
Setelah selesai mengikuti proses tes DNA, mereka semua memutuskan untuk segera pulang. Terlebih Raka yang memiliki sebuah rencana rahasia, dia tidak ingin sampai Cessi mengetahui hal tersebut.
Wajah Cessi terlihat pucat setelah keluar dari ruangan tersebut, membuat Raka mengerutkan dahinya.
"Sudah selesai?" tanya Raka.
Sebelum mereka keluar dari ruangan tersebut, sang dokter menjelaskan beberapa hal tentang proses tes DNA yang baru saja mereka lakukan.
Jika, mereka harus menunggu beberapa waktu. Setelah hasilnya keluar, maka pihak rumah sakit akan menghubungi mereka lagi.
Raka dan Cessi memperhatikan dengan seksama apa yang disampaikan oleh sang dokter, begitupun dengan Bukan Indah. Wanita itu sangat berharap jika yang mereka lakukan ini membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan.
"Baik Dok, terima kasih atas waktunya. Kami sangat mengharapkan hasilnya segera cepat keluar," kata Raka dan izin undur diri.
Setelah keluar dari ruangan tersebut, Bik Indah pun bertanya, "Den, jadi … selama menunggu. Bibik harus melakukan apa?"
Raka menatap Bik Indah dengan tatapan datar, dia menjelaskan. Jika, wanita itu mengerjakan pekerjaannya seperti biasanya.
Sebab, Raka seolah-olah telah mencium sesuatu dari Bio Indah. Membuatnya, harus berhati-hati. Sebelum, dia memastikan. Bahwa, apa yang ada di dalam benaknya. Tidak benar, dan membuktikan hal tersebut terlebih dahulu.
"Baik, Dek. Kalau begitu, Bibik pulang dulu," jelas Bik Indah meminta izin.
Namun, Cessi meminta wanita itu. Untuk pulang bersama mereka, karena Cessi merasa tidak tega. Melihat Bik Indah yang harus pulang sendirian, akhirnya mereka memutuskan untuk akhirnya mereka memutuskan untuk segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
Selama di perjalanan, mereka bertiga hanya diam. Raka yang berada di balik Raka yang berada di balik kemudi, hanya Raka yang berada di balik kemudi, hanya Raka yang berada di balik kemudi, hanya fokus kepada jalan raya yang mereka lalui.
Sedangkan, Bik Indah dan Cessi. Larut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga tidak terasa mereka telah sampai di halaman rumah.
“Bik, ajak Oliv masuk dulu. Aku mau mengangkat telpon,” terang Raka.
Cessi dan Bik Indah segera turun, sedangkan Raka tengah menelpon seseorang di dalam mobil dan meminta kedua orang wanita itu untuk masuk terlebih dahulu.
Setelah merasa aman, Raka pun segera menelpon orang kepercayaannya yang baru saja mengirim sebuah pesan singkat.
“Hallo, bagaimana?” tanya Raka tanpa basa-basi.
Raka dengan raut wajah serius, mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh seseorang di seberang sana, setelah dirasa cukup. Raka pun memberikan perintah selanjutnya.
__ADS_1
“Baiklah, aku serahkan kepada kalian!” perintah Raka, sebelum menutup teleponnya.
Pemuda itu membuang nafas berat dan bersandar di jok mobil, dia memikirkan. Apa yang harus dia katakan nanti, kepada ayah dan ibunya. Jika, dirinya yang telah menikah. Tanpa kedua orang tuanya tersebut.
Jika, Ibu Rumini yang mengetahui hal tersebut. Mungkin hanya akan mengomelinya, lain kisahnya. Jika, sang ayah yang baru mengetahui pernikahannya.
Rajad, ayahnya Raka sangat berbeda. Lelaki itu sangat menjunjung yang namanya tanggung jawab, bisa dikatakan. Apa yang Raka lakukan sekarang merupakan perbuatan seorang pengecut, karena menikah secara diam-diam.
Raka hanya memikirkan janjinya kepada Cessi, bahwa akan bertanggung jawab dan menyekolahkan gadis tersebut.
Namun, tidak ada sekolah mana pun yang anak menerima seorang siswi yang berstatus menikah. Karena, seperti itulah peraturan sekolah.
Cukup lama Raka terdiam, kemudian memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah. Sebisa mungkin, pemuda itu menyembunyikan masalah yang tengah dihadapi olehnya.
