengan sahabat gue? Apalagi, sekrang. Gue kena hukum! Gak bisa keluar dari rumah,” jelas Amara dengan nafas yang mengebu-gebu.
Ibunya memang perhatian, dan suka menyakan. Serta menawari Amara untuk keluar, akan tetapi berasa dengan wanita tersebut.
Lalu, bagaimana caranya. Amara bisa pergi menemui, Cessi. Dia yakin sekali, jika saat ini sahabatnya itu tengah dalam masalah yang besar.
Ditambah, video Bargon dengan Cessi yang ikutan viral. Walaupun, video aslinya telah dihapus. Namun, tidak dengan yang sudah terlanjur disebar luasakan.
“Karena, Oliv! Gue ke sini! Loe pikir, gue mau nemuin loe? Jangan bermimpi!” kata Bargon dengan raut wajah jijik.
“Cih! Gak usah kege–eran! Gue juga gak suka sama loe!” balas Amara dengan wajah yang memerah. Antara malu dan juga kesal dengan ucapan Bargon.
“Bagus, deh kalau begitu. Jadi, gue gak perlu jaga jarak dengan loe.”
Ingin sekali Amara menyumpal mulut tidak berakhlak Bargon, lalu menjahitnya dengan baja. Agar ridak bisa terbuka lagi, dia benar-benar diuji. Jika, bertemu dengan pemuda itu.
“Loe kenapa?” tanya Bargon dengan polos.
Amara mengatur nafasnya, tiba-tiba saja. Pasokan oksigen ke paru-parunya hampir habis.
“Ra, pliss … bantui gue. Cari keberadaan Oliv,” pinta Bargon dengan raut memohon.
“Makasud, loe Cessi? Gue tahu, di mana dia.”
“Serius?”
Ingin sekali Amara menyumpal mulut tidak berakhlak Bargon, lalu menjahitnya dengan baja. Agar ridak bisa terbuka lagi, dia benar-benar diuji. Jika, bertemu dengan pemuda itu.
“Loe kenapa?” tanya Bargon dengan polos.
Amara mengatur nafasnya, tiba-tiba saja. Pasokan oksigen ke paru-parunya hampir habis.
“Ra, pliss … bantui gue. Cari keberadaan Oliv,” pinta Bargon dengan raut memohon.
“Makasud, loe Cessi? Gue tahu, di mana dia.”
“Serius?” tanya Bargon dengan mata yang bersinar, pemuh kebahagian. Mendengar apa yang dikatakan oleh gadis yang duduk dihadapannya.
Sedangkan Amara yang ditatap seperti itu, oleh Bargon. Merasa malu, bahkan raut wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Sebenarnya, Amara telah lama menaruh hati kepada Bargon. Namun, dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Sebab, Amara tahu. Jika, Bargon sangat menyukai Cessi.
Teringat akan hal itu, membuat senyum Amara yang menegmabng, seperti gulali. Kini mengerucut dan layu, dia membuang wajahnya. Agar tidak ditatap lagi oleh Bargon.
“Amara! Loe serius, tau keberadaan Oliv? Atau … hanya ingin negrjai gue!” bentak Bargon yang melihat tingkah gadsi dihadapannya.
“Gue tahu! Gon! Untuk, apa gue ngerjain loe? Emangnya ada untungnya, buat gue!” balas amara sewot. Sebisa mungkin, gadsi itu menutupi perasaanya dengan sikap angkuh.
“Kalau, begitu? Cepat beri tahu gue! Dimana, Oliv!” desak Bargon tidak sabaran. Hingga, tanpa sadar mengengam tangan amara. Namun, segera di tepis cepat oleh gadsi itu.
“Pliss … jangan sentuh gue!” kata Amara dengan menekankan setiap ucapannya dan memilih bangun dari duduknya.
Bargon yang melihat,amara yang ingin berlalu.Segera menghentikan langkah gadis itu, dengan meraih tangan Amara.
Membuat Amara menatap kearahnya dengan sorot mata tajam, seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
“Loe mau kemana?” tanya Bargon tanpa melepaskan tangan Amara.
“Cih! Gue mau mengambil laptop di kamar! Mau ikut?” ajak Amara dan mendapatkan gelengan kepala dari pemuda itu.
__ADS_1
“Ya, udah! Tunggu disini,” pinta amara. Seraya berlalu, dia mempercepat langkah kakinya. Amara tidak bisa menahan perasan sesak didada,
Ketika, Amara berada di dalam kamar. Gadis itu meluapkan perasaannya, dia menagis dan merosot. Hingga, jatuh ke lantai dengan bersandar di balik pintu kamarnya.
Amara menutup mulutnya, agar isak tangisnya tidak terdengar. Gadis itu menangis dalam diam, serasa sudah bisa menegnalikan perasaanya sendiri.
Amara, bangun dan menuju ke dalam kamar madi. Mencuci wajahnya, agar terlihat fress. Walaupun, tidak bisa menyemunika. Matanya yang sudah terlihat sembam.
Sakit, namun tidak berdarah. Hal itu yang dirasakan Amara, mencintai seseorang dalam diam. Harus siap merasakan rasa sakit yang sangat berat dan tidak bisa berakhir.
