Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 18 berjanji


__ADS_3

Namun, Raka malahan tersenyum seringai. Seolah memiliki ide gila kepada Cessi. Dia segera menghampiri gadis itu dan memojokan Cessie Hingga ke tepi dinding.


“Apa yang kamu katakan, tadi?” tanya Raka dengan semakin merapatkan tubuhnya kepada Cessi, tentu saja membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan menahan tubuh kekar Raka dengan tangannya.


“Om, mau apa?” tanya Cessi dengan waspada. Sebab, dia tahu akan tingkat kemesuman Raka yang sangat luar binasa.


“Mau bertanggung jawab, padamu?” jawab Raka dengan santai.


Deg


Jantung Cessi serasa mau terlepas dari tempatnya.


“Bertanggung jawab seperti apa?” tanya Cessi pelan.


Dia tidak bisa membayangkan, apa yang akan Raka lakukan padanya. Namun, Cessi hanya bisa pasrah. Lalu, memejamkan matanya.


Tak.


“Aw!” peki Cessi merasakan panas di dahinya, ternyata Raka menjuitak dahinya mengunakan jari pemuda itu.


Cessi merasa tertipu, bahkan merasa malu. Karena, telah membayangkan hal yang tidak-tidak. Tetapi, itu semua tidak satu pun yang terjadi.


“Kamu, nakal, ya! Jujur, sama aku! Kamu tadi ngapain?” tanya Raka mulai mengintrogasi Cessi. dia ingin, mendengar pengakuan dari gadis itu.


Cessi hanya menggelengkan kepalanya, pelan dan menggigit bibir bawahnya. Apapun yang akan diucapkan nanti, tidak akan membuat Raka percaya begitu saja.


“Jawab!” bentak Raka tidak sabaran, apalagi, Cessi hanya diam saja.


“Oke! Oke! tapi, Om janji dulu, ya?” Cessi malahan mengajukan sebuah syarat, membuat Raka menggelengkan kepalanya. Merasa gelak, dengan kelakuan Cessi yang sudah ketahuan basah.


“Oke! Aku jani! Akan menikahimu,” imbu Raka. Membuat Cessi melongo tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Raka.


“Gue serius, Om!” pekik Cessi.


“Aku sejuta, rius!” jawab Raka tak kalah serius.

__ADS_1


Cessi membuang nafas panjang, seraya mendorong pelan tubuh Raka. Dia merasa sesak nafas. Kemudian membawa Raka menuju sofa yang ada dalam ruangan tersebut dan meminta pemuda itu untuk duduk disampingnya.


Tatapan Cessi terkunci kepada Raka dengan menggenggam tangan pemuda itu, Cessi menyampaikan sebuah syarat yang harus Raka penuhi.


“Om, gue ingin Om. Berjanji, tidak melakukan hal yang aneh, pada gue! Om, tau ‘kan? Jika, gue masih sekolah dan memiliki masa depan yang masih panjang. Masa, Om mau merusaknya?”


Raka tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Cessi, tidak ada niat di dalam hatinya ingin merusak Cessi. Malahan, Raka ingin sekali membantu gadis malang yang kini ada dihadapannya.


“Oliv! Aku bukan lelaki sebejat itu! Sebagai, seorang lelaki yang bertanggung jawab? Aku tidak akan pernah mau merusak, wanita yang aku sukai,” jelas Raka dengan nada serius.


Menjadi lelaki yang baik, Raka rasa belum cukup. Tetapi, dengan menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Dimana bisa bertanggung jawab kepada wanita yang dicintai dan memberikan haknya dengan baik. Itulah lelaki sejati, bukan–nya merusak wanitanya dan mengatakan demi cinta. Seorang wanita harus mengorbankan harga dirinya.


Raka bukan tipe lelaki seperti itu, yang menurutnya adalah lelaki yang tidak memiliki dedikasi pada dirinya sendiri dan orang yang cinatinya.


“Syukurlah,” ucap Cessi bernafas lefa.


“Jadi, kamu mau. Aku bertanggung jawab seperti apa?” tanya Raka.


Cessi tersenyum dan menjelaskan apa yang diinginkan olehnya. Dimana dia minta agar Raka menjadi walinya selama bersekolah dan membayar semua kebutuhan hidup, serta sekolah sampai ia lulus.


Setelah itu, Cessi akan mengabdikan dirinya kepada Raka dengan segenap jiwa–raja. Sebagai bentuk balas budi kepada Raka selama menghidupi dirinya.


