
Raka yang sudah semakin terdesak, terlebih mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Tidak memiliki pilihan lain, dia mengendong Cessi dan memasukannya kedalam kamar.
Cessi meronta-ronta, namun tidak dipedulikan oleh Raka. Setelah di dalam kamar, dia meminta agar Cessi diam.
“Diam disini! Jangan keluar!” perintahnya dan mengunci pintu kamar tersebut. Membuat Cessi yang merasa kesal dan curiga, akan sikap suaminya yang seperti itu.
“Dia kenapa sih?” batin Cesi bertanya-tanya di dalam hati.
Sedangkan, Raka yang baru saja selesai mengunci pintu kamar. Berbalik badan, betapa terkejutnya dia melihat sosok yang sanagt dikenal tengah berkacak pinggang dan menatap kearahnya dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan, Raksa?”
“Mati aku,” batin Raka.
Lelaki tersebut, kembali mengulangi ucapannya, “Apa yang kamu lakukan, Raksa?”
“Bukan, apa-apa Yah,” jawab Raka denganperasaan yang gugup.
Tentu saja, Pak Radja tidak percaya dengan begitu saja. Apa yang putrnya katakan, terlebih dia melihat Raka yang mengunci pintu kamarnya. Menambah perasan curiga.
“Buka, pintunya!” perintah Radja.
Raka seegra mengelelngkan kepalanya cepat, menolak apa yang diperitahakan sang ayah kepadnaya.
Bisa ketahuan, jik atengah menyembunyikan Cessi di dalam. Namun, diluar dugaan Raka. Cessi yang berada di dalam mengedor pintu kamar dan membuat sang ayah semakin mendesaknya. Untuk membuka pintu kamar tersebut.
“Bang! Buka pintunya!” teriak Cessi dengan memukul-mukul pintu kamar yang tertutup rapat.
“Raksa! Buka!” perintah Radja membuat Raka tidak memiliki pilihan lain, dia membuka pintu dan menampakan wajah Cessi.
Akan tetapi, diluar dugaan Raka lagi. Istrinya lansgung memeluk tubuhnya dan hal itu disaksikan oleh sang ayah dan Bik Indah.
“Bang, aku takut,” kata Cessi dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Raka.
Ingin sekali Raka memiliki jurus menghilangkan diri atau transmigrasi ke planet lain, saat ini juga. Bagiakan maling yang sudah tertangkap basah, dia tidak bisa mengelak lagi. Karena, terlanjur basah. Raka harus jujur kepada sang ayah.
Akhirnya, Raka berkata jujur kepada ayahnya dan menjelskan. Kenapa, dia menikah secara sembunyi-sembunyi.
“Kenapa kamu melakukan hal ini, Raksa?” tanya Radja dengan sorot mata kecewa akan sikap putranya tersebut.
__ADS_1
“Jangan, bilang? Kalaua, kamu melakukan ini semua gara-gara ibumu?” tambahnya.
Raka dan Cessi yang kini duduk bersampingan di ruangan tengah, merasa tengah diesakusi oleh lelaki tersebut.
Radja yang merupakan ayah kandung Raka, memiliki perwatakan yang sangat tegas. Bahkan, Cessi merasa sangat tegang. Setiap lelai itu menatap kearahnya, membuat tubuh Cessi meremang.
“Aku hanya ingin membantu Oliv, Yah,” jelas Raka.
“Cih! Alasan klasikmu, sama seperti Suci kemarin kan?” tuduh Radja.
Apa yang dikatakan oleh sang ayah, membuat Raka tentu saja tidak terima. Apalagi mengungkit masalah dirinya dengan Suci.
“Kenapa Ayah tidak percaya dnegan apa yang aku jelaskan?” Nada Raka kali ini naik satu oktaf, membuat sang ayah mengeram. Merasa kesal, lalu menujuk Cessi.
“Karena gadis itu? Kamu mau menentang ayahmu sendiri?” pekik Radja.
Raka mengelengkan keplaanya, dia tidak bisa menghandapi sang ayah dengan emosi. Karena, hanya akan berdampak negatif.
Raka pun menannagkan dirinya, lalu mengengam tagan Cessi. Dia sangat tahu, jika istrinya merasa takut akan sang ayah mertua yang terlihat garang.
“Aku mencintai Oliv! Aku juga sudah menikahinya, jadi … Ayah tidak bisa menghalangiku lagi,” terang Raka dnegan raut wajah serius.
