Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 42 Menunggu


__ADS_3

Di sela-sela mengunyah, Cessi menanyakan ponsel miliknya. Dia berharap, jika BIk Indah mengetahui benda tersebut.


“Bik, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Cessi memulai aksinya.


“Apa itu, Non?” balas Bik Indah dengan raut wajah penasaran.


“Bibik, tau enggak? Dimana ponselku?” tanya Cessi dengan mata yang berbinar.


Namun, Bik Indah hanya menggelengkan kepalanya. Menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Cessi.


“Bibik, gak tau Non. Karena, Bibik hanya di suuh mengemas pakian Non Oliv saja. Itupun, tidak menemukan ponsel Non,” jelas Bik Indah apa adanya.


Cessi membuang nafas panjang, jika sebelumnya dia merasa ingin Raka berad di dekatnya. Sekarang pun sama, malahan Cessi ingin menghajar suaminya itu. Karena, telah menyemunyikan benda paling berharga miliknya.


Sampai Cessi baru menyadari satu hal dan bertanya kembali kepad Bik Indah.


“Lalu, bagaimana. Abang Raka menghubungi, Bik Indah?”


Bik Indah pun menjelaskan, jika Raka menghubunginya lewat telepon rumah. Cessi yang mendengar hal itu menjadi tersedak.


“Uhuk … Bik, tolong,” kata Cessi. Seraya menepuk-nepuk dadanya pelan, Bik Indah yang melihat hal itu. Segera menyodorkan air kepada Cessi.


“Penal-pelan, Non,” pinta Bik Indah yang melihat Cesi minum dengan cepat. Hingga, tidak memerlukan waktu laam. Air yang berada di gelas tersebut, kandas tidak tersisa.


“Kenapa, Bibik gak ngomong dari kemarin?” kata Cessi dengan raut kesal.


Bik Indah yang tidak paham, atas kesalahan yang dia lakukan. Dengan polosnya, Bik Indah bertanya, “Memangnya, ada apa, Non?”


“Gak pa-pa!” balas Cessi cepat. Dia segera mempercepat gerak tanganya dan menghabisi makan miliknya. Lalu, menanyakan kepada Bik Indah. Dimana, telepon rumah mereka.


“Bik, dimana telepon rumahnya?”


“Di ruangan tengah, Non. Diatas naskah,” jelas Bik indah.


Tanpa menunggu lama lagi, Cessi segera meninggalkan Bik Indah yang masih membereska bekas makana mereka.


Cessi ingin segera menghubungi Amara, karena dia yakin sekali. Jika, sahabntanya itu bisa dihandalkan, seperti biasanya.


Tuttt

__ADS_1


Tuttt


“Hallo, dengan kediaman keluarga Satriaydi.”


Cessi yang mendengar hal tersebut, menjadi bingung harus menajwab apa. karena, dia snagat berharap. Bahawa, yang mengangkat teleponnya adalah Amara.


“Saya teman Amara di sekolah, apakah? Amara–nya ada?” tanya Cessi berusaha sebisa mungkin terlihat normal.


“Mohon maaf Dek, Non Amara tadi pagi masuk rumah sakit.”


Mendengar hal tersebut, membuat tubuh Cessi membantu seketika. Dia tidak menyangka, jika Bargon dan Amara. Kedua orang yang sangat dekat dengan-nya, kini tengah berada di rumah sakit.


“Hallo, hallo, Dek.”


Cessi tidak menghiraukan panggilan dari seberang telepon yang telah dia jatuhkan. Tubuh Cessi merosot ke lantai, seolah pijakannya hilang seketika.


Bik Indah yang menyusul Cessi, melihat keadaan gadsi tersebut. Segera berlari, mendekat dan menayakan. Apa yang telah terjadi.


“Non, ada apa?” tanya Bik Indah dengan raut wajah panik. Namun, tidaka ada jawaban dari gadis itu.


Bik Indah yang melihat telepon yang tergeletak begitu saja, berinisiatif. Mengambil benda tersebut.


Kini, perhatian Bik Indah tertuju. Kepada Cessi, yang masih diam di tempat. Cukup lama Bik Indah menunggu, sampai dering telepon berbunyi.


“Hallo,” sapa Bik Indah.


“Kenapa, dengan Oliv?”


Ternyata, yang menelepon adalah Raka. Bik Indah aga terkejut dengan pertanyaan dari Raka dan menjelaskan apa adanya. Jika, dia tidak mengetahui apapun.


