
Cessi yang memasuki ruangan kelas, segera memikirkan rencana setelah pulang sekolah. Suara Bargon yang memanggilnya, membuat gadis itu menoleh sebentar dan membuang nafas berat.
"Oliv! Loe kenapa tinggalin, gue tadi?" tanya Bargon dan duduk di kursi yang berada di belakang Cessi.
"Oliv!" panggil Bargon lagi. Dia tidak akan berhenti, sebelum Cessi menjawab pertanyaannya.
"Setelah pulang sekolah! Temani, gue ke rumah Amara!" perintah Cessi yang membuat Bargon mengerutkan dahi dan bertanya, "Ngapain ke sana?"
"Ada meeting!"
"What!" pekik Bargon dengan mata yang melotot.
Namun, bukan Cessi namanya. Kalau tidak bisa membuat Bargon menuruti keinginannya, dia membuat pemuda itu manggut-manggut. Dengan apa yang dia ucapkan, tanpa melawan.
Sesuai dengan janji, Cessi menunggu bargon di area parkir. Tidak berapa lama, pemuda itu menampakkan batang hidungnya. Berjalan bak seorang model, membuat Cessi merasa mual lihat tingkah Bargon.
"Lo udah lama nungguin gue?" tanya bargon ketika telah berada di depan Cessi.
"Nggak kok! Kan, kita sama-sama satu kelas, masa loe lupa? Kalau lu pulang, gue pasti akan pulang," jelas Cessi membuat Bargon cengengesan.
Mereka berdua pun, berboncengan. Walaupun sebenarnya, Bargon memiliki jemputan. Akan tetapi, demi bisa bersama Cessi. dia menyuruh supir pribadinya, untuk tidak menjemput hari ini. Sebab dia beralasan, memiliki tugas kelompok. Bersama temannya.
Jika, sudah jatuh cinta, seseorang bisa berdusta. Seperti Bargon contohnya, demi bisa berduaan dengan Cessi. Dia rela berbohong.
Entah sengaja atau memang disengaja, Bargo memeluk Cessi dengan erat. Dia bahkan beralasan, tidak bisa membawa motor. Hanya demi, duduk di jok belakang. Dengan Cessi yang mengendarai motor.
namun, Cessi yang memang cuek. Tidak menanggapi apapun, tindakan yang dilakukan oleh Bargon.
Gadis itu, hanya fokus kepada jalan raya. Pikirannya, tertuju pada Amara. Dia harus bertemu dengan sahabatnya itu, agar perasaannya merasa tenang.
Cessi yang mengendarai motor dengan piawai, tidak memerlukan waktu yang lama. Mereka berdua telah sampai di rumah Amara, keadaan rumah tersebut sepi.
Menimbulkan tanda tanya dan ragu di dalam benak Cessi, dia pun bertanya kepada Bargon, "Coba lo pikir, ada nggak Amara di dalam?"
Bargon yang mendapat pertanyaan tersebut, hanya mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu, ada atau tidaknya amarah. Sebab, di dalam niatnya Bargon. Hanya ingin berduaan dengan Cessi.
Sedangkan, Cessi mengendus nafas kesal. dia merasa sia-sia membawa Bargon, karena pemuda itu seolah tidak ada gunanya.
"Kenapa sih, lo nyebelin Gon! Nggak di sekolah! nggak di luar!"
__ADS_1
Bukannya tersinggung, Bargon hanya cengengesan. Hingga sebuah mobil, memasuki halaman rumah Amara.
Cessi mengerutkan dahinya, mengingat-ingat kembali. sebab, iya seolah mengenali mobil tersebut. Hingga seorang pemuda, keluar dari mobil tersebut.
"Dia!" pekik Cessi nyaring dan membuat pemuda itu menoleh ke belakang.
Senyum sinis, tercetak dengan nyata. Bahkan, bulu kuduk Cessi meremang. Ingin, kabur. Namun, ada Barton yang menghalangi gerak Cessi.
"Aw! Loe kenapa, sih Oliv?" pekik Bargon yang menatap heran Cessi yang seperti. Habis bertemu hantu, hingga tidak menyadari keberadaannya yang ada di belakang gadis itu.
"Putar balik!" pekik Cessi yang semakin panik. Apalagi, tatapan pemuda yang masih berdiri di dekat mobil tersebut.
Namun, ketika Cessi baru ingin menghidupkan mesin motornya. Suara teriakkan, membuat mereka berdua menatap ke arah sumber suara tersebut.
