Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 9 Panas–Dingin.


__ADS_3

Raka membuang nafasnya panjang, ternyata menghadapi seorang remaja yang labil. Memerlukan tenaga ekstra, ia pun memilih untuk mengalah. Sebab, harus segera melakukan pekerjaan yang lain.


“Kamu mau apa? aku tidak mencuri apapun, darimu!”


“Om mencuri hatiku!” teriak Cessi nyaring.


Bargon yang masih ada disana pun, melongo dengan mulut yang terbuka lebar. Mendengar apa yang dikatakan oleh Cessi.


“Apa itu, benar?” batin Bargon bertanya-tanya


Disaat, Bargon tengah bertanya-tanya didalam hatinya. Raka berdecak kesal, kemudian memilih berlalu. Menurutnya, tidak ada guna meladeni gadis yang telah tidak memiliki kewarasan.


“Om! Jangan pergi!” teriak Cessi ingin menghentikan Raka. Tetapi, pemuda itu telah masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin. Lalu, mulai melajukan kendaraan beroda empat tersebut. Meninggalkan Cessi yang terus mengumpat kesal.


“Dasar! Om-Om, mesum!”


Bargon segera menghampiri, Cessi dan menanyakan kembali apa yang telah gadis itu katakan barusan. Tidak bisa Bargon pungkiri, jika hatinya merasa terluka.


Memendam rasa ternyata amat menyakitkan, daripada putus cinta. Setiap apapun yang terjadi, bagaikan drama yang diputar terus–menerus. Dengan frekuensi yang berbeda-beda.


“Sudah ‘lah! Ayo, pulang,” ajak Cessi yang tidak mau membahas. Apa yang baru saja terjadi, membuat perasaan kecewa mendalam di hati Bargon.


Andaikan saja, Bargon memiliki keberanian untuk mengatakan perasaannya. Mungkin, ia tidak akan merasa tersiksa seperti ini.


Mereka pun segera kembali ke motor dan berniat untuk pulang, Cessi terlebih dahulu mengantarkan Bargon pulang. Baru setelahnya, ia kembali pulang. Untung saja, arah rumah mereka searah. Membuat Cessi tidak perlu memutar dan bisa langsung pulang.


Tidak lupa, Cessi mengambil kue buatan ibu angkatnya. Agar memiliki alasan, kenapa dirinya pulang terlambat.


Berbeda dengan kemarin, kali ini. Kue buatan sang ibu hanya laku seditit. Membuat Cessi menjadi murung, karena akan mendengar dentuman orkes live yang akan konser. Ketika, ia pulang nanti.


Dengan langkah gontai, Cessi pun kembali membawa motornya. Menuju ke rumah, beginilah keseharian Cessi.


Ditambah kejadian tadi, membuat Cessi tidak memiliki penghasilan tambahan. Karena, hanya Amara yang bisa membantunya.

__ADS_1


Sebab, selama ini Amara lah yang mengedit dan mengupload video yang mereka buat. Cessi hanay bisa dibagian aktor saja, sedangkan yang lainya di pegang oleh Amara.


“Ini, semua! Gara-gara, Om mesum itu!”


Cessi amat menaruh dendam yang terselubung kepada Raka dan berniat untuk balas dendam. hanya saja, ia belum tahu. Bagaimana caranya, tetapi semua itu ada di dalam list rencana.


Hingga, motor yang dikendarai oleh Cessi sampai di halaman rumah. Seperti biasanya, Cessi akan mencari keberadaan ibu angkatnya dan menyerahkan wadah kue, beserta uang penghasilan kue tersebut.


Selama ini, Cessi tidak pernah mengambil uang dagangan sang ibu. Karena, Cessi cukup tau diri. Sudah diterima dan dirawat, bagi Cessi sudah cukup.


“Ibu,” panggil Cessi setelah berada di dalam rumah.


Cessi hanya seorang anak angkat, kata Pak Broto dan Ibu Indri. Cessi ditemukan oleh mereka di depan rumah.


Sungguh malang hidup Cessi, tetapi ia bersukur. Sekejam-kejamnya, kedua orang tua angkatnya. Mereka tetap mau merawat Cesi hingga sebesar ini dan masih memberi makan. Itu sudah cukup untuk Cessi, sebab kehidupan diluar amatlah kejam.


“Ibu,” panggil Cessi lagi. Sebab, tidak ada sahutan dari wanita itu.


