Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 8 Mau Kemana


__ADS_3

Cessi yang melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Raka, menjadi terpancing. Apalagi, dia baru saja membaca biodata Raka yang ditujukan oleh Amara.


“Maaf, Om. Kami kurang tau tentang hal itu, kami hanya pelajar biasa. Bukan, seperti Om yang notabene memang seorang reporter,” kata Cessi pelan. Tetapi, sarat akan sindiran.


“Makanya! Jangan suka mengunggah video yang tidak jelas!” teriak Ibu Amara yang sedari tadi diam. Wanita itu, tidak tahan dengan sikap Cessi yang menurutnya tidak memiliki sopan–santun.


Raka pun tersenyum penuh kemenangan, melihat Cessi yang hanya bisa terdiam. Setelah mendapatkan tekanan dari Ibunya Amara.


“Kita akan lihat! Sampai dimana kehebatanmu,” batin Raka.


“Maaf, Om. Kami tidak tahu, akan hal itu,” kata Cessi dengan raut wajah dibuat sedih. Andaikan saja, tidak melibatkan kedua orang tua Amara. Mungkin Cessi akan membuat Raka berlutut di hadapannya. Namun, Cessi yang melihat raut wajah ketidaksukaan dari ayah dan ibunya Amara. Membuat Cessi mengurungkan semua rencana yang ada di dalam otaknya.


Seolah merasa menang, Raka pun bertepuk tangan dengan bangga. Kemudian meminta video asli yang mereka miliki dan menghapus yang sudah di unggah.


“Ini hanya permulaan, kalian yang membereskan sisanya. Aku gak mau lihat, ada yang membagikan video tersebut lagi!” ancam Raka dan berlalu begitu saja.


Setelah kepergian Raka, Cessi semakin merasa tidak nyaman. Dia berkali-kali meminta maaf kepada kedua orang tua Amara.


“Maafkan, Cessi, Om, Tante,” kata Cessi tulus.


Namun, seolah telah merasa kecewa. Kedua orang tua Amara, meminta Cessi untuk tidak berteman lagi dengan putri semata wayang mereka.


Tentu saja, hal ini membuat Amara ingin protes. Tetapi Cessi yang seolah pasrah dan menerima apa yang diinginkan oleh ayah dan ibunya Amara. Langsung menarik Bargon pergi, setelah mengatakan kata maaf yang kesekian kalinya.


Amara ingin pergi mengejar Cessi, tetapi dihalangi oleh kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya Amara menghukum sang anak dengan mengambil semua fasilitas yang dimiliki oleh Amara, serta akan mengancam.


Jika, Amara masih berhubungan dengan Cessi. Maka, mereka akan memindahkan Amara kesekolahaan lainnya.


Hal ini membuat Amara merasa sedih dan memilih masuk kedalam kamarnya dan membawa tangisnya. Masuk kedalam selimut, ia merasa kecewa atas apa yang telah dilakukan kedua orang tuanya. Serta, memikirkan nasib Cessi, sahabatnya itu.


“Semuanya, tidak adil!” kata Amara kesal.


***


Sedangkan, Cessi dan Bargon yang telah berada di luar halaman rumah Amara. Langsung melajukan motor yang mereka kendarai tadi, berbedanya. Saat ini, Bargon yang mengendarai. Sebab, merasa kasihan dengan Cessi yang seperti habis diputusin pacarnya.


Bargon sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Cessi, sebab gadis itu snaggat dekat dengan Amara.

__ADS_1


Tentu saja, apa yang telah terjadi tadi. Bagaikan hantaman yang kuat untuk Cessi dan membuat gadis irtu amat terpukul.


“Oliv! Aku akan membantumu!” teriak Bargon yang ingin menghibur gadis yang telah lama ia suka tersebut.


Namun, tiba- tiba saja. Ada sebuah mobil menghadang motor mereka, membuat Bargon yang terkejut. Mengerem mendadak dan berhasil membuat Cessi membentuk tubuh pemuda itu.


“Gon! Loe mau kita mati?” pekik Cessi kesal. Tepat di samping telinga Bargon, membuat pemuda itu membalas teriakan Cessi. Sama nyaringnya.


“Lihat, tu!” Bargon menunjuk sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapan mereka, Cessi memperhatikan dengan seksama, nomor plat mobil tersebut dan kemudian mengendus kesal.


Dengan penuh gelora amarah, Cessi turun dari motornya dan menuju mobil yang ia yakini adalah milik Raka.


Cessi ingin membuat perhitungan dengan pemuda yang telah membuat hidupnya susah tersebut dan ingin memberikan kenangan terindah.