“Cessi!”
Ternyata, Amara yang memanggil dan melambaikan tangan. Ingin sekali, Cessi pura-pura tidak melihat dan pergi begitu saja. Namun, Bargo telah membalas panggilan Amara.
“Hay, Amara! Oliv, itu Amara!” pekik Bargon dengan wajah yang polos.
Cessi mengendus kesal dan mendorong motornya, mendekati rumah Amara. Sahabatnya itu pun, menghampirinya dan membisikan sesuatu yang membuat Cessi melotot.
“Makanya, ayo masuk,” ajak amara. Seraya menarik tangan Cessi pelan dan mengabaikan keberadaan Bargon disana.
“Dasar, wanita!” pekik Bargon kesal dan mengekor dari belakang.
Cessi bersembunyi di balik, tubuh amara. Ketika melewati raka, perasaannya tidak nyaman. Seolah, telah melakukan kesalahan yang besar, kepada pemuda itu.
“Mau, pada kemana?” tanya raka dan menghentikan langkah mereka.
Cessi, mengumpat kesal. Kenapa pemuda itu, harus menegur mereka.
“Mau masuk, Mas,” kata Amara sopan.
“Kalau gitu? Ayo bareng,” ajak raka dengan senyum manis dan hal itu membuat Cessi terpanah.
“Iya, Mas.”
Amara pun langsung menarik tangan Cessi dan meninggalkan Raka yang hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakukan mereka.
__ADS_1
“Dasar, anak-anak!” gumam Raka. namun, masih bisa didengar oleh Bargon yang berada di belakangnya.
“Kami, remaja, Om! Bukan anak-anak!” pekik Bargon yang tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Raka.
Raka mengerutkan dahinya, mendengar panggilan om yang Bargon sematkan.
“Apa aku sudah terlihat tua?” tanya raka kepada Bargon, tetapi tidak digubris oleh pemuda itu. Membuat Raka mengendus nafas kesal.
“Dasar! Anak jaman sekarang!” kata Raka geram dan ikut masuk kedalam.
Raka mempunyai sebuah misi, yang mengharuskannya berada di rumah Amara. Apalagi, Video yang telah diunggah oleh Amara yang menjadi trending topik. Membuat Raka, harus menyelesaikan hal tersebut.
“Om, Tante,” panggil Raka. Kepada kedua orang tuanya Amara.
“Nak Raka, apa kabar? Tumben kesini?” tanya Ibunya Amara.
“Baik, Tan,” jawab Raka dan mengedarkan penglihatannya. Mencari keberadaan para remaja tadi.
“Ada apa, Nak?” tanya Ayahnya Amara yang membuat Raka tersenyum dan menatap lelaki tersebut.
Kemudian, Raka menjelaskan. Alasan, kenapa ia datang. Awalnya, kedua orang tua Amara tidak merasa curiga apapun. Karena, mengetahui profesi raka yang merupakan reporter di salah satu stasiun televisi.
Mereka pun berfikir, jika kedatangan Raka. Ingin menyorot perusahan mereka, tetapi apa yang mereka pikirkan salah besar.
“Mohon, maaf Tan, Om. Saya ingin melaporkan tindakan putri kalian bersama dengan teman wanitanya yang telah membuat konten yang membuat saya terlibat tanpa persetujuan,” terang Raka dengan sorot mata serius.
“Maksudnya, apa Nak Raka?” tanya Ayah Amara bingung.
Kemudian Raka menjelaskan, jika malam tadi. amara dan Cessi mengunggah sebuah video yang dimana ada dirinya di dalam sana. Raka juga menjelaskan, ketidak sukaannya, dan bisa melaporkan amara dalam undang-undang IT.
Sontak saja, apa yang dikatakan oleh Raka membuat kedua orang tua amara syok dan tidak menduga akan hal tersebut.
“Maaf, Nak Raka. Putri kami hanya mengikuti temannya, tolong … jangan laporkan,” pinta Ibunya Amara memohon.
Sedangkan Ayah Amara, terdiam sesaat. Kemudian menanyakan tentang hal apa yang membuat Raka keberatan. Sebab, selama ini ia selalu memperhatikan apa yang diunggah oleh sang putri dan tidak menemukan hal yang aneh. Ataupun melanggar etika dan norma.
“Dibagian mana yang, Nak Raka. merasa berat?” tanya Ayahnya Amara.
“Itu—”
__ADS_1