
Cessi hanya menganggap apa yang dikatakan oleh Raka hanyalah candaan saja.
“Aku serius, apa kamu mau? Akan aku penuhi kebutuhanmu dan berjanji. Tidak akan menyentuhmu, kecuali … atas izin dari kamu sendiri.”
Cessi yang mendengar, apa yang dikatakan oleh raka menjadi meninbang. Akan tetapi pemuda itu, apalagi ia tidak memiliki tempat untuk berteduh saat ini.
“Mau, atau tidak?” tanay Raka menuntut.
“Gue—-”
“Kelaman!” kata Raka dan memilih bangun dari posisi duduknya dan ingin berlalu. Namun, langkahnya ditahan oleh suara Cessi.
“Om serius? Tidak akan menyentuh gue? Soalnya, gue masih sekolah,” kata Cessi yang memilih untuk menjadikan Raka sebagai tameng kehidupannya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Daripada hidup di jalanan dan ter–lunta–lantung. Lebih baik menjadi istri orang.
Raka tersenyum penuh arti, kemudian menjelaskan rencana yang telah tersusun dengan begitu baik di dalam otaknya.
Dia ingin menjadikan Cessi sebagai istri siri dan menyembunyikan identitas asli gadis itu. Sebab, Raka juga tidak mau menghancurkan masa depan Cessi yang masih panjang.
Raka juga menjelaskan, akan membiayai sekolah Cessi hingga lulus. Serta membuat sebuah surat di atas putih agar Cessi merasa dilindungi semua haknya.
Sontak saja, apa yang disampaikan oleh raka membuat Cessi tidak percaya begitu saja. Dimana semua hal, hanya menguntungkan bagi dirinya. Lalu, apa yang diinginkan oleh Raka.
“Om, gak lagi bercanda ’kan?” tanya Cessi dnegan sorot mata penuh kecurigaan.
Raka hanya terkekeh pelan, kemudian menjelaskan. Bahkan, dirinya didesak untuk segera menikah. Tetapi, ia belum mau menikah. Dengan alasan, kehidupanya belum mapan dan ingin mencari istri yang setia.
“Lalu, kenapa. Mau menikahi gue?’ tanya Cessi yang tidak habis pikir dengan jalan otak Raka. Membuat Cessi merasa jika ini semua hanya akal-akalan pemuda tersebut.
“Aku tidak ingin berzinah! Makanya, aku mengajak kamu untuk menikah. agar, kamu menjadi mahramku,” jelas Raka.
__ADS_1
Walaupun bukan orang yang taat pada agama, tetapi Raka masih bisa membedakan yang mana hak dan yang mana batil. Serta, tidak mencampur–adukan semuanya.
Cessi masih belum bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh Raka. Tentu saja, semua itu masih belum masuk akal.
“Lalu kenapa, harus menikah siri? Kalau, Om. Gak mau menikah?” tanya Cessi yang masih penasaran akan ajakan nikah yang tidak biasa tersebut.
“Lalu, kamu maunya gimana? Menikah sungguhan? Terus, mengundang semua temanmu? Kemudian, kamu berhenti sekolah, begitu?’ tanya Raka.
Cessi terdiam sesaat, dia mencerna. Apa yang baru dikatakan oleh Raka dan menimbang baik dan buruknya.
Namun, tetap saja masih tidak logis. Apa yang disampaikan oleh pemuda itu, hingga Raka pun menjelaskan sesuatu yang membuat Cessi terpaku di tempat.
“Aku tahu jalan hidupmu, Oliv. Aku kemarin membeli semua kue buatan ibumu. Aku juga tau, kalau kamu baru saja diusir. Aku hanya ingin menolongmu … dan juga menolong diriku sendiri.”
Raka seorang reporter yang memiliki cakupan informasi yang luas. Apalagi, setelah vidio buatan Cessi dan Amara yang menjadi trending topik. Membuat Raka mencari tahu semua hal tentang Cessi dan menemukan sebuah fakta yang membuat hati Raka tergerak untuk menolong dan mencari alamat Cessi.
Sebenarnya, tadi Raka ingin langsung menemui Cessi di rumahnya. Namun, ia mendengar perdebatan antara Cessi dan seorang lelaki yang ia bisa tebak adalah bapaknya Cessi. Terlebih melihat Cessi yang keluar dari rumah dengan membawa tas.