“Bibik, gak tau Den. Tiba-tiba saja, Non Oliv diam aja. Dah beberapa kali, Bibik panggil namanya. Tapi … tidak di respon—”


“Abang Raka!” teriak Cessi dan merebut telepon yang masih dipegang oleh Bik Indah. Bahkan, wanita itu belum sempat menyelesaikan ucapnnya.


“Abang! Abang pasti tau semuanya kan?” tanya Cessi dengan guratan-guratan di wajahnya.


Gadis itu, bisa menebak. Jika, selaam ini. Raka telah mengawaisnya dari jauh, akan tetapi hal yang paling ingin Cessi tanyakan adalah tentang keadaan sahabatnya.


“Maksudmu, apa?” tanya Raka santai.

__ADS_1


“Bang! Aku mohon! Pertemukan, aku dengan Amara!” kata Cessi dengan suara yang bergetar. JIka, dia bisa menahan perasannya kepada Bargon. namun, tidak dengan Amara. Sebab, sahabatnya itu merupakan penopang hidupnya selama ini.


Terdengar hembusan nafas dari seberang sana, hingga tidak berapa laam kemudian. Sambungan telepon terputus secara sebelah, membuat Cessi bertambah frustasi.


“Bang! Abang raka!” teriak Cessi. Namun, tidak ada jawaban. Membuat tubuh Cessi kembali merosot, haruskah dia menunggu seperti ini.


Cessi pun memilih nekad, karena Raka yang tidak merespon apa yang baru saja dia ucapkan. Cessi segera bangun dan berlari ke pintu keluar, Bik Indah yang melihat apa yang Cessi alkukan segera menegjar gadis itu.


“Non! Non O;iv, mau ke mana?” teriak Bik Indah dan berhasil mencekal tangan gadis itu. Mmebuat langkah Cessi terhenti, lelehan air mata yang jatuh ke pipi Cessi. Menambah kesan, betapa menderitanya gadis itu.


Bik Indah segera memeluk tubuh Cessi dan mencoba menanangkan gadsi itu, ikatan batin di antara mereka. Mampu membuat Cessi sedikit tenang, walaupun masih dengan isak tangis.


“Bik, aku mau keluar dari ruamh ini,” kata Cessi di sela tangisannya. Dia tidak sanggup hanya menunggu, tanpa berbuat apa-apa.


“Non, bukan Bibik gak mau izini Non Oliv keluar. Tapi … apa alasan, Non Oliv ingin pergi? Apakah, karena gaka da Den Raka di sini?” tanya Bik Indah yang tidak mengetahui apa alasan Cessi yang ingin pergi.


Cessi mengelengkan kepalanya, lalu menjelaskan. Jika, sahabatnya telah masuk ke rumah sakit dan dia ingin segera menemui sahabatnya itu.


Bik Indah yang mendengar penjelasan dari Cessi. Hanya bisa tersnweyum, lalu memberikan saran. jika, Cessi harus meminta izin kepada Raka terlebih dahulu.


Karena, Cessi yang telah menjadi istri dari Raka. Sudah menjadi kewajiban seorang sitri untuk meminta izin atas sesuatu kepada suaminya.


Cessi yang mendengar penjelasan Bik Indah segera menghapus air matanya dan kembali menuju telepon. Dia ingin menelepon Raka dan meminta izin kepada suaminya itu.


Namun, baru saja Cessi melangkah. Telepon itu pun berdering, membuat Cessi seegra mengangkat telepon tersebut.


“Hallo,” sapa Cessi dengan sisa isak tangis yang masih saja tertinggal.


“Kamu di rumah saja, sampai aku kembali.”


Cessi yang mendengar perintah terebut, menjadi geram. Dia semakin yakin, jika raka tengah mengintai dirinya.


“Sampai kapan aku menunggu, Abang? Hah! Ayo Bang! Jawab! Atau … di mana Abang sekarang? Ayo keluar!” teriak Cessi yang terbawa perasaan antara kesal dan juga cemas memikirkan keadaan Amara.


“Akuada di dalam hatimu, dan akan keluar? Jika, kamu telah menyadari hal itu.”


Cessi amat muak dengan jawaban nyeleneh dari raka dan segera menutup sambunag telepon mereka.


Umpatan demi umpatan kekesalan Cessi, terdengar nyaring. Bik Indah yang melihat keadaan Cessi segera mencoba menenangkan gadis itu.

__ADS_1


“Sudah, Non.”


__ADS_2