Ketika, Raka berada di ruangan tamu. Cessi segera menghampirinya, lalu menarik tangan Raka untuk masuk kedalam kamar.
Disinilah mereka berdua, duduk di tepi ranjang. Dengan Cessi yang seolah-olah, memiliki sebuah rencana besar.
“Bang, aku punya ide,” kata Cessi dengan raut wajah bahagia.
“Apa?” tanya Raka dengan malas. Masalahnya saja, masih menunggu untuk di selesaikan. Tidak mungkin, Cessi akan menambahnya. Pikir Raka merasa miris.
Raka hanya mengangguk-angguk kepalanya, mendengar cerita yang disampaikan oleh Cessi. Hingga, di bagian Cessi yang ingin mengikuti jejak Bik Indah. Raka pun bersaksi.
“Kamu jangan gila, napa? Nasib orang berbeda-beda, kita telah memiliki takdir masing-masing! Jangan samakan, alas kaki orang? Sama dengan kita!” kata Raka dengan penuh penekanan di setiap kata yang diucapkannya.
Cessi yang merasa kesal dengan tanggapan Raka, lalu mencubit pinggang pemuda itu dan membuatnya mengeluh kesakitan.
“Aw! Sudah berani KDRT, ya?”
Raka menatap tajam ke arah Cessi yang hanya cengengesan, lalu menjelaskan. Jika, dia ingin mengikuti paket sekolah saja. Cessi merasa trauma, setelah kejadian dengan Bargon beberapa hari lalu dan membuatnya menjadi trending topik di sekolah. Serta mendapatkan hukum skor dari kepala sekolah.
“Maksudnya, Home schooling?” tanya Raka ingin memastikan dan mendapatkan anggukan kepala dari Cessi.
Cessi yang merupakan pemeran youtuber yang piawai, kini tengah memainkan peran perdananya. Dihadapan Raka, seraya menggenggam tangan pemuda itu. Cessi melancarkan aksinya.
“Iya, Bang. Aku takut aja, nanti ketahuan nikah dan di bully. Dikatai, hamidul! Aku gak mau sampai hal itu terjadi,” jelas Cessi dengan nada manja dan mata yang terus berkedip-kedip menggoda.
__ADS_1
Namun, ada bagian kata yang membuat Raka mengerutkan dahinya dan bertanya,”Apa itu, hamidun? Nama orang?”
Tawa Cessi lepas seketika, setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh Raka. Perutnya terasa sakit, seolah tengah dikocok mixer.
“Hahaha … abang lucu,” kata Cessi dengan gelak tawanya.
Raka yang melihat Cessi yang seperti itu, segera mencapit hidung gadis yang telah menjadi istrinya itu dengan raut wajah kesal.
“Abang! Mau aku mati! Karena, gak bisa bernafas?” bentak Cessi dan melepaskan tangan kekar Raka dengan kasar.
Akan tetapi, pemuda itu hanya santai saja. Lalu, menanyakan hal yang sama.
“Apa artinya hamidun?”
Cessi memajukan bibirnya kesal, namun siap snagka. apa yang dilakukan oleh gadis itu, malah Raka jadikan kesempatan emas.
Bagaikan kilatan petir, Raka mengecup bibir Cessi dengan cepat dan membuat gadis itu memekik kesal.
“Aabang!”
“Apa?” tanya Raka dengan polos.
Seperti banteng di dalam arena matador, nafas Cessi naik–turun tidak terkendali. Hingga, dia menjawab pertanyaan Raka.
“Bukan hamidun! Tapi, hamidul!”
“Apa bedanya?” balas Raka. Seolah mengejek, menambah kekesalan Cessi.
“Bedalah, Abangku sayang! Hamidul itu kepanjangan dari hamil duluan! Kalau, hamidun? Gak tau Abang!” kata Cessi dengan mengebu-gebu.
Raka mengusap dagunya dan tersenyum kecil, seolah memiliki kosa kata baru.
“Kalau, begitu. Kamu aja yang hamidun,” pinta Raka dengan menekankan kata hamidun.
“What? Apa hamidun?” tanya Cessi tidak mengerti.
“Hamidun? Hamil … sama … suami … sendiri,” balas Raka dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
“Cih! Gak nyambung!” balas Cessi.