Raka yang melihat Cessi tengah menangis dan membawa motor. langsung saja mengikuti gadis itu dari belakang.
Tidak bisa Raka dipungkiri, jika dia menaruh empati yang besar kepada Cessi. Tetapi, masih disembunyikan dibalik sikapnya yang acuh.
“Om, gue gak mau menikah! Tapi … kalau Om, memang mau bantu? Om bisa memberikan tempat tinggal, untuk gue?”
Malu rasanya Cessi mengatakan semua itu, tetapi mau bagaimana lagi. Hanya Raka, sepertinya tempatnya untuk bergantung saat ini. Setidaknya, ia harus memiliki tempat tinggal, jika salah makan. kan dipikirkan nanti, sebab Cessi mengutamakan tempat berteduh. daripada, mengisi tan gki bahan bakar.
“Jadi, kamu menolak. Ajakanku, untuk menikah?’ tanya Raka dengan sorot mata serius. Padahal, dirinya hanya keceplosan tadi. Dia tidak terlalu menginginkan pernikahan, hanya saja. Raka ingin memberikan status, untuk Cessi.
Namun, sertimna gadis itu tidak menginginkannya. Padahal, jika Cessi mau. Raka telah berniat, untuk memberikan kehidupan yang layak untuk Cessi.
__ADS_1
Hanya, saja sebagai adik. Sebab, Raka belum merasakan perasaan cinta kepada Cessi. Dia hanya merasa kasihan dan ingin membantu saja.
“Mohon maaf, Om. Tapi … gue masih belum siap, untuk menikah.”
Cessi, memberikan jawaban yang se–logis mungkin. agar, bisa diterima oleh Raka. Mana bisa, dirinya menikah dengan keadaan yang terdesak seperti sekarang.
Jika pun nanti Cessi ingin menikah, tentu dengan lelaki yang dicintainya. Sebab, Cessi tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Jika, bersama dengan orang yang tidak dicintainya.
“Baiklah. Ini, kunci apartemenku, kamu bisa tinggal disana. Sebab, aku akan tinggal dirumah kedua orang tuaku, jadi … apartemen itu kosong.”
Raka tidak ingin memaksa kehendaknya. kepada Cessi dan menyerahkan sebuah kunci apartemennya. Setidaknya, disaat dia bisa memperhatikan apa yang dilakukan oleh Cessi. sebab, apartemen raka memiliki CCTV.
Ragu-ragu, Cessi ingin mengambil kunci yang masih berada ditangan Raka. Dia masih merasa, jika apa yang terjadi. Tidak masuk diakal, dan belum bisa dipercaya olehnya.
“Kamu, tidak mau?” tanya Raka dan ingin mengembalikan kunci apartemenya kedalam saku celananya. Namun, dengan sigap Cessi meraih kunci tersebut dan membuat Raka tersenyum.
“Gue mau, Om! Tapi janji! Jangan masuk ke apartemen itu!”
Raka hanya menggelengkan kepalanya, dia benar-benar merasa geli hati. Mendengar permintaan Cessi, yang tidak memberikannya pergi apartemennya sendiri.
“Iya, jani … sekarang, aku mau pulang. Kamu juga bisa pergi ke apartemenku,” jelas Raka dengan menekankan kata apartemenku.
Cessi tidak merasa tersinggung sama sekali dan langsung mengangguk kecil. Tanda paham dengan apa yang dikatakan oleh raka dan membaurkan pemuda itu berlalu terlebih dahulu.
Setelah Raka menghilang dari pandangan matanya, barulah Cessi segera bergegas. Dia ingin segera pergi ke apartemen Raka, akan tetapi langkahnya tiba-tiba saja terhenti.
Dia mengutuk kebodohannya yang melupakan hal yang pating selain kunci yaitu alamat apartemen Raka.
“Ya, ampun, Cessi! Ko, bisa lupa sih? Jadi … sia-sia, gue ada kunc ini?” gumam Cessi pelan dan memperhatikan. Benda yang terbuat dari logam tersebut, padahal apartemen merupakan tempat tinggal yang modern. Tetapi, Cessi merasa heran. Kenapa, bentuk kuncinya sama seperti rumah.
__ADS_1
Hingga, sebuah tulisan kecil. Menarik perhatian Cessi, ia pun membaca dengan teliti. Apa yang tertulis di sana.
“Apa, ini alamat apartemennya? Tidak, mungkin. Alamat palsu ‘kan?”