“Keluar!” teriak Cessi, seraya menggedor kaca jendela mobil tersebut. Tidak berapa lama, kaca jendela itu pun terturun dan menampakan wajah tampan Raka. Namun sayang, Cessi tidak terpikat sama sekali. Perasaan yang telah terlanjur kesal dan membuat Cessi mengibarkan bendera perang.


“Msu, apa?” tanya Raka dengan santai. Seolah tidak terjadi apapun, membuat Cessi semakin marah.


Gadis itu pun memasukan sebagian kepalanya ke dalam mobil Raka dan mengatakan sesuatu yang menohok.


Raka yang gemas akan kekonyolan Cessi, akhirnya memberikan kejutan yang tidak terduga. Membuat Cessi menangis, lalu Raka menanyakan.


“Mau lagi?” tanya Raka dengan senyum penuh arti.


Cessi yang terkejut dengan tindakan yang telah Raka lakukan, sontak saja mundur. Entah mengapa, air matanya jatuh begitu saja.


“Dasar! Om mesum!” teriak Cessi.


Dia tidak menyangka, jika Raka mencuri sesuatu yang amat berharga miliknya dengan cara yang mengerikan. Umpatan kekesalan selanjutnya terus Cessi layangkan. Sampai kedatangan Bargon.


“Ada apa, Oliv?” tanya Bargon bingun. Karena, Cessi yang menangis. Akan tetapi, mengeluarkan umpatan yang kasar.


Tanpa Bargon sangka, Cessi memeluk tubuhnya. Seperti seorang adik kecil yang telh dijahati oleh tamannya. Cessi mengadu kepada Bargon.


“Go, Om itu mencuri ciuman pertamaku,” adu Cessi.


Bargon yang mendengar hal tersebut pun menjadi marah besar, dia melepaskan pelukan Cessi dan menghampiri Raka yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


“Keluar, Om! Jangan seperti b*n*c*!” teriak Bargon dan berhasil memancing kemarahan Raka.


Mana terima Raka, diberi julukan b*n*c*. Panggilan om saja, telah membuatnya merasa kesal. Kemudian turun dari mobilnya dan menarik kerah baju yang digunakan oleh Bargon.


“Hey, anak ingusan! Apa, masalahmu?” tanya Raka dengan menekankan setiap kata yang diucapkan.


Bargon tidak merasa takut sama sekali, ia menarik dengan kasar. Tangan Raka yang mencekam kerah bajunya dan melepaskan. Lalu, menatap Raka dengan tajam.


“Masalahnya! Anda adalah OM-Om mesum dan telah melakukan pelecehan! Gue bisa melapor, Om! Kepada pihak terkait!” ancam Borgan.


Sedangkan Cessi yang telah berhenti menangis, langsung menarik tangan Bargon. Agar menjauh dari Raka dan memprovokasi keadaan. Menambah suasana yang semakin memanas.


“Dengar itu, Om! Dan Om harus tanggung jawab!” teriak Cessi.


Raka, hanya mampu menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan kedua remaja yang menurutnya masih ingusan. Mana bisa mereka menyebut, ciuman di pipi itu sebagai tindakkan yang mesum.


Raka tidak habis pikir dengan imajinasi mereka, dan memilih. Kembali ke dalam mobilnya, sebab semakin lama ia disana. Hanya akan membuat pikirannya terkontaminasi.


“Hey, Om! Jangan kabur!” pekik Cessi yang melihat Raka yang sudah hendak masuk mobilnya dan menghentikan pemuda itu dengan menutup kembali pintu mobil.


Brak


Suara pintu mobil yang Cessi banting, membuat Raka menatap tajam kearah Cessi.


“Jangan membuatku, marah!” kata Raka dingin. Tanpa merasa takut, Cessi semakin menantang Raka.


“Om telah membuat gue marah! Om juga sudah menjadi pencuri!” balas Cessi dengan tatapan yang tajam.


Raka membuang nafasnya panjang, ternyata menghadapi seorang remaja yang labil. Memerlukan tenaga ekstra, ia pun memilih untuk mengalah. Sebab, harus segera melakukan pekerjaan yang lain.


“Kamu mau apa? aku tidak mencuri apapun, darimu!”


“Om mencuri hatiku!” teriak Cessi nyaring.


Bargon yang masih ada disana pun, melongo dengan mulut yang terbuka lebar. Mendengar apa yang dikatakan oleh Cessi.


“Apa itu, benar?” batin Bargon bertanya-tanya

__ADS_1


__ADS_2