“Ibu!” teriak Cessi dengan lelehan air mata. Melihat keadaan sang ibu yang tidak sadarkan diri, memang darah lebih kental dari air. Namun, selama ini. Ibu Indri lah yang merawat Cessi, dari ia masih bayi. Hingga, sekarang.


Sampai, wadah bekas kue yang tadi dibawa oleh Cessi terjatuh. Membuat, sisa kue yang masih tersisa berhamburan di lantai.


Cessi tidak memperdulikannya, yang ada di benak Cessi hanyalah keadaan sang ibu. Dengan susah–payah, Cessi menyeret tubuh Ibu Indri dan membawanya ke dalam kamar.


Kemudian, Cessi membaringkan wanita itu di atas ranjang. Lalu, membuka lemari pakaian. Guna mengganti, pakaian sang ibu yang telah basah. Cessi pun mencari kunci lemari tersebut, Cessi pun mengedarkan penglihatannya.


“Disana, kamu ya? Main petak–umpet segala, lagi,” gumam Cessi yang melihat benda yang dicarinya tengah berada di atas nakas. Dia pun segera mengambil benda kecil itu dan membuka lemari, pakaian sang ibu.


Namun, baru saja Cessi berhasil membuka lemari. Sang bapak datang tiba-tiba dan mengagetkannya. Membuat beberapa pakaian yang berada di dalam lemari, terjatuh ke lantai.


“Cessi! Apa yang kamu lakukan?” tanya Pak Broto dengan sorot mata yang nayalang ke arah Cessi.


Cessi merasa ketakutan, hingga sang bapak mendekat dan menuduh sesuatu yang sangat menyakitkan. Untuk Cessi.

__ADS_1


“Kamu, mau mencuri, hah!” teriak Pak Broto nyaring.


Cessi hanya bisa meneteskan air mata, ternyata. Selama ini, sang bapak tidak mengenalnya dengan baik. Cessi tidak pernah melakukan hal yang seperti dituduhkan oleh lelaki yang kini menatap ke arah ranjang. Dimana ada sang ibu yang tegolek.


“Kamu, apakan istriku! Cessi!”


Suara Pak Broto menggelegar, bagaikan petir yang menyambar. Cessi sampai terlonjak kaget, tetapi tiba-tiba saja.


Plak


Salam lima jari, dari telapak tangan Pak Broto. Mendarat dengan begitu sempurna di pipi mulus Cessi.


Dengan teganya, sang bapak melakukan hal seperti demikian. Perasaan Cessi menjadi panas–dingin, antara ingin membalas. Atau tidak.


“Keluar kamu! Dasar, anak pembawa sial!” usir Pak Broto dengan kejamnya.


Cessi pun segera membawa langkahnya menjauh, sakit yang ada di pipinya. Tidak sebanding dengan hati Cessi saat ini, setelah diperlakukan dengan kasar dan dituduh yang bukan-bukan.


“Memang begini kah, nasib seorang anak pungut?” batin Cessi dan masuk kedalam kamarnya. Kemudian, masukkan beberapa pakaian miliknya dan hal lainnya yang penting.


Namun, belum selesai Cessi berkemas. Pak Broto telah berada di depan pintu kamarnya yang masih terbuka lebar.


“Apa, yang mau kamu curi lagi?” tuduh Pak Broto dengan kejamnya. Seraya menghampiri Cessi dan ingin melakukan kekerasan kembali. Tetapi, Cessi dengan sigap menghindar dan berlari menuju pintu keluar.


“Cessi!”


Bahkan teriakan sang bapak tidak menghentikan langkah Cessi, ia pun segera menghidupkan mesin motornya dan melaju kencang. Membawa tangisnya yang semakin deras, lelehan cairan bening tersebut. Sebagai petanda, hati yang amat hancur.


Cessi tidak pernah minta dilahirkan di dunia ini dan hidup dengan kedua orang tua angkatnya, tetapi inilah kehidupan dunia. Sebagai seorang makhluk yang hanya bisa menjalani apa yang telah dituliskan oleh sang takdir.


“Kemana, aku harus pergi?” batin Cessi yang bingun. Membawa laju mobilnya, karena tidak ada tempat untuknya untuk berteduh.


“Apa sudah saatnya, untukku kembali, ya Tuhan?”

__ADS_1


__ADS_2