
Sedangkan Ayah Amara, terdiam sesaat. Kemudian menanyakan tentang hal apa yang membuat Raka keberatan. Sebab, selama ini ia selalu memperhatikan apa yang diunggah oleh sang putri dan tidak menemukan hal yang aneh. Ataupun melanggar etika dan norma.
“Dibagian mana yang, Nak Raka. merasa berat?” tanya Ayahnya Amara.
“Itu—”
Raka agak kesulitan untuk menjelaskan, tidak mungkin. Jika, ia mengatakan. Bahwa, tidak suka dengan kelakuan kedua gadis tersebut yang telah mempermainkan perasaannya. Hingga, ia menemukan alasan yang tepat.
“Ada hal pribadi yang saya tidak ingin diekspos, Om. Jadi, saya harap kalian bisa membantu,” terang Raka dan mendapatkan anggukan kepala dari kedua orang tua Amara.
“Kami tidak bisa berbuat banyak, Nak! Tapi, kami hanya bisa mengarahkan putri kami,” jelas Ayah Amara.
“Itu pun sudah cukup, Om. Dimana putri Om dan teman-temannya tadi?” tanya Raka yang masih penasaran. Dimana ketiga makhluk yang baru ia temui dan menghilang begitu saja.
"Ada, emangnya. Nak Raka mau bertemu?" tanya Ayah Amara dan mendapatkan anggukan kepala dari pemuda tersebut.
Kemudian, Ayahnya Amara meminta kepada istrinya. Untuk memanggil Amara, yang berada di dalam kamar.
Entah mengapa, perasaan Raka menjadi gusar. Seolah ada sesuatu yang tidak beres.
***
Di kamar Amara, setelah Bargon masuk. Mereka tengah asik memandang laptop, hingga suara Bargon pun berhasil mengagetkan Amara dan Cessi.
"Apa yang kalian lihat?" tanya Bargon dan mendekati kedua temannya itu.
“Bargon!” pekik Amara dan Cessi kompak.
Namun, tidak digubris oleh Bargon. Dia menatap layar laptop yang masih menyala dan memutar sebuah video.
“Kalian, benar-benar, gila ya?” pekik Bargon dan menggelengkan kepalanya, tidak menyangka dengan kelakukan dua temannya yang diam-diam . Amat, menghanyutkan.
“Hus … jangan berisik!” kata Amara dan kembali fokus pada laptopnya.
Cessi yang penasaran dengan pemuda yang disapa Amara tadi, yang ia tahu adalah pemuda yang ada di taman malam itu.
“Ra, siapa pemuda tadi?” tanya Cessi dengan raut wajah penasaran.
Amara hanya menatap sekilas ke arah Cessi dan kembali mengotak-atik laptopnya.
__ADS_1
“Amara!” pekik Cessi kesal. Karena tidak dihiraukan oleh sahabatnya itu.
“Baca nih!” kata Amara dan menunjukan layar laptopnya yang menampakan biodata Raka dengan lengkap.
Bargon yang juga masih ada disana, ikut memperhatikan. Walapun, ia merasa tidak suka dengan Raka. Tetapi, ia juga penasaran.
“Oh, jadi … nama om tadi, Rekayasa? Kayak gimana gitu, memanggilnya.
Amara yang mendengar Bargon memanggil Raka dengan embel-embel om. Merasa tidak terima dan menghardik temannya itu.
“Hey, Gon! Abang Raka itu, masih single! Bukan om-om!”
Hingga, suara ketukan pintu mengagetkan mereka. Ternyata ibunya amara yang datang, wanita itu langsung masuk. Setelah mengetuk pintu.
“Mara! Kali ini, Ibu merasa. Jika, pekerjaan sampinganmu? Telah membawa masalah!” kata Ibunya Amara dengan menekankan, setiap kata yang diucapkan.
Amara hanya mampu, menelan silvernya kasar. Ketika, melihat raut wajah sang ibu yang amat mengerikan.
“Maaf, Tan. Saya juga—”
“Bertanggung jawab!” kata Ibu Amara cepat.
“Ibu! Jangan seperti ini,” kata Amara dengan perasaan yang tidak nyaman.
“Lalu, apa? Kamu sampai tidak sekolah, hari ini! Gara-gara semalaman tidak tidur! Hanya bermain internet saja!”
Sekarang, Cessi baru tahu. Alasan, kenapa Amara hari ini tidak sekolah. Ternyata, Amara bermain internet. Tentu saja, Cessi paham akan maksudnya itu.
“Bu!”