“Mara, kamu harus kuat. Ini demi Cessi, dia sahabat loe dan sekarang meemrlukan bantuan loe,” kata Amara pada dirinya sendiri, dibalik cermin. Dia menguatkan niatnya, dia ingin berkorban demi Cessi.
Amara segera keluar dari kamar mandi dan mengambil laptopnya yang terletak di atas meja, kemduan keluar kamar dengan langkah mantap.
Apapun, yang terjadi nanti. Setidaknya Amara sudah ikhlas, biar cintanya tidak terbalaskan. Akan tetapi, Amara akan berusaha membantu sahabat terbaiknya.
Banyak suka dan suka, yang pernah mereka lewati bersama. Sejak, mereka masih di sekolah menengah pertama. Hingga, sekarang.
Bargon yang melihat kedatangan Amara, seolah seperti semut yang menemukan gula. Senyum pemuda itu tidak mau luntur, bahkan tanpa sadar. Dia menarik tangan amara, agar segera duduk di sofa.
“Ayo, Mara! Katanya, kamu mau memberitahu gue. Dimana Oliv,” kata Bargon dengan antusias.
Amara hanya bisa tersenyum kecut dan meletakan laptopnya di atas meja, kemudian menyalakan benda tersebut.
Bargon yang tidak sabaran, langsung duduk di samping Amara dan membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
Apalagi, nafas pemuda itu. Membuat bulu roma Amara meremang, sontak saja Amara menjauh dari Bargon.
“Loe kenapa, sih Ra? Pliss … cepat kasih tau, gue! Oliv ada di mana,” kata Bargon yang masih belum menyadari. Jika, Amara merasa risih dengan kedekatan mereka.
“Oliv! Oliv lagi! Namanya, itu Cessi!” hardik Amara, seraya menyembunyikan perasaannya.
Kemudian, Amara mengotak-atik laptopnya dan menemukan sebuah alamat yang berada di layar. Bargon memperhatikan dengan seksama, apa yang diperlihatkan oleh Amara.
“Loe yakin? Gak salah kan ni? Atau, mau nge–prank gue aja,” tanya Bargon ragu dengan sebuah koordinat yang berada di layar laptop Amara.
“Cih! Loe, gak percaya sama gue? Ya udah,” balas amara dan menutup layar laptopnya.
Hal itu, membuat bargon segera membujuk gadis itu. Agar tidak merajuk.
“Ayolah, Amara! Gue tadi cuma bercanda,” jelas Bargon.
Membuat Amara, mau tidak mau. Mengalah dan mengirimkan, alamat yang ada di laptopnya ke ponsel Bargon.
“Gue gak mungkin, bakalan buat loe tersesat! Biar loe menyebalkan dan gue suka! Tapi, percayalah! Ini alamat yang bener! Karena, gue melacak Cessi lewat ponselnya dan terkahir aktif kemarin. Gue harap, loe bisa bantu Cessi!”
Tanpa sadar, Amara mengatakan kata ‘suka.’ Bargon yang menengar ocehan dari gadis itu mengagguk dan segera berpamitan, karena ingin segera menemui Cessi.
Sedangkan Amara, hanya bisa membuang nafas panjang. Setidaknya dia merasa lega, karena bisa membantu Cessi.
“Gue percaya sama loe, makasih ya. Gue berangkat sekarang!” jelas Bargon dengan semangat yang membara.
“Semoga, loe sukses. Menemukan, Cessi,” kata Amara dengan tulus.
Bargon mengangguk kecil, kemudian mengenakan helamnya dan mulai menaylakan mesin motornya. Seraya melambaikan tanga, Amara melepaskan kepergian Bargon yang pergi mencari keberadaan Cessi.
“Semoga, loe berhasil. Mendapatkan cinta Cessi,” batin amara berharap, seraya menatap kepergian Bargon dengan motornya.
Sedangkan, Bargon. Kini menlajukan motornya dengan kecepatan sedang, senyum di wajahnya terus mengembang.
Belum bertemu dengan Cessi saja, hatinya telah berbunga-bunga. Apalagi, bisa bertemu dengan gadis yang disukainya tersebut.
Bermodalkan, GPS map. Bargon menyelusuri jalan raya, menuju sebuah jalan yang mulai sepi. Sampai di dalam hatibya, bertanya-tanya. Apakah, dia tersesat. Atau tidak, akan tetapi dia berusaha percaya dengan apa yang disampikan oleh Amara.
Hingga, Bargon melihat sebuah rumah yang besar dan terdapat beberapa mobil mewah di sana. Perasaannya menjadi tidak nyaman, kemudian menghentikan motornya dan menegcek kembali ponsel miliknya.
“Benar, ini alamatnya,” gumam Bargon. lalu, memakirkan motronya dan berjalan memasuki halaman rumah tersebut.
Terdengar banyak suara orang dari dalam rumah, membuat Bargon semakin penasaran dan membawa langkahnya masuk.
Keadaan pintu utama yang terbuka, membuat Bargon dengan mudah masuk kedalam rumah tersebut.
Hingga, tubuh Bargon membeku seketika. Ketika, melihat gadis yang dia cari-cari. Kini berada di pelupukuk matanya, namun baegon masih belum menyadari apa yang tengah terjadi.
“Oliv!” panggil Bargon dan membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya.
“Bargon!” kata Cessi dengan raut wajah pias.
__ADS_1