Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 57 Menyelesaikan Permasalahan


__ADS_3

Bik Indah menatap bingung kearah Cessi dan bertanya, "Den Raka, tidak akan mengamuk ko. Selama, ada kamu, Nak."


"Bukan itu, masalahnya!" pekik Cessi merasa kesal.


"Lalu, apa?" tanya Bik Indah polos.


"Apa yang, kalian bicarakan?"


Deg


Jantung mereka berdua hampir mau copot, Raka membuat Bik Indah dan Cessi terkaget.


"Abang!" pekik Cessi kesal dan mengelus dadanya yang berdetak dengan cepat.


"Apa?" tanya Raka dengan polos.


"Den, apa benar? Oliv, putri Bibik?" Bik Indah malah menanyakan hal tersebut, karena masih belum yakin.


"Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Raka. Membuat, Bik Indah menatap ke arah Cessi. Raka yang melihat ujung mata wanita itu, kini beralih menatap ke sang istri.


"Kamu mengatakan semuanya?" Kali ini, perhatian Raka beralih kepada Cessi.


"Iya," cicit Cessi takut.


Cessi mengira, jika suaminya akan marah. Namun, nyatanya tidak. Raka malahan, menarik tangannya pelan dan mengajak ke ruangan tamu. Diikuti oleh Bik Indah yang berada di belakang.


Perasaan Cessi semakin tidak tenang, ditambah diamnya sang suami. Seolah, pertanda akan datangnya hal buruk.


"Maaf ya, Bik. Aku baru menyampaikan, saat ini," kata Raka pelan dan membuang nafas panjang.


Disaat dirinya tengah, dikuasai oleh emosi. Sang ayah menelpon dan memberikan peringatan keras, semua gara-gara Siska. Sekretaris itu, membocorkan rencana Raka dan membuatnya membatalkan aksi gilanya tadi.


Ditambah, sang ibu yang ternyata. Mengadu kepada Radja, jika Bik Indah adalah ibu kandung Cessi dan membuat Raka. Harus menjelaskan semuanya segera.


"Tidak pa-pa, Den. Bibik, merasa lega. Asalkan, semuanya sudah jelas," terang Bik Indah yang tidak mempersoalkan, keterlambatan Raka memberitahukan perihal tes DNA dirinya dengan Cessi.


"Bukan hanya itu saja, Bik," ujar Raka dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Masalah, Pak Burhan?" tanya Cessi tiba-tiba.


"Kamu diam!" bentak Raka. Dia masih menyimpan, perasaan kesal kepada istrinya. Lebih tepatnya, cemburu yang tidak berdasar.


Cessi menelan silvernya kasar dan menundukkan kepalanya, dia merasa takut.


Cukup lama, Raka menyeda ucapannya. Setelah merasa agak tenang, baru dilanjutkan, "Bibik, sudah lihat masalah tadi, bukan? Aku ingin, Bibik tinggal di sini dan menjaga Oliv."


Sekali dayung, dua–tiga pulau dilampaui. Itulah peribahasa yang tengah Raka mainkan, dia menerima perintah dari sang ayah dan bisa membuat Bik Indah mengungkap. Jati diri Pak Burhan yang sebenarnya, agar semua masalah ini selesai.


"Iya, Den," jawab Bik Indah ragu-ragu.


Karena, keadaan yang sudah siang. Apalagi, perut yang terasa mulai keroncongan. Membuat Raka tidak meneruskan ucapannya dan mengajak kedua wanita yang ada di dalam ruangan tersebut untuk makan siang bersama.


Raka membawa Bik Indah dan Cessi untuk makan di luar, sekalian pergi berbelanja kebutuhan rumah. Keadaan Raka yang berubah dengan drastis, tentu saja membuat tanda tanya di dalam benak Cessi tentang suaminya itu.


Namun, dia tidak mau ambil pusing, yang terpenting masalah telah terselesaikan. Pikirnya dan mengikuti langkah sang suami.


Ketika, mereka melewati pos pengamanan. Disaat itulah, Raka bisa melihat dengan jelas. Bagaimana raut wajah Bik Indah yang mengatakan, jika Pak Burhan sangat dikenali olehnya.


“Ehem, kita akan segera ke restoran.”


Raka mulai menghidupkan mesin, setelah Bik Indah masuk. Kali ini, Cessi berada di sampingnya. Seolah, tidak mau jauh dari sang suami. Gadis itu tidak akan membuat Raka kembali kecewa.


Raka yang berada di balik kemudi, mulai melajukan kendaraan beroda empatnya itu perlahan dan meninggalkan area apartemen.


Tidak memerlukan waktu lama, mereka pun sampai di sebuah restoran yang bergaya klasik. Cessi yang baru pertama kalinya memasuki tempat itu, tidak henti-hentinya berdecak kagum.