Terdengar suara panggilan dari Ayahnya Amara, membuat sang Ibu meminta Amara menghampiri sang ayah. Sedangkan, Cessi dan Bargon disuruh. Untuk tetap tinggal di dalam kamar.
Perasaan Cessi tidak tenang, setelah kepergian Amara. Dia pun bingung harus bagaimana, hingga bertanya kepada Bargon yang tengah asik memainkan laptop Amara.
“Gon! Kira-kira? Amara akan dimarahi, gak ya? Aku cemas,” kata Cessi. Namun, tidak mendapat jawaban apapun dari pemuda itu dan membuat Cessi mengendus kesal. Lalu, menepuk pelan bahu Bargon. Membuat pemuda itu kaget.
“Aw! Oliv! Kamu, kenapa, sih?” tanya Bargon, seraya mengusap bahunya yang tidak sakit sama sekali. Hanya saja, ada energi yang mengalir. Seperti, sengatan listrik bertekanan rendah.
“Aku disini! Bukan, disana!” pekik Cessi dan tiba-tiba saja. Pintu kamar terbuka dan menampakan wajah Amara yang seperti, habis melihat hantu.
__ADS_1
“Kamu, kenapa, Ra?” tanya Cessi pelan.
Amara tidak menjawab, ia langsung saja menarik tangan Cessi dan membuat Bargon mengikuti mereka.
Cessi amat kaget, dengan tindakan yang dilakukan oleh Amara. Hingga, mereka berada diruangan tamu.
Dimana, ada kedua orang tua Amara dan juga Raka tentunya. Membuat perasaan Cessi semakin tidak nyama dan tenang.
“Jadi ini? Gadis yang membuat, aku. Tidak tenang, semalaman,” kata Raka dengan sinis.
Bukan Cessi namanya, jika mudah untuk di tindas. Gadis itu tersenyum licik, kesempatan emas. Untuk mengembalikan ucapan yang telah dikeluarkan oleh pemuda yang duduk di hadapannya.
“Maaf, Om. Mungkin karena, terlalu memikirkan saya? Sampai jadi kangen?”
Sungguh luar biasa, beraninya Cessi. Sampai kedua orang tua Amara hanya bisa melongo, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh gadis yang bergaya tomboy itu.
Sedangkan Raka, bungkam seketika. Dia tidak menyangka, jika Cessi bisa mengembalikan keadaan dengan mudah. Padahal, niatnya tadi ingin menekan sikis gadis itu.
Tetapi, siapa sangka. Kali ini, Raka yang malah tertekan. Dia pun mencari cara, agar membuat Cessi tidak songong.
“Iya, Om sangat kangen. Sampai mencari keberadaanmu! Apalagi, adegan malam tadi … kamu tau, ‘kan?” kata Raka dengan mengedipkan matanya menggoda Cessi. tentu saja hal ini, membuat Cessi menelan silvernya kasar.
Sedangkan, Amara hanya menundukan kepalanya. Tatapan tajam dari kedua orangtuanya, telah mengisyaratkan. Jika, dirinya harus diam dan tidak membuat masalah.
“Maaf, Om. Saya juga menonton video yang Cessi buat, tapi … tidak ada adegan yang vulgar atau pun tidak pantas. Saya pikir, jika Om hanya ingin—“
Belum selesai, Bargon mengatakan pembelaan untuk Cessi. Raka sudah memotong terlebih dahulu, dan membuat Bargon menjadi tahu. Rika, Raka tidak mau menerima kritikan, Tetapi, boleh memberi kritikan kepada orang lain.
“Semuanya memiliki hak cipta! Dan harus melewati persetujuan!” kata Raka yang tidak boleh di bantah.
Cessi yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Raka, menjadi terpancing. Apalagi, dia baru saja membaca biodata Raka yang ditujukan oleh Amara.
“Maaf, Om. Kami kurang tau tentang hal itu, kami hanya pelajar biasa. Bukan, seperti Om yang notabene memang seorang reporter,” kata Cessi pelan. Tetapi, sarat akan sindiran.
“Makanya! Jangan suka mengunggah video yang tidak jelas!” teriak Ibu Amara yang sedari tadi diam. Wanita itu, tidak tahan dengan sikap Cessi yang menurutnya tidak memiliki sopan–santun.
Raka pun tersenyum penuh kemenangan, melihat Cessi yang hanya bisa terdiam. Setelah mendapatkan tekanan dari Ibunya Amara.
“Kita akan lihat! Sampai dimana kehebatanmu,” batin Raka.
__ADS_1