
Malam harinya, sesuai dengan undangan yang Raka katakan. Pak Burhan datang ke apartemen mereka, dengan perasaan yang gusar.
Tok
Tok
Lelaki itu mengetuk pintu dan tidak lama kemudian, pintu terbuka. Lalu, menampakan wajah wanita yang selama ini dia rindukan.
"Indah," gumam Burhan, namun masih bisa di dengar oleh Indah.
"Silahkan, masuk," ajak Indah, mempersilahkan Burhan masuk. Lalu, menuntun lelaki itu menuju ke dapur. Dimana, telah ada Cessi dan Raka yang duduk manis di meja makan.
Pak Burhan semakin gugup, apalagi. Melihat menu makanan yang semuanya, merupakan lauk kesukaannya.
"Jangan sungkan-sungkan, Pak," terang Raka dengan senyum yang tulus.
Mereka makan dalam diam, hanya terdengar suara lentengan sendok dan garpu yang saling beradu. Hingga, semuanya telah selesai makan. Raka mengajak Pak Burhan untuk ngobrol santai di ruangan tamu.
Disinilah mereka, duduk saling berhadapan di sofa dengan posisi Raka yang tidak melepaskan pandangannya dari Pak Burhan.
"Makasih, Nak Raka. Atas jamuannya," kata Burhan dengan tulus. Walaupun, perasaan tidak nyaman masih saja kantara di hatinya.
__ADS_1
"Saya juga, berterimakasih kepada Bapak. Mau repot-repot, kesini. Apalagi, kami hanya menghidangkan. Makanan orang kampung."
Raka sengaja mengatakan hal itu, dan melihat reaksi Burhan. Dia yakin sekali, jika lelaki tersebut akan mengeluarkan ekspresi lain.
"Tidak ko, Nak! Bapak senang malahan, apalagi—"
Burhan bingung mau melanjutkan ucapannya, karena dia yakin sekali. Jika, Indah yang memasak semua makanan tersebut.
"Apalagi, apa, Pak?" tanya Raka dengan menampakkan raut wajah penasaran.
"Enak, Nak," jawab Burhan, menghindari tatapan Raka.
Hingga, Cessi datang dan duduk di samping sang suami genitnya. Dimana, tadi lelaki itu terus menggodanya dengan tidak menggunakan baju.
Raka tersenyum dan mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Kita harus mencari, ayah kandungmu terlebih dahulu."
Apa yang dikatakan oleh Raka, membuat Pak Burhan tertarik dan tanpa sadar bertanya, "Memangnya, ayahnya Nak Cessi kemana?"
Sesuai dengan skenario yang dibuat oleh aktor dadakan, Raka tersenyum puas. Dia telah bisa memprediksi, hal itu akan di tanyakan oleh Pak Burhan.
__ADS_1
"Bu Indah, kemari!" teriak Raka memanggil Bik Indah. Dengan langkah yang terpopoh, wanita itu mendekat.
"Iya, Nak."
"Bu, apa bisa jelaskan kepada Pak Burhan? Dimana ayahnya Oliv?" tanya Raka.
Indah pun duduk didekat Cessi dan mulai bercerita, bagaimana dia melewati harinya. Setelah sang kekasih hati yang meninggalkan–nya begitu saja. Sampai, ia terpisah dari putri kandungnya yang ternyata di bawa oleh adiknya sendiri.
"Jadi, hingga sekarang. Ibu gak tau, dimana ayah kandungnya Nak Oliv." Bik Indah pun mengakhiri ceritanya yang panjang.
Tanpa mereka sadari, Pak Burhan tersedak. Lelaki itu menangis dalam diam, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bik Indah. Hanya gara-gara, pesan dari kedua orang tuanya yang mengatakan. Jika, dia tidak boleh menikah muda dan betapa tidak bertanggungjawab Burhan waktu itu. Dengan tega, meninggalkan Indah yang tengah hamil.
"Maafkan, aku," kata Burhan dengan suara yang penuh pilu.
"Untuk apa, Pak?" tanya Raka. Dia ingin memancing, agar lelaki itu menjelaskan semua yang telah terjadi waktu itu.
Ada keraguan di dalam hati Burhan, untuk berkata. Sampai, suara Indah terdengar bergetar.
"Aku telah memaafkanmu, Mas. Aku hanya meminta, kamu menjadi wali nikah. Untuk putri kita, hanya itu saja. Masa lalu, biarlah berlalu. Karena, kita hidup di masa ini dan masa depan."
Kata-kata bijak Indah mampu membuat karang yang terjal dan keras, hancur. Burhan tak kuasa lagi menahan tetes–demi tetes air matanya.
__ADS_1
Malam itu, menjadi saksi bisu. Dimana, kedua orang yang telah terpisah sekian tahun. Bertemu lagi dan saling memaafkan.
"Tunggu, dulu! Kita bicarakan apa, sih?" celetuk Cessi