Radja hanya mampu membuang nafas panjang, sebagai orang tua. Dia tidak bisa menyalahkan Raka seratus persen, apalagi menyudutkan anaknya sendiri.
“Buktikan! Jika, kalian sudah menikah?”
Kata itu terlontar, membuat Raka tersenyum dan meminta Cessi mengambil buku nikah yang dia simpan di nakas yang berada di kamar.
“Oliv, ambilkan buku nikah kita. aku meletkannya di dalam nakas.”
Cessi yang menerima perintah tersebut, segera melaksanakannya. Tanpa banyak berbicara, gadsi itu pergi.
Sedangkan Radja yang memperhatikan Bik Indah yang sedari tadi diam dengan kepala yang merunduk, menjadi penasaran.
Apa yang tengah wanita itu sedang pikirkan, lalu bertanya, “Bik, kenapa diam saja?”
“Hah! Saya Tuan,” jawab Bik Indah kelagapan dan mendapatkan anggukan kecil dari Radja.
Bik Indah menatap kearah Raka terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Terlihat jika pemuda itu memberikan kode keras, agar dirinya tidak mengatakan apapun. Dengan mata yang melotot tajam.
__ADS_1
“Bik,” panggil Radja lagi.
“Tidak ada apa-apa, Tuan. Oh iya, maaf … jika saya lancang. Tapi, dimana Nyonya?”
Bik Indah sangat pandai mengalihkan perhatian, hal itu membuat Raka tersenyum penuh kemenangan. Untuk bosa memojokan sang ayah, karena Raka tahu. Jika, ayahnya kemarin tengah berada diluar kota.
“Iya, Yah! Dimana, ibu?” tanya Raka. Membuat lelaki itu merasa tertekan, untung ada Cessi yang datang.
Radja mengalihkan pembicaraan dengan menyapa gadsi itu, “Jadi, bagaimana?”
Cessi yang merasa takut, hanya menyerahkan buku nikah mereka kepada Raka. Boar suaminya yang memberikan buku nikah tersebut kepada Radja.
“Ini, Yah,” jelas Raka dan menyodorkan buku nikah mereka. Sebagai bukti yang sah dan paten.
Radja membuka dan membaca buku nikah tersebut dengan seksama, hingga dahinya mengerut. Setelah mengetahui status Cessi yang hanya anak angkat. Tanpa menyantumkan latar belakang keluarga kandungnya.
“Ini kenapa? Tidak ada orang tua kandung? Lalu, kamu mengambil nasab darimana?” tanya Radja penasaran. Karena, hal itu sangat menganjal.
Cessi hanya bisa meremas pakaiana yang dikenakan, ingin dia menyanyakaan hal tersebut. Namun, kepada siapa. dia tidak tahu, bahkan tes DNA dirinya dnegan Bik Indah. Masih belum keluar hasinya, membuat Cessi hanya bisa bungkam seribu bahasa.
“Kenapa diam” tanya Radja lagi.
“Yah, Oliv belum menemukan siapa orang tua kandungnya, maka dari itu, Aku ingin membantu Oliv.”
“Dengan cara menikahinya? Seperti, tidakada cara lain? Pernikahan kalian, bisa dinyatakan tidak sah! Karena, tidak adanya wali nikah yang sah!” tegas Radja yang tidak memberikan Raka untuk meneruskan ucapannya.
Perkara nikah, tidaklah mudah. Bukan hanya tentang menyatukan kedua pasangan lelaki dan wanita, namun pernikahan dalam konteks yang sangat luas.
Karena, semuanya dipertanggungjawabkan sampai akhirat nanti. Radja juga tidak mau menjadi orang tua yang lalai, dan membiarkan anaknya. Berhubungan suami–istri tanpa memenuhi syarat pernikahan tersebut.
“Raksa! Apakah, kamu sudah menyentuh istrimu?” tanya Radja dengan nada keras.
Raka seolah terdesak, ingin dia mengatakan tidak. Namun, kenyataan iya. Ditengah dilema yang dihadapi Raka, Cessi malah menyeletukkan kata-kata menohok.
"Iya! Abang Raka sudah menyentuhku!" jawab Cessi dengan suara nyaring, tetapi masih dengan keadaan kepala yang merunduk.
Radja yang mendengar hal tersebut berdecak kesal, dia menatap kearah Raka dengan tajam.
"Ayah kecewa!" katanya.
__ADS_1
"Yah! Bukan seperti itu!" Raka ingin menjelaskan, namun sang ayah seolah tidak mau mendengar.
"Menjelaskan apalagi? Jujur!"