“Apa kamu yakin dengan apa yang barusan kamu katakan tadi?” tanya Raka meyakinkan Cessi. Karena, menurutnya apa yang akan dilaksanakan oleh Cessi amatlah berat.


“Iya, Om! Gue yakin seyakinnya. Apagai, Om mau berkorban banyak untuk gue. Tentu saja, hanya cara ini, yang bisa gue berikan sama om.”


Cessi sadar diri, siapa dirinya yang tidak memiliki apapun untuk ditukar kepada Raka. Selain, menjadi budak yang mengabdi kepada pemuda itu.


Bagi, Cessi tidak masalah. Hal yang paling penting adalah pendidikan baginya, sebagai modal yang bisa digunakan. Suatu hari nanti.


Jika, dia akan berpisah dari Raka, setidaknya Cessi memiliki modal ijasa. Untuk mencoba mencari sebuah pekerjaan dan bisa menghidupinya.


“Baiklah, jika itu yang kamu inginkan? Aku akan, membuat sebuah surat perjanjian. Agar, semua hakmu. Bisa terpenuhi,” terang Raka. Menerima persyaratan yang diajukan oleh Cessi. Kemudian, menuju ke kursinya dan mulai mengetik di laptop.


Cessi membiarkan, Raka bekerja. sedangkan dirinya. Duduk santai di sofa, seraya memainkan ponsel. Miliknya.

__ADS_1


Namun, mata Cessi membulat dengan sempurna. Ketika melihat sebuah postingan dari teman sekolahnya yang meng–nge–tag, akunya. Di mana, sebuah foto. Cessi yang tengah berpelukan dengan Bargon dengan capson yang hot.


“Siapa sih, dia? Kenapa, sangat membenciku?” gumam Cessi dengan perasaan yang kesal. Sebab, kesalahpahaman tadi. Akan terus berlanjut dan membahayakan, reputasinya sebagai pelajar.


“Oliv!” panggil Raka tiba-tiba.


Dengan langkah, gontai Cessi menghampiri Raka dan menanyakan. Perihal, kenapa pemuda itu memanggilnya.


“Ada, apa, Om?” tanya Cessi dengan nada yang tidak semangat.


Raka hanya menunjukan layar laptopnya, membuat Cessi melihat ke layar tersebut dan membulatkan matanya sempurna.


dia tidak menyangka, jika berita yang baru saja. Dibaca olehnya, telah berada di dalam genggaman Raka. Tetntu saja hal ini membuat Cessi semakin bingung. Bagaimana, menjelaskan semuanya.


“Om, ini tidak seperti yang—”


“Aku, tahu! Kalian hanya berpelukan, terlihat juga. Kamu yang menolak, karena tanganmu yang mencekram kuat bahu pemuda itu! Tapi, apa kamu? Jika, Bargon adalah seorang anak dari pengusaha yang terpandang?”


Cessi menggelengkan kepalanya, sebab selama ini. dia hanya mengetahui, jika kedua orang tua Bargon sangat sibuk bekerja. Namun, tidak pernah bertanya akan pekerjaan kedua orang tua pemuda itu.


“Apa kamu yakin?” tanya Raka yang masih kurang puas dengan jawaban Cessi.


“Serius, Om! Gue berani bersumpah! Gak tau, apapun tentang keluarga Bargon,” jawab Cessi dengan serius.


Raka mengusap dagunya berfikir, bagaimana caranya membersihkan nama Bargon. Sebab, kasus ini bisa merambat ke ranah hukum. Jika, ayahnya Bargon mengetahuinya.


Hal yang paling Raka, takutkan adalah. Ayah Bargon yang akan menikahkan anaknya dengan Cessi. Jika, hal itu terjadi. Maka, pupus sudah harapan Raka mendapatkan budak abadi.


“Om, jadi bagaimana?” tanya Cessi dengan gusar,


“Kamu harus berjanji dulu, mau mengikuti semua apa yang aku suruh dan tidak boleh membantahnya.”


Cessi membuka mulutnya lebar, setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh Raka. Dia mencium aroma tidak sedap, di balik rencana pemuda itu.


“Mau, atau tidak?” tanya Raka lagi. Sebab, Cessi yang hanya diam saja.

__ADS_1


“Tergantung! Jika, berat dan aneh-aneh? Gue gak mau!”


“Dasar, pemilihan!”


__ADS_2