“Bu, jangan sungkan. silahkan, pesan yang Ibu inginkan,” terang Raka. Dia sudah mulai mengubah panggilannya kepada Bik Indah.


jangan tanyakan Cessi, gadis itu telah memesan hampir semua menu andalan restoran tersebut. Seakan, tidak tahu malu. Setelah memesan, Cessi menatap kearah suaminya dengan raut wajah yang memelas.


“Maaf, Bang. Aku makannya banyak,” cicit Cessi malu.


Raka hanya berdecak, jangankan membayar makanan yang mereka pesan. Restoran tersebut pun bisa dibeli, jika mau.


Sebab, raka merupakan anak tunggal dan sudah dipastikan semua aset warisan keluarga mereka akan jatuh ketangannya.

__ADS_1


Namun, Raka lebih memilih bekerja dan mengembangkan hobinya. Dibandingkan mengharapkan itu semua, karena dia berprinsip. Jika, lebih nikmat jerih payahnya bekerja. Karena, disana terdapat kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan apapun.


“Jangan, mulai,” kata Raka dan menatap wajah sang istri yang hanya cengengesan.


Hingga, makanan yang mereka pesan telah datang dan dihidangkan oleh pelayan. Cessi makan dengan lahap, sedangkan Bik Indah masih merasa segan.


Disela, mengunyah. Raka mulai perbincangan ringan, “Bu, nanti bisa ‘kan? bantu kami?”


Bik Indah yang mendapatkan pertanyaan tersebut, sampai tersedak dan menatap kearah Raka.


“Apa itu, Den?” tanyanya dengan suara yang lemah.


Terdengar helaan nafas panjang dari Raka, kemudian dia meminta agar Bik indah tidak memanggilnya lagi dengan sebutan ‘Den.’


“Pertama, jangan panggil aku Den lagi, Bu! Karena, aku telah menjadi menantumu! Kedua, bantu aku mengungkap identitas Pak Burhan yang kami yakini … jika, dia ayah kandungnya Oliv.”


Kata terakhir Raka membuat Bik Indah meremas ujung bajunya, “Baik, Nak.”


Setelah percakapan tersebut, mereka kembali makan dengan keadaan tenang. Jangan tanya Cessi, gadis itu. Tidak menghiraukan yang lainnya, selain hidangan yang tengah disantap.


Setelah, makan siang. Raka kembali mengajak kedua wanita itu untuk pergi berbelanja, sesuai dengan rencana sebelumnya. Namun, ketika mereka sudah sampai di sebuah tempat perbelanjaan yang besar. Cessi mengerutkan dahinya.


“Bang! Katanya, kita akan membeli keperluan rumah?” tanya Cessi polos. Namun, tidak digubris oleh sang suami. Raka malahan keluar dari mobil dan masuk kedalam, membuat Cessi cemberut.


“Ayo, Nak,” ajak Bik Indah kepada Cessi dan mereka mengikuti langkah Raka yang telah berlalu terlebih dahulu.


Raka masuk ke sebuah toko pakaian dan memilih beberapa stel baju untuk Cessi, tentu saja. Hal itu membuat Cessi merasa malu, bagaimana mungkin. Seorang pemuda tampan, bisa memilih pakaian wanita dengan ukuran yang pas.


“Bu, jangan sungkan. Hari ini, aku ingin mentraktir kalian,” kata Raka menatap sekilas kearah Bik Indah dan Cessi.


Seperti itulah, cara Raka dalam menyelesaikan masalah. Dimana dia akan membuat orang-orang disekitarnya, merasa nyaman dan senang terlebih dahulu. Setelahnya, dia akan meminta maaf. Sungguh, teknik yang sangat luar biasa liciknya.


Ditengah mereka bertiga yang sibuk memilih pakaian, ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka dan mengikuti mereka. Dari memilih pakaian dan membayarnya, sampai keluar dari tempat tersebut.


Raka yang menyadari, siapa orang tersebut dari sudut matanya. Tersenyum penuh arti, hingga dia memikirkan. Sebuah cara, agar orang yang memata-matai mereka itu. Mau keluar dari tempat persembunyiannya.


“Bu, aku mau ke toilet dulu! Tolong, jaga Oliv,” pinta Raka kepada Bik Indah dan mendapatkan anggukan kepala dari wanita itu.

__ADS_1


Raka meninggalkan Bik Indah dan Cessi yang telah dia suruh berada di dalam mobil, dengan langkah pelan. Raka pergi menjauh dan bersembunyi di balik sebuah belokan. Dia menunggu, orang tersebut keluar dan sesuai dengan prediksinya.


“Kamu memang tidak pernah mau menyerah, ya?” gumam Raka.


__ADS_2